Renungan Harian 17 Juni 2008
* Bacaan I : 1Raj 21:17-29
* Bacaan Injil : Mat 5:43-48
Renungan

CINTA yang sungguh CINTA adalah murni, tidak pandang bulu, dan berlaku untuk semua makhluk hidup dan semua hal. Sangat mudah membalas cinta. Sangat mudah mencintai orang-orang yang baik dan menyenangkan. Sangat mudah mencintai teman-teman terbaik kita.
Namun, kiranya sangat sulit untuk mencintai mereka yang melukai kita. Sangat sulit mencintai musuh atau orang yang kita anggap jahat terhadap kita. Bagaimana mungkin membalas kejahatan atau keterlukaan dengan cinta? Bagaimana mungkin berdoa untuk orang membuat kita menderita? Kita kagum dengan para suami-istri yang tetap berusaha saling mencintai meskipun ada luka dan kekecewaan. Kita kagum dengan orang tua yang tetap mencintai anak-anaknya. Bahkan, ketika anak-anaknya membalas kebaikan orangtua dengan penderitaan. Bagaimana dengan anda?
Tuhan, alangkah indahnya dunia ketika manusia masih mau mencintai, bahkan disaat ada kekecewaan dan penderitaan. Teguhkanlah hatiku untuk tetap mencintai. Amin
http://mirifica.net/harianDetail.php
Filed under renungan harian | Comments OffApakah itu Adorasi Sakramen Maha Kudus?
Ketika kamu maju untuk menerima Komuni Kudus di gereja, pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri, “Apakah yang aku makan?” Wah, itu pertanyaan yang salah! Komuni Kudus bukan suatu benda!
Seharusnya kamu bertanya, “Siapakah yang aku terima?” Komuni Kudus adalah seorang pribadi. Yaitu pribadi Yesus dari Nazaret – orang yang sama yang dilahirkan pada hari Natal dan yang wafat disalib, Putra Tunggal Allah yang Kekal.
Orang sering melupakan hal ini karena Komuni tidak seperti seorang manusia atau pun suatu makhluk ilahi. Ketika kita menerima Komuni Pertama kita, mungkin kita memikirkannya, tetapi kemudian kita segera lupa akan hal tersebut.
Gereja melakukan sesuatu untuk mengingatkan kita, yaitu dengan “Adorasi”. Adorasi membantu kita menyadari bahwa Tuhan sungguh nyata hadir secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus. Imam mentahtakan Hosti Kudus dalam suatu tempat yang disebut monstran (artinya `mempertontonkan’). Kita bersembah sujud pada Yesus. Kita mengatakan pada-Nya betapa kita mencintai-Nya dan menyembah-Nya. Inilah yang disebut “Adorasi Sakramen Mahakudus”. Kita tidak menyembah roti, tetapi kita menyembah Putra Allah.
Pada akhirnya, Yesus Sendiri memberkati kita secara pribadi. Sesungguhnya, bukan imam yang memberkati, melainkan Tuhan Sendiri.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Mengapa Hosti Bentuknya Bundar?
Kadang-kadang kita menerima Komuni Kudus apa adanya. Kita maju untuk menerima hosti putih tanpa sungguh-sungguh berpikir tentangnya. Karena iman, kita percaya bahwa hosti yang kita terima itu adalah Tubuh Kristus, tetapi pernahkah kalian berpikir tentang hosti yang kalian terima itu? Misalnya saja, mengapa bentuknya bundar?
Sebenarnya hosti tidak harus berbentuk bundar atau pun bentuk khusus lainnya. Sebagian Imam Katolik Roma menggunakan roti altar yang besar dan memecah-mecahkannya sehingga potongan-potongannya memiliki bentuk serta ukuran yang tidak beraturan. Sebagian imam lainnya menggunakan roti yang dipotong-potong berbentuk kubus sebagai hosti.
Namun demikian, pada umumnya Gereja Katolik menggunakan hosti yang bentuknya bundar karena dua alasan:
1. Lebih mudah ditelan.
2. Bentuknya yang bundar serupa dengan bentuk roti tradisional yang biasa dibuat di tanah kelahiran Yesus. Mungkin kalian tahu roti Syrian atau roti “pita”. Pita berasal dari bahasa Arab yang artinya bundar (kata ‘pizza’ juga berasal dari kata ini).
Jadi hosti dibuat bentuknya bundar untuk mengingatkan kita akan roti yang dipakai oleh Yesus. Lain kali saat kalian menerima komuni, pandanglah hosti yang kalian terima baik-baik. Mungkin kalian menemukan hal-hal baru lainnya di sana.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Mengapa Roti Komuni disebut Hosti?
Hosti berasal dari bahasa Latin `Hostia’, artinya kurban. Ketika Yesus wafat disalib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kurban adalah sesuatu yang kamu relakan bagi orang lain. Selama Masa Prapaskah kita berkurban tidak makan permen atau menonton acara TV favorit kita sebagai silih atas dosa-dosa kita terhadap Tuhan.
Ketika kita menerima Hosti, kita mempersatukan diri dengan kurban Kristus. Kita juga mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal atas dosa-dosa kita. Tuhan menjawab, “Baiklah, Aku mengampunimu.”
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Renungan Harian 12 Juni 2008
Renungan Harian 12 Juni 2008
* Bacaan I : 1Raj 18-41-46
* Bacaan Injil : Mat 5:20-26
Renungan
Ada seorang pemarah yang ngeri membaca teks tersebut diatas. “Wah,aku bakal masuk neraka karena aku sering marah-marah. “Lalu, dia mulai merenung mengapa dalam kehidupan ini lebih mudah memilih marah daripada berdamai. Lebih mudah menuduh orang lain dan membenarkan diri sendiri. Lebih mudah menunjuk orang dengan satu jari telunjuk padahal kalau dia sadari empat jari yang lain menunjuk dirinya sendiri. Mengapa?
Manusia sebenarnya lebih ingin berdamai daripada bertengkar, lebih memilih punya teman daripada punya musuh. Lalu mengapa ada orang lebih memilih marah dan menilai orang lain negatif? Mengapa tidak memilih untuk menerima dan memberikan banyak toleransi kepada orang lain? Maka, manusia harus kembali ke hati nuraini nya sendiri, kembali ke fitrahnya – keadaan awal saat Allah menciptakan alam semesta beserta isinya baik adanya – hidup rukun dan damai. Maukah kita ikut membangun dunia yang dikehendaki Allah sedari mula?
Tuhan, jadikan aku mejadi pembawa damai jika terjadi perselisihan dan kebencian. Amin
from http://mirifica.net/harianDetail.php
Filed under renungan harian | Comments OffRenungan Harian 10 Juni 2008
Selasa, 10 Juni 2008
* Bacaan I : 1Raj 17:7-16
* Bacaan Injil : Mat 5:13-16
Renungan
Biasanya kita berpikir bagaimana kita menjadi garam bagi orang lain. Silahkan saja. Namun jangan hanya berpikir menjadi garam untuk mengasinkan orang lain. Maukah mengubah diri menjadi garam lebih dahulu?
Pernahkah terpikir bagaimana menjadi garam? Mudah sekali. Yang paling utama harus dimiliki untuk menjadi garam adalah kerelaan berubah! Karena garamnya itu asalnya dari air laut yang dijemur supaya kering dan dibolak-balik supaya berubah menjadi garam. Jadi apakah Anda siap menjadi garam? Siap berubahkah Anda? Siapkah anda meninggalkan kehidupan anda yang lamadan menjadi pribadi baru yang sudah diubah? Perubahan dalam masyarakat hanya akan terjadi bila banyak orang yang mau mulai mengubah dunia dengan mulai mengubah dirinya sendiri lebih dahulu.
Tuhan, menjadi garam bukan hanya sekedar mengasinkan, tetapi yang terutama adalah diri sendiri mau berubah. Bantulah aku agar sanggup berubah. Amin.
from http://mirifica.net/harianDetail.php
Filed under renungan harian | Comment (0)8 May | B. Katarina dari St. Agustinus
Katarina dilahirkan pada tanggal 3 Mei 1632 di sebuah desa kecil di Perancis. Ia dibaptis pada hari itu juga. Keluarga Katarina adalah keluarga Katolik yang saleh. Kakek dan neneknya memberikan teladan terutama dalam ketulusan mereka merawat orang-orang miskin. Katarina menyaksikan dengan mata terbelalak sementara neneknya mengajak seorang pengemis cacat masuk ke dalam rumah mereka. Neneknya itu mempersilakan sang pengemis mandi, memberinya pakaian bersih serta menyediakan hidangan lezat. Ketika Katarina dan kakek neneknya duduk bersama sekeliling perapian malam itu, mereka mendaraskan doa Bapa Kami keras-keras. Mereka mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya.
Karena tidak tersedia rumah sakit di kota mereka yang kecil, orang-orang sakit dirawat hingga sembuh kembali di rumah kakek nenek Katarina. Katarina mulai menyadari bahwa penyakit dan penderitaan membutuhkan kesabaran. Ia masih seorang gadis kecil, tetapi ia berdoa mohon pada Yesus agar mengurangi penderitaan orang-orang. Ketika masih gadis belia, Katarina bergabung dalam ordo baru Biarawati Santo Agustinus. Mereka merawat orang-orang sakit di rumah sakit. Suster Katarina menerima jubahnya pada tanggal 24 Oktober 1646. Pada hari yang sama, kakak perempuannya mengucapkan kaulnya. Pada tahun 1648, Sr Katarina mendengar para imam misionaris meminta para biarawati untuk datang ke Perancis Baru atau Kanada, yang merupakan daerah misi. Saudari Katarina dipilih sebagai salah seorang dari para biarawati pertama dari ordo mereka yang akan pergi sebagai misionaris ke Kanada. Sr Katarina belum genap enambelas tahun usianya, tetapi ia mohon dengan sangat agar diperkenankan ikut serta. Sr Katarina mengucapkan kaulnya pada tanggal 4 Mei 1648. Keesokan harinya ia berlayar ke Kanada, yaitu sehari sebelum ulang tahunnya yang keenambelas.
Perjuangan hidup terasa berat di Quebec, Kanada. Sr Katarina mengasihi masyarakat di sana. Orang-orang Indian sangat berterimakasih atas sikapnya yang riang gembira. Ia memasak dan merawat mereka yang sakit di rumah sakit ordo mereka yang miskin. Tetapi, Sr Katarina merasa takut juga. Orang-orang Indian dari suku Iroquois membantai orang serta membakar desa-desa. Katarina berdoa kepada St. Yohanes Brebeuf, salah seorang dari para imam Yesuit yang belum lama dibunuh oleh suku Iroquois pada tahun 1649. Ia berdoa mohon bantuan St. Brebeuf agar ia setia pada panggilannya. Sr Katarina mendengarnya berbicara dalam hatinya, memintanya untuk tetap tinggal. Sementara itu, makanan mulai sulit didapat dan musim dingin luarbiasa menggigit. Sebagian dari para biarawati tidak tahan menghadapi kehidupan yang keras itu, ditambah lagi rasa takut yang terus-menerus karena ancaman maut. Sayang sekali, mereka kembali ke Perancis. Sr Katarina juga takut. Kadang-kadang ia merasa sungguh sulit berdoa. Dan sementara ia tersenyum kepada semua orang yang ia rawat dengan penuh kasih sayang di bangsal-bangsal rumah sakit, ia merasa sedih. Pada saat itulah, ketika segalanya tampak gelap baginya, ia mengucapkan janji untuk tidak pernah meninggalkan Kanada. Ia berjanji untuk tetap tinggal, melakukan karya belas kasihannya hingga akhir hayat. Saat mengucapkan janjinya, Katarina baru berusia duapuluh dua tahun.
Meskipun orang harus dengan usaha keras merintis kehidupan di koloni Perancis itu, banyak juga pendatang. Gereja berkembang. Tuhan memberkati daerah baru tersebut dengan lebih banyak misionaris. Pada tahun 1665, Sr Katarina menjadi pembimbing novis dalam komunitasnya. Ia tetap membaktikan dirinya dalam doa dan pelayanan rumah sakit hingga akhir hidupnya. Sr Maria Katarina dari St. Agustinus wafat pada tanggal 8 Mei 1668. Usianya tiga puluh enam tahun. Ia dinyatakan sebagai “beata” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.
Yesus tidak pernah menjanjikan kita hidup yang enak dan tanpa derita. Tetapi, sungguh Ia berjanji untuk menyertai kita senantiasa. Kita berdoa agar kita boleh belajar untuk mengandalkan hidup kita sepenuhnya pada-Nya.
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May | Comments Off3 Mei | St. Yakobus & Santo Filipus
Kedua orang kudus ini termasuk dalam kedua belas rasul Yesus. Filipus merupakan salah seorang dari para rasul-Nya yang pertama. Ia dilahirkan di Betsaida, di wilayah Galilea. Tuhan Yesus bertemu dengannya dan berkata, “Ikutlah Aku!” Filipus sangat bersukacita bersama Yesus. Ia ingin membagikan sukacitanya itu kepada sahabatnya, Natanael. “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi,” kata Filipus, “yaitu Yesus dari Nazaret.”
Natanael tidak ikut bergembira. Nazaret hanyalah sebuah kota kecil, dan bukannya suatu kota besar dan penting seperti Yerusalem. Jadi, kata Natanael, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Tetapi, Filipus tidak marah mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia hanya mengatakan, “Mari dan lihatlah!” Natanael pergi menjumpai Yesus. Setelah berbicara dengan-Nya, Natanael juga menjadi seorang pengikut Kristus yang setia.
St. Yakobus adalah putera Alfeus dan saudara sepupu Yesus. Setelah kenaikan Yesus ke surga, Yakobus menjadi Uskup Yerusalem. Orang banyak sangat menghormatinya dan memberinya julukan “Yakobus si Adil,” yang berarti “Yakobus yang Kudus.” Ia juga dijuluki “Yakobus Muda,” karena ia lebih muda dari seorang rasul lainnya yang juga bernama Yakobus. Yakobus yang lain itu dijuluki “Yakobus Tua” karena ia lebih tua usianya.
St. Yakobus seorang yang lemah lembut dan pemaaf. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk berdoa. Terus-menerus ia memohon kepada Tuhan untuk mengampuni mereka yang menganiaya para pengikut Kristus. Bahkan ketika para penganiaya umat Kristen menjatuhkan hukuman mati atasnya, Yakobus memohonkan ampun bagi mereka kepada Tuhan. St. Yakobus wafat sebagai martir pada tahun 62.
Bagaimana jika aku menjadi seorang rasul Kristus pada masa sekarang? Maukah aku mewartakan Kabar Gembira akan apa yang aku dapatkan dari iman kepada Yesus?
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May, Mengenal Santo Santa | Comments OffDalam Sebuah Gereja Katolik: apa yang ada di sana dan mengapa?
oleh: Romo Thomas Richstatter, O.F.M. *
Mike mengajak teman perempuannya ikut Misa pada hari Minggu yang lalu, dan sesudahnya Mike mengatakan kepada saya, “Saya tidak akan pernah melakukannya lagi! Ashley bukan seorang Katolik dan ia memberondong saya dengan berbagai macam pertanyaan yang saya tidak tahu bagaimana menjawabnya, dan itu terjadi bahkan sebelum Misa dimulai! Gereja Katolik kita mempunyai begitu banyak hal yang tidak dimiliki gerejanya, dan ia ingin tahu barang-barang apa itu dan mengapa ada di sana.”
Dalam artikel ini, saya akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan Mike bagi kalian, kalau-kalau saja kalian menghadapi situasi yang sama. Atau mungkin kalian sendiri terkadang bertanya-tanya mengenai apa-apa yang kalian lihat dalam sebuah gereja Katolik.
Sebuah gereja Katolik tidak seperti tempat pertemuan yang luas lainnya, seumpama stadion olahraga atau ruang konser. Dalam sebuah gereja, tidak ada tempat bagi sekedar penonton.
Misa bukanlah sesuatu yang kita tonton, melainkan sesuatu yang kita lakukan. Keseluruhan gereja adalah “lapangan main” dan kalian adalah bagian dari timnya; keseluruhan gereja adalah “panggung” dan kalian adalah pemainnya. Kita berperan; Tuhan dimuliakan.
Mari Masuk

Yang pertama kalian lihat pada saat kalian memasuki pintu sebuah gereja Katolik adalah sebuah kolam air – air dengan mana kita dibaptis – sebab Pembaptisan adalah pintu masuk ke dalam Gereja. (Di sebagian gereja, sebuah bejana air suci di tiap-tiap pintu menggantikan kolam pembaptisan.)
Sementara memasuki pintu gereja, aku mencelupkan tanganku ke dalam air, membuat Tanda Salib dan memperbaharui janji-janji yang diucapkan orangtuaku atas namaku pada saat aku dibaptis. Dekat kolam pembaptisan, atau dekat bejana baptis, berdiri tegak sebuah lilin besar yang disebut Lilin Paskah. Pada awal perayaan Paskah kita setiap tahun, yakni pada Malam Paskah, kita menyalakan lilin ini untuk pertama kalinya. Terang dan teladan Kristus menghalau keraguan dan ketakutan kita sama seperti terang nyala lilin menghalau kegelapan.
Pada Malam Paskah, lilin paskah dicelupkan ke dalam air pembaptisan sementara kita berdoa agar Kristus datang dan hidup dalam Bunda Gereja seperti dalam rahim. Sama seperti kita dilahirkan dari rahim ibu kita, demikianlah sebagai umat Kristiani kita dilahirkan kembali dalam Pembaptisan.
Juga dalam area pembaptisan dalam gereja, kalian akan melihat sebuah ceruk di dinding atau sebuah lemari kecil yang disebut Sacrarium untuk menyimpan tiga bejana minyak: 1) minyak katekumen, dipergunakan untuk memberkati dan menguatkan mereka yang mempersiapkan diri untuk Pembaptisan; 2) minyak pengurapan orang sakit, dipergunakan imam untuk memulihkan dan menguatkan mereka yang sakit dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit; dan 3) minyak krisma, dipergunakan dalam Sakramen Baptis, Sakramen Krisma dan Sakramen Imamat.
Pengurapan dengan minyak memainkan peran penting dalam Gereja kita. Kata “Kristus” berasal dari kata Yunani yang berarti “Diurapi”. Ketika kita diurapi – dikristenkan – dengan minyak suci, hal itu merupakan suatu tanda akan hubungan istimewa kita dengan Kristus, Yang Diurapi.
Juga dalam area pembaptisan ini kalian akan melihat pintu yang menghantar ke sebuah kamar kecil yang dirancang untuk merayakan Sakramen Rekonsiliasi secara individual. Kamar pengakuan dosa ditempatkan di sini karena Sakramen Tobat bertumbuh dari Sakramen Baptis. Praktek pengakuan dosa muncul dari perlunya mendamaikan kembali umat Kristiani yang telah melalaikan atau mengabaikan janji-janji baptis mereka.
Tempat bagi Jemaat
Bergerak dari area pembaptisan masuk ke dalam gereja itu sendiri, kita mendapati diri berada dalam sebuah ruang terbuka yang luas, yang disebut Panti Umat.
Mengunjungi sebuah gereja yang kosong adalah bagaikan mengunjungi sebuah taman hiburan pada musim dingin. Kita dapat membayangkan seperti apa taman hiburan itu dengan lampu-lampu kemilau, musik menggema dan anak-anak berlarian di sekitarnya menerobos khalayak ramai yang bersuka ria, tetapi taman itu membutuhkan orang-orang agar tampak pas. Demikian juga, panti umat sebuah gereja membutuhkan banyak orang-orang – suatu kongregasi – agar tampak pas.
Panti Umat biasanya dipenuhi dengan bangku-bangku. Dalam bahasa Yunani “podion”, tempat di mana kaisar dan orang-orang terhormat lainnya duduk dalam sebuah arena.
Banyak nama-nama teknis barang yang kalian lihat dalam sebuah gereja, berasal dari kata-kata Yunani atau Latin, sebab itulah bahasa-bahasa yang dipergunakan umat Kristiani perdana ketika mereka menamai barang-barang itu. Di bagian akhir, kalian dapat belajar lebih banyak mengenai asal mula kata-kata ini.

Bangku-bangku dan tempat duduk permanen masuk ke dalam gereja kurang lebih bersamaan waktunya dengan ditemukannya mesin cetak. Orang mulai “berbaris” dalam bangku-bangku seperti mesin mencetak “barisan” kata-kata dalam sebuah halaman cetak. Pada masa Reformasi Protestan, bangku-bangku memungkinkan kongregasi untuk duduk dan mendengarkan khotbah, yang kerapkali berlangsung beberapa jam lamanya.
Pada masa sekarang, sebagian gereja memiliki tempat duduk yang fleksibel sebagai ganti bangku-bangku. Bangku-bangku permanen dapat membuat kita berpikir akan kongregasi sebagai sekelompok “pendengar” dalam sebuah auditorium (kata Latin “audire” berarti mendengarkan). Andai memang itu peran kita, maka kita akan menjadi sekedar pendengar daripada pelaku.
Pada abad ke-13, ketika umat Kristiani tidak lagi kerap menyambut Komuni Kudus dan puncak Misa adalah memandang Hosti Kudus daripada menyantapnya, kongregasi mulai berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus sama seperti mereka biasa berlutut di hadapan seorang raja duniawi atau tuan mereka. Sejalan dengan semakin kerapnya praktek berlutut dalam gereja, maka mulailah muncul prie-dieu atau tempat berlutut. Pada masa sekarang, kalian akan mendapati tempat berlutut di sebagian besar gereja, meski postur tubuh yang lebih tradisional, yakni berdiri dalam bersembah bakti, menjadi semakin lebih umum dan sebagian gereja yang lebih baru dibangun tidak lagi memiliki tempat berlutut.
Berdiri adalah postur tubuh yang mengungkapkan hormat dan perhatian mendalam, sebagai peziarah jemaat siap untuk melaksanakan pesan Injil. Berdiri tidak saja menempatkan kita dalam persatuan dengan umat Katolik lainnya di seluruh dunia yang senantiasa merayakan Misa dengan berdiri, namun yang terlebih penting, doa-doa resmi mengandaikan jemaat yang berdiri: “Kami bersyukur sebab kami Engkau anggap layak menghadap Engkau dan berbakti kepada-Mu” (Doa Syukur Agung II).
Di Mana Tindak Kudus Dilakukan
Dari manapun kita berdiri dalam gereja, perhatian kita diarahkan ke Panti Imam, area utama di mana dilangsungkan tindak liturgis dan di mana ditempatkan ketiga perabot utama: kursi pemimpin, ambo dan meja altar.
Pada mulanya, area ini disebut sanctuarium, yang artinya kudus. Tetapi apabila istilah sanctuarium dipergunakan, kita wajib berhati-hati untuk tidak mengartikan bahwa hanya area ini saja yang kudus, sebab sungguh keseluruhan gereja adalah tempat yang kudus.
Tiap-tiap gereja mempunyai sebuah kursi pemimpin dan juga tempat duduk bagi para pelayan lainnya. Kursi pemimpin bukanlah sebuah tahta bagi seorang yang disendirikan, melainkan ditata sedemikian rupa hingga imam tampak sebagai anggota dari komunitas yang bersembah sujud, meski ia mempunyai tugas istimewa. Mimbar, yang disebut ambo, adalah tempat bagi Lectionarium atau Buku Bacaan Misa, yakni buku berisi bacaan-bacaan Misa dari Kitab Suci.
Altar adalah meja kudus di atas mana kita merayakan Perjamuan Tuhan. Altar berfungsi sekaligus sebagai meja perjamuan dan altar kurban; Misa adalah sekaligus Kamis Putih (perjamuan) dan Jumat Agung (kurban). Ketika Ekaristi dirayakan, sebuah kain altar atau taplak altar dihamparkan di atas meja altar. Kemudian, di atas altar ditempatkan roti dan anggur untuk Misa. Roti ditempatkan di atas patena dan anggur dituangkan ke dalam piala.
Busana Imam
Dalam Misa, imam mengenakan sebuah busana putih panjang yang disebut alba. Di atas alba, imam mengenakan sebuah busana yang lebih lebar, lebih berwarna-warni, yang disebut kasula. Pada masa kini, busana-busana ini tampak berbeda dari busana kita pada umumnya. Tetapi, pada mulanya tidaklah demikian. Alba dan kasula adalah busana sehari-hari yang dikenakan pada masa Greco-Romawi. Di rumah, baik laki-laki maupun perempuan mengenakan busana longgar yang panjang. Apabila bepergian ke tempat umum, mereka menutup alba ini dengan sehelai busana yang lebih meriah.
Apabila kalian ikut ambil bagian dalam Misa pada abad keempat di Roma, kalian akan mendapati pemimpin Misa berbusana kurang lebih sama dengan yang dikenakan para imam pada masa sekarang dalam Misa hari Minggu. Tetapi pada masa itu, bukan hanya imam saja, melainkan semua orang dalam gereja juga mengenakan alba dan kasula!
Mengikuti Terang
Dari sejak jaman para rasul, ketika anggota jemaat tidak dapat ikut ambil bagian dalam Misa hari Minggu karena sakit atau dalam penjara, sebagian dari roti dan anggur disimpan sesudah Komuni dan dihantarkan kepada anggota yang tidak dapat hadir ini. Ekaristi mulai disimpan agar dapat disambut sebagai viaticum pada saat menjelang ajal.
Tempat untuk menyimpan Hosti bagi mereka yang sakit dan di ambang ajal disebut tabernakel. Tabernakel juga seringkali kita dapati dalam Kapel Ekaristi, yakni kapel yang secara istimewa dirancang untuk menghormati Sakramen Mahakudus dan untuk mendorong doa dan devosi pribadi. Sebuah lilin atau Lampu Tuhan yang bernyala dekat tabernakel, secara tradisional memaklumkan kepada umat Katolik akan adanya Hosti yang telah dikonsekrasikan.
Lilin-lilin yang kita dapati dalam gereja dulunya sangat fungsional dan memberikan penerangan pada saat pembacaan Kitab Suci dan merayakan tindak kudus. Sekarang, pada masa gereja-gereja telah mempunyai penerangan listrik, lilin lebih memainkan peran simbolis. Cahaya lilin sungguh indah dan membangkitkan semangat, juga lilin membiarkan dirinya terbakar habis dalam pelayanan misteri-misteri sakral ini. Umat Katolik biasa menyalakan sebatang lilin di depan sebuah patung atau tempat doa sebagai ungkapan kerinduan agar doa-doa mereka terus membubung tinggi bahkan setelah mereka meninggalkan gereja.
Gambar-gambar yang Mengajar
Suatu ciri pembeda lainnya dari gereja-gereja Katolik seringkali adalah adanya patung-patung dan gambar-gambar devosional lainnya. Pada masa ketika Misa dan pembacaan-pembacaan dari Kitab Suci disampaikan dalam bahasa Latin yang tidak selalu dimengerti oleh umat beriman, patung-patung, lukisan dan gambar-gambar kaca jendela warna-warni seringkali menjadi Kitab Suci umat, mengajar dan menjelaskan misteri-misteri iman kita dan menghormati pahlawan-pahlawan yang mengamalkan imannya.
Ketika imam merayakan Ekaristi dengan membelakangi jemaat, dinding di belakang altar dan akhirnya ruang di atas altar itu sendiri mulai didekorasi dengan patung-patung dan lukisan-lukisan: pertama-tama salib, dan kemudian martir (yaitu orang yang mati demi Kristus) yang relikwinya ditempatkan di bawah altar, atau orang kudus (santa / santo) kepada siapa gereja dipersembahkan.
Sementara tempat-tempat doa ini diperbanyak dan ditempatkan lebih dan lebih tinggi lagi di atas altar, bagi banyak umat Katolik tempat-tempat doa ini menjadi fokus utama gereja. Apabila orang-orang Katolik yang lebih tua berbicara mengenai “altar tinggi” [= high altar] pada umumnya yang mereka maksudkan adalah kumpulan patung-patung dan tempat-tempat doa, daripada altar itu sendiri.
Seringkali, ketika tamu-tamu dari agama lain ikut hadir dalam Misa, mereka mempertanyakan gambar-gambar sengsara Kristus yang mereka lihat ada sekeliling dinding gereja. Ke-14 gambar, atau salib, ini disebut Jalan salib, membantu umat Katolik mempraktekkan suatu devosi yang telah populer sejak Abad Pertengahan.
Sejak masa awali, umat Kristiani rindu mengunjungi Tanah Suci dan menapaki jejak langkah Yesus menuju Kalvari, dengan mengenangkan bagian-bagian penting dari kisah sengsara. Di Eropa, pada Abad Pertengahan, devosi Jalan Salib dipopulerkan oleh para Fransiskan. Ibadat ini memungkinkan mereka yang tak mampu menanggung biaya ziarah yang jauh dan berbahaya ke Yerusalem, agar dapat ikut ambil bagian dalam Jalan Salib di kota kediaman mereka sendiri, dengan merenungkan apa yang telah Yesus lakukan bagi mereka. Orang akan bergerak dari satu salib ke salib berikutnya, dari perhentian ke perhentian, berdoa dengan mengenangkan peristiwa-peristiwa sengsara ini dalam kehidupan Yesus. Kita masih melakukannya hingga sekarang, teristimewa pada Masa Prapaskah.
Kisah Yesus tidak berakhir pada Jumat Agung, melainkan berlanjut hingga puncaknya pada Minggu Paskah. Karena itu, di sebagian gereja ditambahkan perhentian ke-15: Yesus Bangkit. Di sebagian gereja lainnya, jemaat berbalik kembali ke altar untuk memanjatkan doa penutup. Altar itu sendiri adalah simbol akan Kristus yang bangkit, dan karenanya perhentian ke-15 tidak diperlukan. Sebagian lainnya memanjatkan doa penutup di depan tabernakel, di mana terdapat kehadiran nyata Kristus yang bangkit di tengah kita. Devosi-devosi populer selalu amat fleksibel dan dapat berbeda dari paroki yang satu dengan paroki lainnya.
Pembaharuan liturgi baru-baru ini telah mengingatkan kita bahwa jemaat adalah fokus utama gereja dan segala obyek yang mengalihkan perhatian kita dari fokus itu adalah tidak sesuai ditempatkan dalam gereja. Ini bukan berarti bahwa segala patung dan karya-karya seni pun segala dekorasi harus disingkirkan dari gereja-gereja kita. Namun demikian, desain gereja wajib mendorong doa bersama dan tidak mengalihkan perhatian kita darinya.
Melihat Kembali untuk Pertama Kali
Gereja kalian mungkin tidak tampak tepat sama seperti yang kita gambarkan di sini. Setiap gereja adalah ungkapan iman dan “kepribadian” dari komunitas setempat, sama seperti kamar kalian di rumah adalah ungkapan dari siapa kalian sebenarnya dan apa yang kalian sukai. Saya tak hendak menata ulang kamar kalian hanya karena kamar itu tidak ditata seperti saya menata kamar saya, demikian pula saya tidak akan mengkritik gereja yang tidak tampak sama seperti yang digambarkan dalam artikel ini.
Saya hanya berusaha menggambarkan suatu gereja Katolik pada umumnya supaya kalian dapat mengenali maksud dan tujuan dari obyek-obyek pokok yang didapati di sana. Sementara kalian mengenal lebih banyak mengenai obyek-obyek ini, saya berharap kalian akan dapat merasa lebih nyaman berada di tempat ini. Inilah tempat kalian. Inilah tempat yang, saya harap, dapat membentuk dan memelihara sebagian dari saat-saat yang paling mendalam dan penuh arti dalam hidup kalian.
Daftar Istilah
PATENA : berasal dari bahasa Latin “patena” yang berarti “piring”.
Adalah wadah Hosti imam.
PIALA : dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”.
Piala dipergunakan untuk konsekrasi anggur pada waktu Misa.
VIATICUM : berasal dari bahasa Latin yang berarti “bekal perjalanan”.
Adalah Komuni Kudus yang dihantarkan kepada umat beriman yang di ambang ajal.
TABERNAKEL : berasal dari bahasa Latin “tabernaculum,” yang berarti “kemah” atau “tenda”.
Adalah wadah di mana Sakramen Mahakudus disimpan; mengingatkan kita akan bangsa Yahudi dan kemah yang mereka dirikan untuk menyimpan Tabut Perjanjian selama empatpuluh tahun masa pengembaraan mereka di padang gurun.
SANCTUARIUM : berasal dari bahasa Latin “sanctus,” yang berarti “kudus”.
Disebut juga Panti Imam, adalah area di mana tindak liturgis dilangsungkan. Sanctuarium biasanya dipisahkan dari seluruh bagian gereja lainnya dengan permukaan lantai yang agak tinggi, bentuk dan dekorasi yang khusus.
PANTI UMAT : dalam bahasa aslinya “navis,” yang berarti “kapal” atau “bahtera”.
Adalah bagian dari bangunan gereja di mana himpunan umat beriman berkumpul; menggambarkan Gereja sebagai himpunan orang percaya dalam bahtera keselamatan.
AMBO : berasal dari bahasa Yunani “anabainein,” yang berarti “naik, bergerak dari bawah ke atas”. Adalah tempat dari mana pembacaan Kitab Suci disampaikan.
ALBA : berasal dari bahasa Latin “albus” artinya “putih”.
Adalah busana lenan putih yang dikenakan pada peristiwa-peristiwa liturgis.
KASULA : berasal dari bahasa Latin “casula” yang artinya “rumah kecil”.
Adalah busana liturgis bagian luar yang dikenakan imam pada waktu Misa. Awalnya kasula adalah selembar kain lebar berbentuk kerucut dengan lubang untuk kepala, sepenuhnya membungkus si pemakai.
lihat juga: Ruangan Liturgi, Busana Liturgis Imam dalam Misa, Warna Busana Liturgis, Bejana-Bejana Suci, Simbolisme Lilin Menyala
Beberapa Tanya Jawab
T : Pater tidak mengatakan sesuatu mengenai lonceng atau bunyi lonceng; apakah ada makna religiusnya?
J : Pada masa sebelum ada jam tangan dan jam dinding, radio dan televisi, lonceng gereja seringkali adalah satu-satunya cara orang dapat mengetahui waktu dan mendapatkan informasi mengenai peristiwa-peristiwa penting. Lonceng memaklumkan kemenangan ataupun mara bahaya kepada penduduk kota. Pada masa sekarang, penggunaan lonceng lebih bersifat seremonial; lonceng mendentangkan bunyi yang menyenangkan. Pada waktu Misa, lonceng altar dibunyikan guna menyiagakan umat ketika sesuatu yang penting akan terjadi di altar. Pada masa sekarang, lonceng altar jarang dipergunakan sebab sekarang Misa dirayakan dalam bahasa ibu kita dan kita tahu apa yang sedang berlangsung di altar. Juga, kita telah paham bahwa keseluruhan Misa adalah penting; tidak ada “saat-saat magic”.
T : Menempatkan relikwi di altar, rasanya seperti merampok makam. Bukankah rasanya sangat tidak hormat memisahkan bagian-bagian tubuh seorang martir untuk ditempatkan di altar-altar yang berbeda? Mengapakah Gereja melakukan hal ini?
J : Gereja perdana seringkali merayakan Misa di makam-makam para martir. Relikwi para kudus dipergunakan untuk menjadikan altar-altar yang jauh dari Roma serupa dengan makam-makam yang demikian. Paus Gregorius Agung khawatir, seperti kalian juga, bahwa memperlakukan relikwi seorang kudus seperti itu terasa kurang hormat. Selama berabad-abad, masalah ini diperdebatkan dalam konsili-konsili Gereja. Akhirnya, keputusannya adalah bahwa tujuan dari relikwi adalah untuk menyampaikan hormat dan karenanya dapat diterima. Jadi, maksudnya bukanlah untuk merampok makam, dengan sembunyi-sembunyi atau dengan sembrono mengganggu suatu tempat pemakaman.
T : Saya berpendapat bahwa patung-patung membantu saya berdoa, dan saya sungguh menyukainya. Siapakah yang menentukan apakah patung-patung itu membantu atau mengalihkan perhatian umat?
J : Komunitas memutuskannya bersama-sama. Satu point penting di sini: liturgi adalah sesuatu yang kita lakukan bersama. Gereja paroki adalah suatu tempat di mana umat paroki berdoa bersama. Apabila kita melakukan sesuatu bersama-sama, sudahlah lazim apabila dibuat kesepakatan. Apabila saya ingin pergi dan makan bersama teman-teman saya dan Bob ingin makan lebih awal pukul lima sore sementara Sue tak hendak makan hingga pukul delapan, maka jika kita ingin makan bersama, kita harus membuat kesepakatan! Penataan dan dekorasi gereja paroki kita seringkali menyangkut kesepakatan-kesepakatan, sebab gereja paroki adalah tempat yang kita semua pakai bersama-sama.
* Fr Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institut Catholique of Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.
sumber : “Inside a Catholic Church: What’s There and Why? by Thomas Richstatter, O.F.M.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org
diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya
2 Mei | St. Atanasius
![]() |
Atanasius dilahirkan sekitar tahun 297 di Alexandria, Mesir. Ia membaktikan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Hal ini amat penting, karena sekelompok orang yang disebut Arian menyangkalnya. Sebelum ia menjadi seorang imam, Atanasius telah banyak membaca buku tentang iman. Oleh sebab itulah dengan mudah ia dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan ajaran bidaah Arian.
Atanasius ditahbiskan sebagai Uskup Agung Alexandria ketika usianya masih belum tiga puluh tahun. Selama empat puluh enam tahun, ia menjadi seorang gembala yang menggembalakan umatnya dengan gagah berani. Empat orang kaisar Romawi tidak dapat memaksanya berhenti menuliskan penjelasan-penjelasannya yang terang dan jelas mengenai iman kita yang kudus. Para musuhnya menganiayanya dengan berbagai cara.
Lima kali ia diusir dari keuskupannya sendiri. Pengasingannya yang pertama berlangsung dua tahun lamanya. Ia dibuang ke kota Trier pada tahun 336. Seorang uskup yang baik, St. Maximinius, menyambutnya dengan hangat. Pengasingan-pengasiangan lainnya berlangsung lebih lama. Atanasius dikejar-kejar oleh orang-orang yang hendak membunuh dia. Di salah satu pengasingannya, para rahib menyembunyikannya di padang gurun selama tujuh tahun. Para musuhnya tidak dapat menemukannya.
Suatu ketika, para prajurit kaisar mengejar Atanasius hingga ke Sungai Nil. “Mereka berhasil mengejar kita!” teriak para sahabat uskup. Tetapi, Atanasius sama sekali tidak khawatir. “Putar balik perahu kita,” katanya tenang, “mari menyongsong mereka.” Para prajurit di perahu yang lain berteriak, “Apakah kalian melihat Atanasius?” Jawab mereka: “Kalian tidak jauh darinya!” Perahu musuh melaju sekencang-kencangnya dan Atanasius pun selamatlah.
Umat di Alexandria mengasihi uskup agung mereka yang baik hati itu. Ia seperti seorang bapa bagi mereka. Sementara tahun-tahun berlalu, mereka menghargainya lebih dan lebih lagi, betapa banyak ia telah menderita bagi Yesus dan Gereja. Umatlah yang mengatur serta mengusahakan agar ia dapat hidup dengan tenang. Ia menghabiskan tujuh tahun terakhir hidupnya dengan tenang bersama mereka. Para musuh tetap mengejarnya, namun tak pernah dapat menemukanya. Selama masa itu, St. Atanasius menulis tentang Riwayat Hidup St. Antonius Pertapa. Antonius telah menjadi sahabat dekatnya sejak Atanasius masih muda. St. Atanasius wafat dalam damai pada tanggal 2 Mei 373. Ia tetap menjadi salah seorang santo terbesar dan tergagah sepanjang masa.
Tantangan apakah yang aku hadapi sebagai seorang Kristen pada masa sekarang? Dengarkanlah kata-kata Yesus: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal … Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yoh 14:2-3)
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May, Mengenal Santo Santa | Comments Off







