Memento Mori
![]() |
“Memento Mori”
(Oleh: Y. Dwi Harsanto, Pr)
Pada bulan November, Gereja Kristen Katolik, yang sejak semula mendasarkan diri pada alkitab, tradisi suci dan magisterium, memusatkan diri untuk mendoakan arwah semua orang beriman. Apa maknanya di zaman yang serba sekuler-materialist is ini?
Sudah Meninggal Kok Didoakan?
Mengapa mendoakan orang beriman yang sudah meninggal? Pertanyaan itu sebaiknya juga dibalik: Mengapa tidak mau mendoakan orang yang sudah meninggal? Namun anehnya, jawaban atas pertanyaan kedua ini justeru tidak relevan manakala kita mencari jawaban atas pertanyaan pertama. Lebih-lebih, jika pertanyaan itu dibuat reflektif: “Apakah nanti setelah mati, aku mau / tidak mau didoakan oleh teman-temanku, handai taulan, dan kerabat yang masih hidup di dunia?” Jujur saja, saya mau dan sangat ingin didoakan, karena saya butuh dukungan komunitas umat beriman. Atau, “Apakah nanti setelah mati aku mau / tidak mau mendoakan saudara-saudari tercinta yang masih harus berjuang di dunia?” Ya, saya mau mendoakan kalian seperti biasanya. Mengapa?
Maut Tidak Memutus Relasi
Dalam surat pastoralnya, Santo Paulus mengingatkan kita mengenai orang-orang yang sudah meninggal sebagai tanda harapan akan keselamatan dalam Kristus dan karenanya kita diminta saling menghibur (1Tes 4:13-18). Baik ketika masih di dunia ini, maupun sesudah kematian, kita bisa saling mendoakan seperti biasa. Kematian tidak memutuskan relasi antar-kita dalam iman akan Yesus Kristus yang bangkit dari alam maut dan mempersatukan kita. Tentu saja, relasi setelah kematian berupa doa, kenangan dan inspirasi, bukan lagi relasi fisik dan verbal.
Kebenaran ini cocok dengan salah satu butir syahadat iman rasuli: “Aku percaya akan Communio Sanctorum yang diterjemahkan sebagai “persekutuan para kudus”. Sebenarnya, Communio Sanctorum punya dua arti: 1. Orang-orang Kudus, yakni orang-orang yg sudah dibaptis, baik yang masih hidup maupun yg sudah meninggal. Mereka adalah orang-orang yang sudah “dikuduskan” atau dikhususkan untuk Allah. Arti ke-2 adalah hal-hal kudus (sakramen-sakramen Gereja). Maka setelah baptisan dan perayaan sakramen khususnya ekaristi, kita dipersatukan satu sama lain berkat iman dalam Gereja sampai kekal.
Dengan dasar itu, kita berdoa, memohon kepada Allah, agar mereka yang sudah meninggal segera bersatu dengan Allah Tritunggal Mahakudus seutuhnya. Itulah sorga. Jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan rahmat dan pengenalan akan Tuhan, tetapi masih mempunyai dosa-dosa ringan dan jiwa mereka belum sempurna, atau mereka belum melakukan penitensi yang layak bagi dosa-dosa mereka, menurut ajaran Gereja, jiwanya terlebih dahulu harus dimurnikan dalam api penyucian. Api penyucian itu sudah sorga, hanya saja mereka sendiri merasa belum pantas. Mengapa? Alkitab mengatakan “Tidak akan masuk ke dalamnya [Surga] sesuatu yang najis” (Wahyu 21:27). Sehingga hanya jiwa yang bersih atau yang telah dibersihkan sepenuhnya dapat masuk dalam hadirat Tuhan. Jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah jiwa-jiwa yang memiliki sukacita yang besar, sebab mereka tahu bahwa suatu hari pasti akan bersatu dengan Allah. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga adalah jiwa-jiwa yang sangat menderita,
sebab mereka belum berada sepenuhnya bersama Allah. Mereka merindu namun belum bisa bersatu dengan Allah karena hati mereka masih ada noda cela ketika meninggal. Jika sorga adalah situasi bersatu dengan Allah yang Mahacinta, maka orang yang masih ada sedikit saja rasa benci atau masih dalam keadaan berdosa ketika meninggal, akan merasa “belum pantas”. “Api penyucian” (purgatorium) sebetulnya adalah saat pemurnian setelah kematian, diri di hadapan Allah sendiri. Cinta mereka dimurnikan bagaikan emas dimurnikan dalam api.
Ekaristi: Tanda Cinta Abadi
Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang menderita kerinduan di api penyucian dengan doa, amal, perbuatan-perbuatan baik, dan khususnya dengan Perayaan Ekaristi. Tindakan-tindakan kita itu dapat membantu mengurangi “masa tinggal” mereka di api penyucian. Kita percaya bahwa jika seseorang meninggal dunia dengan iman kepada Tuhan, tetapi dengan menanggung dosa-dosa ringan dan luka / rusak relasi akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa. Setelah pemurnian dilakukan sempurna, maka jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.
Jika suatu jiwa telah dibersihkan sepenuhnya, jiwa tersebut akan segera menuju surga untuk menikmati kebahagiaan bersama Yesus, Bunda Maria, semua orang kudus dan para malaikat untuk selama-lamanya! Kita yakin bahwa mereka akan menjadi pendoa bagi kita kepada Tuhan. Kita menolong mereka dan mereka menolong kita. Semuanya ini adalah bagian dari menjadi Keluarga Allah: persekutuan para kudus.
Sementara tiap-tiap individu menghadirkan diri di hadapan pengadilan Tuhan dan harus mempertanggung- jawabkan hidupnya masing-masing, persekutuan Gereja yang telah dimulai di dunia ini terus berlanjut, kecuali persekutuan dengan jiwa-jiwa yang dikutuk di neraka. Konsili Vatikan II menegaskan, “Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran.” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja artikel 51).
Paus Leo XIII dalam ensikliknya, “Mirae Caritatis” (1902) dengan indah menguraikan gagasan ini serta menekankan hubungan antara persekutuan para kudus dengan Misa, “Rahmat saling mengasihi di antara mereka yang hidup, yang diperteguh serta diperdalam melalui Sakramen Ekaristi, mengalir, teritimewa karena keluhuran Kurban [Misa], kepada semua yang termasuk dalam persekutuan para kudus. Sebab persekutuan para kudus adalah… saling memberikan pertolongan, kurban, doa-doa dan segala kebajikan di antara umat beriman, yaitu mereka yang telah berada di tanah air surgawi, mereka yang berada di api penyucian, dan mereka yang masih melakukan ziarahnya di dunia ini. Mereka semua ini membentuk satu tubuh, yang kepalanya adalah Kristus dan yang prinsip utamanya adalah kasih. Iman mengajarkan bahwa meskipun kurban agung hanya dapat dipersembahkan kepada Tuhan saja, namun demikian kurban dapat dirayakan dalam rangka menghormati para kudus yang sekarang berada di surga bersama Allah, yang
telah memahkotai mereka, guna memperoleh perantaraan mereka bagi kita, dan juga, menurut tradisi apostolik, guna menghapus noda dosa saudara-saudara yang telah meninggal dalam Tuhan namun belum sepenuhnya dimurnikan.” Pikirkan gagasan ini: Misa Kudus melampaui ruang dan waktu, mempersatukan segenap umat beriman di surga, di bumi dan di api penyucian dalam Komuni Kudus, dan Ekaristi Kudus sendiri mempererat persatuan kita dengan Kristus, menghapus dosa-dosa ringan serta melindungi kita dari dosa berat di masa mendatang (bdk Katekismus no. 1391-1396). Oleh sebab itu, mempersembahkan Misa dan doa-doa lain ataupun kurban-kurban demi umat beriman yang telah meninggal dunia merupakan tindakan yang kudus serta terpuji. Ekaristi adalah tanda cinta abadi bagi saudara-saudara kita yang sudah meninggal.
Tanda Harapan Sepanjang Sejarah
Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban misa/Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan” (no. 1032). Sebenarnya “zaman dahulu” ini berakar bahkan dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Makabe yang Kedua, kita membaca bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan kurban penghapus dosa dan doa-doa bagi para prajurit yang meninggal dengan mengenakan jimat-jimat, yang dilarang oleh hukum Taurat; “Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya.” (12:42) dan “Dari sebab itu maka [oleh Yudas Makabe] disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (12:45).
Dalam sejarah awal Gereja, kita juga mendapati bukti akan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Prasasti yang diketemukan pada makam-makam dalam katakomba-katakomba Romawi dari abad kedua membuktikan praktek ini. Sebagai contoh, batu nisan pada makam Abercius (wafat thn 180), Uskup Hieropolis di Phrygia bertuliskan permohonan doa bagi kedamaian kekal jiwanya. Tertulianus pada tahun 211 menegaskan adanya praktek peringatan kematian dengan doa-doa. Lagi, Kanon Hippolytus (± thn 235) secara jelas menyebutkan persembahan doa-doa dalam perayaan ekaristi bagi mereka yang telah meninggal dunia.
Kesaksian para Bapa Gereja dengan indah mendukung keyakinan ini: St Sirilus dari Yerusalem (wafat thn 386), dalam salah satu dari sekian banyak tulisan pengajarannya, menjelaskan bagaimana pada saat Misa, baik mereka yang hidup maupun yang telah meninggal dunia dikenang, dan bagaimana Kurban Ekaristi Yesus Kristus mendatangkan rahmat bagi orang-orang berdosa, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. St Ambrosius (wafat thn 397) menyampaikan khotbahnya, “Kita mengasihi mereka semasa mereka hidup; janganlah kita mengabaikan mereka setelah mereka meninggal, hingga kita menghantar mereka melalui doa-doa kita ke dalam rumah Bapa.” St Yohanes Krisostomus (wafat thn 407) mengatakan, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan
mempersembahkan doa untuk mereka.”
Lebih Baik Mendoakan Daripada Tidak
Orang mungkin bertanya, “Bagaimana jika jiwa orang yang kita doakan telah dimurnikan sepenuhnya dan telah pergi ke surga?” Kita yang di dunia tidak mengetahui baik pengadilan Tuhan ataupun kerangka waktu ilahi; jadi selalu baik adanya mengenangkan saudara-saudara yang telah meninggal dunia serta mempersembahkan mereka kepada Tuhan melalui doa dan kurban. Namun demikian, jika sungguh jiwa yang kita doakan itu telah dimurnikan dan sekarang beristirahat di hadirat Tuhan di surga, maka doa-doa dan kurban yang kita persembahkan, melalui kasih dan kerahiman Tuhan, akan berguna bagi jiwa-jiwa lain di api penyucian.
Sebab itu, kita sekarang tahu bahwa bukan saja praktek ini telah dilakukan sejak masa para rasul, tetapi kita juga memahami dengan jelas pentingnya berdoa bagi jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia. Jika seseorang meninggal, juga jika orang tersebut bukan Katolik, akan lebih bermanfaat untuk mohon intensi Misa bagi kedamaian kekal jiwanya dan mempersembahkan doa-doa, daripada segala karangan bunga dukacita dan kartu simpati.. Yang terpenting ialah, hendaknya kita senantiasa mengenangkan mereka yang kita kasihi yang telah meninggal dunia dalam perayaan Misa Kudus dan melalui doa-doa dan kurban kita sendiri guna membantu mereka agar segera mendapatkan kedamaian kekal. Kita diminta berpartisipasi dalam misa arwah di paroki, atau mengenangkan mereka secara khusus dalam Novena Arwah.
Memento Mori
Kalimat itu kurang lebih berarti berarti ”Ingatlah akan kematian”. Pepatah bijak itu mengingatkan kita akan hakikat kehidupan. Manusia itu, sekali pernah ada, tetap ada selamanya. Kematian tidak memutus kehidupan. Dengan kematian, hidup hanyalah diubah, bukan dibinasakan (bdk. Prefasi Arwah saat Doa Syukur Agung). Tidak bisa kita bertindak sembarangan dalam hidup. Jika ada pendapat ”hidup hanya sekali, maka mari kita nikmati sepuasnya”, maka orang beriman akan berkata, ”Hidup hanya sekali namun untuk selamanya. Marilah kita pikirkan berkali-kali, jika kita ingin bahagia kekal”.
Mendoakan arwah semua orang beriman akan membantu kita meningkatkan solidaritas antar sesama, khususnya yang kecil, miskin, lemah dan tersingkir. Doa arwah pun meningkatkan penghormatan atas kehidupan. Mengapa? Karena pada hakikatnya hidup kita ini rapuh namun berlanjut hingga abadi. Kita saling membutuhkan satu sama lain untuk persiapan hidup kekal. Kita adalah satu keluarga yang wajib saling bantu. Betapa baiknya Tuhan itu yang menjadikan kita semua bagian dari Keluarga-Nya.
Mari kita luangkan waktu setiap hari, khususnya selama bulan November, untuk berdoa bagi siapapun yang telah meninggal dunia. Saudara-saudari seiman maupun tidak seiman, para korban kekerasan, konflik, kecelakaan serta bencana, juga bagi bayi-bayi korban aborsi. Mereka pantas mendapatkan cinta dan doa kita. Semoga mengenangkan arwah saudara-saudari yang telah meninggal, membuat kita makin tahu tujuan hidup kita, mau solider, bersikap adil sesama dan terhadap lingkungan hidup.
Penulis adalah seorang imam Katolik Keuskupan Agung Semarang, kini Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Tulisan ini pernah dimuat di majalah INSPIRASI, November 2007, diolah dari William P. Saunders dalam: “Straight Answers: All Saints and All Souls Day”; Arlington Catholic Herald, Inc; 2004, Arlington Catholic Herald, pada www.catholicherald. com yang diterjemahkan oleh www.indocell. net/yesaya
Filed under Berita Utama | Comment (1)19 October Printed Edition sudah terbit
Pertama tama atas nama redaksi (hahaha
yang terdiri dari saya+istri+dan 2 anak kami) dengan rendah hati mengucapkan terimakasih atas sambutan yang hangat dari rekan rekan semua untuk sakali lagi terbitan terdahulu. Semoga semangat berbagi 5 roti dan 2 ikannya terus mengalir dengan dapat dibacanya edisi cetak kepada rekan lain yang belum berkesempatan memiliki akses internet untuk mendapat berita Katolik.
Romo A Gianto seperti biasa memberikan renungan mingguan mengenai memberi Pajak (yang ternyata sudah ada jaman dahulu) kepada Kaisar. Dan juga artikel tentang 20 Misteri Rosario Paus Johanes Paulus II serta dalam edisi ini saya ingin mengangkat cerita tentang orang kudus. Inginnya sih, dalam 1 minggu saya bisa menampilkan para orang kudus tersebut, idenya supaya kita yang awam sedikit banyak akhirnya tahu (atau diingatkan kembali) siapa sebenarnya nama Baptis kita. Tapi sayangnya saya masih memiliki kendala waktu untuk melakukannya
but anyway semoga edisi ini bisa berguna.
Silakan download link berikut ini untuk edisi 19 Oktober 2008
Untuk edisi ini terimakasih kepada;
1. Romo A Gianto SJ ~ yang saya tidak tahu dimana emailnya
melalui Mirifica.net juga tempat saya mendownload artikel Romo Gianto.
2. Kepada rekan rekan di Yesaya yang telah bersusah payah membangun sebuah media yang sangat informatif tentang Katolik
3. Kepada anak saya yang selalu bilang jelek ketika melihat hasil print out via-veritas
4. Kepada istri saya yang memberi … segalanya
penjelasan tentang misa ekaristi
AMBIL BAGIAN DALAM MISA
~ Penjelasan Tahap demi Tahap ~
Oleh P. Thomas Richstatter, O.F.M *
Budi adalah seorang teman saya yang tertarik untuk menjadi seorang Katolik. Ia mulai menghadiri Misa setiap hari Minggu. Suatu hari sepulang dari Misa, Budi singgah ke rumah saya untuk menanyakan ritual yang kita lakukan dalam Misa. “Pater,” katanya, “hal yang paling membedakan antara gereja saya yang lama dengan gereja Katolik ialah bahwa umat Katolik nampaknya selalu tahu apa yang akan terjadi berikutnya! Dalam gereja saya, kami duduk, kadang-kadang mendengarkan dan sekali waktu menyanyi, tetapi dalam liturgi Katolik umat harus tahu apa yang perlu dilakukan.”
Apa yang dikatakan Budi itu benar: Kita umat Katolik selalu “tahu apa yang akan terjadi berikutnya.” Salah satu ciri cara kita berdoa adalah ritual. Kita melakukannya dan melakukannya lagi. Ketika imam berkata, “Tuhan sertamu,” maka tanpa berpikir panjang atau pun ragu umat menjawab, “Dan sertamu juga.”
Kehidupan kita sehari-hari juga memiliki ritualnya sendiri: cara kita berjabat tangan, makan dengan sendok dan garpu, serta menjawab surat. Dan jika kita telah terbiasa melakukan suatu hal dengan cara tertentu, kita jarang bertanya mengapa kita melakukannya dengan cara demikian. Dalam Ekaristi, kita juga punya banyak ritual yang kita lakukan tanpa bertanya mengapa.
Penjelasan “ambil bagian” dalam Misa ini akan menerangkan kepada kita mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan dalam Misa. Saya berharap agar penjelasan-penjelasan yang akan disampaikan berikut ini berguna bagi sebagian besar umat Katolik yang menghadiri Misa secara teratur, namun kurang memahami alasan mengapa kita melakukan berbagai tindakan ritual tertentu dalam Misa. Continue reading »
Filed under Katakese Singkat, Serba Serbi | Comments (2)Asal Usul Rosario

Asal-Usul Rosario
oleh: P. William P. Saunders *
Dalam pelajaran agama anak saya diajarkan bahwa Oktober adalah bulan rosario. Karena saya baru menjadi Katolik, dapatkah kiranya dijelaskan lebih lanjut mengenai asal-usul rosario?
~ seorang pembaca di Leesburg
Rosario adalah salah satu doa yang paling disukai dalam Gereja Katolik kita. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan, “Rosario adalah kitab bagi mereka yang buta, di mana jiwa-jiwa melihat dan di sana ditampilkan drama kasih teragung yang pernah dikenal dunia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang sederhana, yang menghantar mereka masuk ke dalam misteri-misteri dan pengetahuan yang lebih memuaskan hati dari pendidikan manusia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang lanjut usia, yang matanya tertutup terhadap bayang-bayang dunia ini dan terbuka pada dunia mendatang. Kuasa rosario melampaui kata-kata.”
Diawali dengan Kredo, Bapa Kami, tiga Salam Maria dan Doksologi (Kemuliaan), serta diakhiri dengan Salve Regina (Salam ya Ratu), rosario merupakan pendarasan lima misteri; masing-masing misteri terdiri dari Bapa Kami, 10 Salam Maria dan Doksologi. Selama mendaraskan rosario, kita merenungkan misteri-misteri penyelamatan dalam hidup Tuhan kita dan kesaksian iman Bunda Maria. Melalui peristiwa-peristiwa Gembira, Cahaya, Sedih dan Mulia dalam rosario, kita dihantar pada kenangan akan inkarnasi Tuhan kita, pewartaan-Nya di hadapan publik, sengsara dan wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, rosario membantu kita untuk bertumbuh dalam penghayatan yang lebih mendalam atas misteri-misteri ini, dalam mempersatukan hidup kita dengan lebih akrab pada Tuhan kita dan dalam memohon bantuan rahmat-Nya untuk mengamalkan iman. Kita juga memohon bantuan doa Bunda Maria, teladan iman, yang menghantar semua orang percaya kepada Putranya.
Asal-usul rosario agak “kabur”. Penggunaan “manik-manik” dan pendarasan doa yang diulang-ulang untuk membantu orang dalam meditasi berasal dari masa-masa awal Gereja dan telah ada bahkan pada masa-masa sebelum kekristenan. Didapati bukti-bukti dari Abad Pertengahan bahwa untaian manik-manik dipergunakan untuk membantu orang menghitung jumlah Bapa Kami atau Salam Maria yang didaraskan. Sesungguhnya, untaian manik-manik ini kemudian dikenal sebagai “Paternosters,” bahasa Latin untuk “Bapa kami”. Sebagai contoh, pada abad ke-12, guna membantu agar mereka yang kurang terpelajar dapat berpartisipasi lebih baik dalam liturgi, pendarasan 150 Bapa Kami dipakai untuk menggantikan 150 Mazmur, dan dikenal sebagai “brevir orang-orang sederhana”.
Struktur rosario perlahan-lahan berkembang antara abad ke-12 dan abad ke-15. Pada akhirnya 50 Salam Maria (atau lebih) didaraskan dan dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur atau ayat-ayat lain mengenangkan “sukacita Maria” dalam hidup Yesus dan Maria. Dominikus dari Prussia, seorang biarawan Carthusian, pada tahun 1409 mempopulerkan praktek mempertalikan 50 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 50 Salam Maria. Pada masa ini, bentuk doa ini dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”), sesungguhnya suatu istilah umum, yang berarti bunga rampai, yang dipergunakan untuk menyebut suatu kumpulan bahan yang serupa, misalnya suatu bunga rampai kisah-kisah dengan subyek atau tema yang sama. Pada akhirnya, ditambahkan juga “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”, sehingga jumlah Salam Maria menjadi 150. Dan akhirnya, ke-150 Salam Maria digabungkan dengan ke-150 Bapa Kami; satu Salam Maria sesudah satu Bapa Kami.
Pada awal abad ke-15, Henry Kalkar (wafat 1408), seorang biarawan Carthusian lainnya, membagi ke-150 Salam Maria ke dalam kelompok-kelompok; satu kelompok berisi 10 Salam Maria dengan diawali satu Bapa Kami. Pada abad ke-16, struktur lima misteri rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa -
Peristiwa GEMBIRA
1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel;
2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya;
3. Yesus dilahirkan di Betlehem;
4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah;
5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah
Peristiwa SEDIH
1. Yesus berdoa kepada BapaNya di surga dalam sakrat maut;
2. Yesus didera;
3. Yesus dimahkotai duri;
4. Yesus memanggul salib-Nya;
5. Yesus wafat disalib
dan Peristiwa MULIA
1. Yesus bangkit dari kematian;
2. Yesus naik ke surga;
3. Roh Kudus turun atas para Rasul;
4. Maria diangkat ke surga;
5. Maria dimahkotai di surga.
Pada tahun 2002, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menetapkan
peristiwa CAHAYA
1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan;
2. Yesus menyatakan DiriNya dalam perjamuan nikah di Kana;
3. Yesus mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan;
4. Yesus dipermuliakan;
5. Yesus menetapkan Ekaristi
Juga, setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak secara umum ditambahkan pada akhir setiap misteri, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”
Menurut tradisi, St Dominikus (wafat 1221) menyusun rosario seperti yang kita kenal sekarang. Tergerak oleh suatu penampakan Bunda Maria, ia mewartakan penggunaan rosario dalam karya misionarisnya di antara kaum Albigensia, suatu kelompok bidaah yang fanatik. Albigensia berasal dari nama kota Albi di Perancis selatan di mana mereka tinggal; mereka percaya bahwa semua yang jasmaniah adalah jahat dan semua yang rohaniah adalah baik. Karenanya, mereka menyangkal inkarnasi Tuhan kita; bagi mereka, Yesus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia dan mengenakan kodrat manusiawi kita, sungguh tidak masuk akal. Menurut ajaran Albigensia, jiwa orang dianggap terbelenggu dalam tubuh yang jahat. Sebab itu, mereka berpantang kasih perkawinan dan prokreasi, sebab dianggap jahat membelenggu suatu jiwa lain dalam suatu raga. Tindakan religius mereka yang paling “luhur” disebut “endura,” suatu tindakan bunuh diri yang membebaskan jiwa dari raga. Mereka juga menentang otoritas manapun yang mewakili suatu kerajaan dunia ini, sebab itu mereka membantai para pejabat kerajaan dan para pejabat Gereja. Gereja mengutuk bidaah ini, dan St Dominikus berusaha mempertobatkan mereka melalui khotbah-khotbah yang logis dan kasih Kristiani sejati. Sayangnya, otoritas kerajaan tidak cukup berbelaskasih. (Sekedar tambahan, suatu siaran traveling menyiarkan di televisi suatu program traveling di Perancis selatan, dan mengunjungi kota Albi, mengatakan bahwa orang-orang di sana “dianiaya oleh Gereja”; narator program tersebut tidak menyebutkan bahwa orang-orang ini adalah bidaah bunuh diri yang ajarannya membahayakan jiwa-jiwa umat beriman.) Namun demikian, St Dominikus mempergunakan rosario sebagai suatu sarana ampuh untuk mempertobatkan kaum Albigensia.
Sebagian ilmuwan mengesampingkan peran aktual St Dominikus dalam terbentuknya rosario sebab kisah-kisah riwayat hidupnya yang ditulis lebih awal tidak menyebutkan hal itu, konstitusi Dominikan tidak menghubungkannya dengan hal tersebut, dan pelukis-pelukis pada masa St Dominikus tidak memasukkan rosario sebagai lambang yang menjadi ciri khas St Dominikus. Pada tahun 1922, Dom Louis Gougaud menyatakan, “Berbagai unsur yang ada dalam komposisi devosi Katolik yang umum disebut rosario merupakan hasil dari suatu perkembangan yang panjang dan perlahan yang dimulai sebelum masa St Dominikus, dan yang terus berlanjut tanpa ia ikut ambil bagian di dalamnya, dan yang akhirnya mendapati bentuk akhirnya beberapa abad setelah kematiannya.” Namun demikian, sebagian ilmuwan lain menyanggah pendapat bahwa St Dominikus tidak begitu terlibat dalam “menciptakan” rosario, sebab ia mewartakan penggunaannya untuk mempertobatkan para pendosa dan mereka yang telah menyimpang dari iman. Di samping itu, sekurangnya ada selusin paus yang menyebutkan hubungan antara St Dominikus dengan rosario dalam berbagai pernyataan kepausan, mendukung perannya setidak-tidaknya sebagai seorang “beriman yang saleh”. Dari antaranya, yang pertama-tama dinyatakan oleh Paus Alexander VI pada tahun 1495.
Rosario menjadi semakin populer pada tahun 1500-an, teristimewa melalui upaya Paus St Pius V. Pada waktu itu, kaum Muslim Turki menyerang Eropa Timur. Pada tahun 1453 Konstantinopel telah jatuh ke tangan Muslim, sementara Balkan dan Hungaria nyaris ditaklukkan. Pada tahun 1521 kaum Muslim berhasil menaklukkan Belgrade, Hungaria, dan pada tahun 1526 mereka telah berada di perbatasan Vienna, Austria. Dengan kaum Muslim menyerbu bahkan pesisir Italia, maka penguasaan atas Mediterania sekarang di ujung tanduk.
Pada bulan Februari 1570, utusan Turki menyampaikan ultimatum kepada Republik Venisia: menyerahkan kepulauan Siprus secara damai atau menghadapi perang. Venisia menolak, dan setelah berperang selama sebelas bulan, Siprus takluk pada kekuasaan Muslim pada tanggal 1 Agustus 1571. Syarat-syarat penyerahan diri ditetapkan demi keselamatan pasukan Kristen yang kalah. Tetapi, begitu komandan Muslim mengambil alih kuasa kota, ia memerintahkan agar komandan Kristen, Marcantonio Bragadin, dikuliti hidup-hidup. Tubuhnya kemudian dibelah menjadi empat, dan sayatan kulitnya diisi jerami dan seragamnya dikenakan padanya, lalu diseret sepanjang kota. Sekarang kaum Kristen tahu benar musuh macam apa yang tengah mereka hadapi.
Pada tahun 1571, Paus St Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria, sanak Raja Philip II dari Spanyol. Bala tentara dari Spanyol, Venisia, Roma, Savoy, Genoa, Lucca, Tuscany, Manova, Parma, Urbino, dan Ferrara, juga Malta membentuk suatu aliansi melawan Turki. (Menariknya, Perancis yang Katolik menolak bersatu dan bahkan mendanai pasukan Muslim Turki demi melemahkan musuh bebuyutan mereka, Jerman-Austria). Sementara persiapan dilakukan, Bapa Suci meminta segenap umat beriman untuk mendaraskan rosario dan memohon bantuan doa Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan,” memohon Tuhan menganugerahkan kemenangan kepada umat Kristiani.
Meski armada Muslim jauh melampaui armada Kristiani, baik dalam jumlah kapal-kapal perang maupun pasukan, kedua armada siap bertempur. Kapal pemimpin Kristen mengibarkan bendera biru dengan lukisan Kristus Tersalib, sementara bendera Muslim mencantumkan ayat-ayat dari Al Quran menyerukan jihad dan membasmi “orang-orang kafir”. Pada hari Minggu, 7 Oktober 1571, pukul 11 pagi, Pertempuran di Lepanto dimulai, dan dalam tempo lima jam, kaum Muslim dikalahkan. Siang itu, sementara Paus St Pius V tengah berada dalam suatu rapat, sekonyong-konyong beliau berdiri, menuju jendela, menatap ke luar ke arah pertempuran berlangsung bermil-mil jauhnya, dan mengatakan, “Marilah kita berhenti menyibukkan diri dengan masalah-masalah ini dan marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan. Armada Kristen telah meraih kemenangan.”
Tahun berikutnya, Paus St Pius V sebagai ungkapan syukur menetapkan Pesta Rosario Suci pada tanggal 7 Oktober di mana umat beriman tidak hanya mengenangkan kemenangan ini, melainkan juga terus menyampaikan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya dan mengenangkan kuasa perantaraan Bunda Maria kita. Bapa Suci juga secara resmi menganugerahkan gelar, “Auxilium Christianorum” atau “Pertolongan Orang-orang Kristen” pada Bunda Maria. Mejelis Tinggi Venesia juga mencantumkan pada sebilah papan dalam ruang pertemuan mereka, “Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”
Mengenangkan tindakan Paus Pius V, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dalam sebuah amanat Angelus yang disampaikan pada bulan Oktober 1983 mengatakan, “Rosario juga mengambil perspektif baru dan dibebani dengan intensi-intensi yang terlebih dahsyat dan terlebih banyak dari masa lalu. Sekarang bukan masalah memohon kemenangan besar, seperti di Lepanto dan di Vienna, melainkan memohon Maria untuk menyediakan bagi kita pejuang-pejuang yang gagah berani melawan roh kejahatan dan kesesatan, dengan senjata-senjata Injil, yakni Salib dan Sabda Allah. Doa Rosario adalah doa manusia untuk manusia. Rosario adalah doa solidaritas kemanusian, doa bersama orang-orang yang ditebus, dengan merefleksikan roh dan intensi dari dia yang pertama-tama ditebus, yakni Maria, Bunda dan Citra Gereja. Rosario adalah doa bagi segenap manusia di dunia dan dari sepanjang sejarah, yang hidup dan yang mati, yang dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus bersama kita dan bersama-sama kita menjadi ahli waris bersama dengan Dia dalam kemuliaan Bapa.”
Di masa-masa belakangan ini, rosario telah dijunjung tinggi dan dianjurkan sebagai suatu sarana yang efektif bagi pertumbuhan rohani. Banyak para kudus mendorong didaraskannya rosario, termasuk St Petrus Kanisius, St Filipus Neri dan St Louis de Montfort. Paus Leo XIII, yang kerap disebut “Paus Rosario”, berupaya memelihara tradisi doa ini, yang ditegaskannya sebagai suatu senjata rohani yang ampuh melawan kejahatan (Supremi Apostolatus Officio, 1884). Paus Pius XI pada tahun 1938 memberikan indulgensi penuh kepada barangsiapa yang mendaraskan rosario di depan Sakramen Mahakudus. Paus Beato Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI keduanya juga dikenal sebagai penganjur rosario yang gigih. Buku Pedoman Indulgensi (1969), yang mendapatkan persetujuan Paus Paulus VI, memberikan indulgensi penuh “jika rosario didaraskan di sebuah gereja atau suatu tempat doa umum, atau dalam suatu kelompok keluarga, suatu komunitas religius atau perkumpulan saleh….” (No. 48).
Yang paling akhir, untuk menandai diawalinya 25 tahun masa pontifikatnya, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, dimana beliau menetapkan Peristiwa Cahaya dan lagi, mendorong umat beriman untuk menggunakan rosario untuk “bersama Maria, merenungkan wajah Kristus.” Dengan mengesampingkan adanya gagasan bahwa rosario mengalihkan perhatian orang dari liturgi atau gagasan bahwa rosario merupakan penghalang bagi ekumene, Bapa Suci menegaskan, “Alasan paling kuat untuk mendesakkan pelaksanaan doa rosario adalah karena doa rosario merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan di kalangan kaum beriman komitmen untuk berkontemplasi pada misteri Kristiani; ini sudah saya usulkan dalam Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte sebagai `latihan kekudusan’ yang sejati. `Kita memerlukan kehidupan Kristiani yang menonjol dalam seni berdoa.’” (No 5).
Sebab itu, rosario meupakan bagian dari sejarah rohani Gereja yang patut dijunjung tinggi. Rosario memampukan umat beriman untuk berpartisipasi dalam sejarah keselamatan yang hidup, mempersatukan kita secara lebih akrab dengan Juruselamat dan BundaNya yang Tesuci, dan dengan segenap Gereja. Rosario perlu menjadi bagian dari sejarah tiap-tiap individu dan tiap-tiap keluarga, sebab melalui doa rosario ikatan kasih diperteguh.
![]() |
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom’s Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Origins of the Rosary” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Filed under Berita Utama | Comment (0)kenapa kita harus sama …
marilah kita sedikit merenung sejenak untuk sebuah short movie berikut ini;
semoga berguna … (no comment nih
)
news letter mingguan
halo dunia
,
sudah beberapa hari yang lalu saya ‘terusik’ untuk membuat media offline yang sekiranya rekan rekan semua bisa download untuk di print sendiri (dan idealnya dapat dibagikan kepada rekan lain).
Idenya; semoga informasi di internet bukan semata mata milik mereka yang punya dana (untuk akses internet) tapi lebih kepada kemudahan akses informasi dan komunikasi.
Karena tidak ber’afiliasi’ dengan paroki manapun, berita nya merupakan kumpulan informasi dari milis, website, email dan lain lain yang saya dapat di internet.
news letter printing edition ini akan ‘terbit’ mingguan (doakan saya tabah menghadapinya hahaha
), gratis dan dapat didownload setiap saat. Semoga berguna.
PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN Idul Fitri 1429 H./ 2008 AD

DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTAR AGAMA
Kristen dan Muslim: Bersama untuk Martabat Keluarga
PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN
Idul Fitri 1429 H./ 2008 AD
Kota Vatikan
Saudara-saudari Umat Muslim,
1. Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Selama bulan ini orang-orang Kristen yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam pengheningan refleksi Anda dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!
2. Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.
3. Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni Gaudium et Spes, yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modern, menegaskan: “Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya” (no. 47).
4. Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang,.
5. Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di masa saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh “sel dasar dari masyarakat”.
6. Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-keluaraga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antaragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.
7. Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhirnya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari melaksanakan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah subhanahu wa taala memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaian-Nya.
Jean-Louis Kardinal Tauran / Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata / Sekretaris
PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE
00120 Vatican City
Phone: 0039 06 698 84 321
Fax: 0039 06 698 844 94
E-mail: dialogo@interrel.va
dijual sibori world youth day ‘08
iseng iseng saya kunjungi ebay hari ini, setelah beberapa minggu terakhir jualan saya tidak laku
dan kali ini ada yang aneh dengan pencarian “world youth day” karena saya nemu power seller (ini julukan kepada ebayer yang oleh ebay dianggap memiliki berapa kriteria sebagai penjual terbaik) menjual barang barang yang menurut saya sedikit aneh untuk dijual tapi ternyata memiliki nilai tinggi.
Kenapa aneh? coba check disini

betul, salah satunya yang dijual adalah Sibori ex World Youth Day. Masih 2 hari lagi ending start from today, jadi kalo ada rekan yang mau nge-bid silakan log
lumayan kenang kenangan dahsyat dari World Youth Day karena tidak dijual bebas dan menurut yang jual this is the only one. satu satunya.
O ya dan dari sellernya juga memberikan bonus 500 hosti (isinya) jika andalah pemenang bidding ini. so have a nice bid ya …
Injil Minggu Biasa XXII 31 Agt 2008 Mat 16:21-27

LHO LHA KOK BEGITU YA?
Injil Minggu Biasa XXII tahun A (Mat 16:21-27) berbeda nadanya dengan petikan yang dibacakan Minggu sebelumnya (Mat 16:13-20). Kali ini Yesus menyampaikan pemberitahuan yang pertama mengenai penderitaan, kematian, dan kebangkitannya. Lho lha kok sekarang bicara begitu? Baru saja (Mat 16:16) Petrus menyatakannya sebagai “Mesias, anak Allah yang hidup”. Tentunya ia tokoh yang luar biasa. Tentu saja Petrus tak habis mengerti. Dengan spontan ia menegur Yesus agar tidak berpikir aneh-aneh. Tapi ia malah balik dibentak. Yesus yang tadinya menyebut Petrus berbahagia kini meng-iblis-iblis-kannya! Malah Petrus disebut-sebut sebagai batu sandungan segala. Padahal beberapa saat sebelumnya Yesus menyebutnya sebagai batu karang yang di atasnya akan dibangun umatnya dan alam maut tidak akan menguasainya. Selanjutnya dalam ay. 21-27 Yesus malah menandaskan, siapa yang mau mengikutinya harus menyangkal diri terlebih dulu, lalu memikul salib, dan setelah itu baru bisa disebut menjadi pengikutnya. Barangsiapa kehilangan nyawa karena dia akan memperolehnya, katanya pula. Ke mana Yesus hendak membawa kita? Apa maksud Injil menampilkan semua ini?
KEMESIASAN
Petrus yang mewakili para murid baru saja mengakui Yesus sebagai Yang Terurapi, Mesias, yakni dia yang ditugasi oleh Yang Mahakuasa untuk memimpin umatNya. Dialah yang kedatangannya sejak lama diharap-harapkan. Dan memang mereka mulai menyadari Yesus sebagai tokoh istimewa. Mereka menyaksikan pelbagai pengusiran roh jahat, macam-macam penyembuhan. Mereka juga mendengarkan pengajarannya yang memerdekakan batin. Tapi Injil ingin menumbuhkan kesadaran yang lebih utuh mengenai siapa Yesus itu, bukan hanya lewat tindakan-tindakannya saja. Menurut Mat 16:17 bukanlah manusia melainkan Bapa di surga yang menyatakan kepada Petrus siapa Yesus itu sesungguhnya: Mesias, anak Allah yang hidup. Kemesiasannya tidak pertama-tama berasal dari kesan hebat yang ada di mata orang, tetapi karena Allah sendiri berkenan kepadanya. Perkenan ilahi ini terungkap pada peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:17 Mrk 1:11 Luk 3:22) dan ditegaskan kembali dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mat 17:5 Mrk 9:7 Luk 9:35). Di situ juga terdengar suara dari langit yang menghimbau orang agar mendengarkan dia.
Mendengarkan dia juga berarti mulai mengenal siapa Allah Yang Mahakuasa yang mengutusnya, yakni Dia yang bisa dipanggil sebagai Bapa. Lebih lanjut, barangsiapa yang mau mendengarkannya dengan sungguh akan memahami peristiwa yang nanti terjadi pada diri sang Mesias ini, yakni ditolak para pemimpin agama, dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Semuanya terjadi sebagai akibat keteguhannya pada perutusannya tadi. Karena tidak menyangkal kemesiasannya yang sejati, ia nanti bahkan dituduh menghujat oleh Lembaga agama Yahudi; lihat Mrk 14:61-64 Mat 26:63-66. Rangkaian kejadian ini memang sulit diterima. Pemberitahuan mengenai penolakan, kematian dan kebangkitan tadi disampaikan hingga tiga kali dan tiap kali para murid dikatakan tidak memahami pernyataan tadi. (Pemberitahuan pertama: Mrk 8:31-9:1 // Mat 16:21-27 // Luk 9:22-26; kedua: Mrk 9:30 // Mat 17:22-23 // Luk 9:33-45; ketiga: Mrk 10:32-34 // Mat 20:17-19 // Luk 18:31-34.) Memang demikianlah kenyataannya. Satu-satunya cara untuk mengerti ialah mendengarkannya.
Setelah pemberitaan yang pertama, ketiga Injil langsung memberitakan penampakan kemuliaan Yesus di gunung. Lebih menarik lagi, kedua peristiwa yang berurutan ini disampaikan langsung setelah pengakuan Petrus mengenai kemesiasan Yesus. Urutan ketiga peristiwa tadi (pengakuan Petrus – pemberitahuan pertama kesengsaraan – penampakan kemuliaan) termasuk warta Injil juga. Ringkasnya, kemesiasan Yesus itu tidak menyangkal penderitaan. Ia justru menghayatinya sebagai jalan ke arah kebesarannya. Inilah pokok yang paling dalam dan sekaligus paling sulit diterima para murid Yesus. Hanya bisa dipahami oleh orang yang mempercayainya dengan tulus. Berupaya menerima kenyataan tadi menjadi bentuk nyata mengimaninya. Dengan demikian orang akan belajar mengakui ketergantungan pada Yang Mahakuasa.
PIKIRAN PETRUS
Dengan penuh spontanitas Petrus bermaksud mencegah agar Yesus tidak berjalan ke arah penolakan dan kematian tadi. Ia menegur Yesus dengan keras. Reaksi Yesus juga keras, amat keras. Petrus malah didampratnya sebagai “Iblis”. Pembaca akan ingat pada peristiwa Yesus menghadapi godaan di padang gurun. Satu saat penggoda memperlihatkan seluruh kerajaan dunia dengan seluruh kemegahannya dan menawarkannya kepada Yesus asal ia mau bersujud kepadanya. Reaksi Yesus ketika itu (Mat 4:10) sama dengan yang kini diarahkan kepada Petrus: menghardik penggoda yang disebutnya “Iblis” dan mengusirnya pergi. Ditambahkannya kutipan ayat suci yang tegas-tegas mewajibkan orang menyembah hanya pada Tuhan Allah dan kepadaNya sajalah berbakti. Inilah yang dipegang Yesus di padang gurun. Terhadap Petrus kini Yesus berkata bahwa ia menjadi batu sandungan baginya. Maksud baiknya malah akan menjauhkan Yesus dari jalan kemesiasannya. Hal yang tadi tak berhasil dilakukan penggoda kini hendak diusahakan oleh Petrus.
Bentakan Yesus dalam Mat 16:23 maupun dalam 4:10 memang dapat dialihbahasakan sebagai “Enjahlah, Iblis!”. Namun ada perbedaan kecil yang besar artinya bila kemungkinan yang ada dalam teks aslinya diperhatikan. Dalam 16:23 sebetulnya tidak hanya dikatakan kepada Petrus, “Pergi sana, Iblis!” seperti dalam 4:10, tetapi harfiahnya “Pergi sana ke belakangku Iblis!” Dalam konteks pengusiran, ungkapan “ke belakangku” jelas berarti “mundur pergi dariku”, maksudnya menjauh, tidak lagi menghalang-halangi. Tetapi bila ungkapan “kebelakangku” tadi dibaca seolah-olah didahului dan diikuti tanda koma, akan tampil juga perintah agar pindah ke belakang. Jadi dalam hardikan menyuruh enyah tadi tersirat juga perintah agar Petrus tahu tempatnya yang sebenarnya, yakni di belakang Yesus, sebagai pengikutnya, dan bukan sebagai yang mau mengarah-arahkan dia yang baru saja diakuinya sebagai Mesias, anak Allah yang hidup tadi. Ada ajaran untuk tidak berusaha mengambil alih kepemimpinan. Bila diucapkan dengan suara lantang, pembaca teks asli atau terjemahan harfiah bisa menampilkan makna yang satu atau makna yang lain, bergantung apa berhenti sejenak pada awal dan akhir ungkapan “ke belakangku” tadi. Tanpa jeda, bentakan Yesus kepada Petrus tadi menjadi dampratan yang sama kerasnya dengan yang diarahkan pada penggoda di padang gurun. Bila diadakan jeda, memang hardikannya masih keras bunyinya, namun nadanya seperti seorang guru bijak yang mengingatkan muridnya agar menaruh diri pada tempat yang semestinya, yakni di belakang, mengikuti dan tidak menjadi penghalang, apalagi mengambil alih perannya.
Pembaca Injil pada zaman itu dapat memahami bila para murid pertama sulit menerima kenyataan salib dan prospek kebangkitan. Para murid dari generasi kedua dan selanjutnya sudah hidup dalam iman akan salib dan kebangkitan. Mereka sudah mengerti alasan pemberitahuan kesengsaraan tadi. Bagi mereka, makna kedua yang terdapat dalam teguran balasan tadi (yang timbul bila dibuat jeda sebelum dan sesudah “ke belakangku”) memuat saran tersirat agar pemimpin umat tetap berada di belakang Yesus dan tidak berusaha merebut kedudukannya! Saran ini boleh jadi masih berarti pada zaman ini juga.
BARANGSIAPA MAU MENGIKUTI AKU…
Uraian di atas dapat membantu menjelaskan mengapa setelah mendamprat Petrus dengan cara tadi Yesus menambahkan serangkai tuntutan keras. Siapa yang mau mengikutinya, yakni yang mau berjalan di belakang dan tidak menaruh diri di muka atau menghalangi derap langkahnya itu harus berani juga menyangkal diri. Yang dimaksud dengan menyangkal diri di sini ialah menanggalkan praanggapan-praanggapan sendiri mengenai Yesus. Bukan tuntutan bermatiraga keras. Penyangkalan diri yang diminta Yesus berbeda. Orang diminta tidak lagi memegang pendapat dan keyakinan yang tidak cocok mengenai siapa Yesus itu, dan baru demikian dapat dengan tulus mengakui dia sebagaimana adanya. Dan penyangkalan diri ini ialah jalan berbagi salib dengannya dan mengimaninya. Bisa berat bila sikap keagamaan yang dipegang sudah membeku dan tidak berkembang, tidak lagi bisa menerima kenyataan iman, dan hanya bisa mempercayai pikiran-pikiran sendiri. Dalam hubungan itulah dibicarakan tentang “kehilangan nyawa karena aku akan memperolehnya.” Menanggalkan pikiran sendiri dan meluangkan diri bagi dia yang hidup dalam iman kita.
Ay. 26 memuat pertanyaan retorik, “Apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya!” Gagasan dalam kalimat ini perlu dihubungkan dengan peristiwa godaan di padang gurun ketika Iblis menunjukkan kebesaran dunia (Mat 4:9). Yesus menolaknya dengan berpegang pada ayat Kitab Suci bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah. Kini kepada murid-muridnya dijelaskannya mengapa seluruh dunia tidak sepadan dengan kehidupan sejati yang perlu dijaga sampai akhir zaman. Mereka yang menjalani pilihan tadi akan mendapati diri berjalan bersama Yesus sendiri.
Salam hangat,
A. Gianto
Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XXI 24 Agt 2008 Mat 16:13-20 Yes 22:19-23

MESIAS, BATU KARANG, DAN KUNCI KERAJAAN SURGA
Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-20 (Injil hari Minggu Biasa XXI tahun A) Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus. Kali ini petikan Injil Matius mengajak pembaca mendalami sisi yang pertama. Hari Minggu berikutnya akan dilihat sisi yang lain. Akan diuraikan pula gagasan pokok dalam bacaan pertama (Yes 22:19-23) serta kaitannya dengan Injil.
Pokok pewartaan
Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.
Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian “Anak Manusia”, seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.
Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah (“tetua, imam kepala dan ahli Taurat” ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.
Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 “Engkaulah Mesias” mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, “Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Matius menambahkan “anak Allah yang hidup” untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi “dari Allah”. Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.
Siapakah “Anak Manusia” itu?
Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa “Anak Manusia” ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan “Anak Manusia” dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.
Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa “Anak Manusia” tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.
Bagi kalian, siapa aku ini?
Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, “Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?” Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan “Anak Manusia”, melainkan “aku”. Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada “mereka” – yakni para murid tadi. Terjemahan LAI “apa katamu” tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia “-mu” bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata “kalian” yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.
Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.
Batu karang dan kunci
Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.
Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.
DARI BACAAN PERTAMA
Bacaan pertama (Yes 22:19-23) didasarkan pada gagasan penugasan resmi seorang kepala pemerintahan yang mewakili raja pada zaman kejayaan kerajaan Yudea yang berpusat di Yerusalem. Latar belakangnya demikian. Tahta di Yerusalem turun temurun diduduki oleh raja keterurunan Daud. Ada kepercayaan bahwa Tuhan telah menjanjikan kepada Daud bahwa keturunannya akan mendirikan rumah bagi Tuhan (yakni Bait Allah yang dibangun Solomon) dan Ia pun akan melindungi kekuasaan anak cucu Daud (duduk di tahta Daud) seperti terdapat dalam 2Sam 7. Berarti kehadiranNya di Bait dan kedudukan raja amat dekat satu sama lain. Rakyat melihat raja sebagai ujud manusiawi kehadirannNya. Urusan sehari-hari kerajaan tidak lagi langsung dijalankan raja sendiri melainkan oleh seorang kepala pemerintahan yang diangkat dan diberi penugasan resmi untuk itu. Demikian maka raja tidak lagi terikat urusan sehari-hari melainkan menjadi lambang manusiawi kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatNya. (Lambang lain ialah tempat kudus, Bait Allah di Yerusalem.) Dalam petikan kali ini digambarkan penugasan Hilkia sebagai kepala pemerintahan tadi. Disebutkan hal-hal ini:
1.. Ia dipanggil sebagai “hambaKu” (Yes 22: 20), maksudnya hambanya Tuhan sendiri dan bertugas menjalankan urusan-urusanNya. Tadinya raja sendiri-lah yang disebut demikian. Namun dalam perkembangannya kedudukan ini dijalankan oleh kepala pemerintahan. Nanti setelah kerajaan hancur, penguasa utama tetap memakai sebutan hamba Tuhan, dialah yang bertanggung jawab mengurusi umat dengan segala kesulitan dan penderitaan. Gagasan ini berkembang dalam Kidung Hamba Tuhan yang kemudian diterapkan juga pada Yesus.
2.. Tuhan akan mengenakan jubah kepada Hilkia (ay. 21a). Jubah ialah lambang kebesaran yang bisa dilihat orang banyak. Bila disertai ikat pinggang (ay. 21b),maka kebesaran ini menjadi makin nyata, karena ikat pinggang membuat jubah menempel pas pada badan pemakainya. Disebutkan pula (ay. 21c) bahwa ia memegang kekuasaan yang diberikan Tuhan sendiri.
3.. Tokoh seperti itulah yang memikul tanggung jawab memegang kunci “rumah Daud” (ay. 22). Bahkan ia dapat menyatakan orang termasuk atau tidak termasuk rumah tadi. Dan yang dinyatakannya demikian tidak dapat disangkal. Kekokohan kuasanya dijamin Tuhan sendiri (AY. 23).
Namun sebesar apapun kuasa kepala pemerintahan itu, kedudukannya tetap sebagai orang kedua. Kedudukan pertama dipegang sang raja keturunan Daud sendiri. Memang pada zaman kemudian bila raja keturunan Daud tidak ada lagi, sang kepala pemerintahan mewakilinya dan meneruskan kedudukan itu. Tetapi ia bukan raja sendiri. Inilah gagasan yang ada dalam petikan dari Yesaya yang dibacakan kali ini.
Apakah gagasan ini melatari alam pikiran pemberian kuasa kepada Petrus dalam Injil di atas? Kuasa Petrus memang kuasa mewakili kebesaran sang pemberi kuasa dan sekaligus memikul tanggung jawab menjalankan urusan-urusan orang pilihan sang pemberi kuasa sendiri – yang dalam alam pikiran Perjanjian Lama ialah sang raja keturunan Daud sendiri. Bagi pembaca Injil Matius, jelas siapa, yakni Yesus yang dalam bagian awal Injil digambarkan sebagai keturunan Daud.
Dalam Injil yang memberi kuasa kepada Petrus ialah Yesus. Dalam bacaan pertama, sang pemberi kuasa ialah Tuhan Sesembahan umat sendiri, yakni Dia yang telah berjanji kepada raja akan meneguhkan kekuasaannya. Pembaca Injil Matius dulu dapat menarik kesimpulan bahwa Yesus memegang kuasa sebagai orang pilihan Tuhan Perjanjian Lama dan sekaligus menjadi kenyataan Tuhan. Ia menyatu dengan Tuhan yang dikenal para leluhur iman. Gagasan dan kepercayaan seperti ini bisa mengejutkan. Tapi itulah yang diwartakan Injil.
Salam hangat,
A. Gianto




