tokoh katolik dan kemerdekaan

August 15th, 2008

dalam rangka (eh, dalam rangka itu kata yang biasanya dipakai oleh para panitia ya :) turut memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia, ada sebuah artikel menarik dari rekan rekan milis di KAS (Keuskupan Agung Semarang) yang rasanya sayang untuk dilewatkan, dan semoga dapat menambah wawasan rekan rekan pembaca via-veritas tentang tokoh umat Katolik yang turut mewarnai kemerdekaan Indonesia.

Photobucket

Mgr. Albertus Soegijapranata
Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J (Surakarta, 25 November 1896 – Steyl,
Belanda, 10 Juli 1963) adalah seorang Vikaris Apostolik. Ia juga
merupakan uskup pribumi Indonesia pertama. Sebagai seorang Pahlawan
Nasional RI beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal,
Semarang.

Nama kecilnya adalah Soegija. Soegija lahir di sebuah keluarga Kejawen
yang merupakan abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta.

Belajar di Kolese Xaverius yang didirikan oleh pastor Van Lith SJ.
Sekolah ini pindahan dari sekolah dari Lampersari dari Semarang. Ketika
bersekolah, Soegijapranata dibaptis di Muntilan oleh Pastor Meltens,
dengan mengambil nama permandian Albertus Magnus. Dari didikan disinilah
kemudian ia berhasrat untuk menjadi imam maka ia dikirim ke Belanda
belajar di gymnasium, yang diasuh oleh Ordo Salib Suci (OSC) di Uden,
Belanda Utara, dimana ia belajar bahasa Latin dan Yunani. Rute
perjalanan ke Belanda mulai dari Tanjung
Priok-Muntok- belawan-Sabang- Singapore- Colombo-Terusan Suez terus ke
Amsterdam.

Kemudian masuk novisiat SJ di Mariendaal, Grave. Disini ia bertemu
dengan pastor Willekens SJ, yang kelak menjadi Vicaris Apostolik
Batavia. Pada 22 September 1922 Soegija mengucapkan kaul prasetia.

1923-1926 Belajar filsafat di Kolese Berchman, Oudenbosch.

1926-1928 Kembali ke Muntilan mengajar di kolese Xaverius Muntilan. Pada
Agustus 1928 Soegija kembali ke Belanda belajar teologi di Maastrich.

Pada tanggal 15 Agustus 1931 menerima sakramen imamat, ditahbiskan oleh
Mgr. Schrijnen, uskup Roermond di kota Maastrich. Namanya ditambah
Pranata sehingga menjadi Soegijapranata.

Tahun 1933 Soegijapranata kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di
paroki Kidulloji, Yogyakarta, selama satu tahun sebagai pastor pembantu.

Tahun 1934 ia dipindahkan ke Paroki Bintaran sampai tahun 1940.

Pada 1 Agustus 1940, Mgr. Willekens, vicaris Batavia, menerima telegram
dari Roma yang berbunyi : “from propaganda fide Semarang erected vicaris
stop, Albert Soegijapranata appointed vicar apostolic titular bishop
danaba stop you may concecrete without bulls” ditanda tangani oleh
Cardinal Montini ( kelak menjadi Paus Pius XII ). Soegijapranata
menjawab : “Thanks to his holiness begs benediction” .

Pada 6 November 1940 ia ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama
Indonesia oleh Mgr. Willekens SJ-vicaris Batavia, Mgr. AJE Albers
O.Carm-vicaris Malang, dan Mgr. HM Mekkelholt SCJ-vicaris Palembang.

Pada 1943, bersama Uskup Willekens SJ menghadapi penguasa pendudukan
pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus
dapat berjalan terus.

sumber link:http://id.wikipedia .org/wiki/ Sugijopranoto, _S.J,_Msgr

Photobucket

Slamet Rijadi , Pejuang Kemerdekaan Dari Kota Solo
Ignatius Slamet Rijadi (Solo, Jawa Tengah, 26 Juli 1927 – Ambon,
Maluku, 4 November 1950) adalah pahlawan nasional Indonesia. Anak dari
Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legium Kasunanan
Surakarta, ini sangat menonjol kecakapan dan keberaniannya, terutama
setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Kepahlawanan
Papan nama jalan Slamet Riyadi di SurakartaPada suatu peristiwa saat
akan diadakannya peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang yang dipimpin
oleh Tyokan Watanabe yang merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan
sipil kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta , yaitu
Kasunanan dan Praja Mangkunagaran, akan tetapi rakyat tidak puas. Para
pemuda telah bertekad untuk mengadakan perebutan senjata dari tangan
Jepang, maka rakyat mengutus Muljadi Djojomartono dan dikawal oleh
pemuda Suadi untuk melakukan perundingan di markas Ken Pei Tai (polisi
militer Jepang) yang dijaga ketat. Tetapi sebelum utusan tersebut tiba
di markas, seorang pemuda sudah berhasil menerobos kedalam markas dengan
meloncati tembok dan membongkar atap markas Ken Pei Tai, tercenganglah
pihak Jepang, pemuda itu bernama Slamet Rijadi.

Karir militer
Pada tahun 1940, ia menyelesaikan pendidikan di HIS ,ke Mulo Afd. B dan
kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi ,dan
memperoleh ijasah navigasi laut dengan peringkat pertama dan mengikuti
kursus tambahan dengan menjadi navigator pada kapal kayu yang berlayar
antar pulau Nusantara. Setelah pasukan Jepang, mendarat di Indonesia
melalui Merak, Indramayu dan dekat Rembang pada tanggal 1 Maret 1942
dengan kekuatan 100.000 orang ,dan walaupun memperoleh perlawanan dari
Hindia Belanda , tetapi dalam waktu singkat yaitu pada tanggal 5 dan 7
Maret 1942 , kota Solo dan Yogjakarta jatuh ketangan Jepang.

Slamet Rijadi merasa terpanggil membela ibu pertiwi, dan menjelang
proklamasi 1945 , ia mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah
kapal kayu milik Jepang, usaha Ken Pei Tai untuk menangkapnya tidak
pernah berhasil , bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi
berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari
pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam
kekuatan setingkat Batalyon , yang dipersiapkan untuk mempelopori
perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang
( Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X ).

Dalam perkembangannya terjadi pergantian pimpinan militer , Divisi X
dirubah menjadi Divisi IV, dengan Panglimanya Mayor Jenderal Soetarto
dan divisi ini dikenal dengan nama Divisi Penembahan Senopati, yang
membawahi 5 Brigade tempur . Diantaranya Brigade V dibawah pimpinan
Suadi dan mempunyai Batalyon XIV dibawah komando Mayor Slamet Rijadi ,
yang merupakan kesatuan militer yang dibanggakan. Pasukannya terkenal
dengan sebutan anak buah “Pak Met” . Selama agresi Belanda II ,
pasukannya sangat aktif melakukan serangan gerilya terhadap kedudukan
militer Belanda, pertempuran demi pertempuran membuat sulit pasukan
Belanda dalam menghadapi taktik gerilya yang dijalankan Slamet Rijadi.
Namanya mulai disebut-sebut karena hampir di-setiap peristiwa perlawanan
di kota Solo selalu berada dalam komandonya.

Sewaktu pecah pemberontakan PKI-Madiun, batalyon Slamet Rijadi sedang
berada diluar kota Solo, yang kemudian diperintahkan secara langsung
oleh Gubernur Militer II – Kolonel Gatot Subroto untuk melakukan
penumpasan ke arah Utara, berdampingan dengan pasukan lainnya, operasi
ini berjalan dengan gemilang.

Dalam palagan perang kemerdekaan II, Slamet Rijadi dinaikkan pangkatnya
menjadi Letnan Kolonel, dengan jabatan baru Komandan “Wehrkreise I” (
Penembahan Senopati ) yang meliputi daerah gerilya Karesidenan Surakarta,
dan dibawah komando Gubernur Militer II pada Divisi II , Kolonel Gatot
Subroto. Dalam perang kemerdekaan II inilah Let.Kol. Slamet Rijadi,
membuktikan kecakapannya sebagai prajurit yang tangguh dan sanggup
mengimbangi kepiawaian komandan Belanda lulusan Sekolah Tinggi Militer
di Breda Nederland. Siang dan malam anak buah Overste (setingkat Letnan
Kolonel ). Van Ohl digempur habis-habisan, dengan penghadangan,
penyergapan malam, sabotase . Puncaknya ketika Let.Kol Slamet Rijadi
mengambil prakarsa mengadakan “serangan umum kota Solo” yang dimulai
tanggal 7 Agustus 1949, selama empat hari empat malam. Serangan itu
membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan
penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara
frontal ketengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat-artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh.
Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, 109 rumah penduduk porak
poranda, 205 penduduk meninggal karena aksi teror Belanda , 7 serdadu
Belanda tertembak dan 3 orang tertawan sedangkan dipihak TNI 6 orang
gugur.

Setelah terjadi gencatan senjata , dan pada waktu penyerahan kota Solo
kepangkuan Republik Indonesia , dari pihak Belanda diwakili oleh
“Overste Van Ohl” sedangkan dari pihak R.I oleh Let.Kol. Slamet Rijadi.
Ov.Van Ohl demikian terharu, bahwa Let.Kol. Slamet Rijadi yang selama
ini dicari-carinya ternyata masih sangat muda . ” Oooh …Overste tidak
patut menjadi musuh-ku…. .” , Overste pantas menjadi anakku, tetapi
kepandaiannya seperti ayahku.

Pada akhir tahun 1949, sebagai penganut agama Katholik, Slamet Rijadi di
baptis dengan nama Ignatius di Gereja Room Katholik – Solo. Pada tanggal
10 Juli 1950, Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi, berangkat dengan
kapal Waikalo dan memimpin batalyon 352 untuk bergabung dengan pimpinan
umum operasi – Panglima TT VII – Kolonel Kawilarang, dalam penugasan
menumpas pemberontakan Kapten Andi Aziz di Makasar dan pemberontakan
Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori oleh Dr.Soumokil dan
kawan-kawan.

Riwayat Perjuangan
Patung Slamet Rijadi di depan Rumah Sakit AD Slamet Riyadi,
Surakarta Karir, Pangkat, Jabatan Kegiatan, Pendidikan, Operasi Militer
Waktu Siswa, MULO Afd.B Pertahanan Bumi Putra 1940
Sekolah Tinggi Pelayaran Rekrutmen Pemuda oleh tentara Jepang 1943
Navigator kapal kayu Pemberontakan kapal,milik Jepang 1945
Dan.Yon.Res. I, Divisi I Perang di Krsd. Solo melawan Jepang & Belanda
1945
Dan.Yon.Res. I, Divisi I Penumpasan pemberontakan PKI Madiun 1948
Dan.Wehrkreise I Perang Kemerdekaan II, Serangan Umum Solo 1949
Wakil Pemerintah RI Penyerahan Kota Solo 29-12-1949
Komando Yon.352 Mendukung Div.Siliwangi menumpas APRA di Jabar. 1949
Wakil.Panglima TT VII. Penumpasan Pemberontakan di Makasar, RMS Ambon
1950
Wakil.Panglima TT VII. Gugur di gerbang benteng Victoria, Ambon
4-11-1950
Brigadir Jendral Anumerta Kenaikan pangkat atas jasa almarhum 1950

sumber
link:http://kotasolo. info/index. php?option= com_content& task=view& id=214&\
Itemid=77

Photobucket

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (1900-1986) adalah salah
seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang
pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu ia juga pernah menjabat
sebagai beberapa Menteri setelah Indonesia merdeka.

Masa kecil
Kasimo Hendrowahyono dilahirkan di Yogyakarta. Ia dibaptis secara
Katolik dan mendapat nama baptis Ignatius Joseph. Kemudian ia setelah
dewasa menjadi guru pertanian di Tegal dan Surakarta.

Aktif di bidang politik
Kasimo Hendrowahyono adalah salah satu pendiri partai politik Katholiek
Djawi yang lalu berubah nama menjadi Perkoempoelan Politiek Katholiek di
Djawa dan lalu menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI).

Volksraad
Sebagai anggota PPKI, Kasimo diangkat menjadi anggota Volksraad antara
tahun 1931 – 1942. Ia ikut menandatangani petisi Soetardjo yang
menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda.

Masa Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan awal, PPKI yang dilarang oleh Jepang dihidupkan
kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi Partai Katolik
Republik Indonesia. Antara tahun 1947-1949 ia duduk sebagai Menteri Muda
Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan
Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau
Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjabat sebagai menteri.

Pada masa Agresi Militer II (Politionele Actie) ia bersama menteri
lainnya yang tidak dikurung Belanda bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Lalu ketika bisa kembali ke Yogyakarta ia memprakarsai kerja sama
seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.

Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Kasimo duduk sebagai wakil
Republik Indonesia dan kemudian setelah RIS dilebur sebagai anggota DPR.
Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap ia menjabat sebagai Menteri
Perekonomian.

Kasimo menolak Kabinet yang diprakarsai Soekarno dan terdiri dari empat
partai pemenang pemilu 1955: PNI, Masyumi, NU dan PKI. Kala itu Masyumi
dan Partai Katolik Indonesia yang satu-satunya menolak bekerja sama
dengan PKI di kabinet.

Masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru, Kasimo diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan
Agung Republik Indonesia.

Referensi
* Ensiklopedi Nasional Indonesia (1991)

sumber
link:http://id.wikipedia .org/wiki/ Ignatius_ Joseph_Kasimo_ Hendrowahyono

Yosaphat Sudarso-Yos Sudarso

Laksamana Madya Yosaphat Sudarso (Salatiga, 24 November 1925–Laut
Aru, 13 Januari 1962) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Beliau
gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran Laut Aru pada masa
kampanye Trikora. Namanya kini diabadikan pada sebuah KRI dan pulau.

sumber link: http://id.wikipedia .org/wiki/ Yosaphat_ Sudarso

berkatitan dgn Yos Sudarso ,silahkan baca juga:
Pertempuran Laut Aru
sumber link: http://id.wikipedia .org/wiki/ Pertempuran_ Laut_Aru

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

One Response to “tokoh katolik dan kemerdekaan”

  1. ermalindo on October 22, 2008 6:28 pm

    blog ini bagus dan menambah wawasan, satu anjuran saja: coba cari dan temukan lagi tokoh-tokoh katolik yang berjasa bagi negeri ini!!!! thanks dan profisiat untuk posting-postingnya
    gracias

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind