edisi 16 November sudah bisa di unduh

November 12th, 2008

akhirnya edisi 16 November kelar dibuat. Silakan bagi rekan rekan yang mendownloadnya dapat melalui link berikut ini (klik on picture);

Photobucket

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

kalau anak anak bicara pada Tuhan

November 12th, 2008

Continue reading »

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

edisi cetak tgl 9 November, dapat diunduh :D

November 6th, 2008

beberapa waktu yang lalu ada sebuah surat kabar lokal yang kebetulan saya baca; memberikan sebuah ide! sebuah ide tentang ‘quote info’, semacam did you know – nya rekan rekan dari Yogya yang telah membuat widget yang bagus untuk mempromosikan kota Yogyakarta ke seluruh penjuru dunia (lihat di pojok kanan website ini) tapi ini untuk versi cetaknya.

tadinya memang idenya adalah membuat widget semacam itu :D tapi ilmunya belum sampai haha .. anyway yang jadi kendala saya adalah perihal content. Dimana sekiranya saya dapat informasi yang menghibur sekaligus informatif.  Yang saya maksud adalah membuat quote begini;

Photobucket

apik ya ? sayangnya belum bisa nih bikin flash-nya :( doakan saya semoga dalam waktu dekat ini mendapat pencerahan wkwkwkwkw :D

anyway, berikut link untuk edisi cetak 9 November 2008. Semoga semangat berbagi 5 roti dan 2 ikannya terus mengalir dengan dapat dibacanya edisi cetak kepada rekan lain yang belum berkesempatan memiliki akses internet untuk mendapat berita Katolik (klik gambar dibawah untuk mendownload versi pdf-nya). Selamat menikmati dan semoga berguna ..

Photobucket

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Memento Mori

November 2nd, 2008
Times Lawas

“Memento Mori”
(Oleh: Y. Dwi Harsanto, Pr)

Pada bulan November, Gereja Kristen Katolik, yang sejak semula mendasarkan diri pada alkitab, tradisi suci dan magisterium, memusatkan diri untuk mendoakan arwah semua orang beriman. Apa maknanya di zaman yang serba sekuler-materialist is ini?

Sudah Meninggal Kok Didoakan?
Mengapa mendoakan orang beriman yang sudah meninggal? Pertanyaan itu sebaiknya juga dibalik: Mengapa tidak mau mendoakan orang yang sudah meninggal? Namun anehnya, jawaban atas pertanyaan kedua ini justeru tidak relevan manakala kita mencari jawaban atas pertanyaan pertama. Lebih-lebih, jika pertanyaan itu dibuat reflektif: “Apakah nanti setelah mati, aku mau / tidak mau didoakan oleh teman-temanku, handai taulan, dan kerabat yang masih hidup di dunia?” Jujur saja, saya mau dan sangat ingin didoakan, karena saya butuh dukungan komunitas umat beriman. Atau, “Apakah nanti setelah mati aku mau / tidak mau mendoakan saudara-saudari tercinta yang masih harus berjuang di dunia?” Ya, saya mau mendoakan kalian seperti biasanya. Mengapa?

Maut Tidak Memutus Relasi
Dalam surat pastoralnya, Santo Paulus mengingatkan kita mengenai orang-orang yang sudah meninggal sebagai tanda harapan akan keselamatan dalam Kristus dan karenanya kita diminta saling menghibur (1Tes 4:13-18). Baik ketika masih di dunia ini, maupun sesudah kematian, kita bisa saling mendoakan seperti biasa. Kematian tidak memutuskan relasi antar-kita dalam iman akan Yesus Kristus yang bangkit dari alam maut dan mempersatukan kita. Tentu saja, relasi setelah kematian berupa doa, kenangan dan inspirasi, bukan lagi relasi fisik dan verbal.

Kebenaran ini cocok dengan salah satu butir syahadat iman rasuli: “Aku percaya akan Communio Sanctorum yang diterjemahkan sebagai “persekutuan para kudus”. Sebenarnya, Communio Sanctorum punya dua arti: 1. Orang-orang Kudus, yakni orang-orang yg sudah dibaptis, baik yang masih hidup maupun yg sudah meninggal. Mereka adalah orang-orang yang sudah “dikuduskan” atau dikhususkan untuk Allah. Arti ke-2 adalah hal-hal kudus (sakramen-sakramen Gereja). Maka setelah baptisan dan perayaan sakramen khususnya ekaristi, kita dipersatukan satu sama lain berkat iman dalam Gereja sampai kekal.

Dengan dasar itu, kita berdoa, memohon kepada Allah, agar mereka yang sudah meninggal segera bersatu dengan Allah Tritunggal Mahakudus seutuhnya. Itulah sorga. Jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan rahmat dan pengenalan akan Tuhan, tetapi masih mempunyai dosa-dosa ringan dan jiwa mereka belum sempurna, atau mereka belum melakukan penitensi yang layak bagi dosa-dosa mereka, menurut ajaran Gereja, jiwanya terlebih dahulu harus dimurnikan dalam api penyucian. Api penyucian itu sudah sorga, hanya saja mereka sendiri merasa belum pantas. Mengapa? Alkitab mengatakan “Tidak akan masuk ke dalamnya [Surga] sesuatu yang najis” (Wahyu 21:27). Sehingga hanya jiwa yang bersih atau yang telah dibersihkan sepenuhnya dapat masuk dalam hadirat Tuhan. Jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah jiwa-jiwa yang memiliki sukacita yang besar, sebab mereka tahu bahwa suatu hari pasti akan bersatu dengan Allah. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga adalah jiwa-jiwa yang sangat menderita,
sebab mereka belum berada sepenuhnya bersama Allah. Mereka merindu namun belum bisa bersatu dengan Allah karena hati mereka masih ada noda cela ketika meninggal. Jika sorga adalah situasi bersatu dengan Allah yang Mahacinta, maka orang yang masih ada sedikit saja rasa benci atau masih dalam keadaan berdosa ketika meninggal, akan merasa “belum pantas”. “Api penyucian” (purgatorium) sebetulnya adalah saat pemurnian setelah kematian, diri di hadapan Allah sendiri. Cinta mereka dimurnikan bagaikan emas dimurnikan dalam api.

Ekaristi: Tanda Cinta Abadi
Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang menderita kerinduan di api penyucian dengan doa, amal, perbuatan-perbuatan baik, dan khususnya dengan Perayaan Ekaristi. Tindakan-tindakan kita itu dapat membantu mengurangi “masa tinggal” mereka di api penyucian. Kita percaya bahwa jika seseorang meninggal dunia dengan iman kepada Tuhan, tetapi dengan menanggung dosa-dosa ringan dan luka / rusak relasi akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa. Setelah pemurnian dilakukan sempurna, maka jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.
Jika suatu jiwa telah dibersihkan sepenuhnya, jiwa tersebut akan segera menuju surga untuk menikmati kebahagiaan bersama Yesus, Bunda Maria, semua orang kudus dan para malaikat untuk selama-lamanya! Kita yakin bahwa mereka akan menjadi pendoa bagi kita kepada Tuhan. Kita menolong mereka dan mereka menolong kita. Semuanya ini adalah bagian dari menjadi Keluarga Allah: persekutuan para kudus.

Sementara tiap-tiap individu menghadirkan diri di hadapan pengadilan Tuhan dan harus mempertanggung- jawabkan hidupnya masing-masing, persekutuan Gereja yang telah dimulai di dunia ini terus berlanjut, kecuali persekutuan dengan jiwa-jiwa yang dikutuk di neraka. Konsili Vatikan II menegaskan, “Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran.” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja artikel 51).

Paus Leo XIII dalam ensikliknya, “Mirae Caritatis” (1902) dengan indah menguraikan gagasan ini serta menekankan hubungan antara persekutuan para kudus dengan Misa, “Rahmat saling mengasihi di antara mereka yang hidup, yang diperteguh serta diperdalam melalui Sakramen Ekaristi, mengalir, teritimewa karena keluhuran Kurban [Misa], kepada semua yang termasuk dalam persekutuan para kudus. Sebab persekutuan para kudus adalah… saling memberikan pertolongan, kurban, doa-doa dan segala kebajikan di antara umat beriman, yaitu mereka yang telah berada di tanah air surgawi, mereka yang berada di api penyucian, dan mereka yang masih melakukan ziarahnya di dunia ini. Mereka semua ini membentuk satu tubuh, yang kepalanya adalah Kristus dan yang prinsip utamanya adalah kasih. Iman mengajarkan bahwa meskipun kurban agung hanya dapat dipersembahkan kepada Tuhan saja, namun demikian kurban dapat dirayakan dalam rangka menghormati para kudus yang sekarang berada di surga bersama Allah, yang
telah memahkotai mereka, guna memperoleh perantaraan mereka bagi kita, dan juga, menurut tradisi apostolik, guna menghapus noda dosa saudara-saudara yang telah meninggal dalam Tuhan namun belum sepenuhnya dimurnikan.” Pikirkan gagasan ini: Misa Kudus melampaui ruang dan waktu, mempersatukan segenap umat beriman di surga, di bumi dan di api penyucian dalam Komuni Kudus, dan Ekaristi Kudus sendiri mempererat persatuan kita dengan Kristus, menghapus dosa-dosa ringan serta melindungi kita dari dosa berat di masa mendatang (bdk Katekismus no. 1391-1396). Oleh sebab itu, mempersembahkan Misa dan doa-doa lain ataupun kurban-kurban demi umat beriman yang telah meninggal dunia merupakan tindakan yang kudus serta terpuji. Ekaristi adalah tanda cinta abadi bagi saudara-saudara kita yang sudah meninggal.

Tanda Harapan Sepanjang Sejarah
Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban misa/Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan” (no. 1032). Sebenarnya “zaman dahulu” ini berakar bahkan dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Makabe yang Kedua, kita membaca bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan kurban penghapus dosa dan doa-doa bagi para prajurit yang meninggal dengan mengenakan jimat-jimat, yang dilarang oleh hukum Taurat; “Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya.” (12:42) dan “Dari sebab itu maka [oleh Yudas Makabe] disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (12:45).

Dalam sejarah awal Gereja, kita juga mendapati bukti akan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Prasasti yang diketemukan pada makam-makam dalam katakomba-katakomba Romawi dari abad kedua membuktikan praktek ini. Sebagai contoh, batu nisan pada makam Abercius (wafat thn 180), Uskup Hieropolis di Phrygia bertuliskan permohonan doa bagi kedamaian kekal jiwanya. Tertulianus pada tahun 211 menegaskan adanya praktek peringatan kematian dengan doa-doa. Lagi, Kanon Hippolytus (± thn 235) secara jelas menyebutkan persembahan doa-doa dalam perayaan ekaristi bagi mereka yang telah meninggal dunia.

Kesaksian para Bapa Gereja dengan indah mendukung keyakinan ini: St Sirilus dari Yerusalem (wafat thn 386), dalam salah satu dari sekian banyak tulisan pengajarannya, menjelaskan bagaimana pada saat Misa, baik mereka yang hidup maupun yang telah meninggal dunia dikenang, dan bagaimana Kurban Ekaristi Yesus Kristus mendatangkan rahmat bagi orang-orang berdosa, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. St Ambrosius (wafat thn 397) menyampaikan khotbahnya, “Kita mengasihi mereka semasa mereka hidup; janganlah kita mengabaikan mereka setelah mereka meninggal, hingga kita menghantar mereka melalui doa-doa kita ke dalam rumah Bapa.” St Yohanes Krisostomus (wafat thn 407) mengatakan, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan
mempersembahkan doa untuk mereka.”

Lebih Baik Mendoakan Daripada Tidak
Orang mungkin bertanya, “Bagaimana jika jiwa orang yang kita doakan telah dimurnikan sepenuhnya dan telah pergi ke surga?” Kita yang di dunia tidak mengetahui baik pengadilan Tuhan ataupun kerangka waktu ilahi; jadi selalu baik adanya mengenangkan saudara-saudara yang telah meninggal dunia serta mempersembahkan mereka kepada Tuhan melalui doa dan kurban. Namun demikian, jika sungguh jiwa yang kita doakan itu telah dimurnikan dan sekarang beristirahat di hadirat Tuhan di surga, maka doa-doa dan kurban yang kita persembahkan, melalui kasih dan kerahiman Tuhan, akan berguna bagi jiwa-jiwa lain di api penyucian.
Sebab itu, kita sekarang tahu bahwa bukan saja praktek ini telah dilakukan sejak masa para rasul, tetapi kita juga memahami dengan jelas pentingnya berdoa bagi jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia. Jika seseorang meninggal, juga jika orang tersebut bukan Katolik, akan lebih bermanfaat untuk mohon intensi Misa bagi kedamaian kekal jiwanya dan mempersembahkan doa-doa, daripada segala karangan bunga dukacita dan kartu simpati.. Yang terpenting ialah, hendaknya kita senantiasa mengenangkan mereka yang kita kasihi yang telah meninggal dunia dalam perayaan Misa Kudus dan melalui doa-doa dan kurban kita sendiri guna membantu mereka agar segera mendapatkan kedamaian kekal. Kita diminta berpartisipasi dalam misa arwah di paroki, atau mengenangkan mereka secara khusus dalam Novena Arwah.

Memento Mori
Kalimat itu kurang lebih berarti berarti ”Ingatlah akan kematian”. Pepatah bijak itu mengingatkan kita akan hakikat kehidupan. Manusia itu, sekali pernah ada, tetap ada selamanya. Kematian tidak memutus kehidupan. Dengan kematian, hidup hanyalah diubah, bukan dibinasakan (bdk. Prefasi Arwah saat Doa Syukur Agung). Tidak bisa kita bertindak sembarangan dalam hidup. Jika ada pendapat ”hidup hanya sekali, maka mari kita nikmati sepuasnya”, maka orang beriman akan berkata, ”Hidup hanya sekali namun untuk selamanya. Marilah kita pikirkan berkali-kali, jika kita ingin bahagia kekal”.
Mendoakan arwah semua orang beriman akan membantu kita meningkatkan solidaritas antar sesama, khususnya yang kecil, miskin, lemah dan tersingkir. Doa arwah pun meningkatkan penghormatan atas kehidupan. Mengapa? Karena pada hakikatnya hidup kita ini rapuh namun berlanjut hingga abadi. Kita saling membutuhkan satu sama lain untuk persiapan hidup kekal. Kita adalah satu keluarga yang wajib saling bantu. Betapa baiknya Tuhan itu yang menjadikan kita semua bagian dari Keluarga-Nya.
Mari kita luangkan waktu setiap hari, khususnya selama bulan November, untuk berdoa bagi siapapun yang telah meninggal dunia. Saudara-saudari seiman maupun tidak seiman, para korban kekerasan, konflik, kecelakaan serta bencana, juga bagi bayi-bayi korban aborsi. Mereka pantas mendapatkan cinta dan doa kita. Semoga mengenangkan arwah saudara-saudari yang telah meninggal, membuat kita makin tahu tujuan hidup kita, mau solider, bersikap adil sesama dan terhadap lingkungan hidup.

Penulis adalah seorang imam Katolik Keuskupan Agung Semarang, kini Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Tulisan ini pernah dimuat di majalah INSPIRASI, November 2007, diolah dari William P. Saunders dalam: “Straight Answers: All Saints and All Souls Day”; Arlington Catholic Herald, Inc; 2004, Arlington Catholic Herald, pada www.catholicherald. com yang diterjemahkan oleh www.indocell. net/yesaya

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

1 November | Hari Raya Semua Orang Kudus

November 1st, 2008
st beer

Hari Raya Semua Orang Kudus

Asal mula perayaan ini tidak diketahui dengan pasti. Tapi pada tahun 313 Masehi, suatu peringatan umum untuk menghormati para kudus, khususnya para martir, muncul di berbagai wilayah di penjuru gereja. Dalam khotbahnya, St. Efrem dan St. Yohanes Krisostomus menegaskan adanya perayaan ini. Alasan utama menetapkan pesta umum ini adalah adanya kerinduan untuk menghormati sejumlah besar martir, teristimewa yang wafat pada masa penganiayaan oleh Kaisar Diocletion (284-305), yaitu masa penganiayaan yang paling luas, keji, dan bengis. Alasan lain, karena tidak akan cukup hari dalam satu tahun bila masing-masing martir dirayakan tersendiri, lagi pula kebanyakan dari para martir ini wafat dalam kelompok. Oleh sebab itu, suatu pesta umum bagi semua orang kudus, dianggap paling tepat.

Penetapan tanggal 1 Nopember sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus berkembang seturut berjalannya waktu. Paus Gregorius III (731- 741) mempersembahkan suatu oratorium (tempat berdoa; kapel) yang asli di Basilika St. Petrus demi menghormati semua orang kudus. Oleh karena itu tanggal ini menjadi tanggal resmi untuk merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus di Roma. St. Ado dari Vienne menceritakan Paus Gregorius IV meminta Raja Louis (778-840) untuk mengesahkan 1 Nopember sebagai HR Semua Orang Kudus di wilayah Kekaisaran Romawi. Buku Doa Misa dari abad ke-9 dan ke-10 juga menempatkan HR Semua Orang Kudus dalam penanggalan liturgi tanggal 1 Nopember.

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Sejalan dengan HR Semua Orang Kudus, berkembang pula Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Gereja tak henti-hentinya mendorong umat beriman untuk mempersembahkan doa-doa dan Misa Kudus bagi jiwa-jiwa umat beriman yang telah meninggal dunia, yang masih berada di Purgatorium (api penyucian). Pada saat kematian mereka, jiwa-jiwa ini belum bersih sepenuhnya dari dosa-dosa ringan atau belum melunasi hutang dosa di masa lalu. Oleh sebab itu belum dapat menikmati kebahagiaan surgawi. Umat beriman di dunia dapat menolong jiwa-jiwa di api penyucian itu agar mereka dapat segera menikmati kebahagiaan surgawi melalui doa-doa, perbuatan-perbuatan baik kita, dan persembahan Misa Kudus bagi jiwa-jiwa menderita ini.

Pada masa Gereja Awali, nama-nama umat beriman yang telah meninggal dunia ditempelkan di Gereja sehingga komunitas akan mengenangkan mereka dalam doa. Pada abad keenam, biara-biara Benediktin mengadakan peringatan khidmat akan para anggotanya yang telah meninggal dunia, pada hari-hari sesudah Pentakosta. Di Spanyol, St. Isidorus menegaskan adanya perayaan pada hari Sabtu sebelum Minggu Sexagesima (Minggu kedua sebelum Masa Prapaskah, kedelapan sebelum Paskah, dalam penanggalan kuno). St. Odilo, Abbas Cluny mengamanatkan kepada seluruh biara Cluniac agar doa-doa khusus dipanjatkan dan Ofisi bagi yang meninggal dimadahkan demi segenap jiwa-jiwa di purgatorium, pada tanggal 2 Nopember, sehari sesudah HR Semua Orang Kudus. Begitu juga dengan Ordo Benediktin dan Kartusian.

Tradisi lain muncul dalam perjalanan waktu. Pada abad ke-15, Dominikan menetapkan suatu tradisi mempersembahkan tiga Misa Kudus; satu untuk Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, satu untuk intensi khusus, dan satu untuk intensi Bapa Suci. Paus Benediktus XIV tahun 1748 menyetujui tradisi dan devosi ini. Dalam masa Perang Dunia I, Paus benediktus XV, menyadari akan banyaknya mereka yang tewas akibat perang dan begitu banyak Misa yang tak dapat dipersembahkan karena hancurnya gereja-gereja.

Tradisi-tradisi lainnya berkembang. Di Meksiko, saudara yang ditinggal akan merangkai karangan-karangan bunga segar dan kertas untuk diletakkan pada makam saudara mereka yang telah meninggal, di pagi hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Keluarga akan menghabiskan sepanjang hari itu di pemakaman. Imam akan mengunjungi makam, menyampaikan khotbah, dan mempersembahkan doa-doa bagi mereka yang meninggal, serta memberkati makam satu per satu. Praktik serupa didapati pula di Louisiana. Sanak-saudara membersihkan serta melabur batu-batu nisan. Pada siang hari, imam berarak sekeliling makam, memberkati makam-makam dan mendaraskan Doa Rosario. Pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, biasanya Misa dirayakan di pemakaman. Dua contoh praktik kebudayaan ini berpusat pada pentingnya mengenangkan mereka yang telah meninggal serta mendoakan jiwa-jiwa mereka.

Oleh sebab itu, baik HR Semua Orang Kudus maupun Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, berasal dari kepercayaan Kristiani yang sesungguhnya dan muncul dalam kehidupan Gereja melalui spiritualitas yang sehat.

Romo Wiliam P.Saunders
~ diambil dari milis KAS

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

terbitnya edisi cetak 2 November

October 31st, 2008

Selamat pagi semua. AKhirnya edisi cetak untuk 2 November 2008 selesai sudah. Untuk sebuah terbitan yang dikelola independen, memang selalu kendala-nya adalah semangat yang harus terus menerus dipupuk (sendiri). Beruntung saya memang memiliki pasangan yang siap diajak diskusi ataupun anak anak yang siap mengomentari. Tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang selalu datang di benak saya; enake ngopo maneh yo? kira kira apa lagi yang bisa saya lakukan? Dan ketika saya hanya bisa membuat kumpulan artikel untuk kemudian di newsletterkan, maka itu yang saya lakukan. Seperti Santa Theresia dari kanak kanak Yesus yang ingin melakukan sesuatu (sesederhana apapun) untuk Tuhan, maka ini juga yang ingin saya lakukan melalui media ini. Semoga edisi cetak ini berguna, terlebih seandainya ada yang bersedia untuk mem-print dan membagikannya kepada rekan rekan yang belum atau mempunyai keterbatasan akses internet.

Selamat menikmati edisi cetak dan terima kasih.

catholic indo news

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

satu lagi website rujukan katolik

October 25th, 2008

Pagi tadi saya coba googling ‘dokumen gereja’ ~ untuk rekan rekan tahu, terkadang memang sulit untuk menemukan alternatif rujukan informasi Katolik berbahasa Indonesia. Majalah HIDUP belum ada versi online-nya, Mirifica.net jarang diupdate :) (kecuali renungan harian haha), diskusi milis Katolik yang ada kadang terasa garing karena diskusinya jadinya menang menangan tok :( sementara jarang sekali ada terjemahan Bahasa Indonesia di situs resmi vatican.va ~ terakhir yang saya tahu hanya ada terjemahan Indonesian untuk Pesan Untuk Akhir Bulan Ramadan Idul Fitri 1429H/2008AD (yang ditujukan kepada rekan rekan muslim :D ) dan ehm, kok sulit sekali akses tulisan tulisan romo romo yach .. hahaha … saya yang kurang gaul atau memang demikian adanya .. de es te, de es te .. nah beruntung tadi pagi saya menemukan ini www.katolisitas.org ~ isinya betul betul mantabs! dikelola oleh Stefanus Tay & Ingrid Listiati yang memiliki background akademik Teologi Amerika dan juga ada Romo pembimbing Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.
Menurut beliau ini salah satu ide dari website ini adalah ada orang Katolik yang mungkin tidak pernah membaca doktrin-dokrin Katolik (termasuk saya haha :D ). Padahal waktu kita belajar, kita merasakan bahwa ajaran Katolik begitu kaya, indah, dan harus disebarkan. Dengan pemikiran ini, kita ingin agar pengajaran Katolik dapat disampaikan dengan bahasa yang cukup sederhana, dan dalam jangka panjang website ini (http://katolisitas.org) diharapkan akan menjadi salah satu sumber dokumen Gereja Katolik dalam bahasa Indonesia, karena nantinya akan memuat dokumen-dokumen gereja resmi.

Kita beruntung memiliki mereka, kita (komunitas netter) beruntung karena memiliki tambahan lagi bahan rujukan tentang Katolik yang menyediakan artikel (bahkan tanya jawab!) yang bisa diakses online. Dan semoga semangat berbagi 5 roti dan 2 ikan yang telah mereka lakukan sampai kepada kita untuk kita teruskan lagi .. berikut screen shoot nya .. (click gambar untuk langsung menuju ke www.katolisitas.org)

Photobucket

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

printed edition 26 Oktober 2008 telah terbit..

October 23rd, 2008

suatu ketika ada seorang Bapak yang mengirimkan email kepada saya dan bertanya; kenapa untuk edisi cetaknya hanya 4 lembar saja? haha :D jadi malu saya kenapa hanya mampu bikin 4 halaman saja :o Semoga empat halaman ini sementara saja sifatnya dan dimasa mendatang bisa membuat sesuatu yang lebih baik dan berguna bagi rekan semua.

Anyway, kemarin saya punya ide; seandainya saja saya dapat memasukkan informasi mengenai website katolik maupun yang dikelola oleh rekan rekan katolik dalam edisi cetak Catholic Indo news tentunya akan sangat bagus, karena dengan demikian semangat berbagi 5 roti dan 2 ikan yang sudah di rintis oleh rekan rekan pengelola website tersebut dapat terus berlanjut. Untuk inilah maka per edisi ini akan ada kolom khusus bagi media tersebut. Semoga bermanfaat bagi rekan rekan semua.

link pdf edisi cetak 26 Oktober 2008 dapat diunduh disini;

Photobucket

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Lowongan Pastor

October 19th, 2008
lowongan pastor

Seminari Menengah St.Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, mendidik lulusan SMP, SMA atau SMK yang berminat untuk menjadi imam tahun akademik 2009/2010. Pendaftaran sudah dimulai sejak 6 Oktober 2008 hingga 25 Februari 2009 (untuk gelombang I) syarat dan detail lainnya silakan mampir ke website Seminari Mertoyudan (sekalian biar kenal dengan Seminari ini karena banyak informasi yang saya yakin berguna bagi rekan muda semua untuk tahu apa kah seminari itu).

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

19 October Printed Edition sudah terbit

October 16th, 2008

Pertama tama atas nama redaksi (hahaha :D yang terdiri dari saya+istri+dan 2 anak kami) dengan rendah hati mengucapkan terimakasih atas sambutan yang hangat dari rekan rekan semua untuk sakali lagi terbitan terdahulu. Semoga semangat berbagi 5 roti dan 2 ikannya terus mengalir dengan dapat dibacanya edisi cetak kepada rekan lain yang belum berkesempatan memiliki akses internet untuk mendapat berita Katolik.

Romo A Gianto seperti biasa memberikan renungan mingguan mengenai memberi Pajak (yang ternyata sudah ada jaman dahulu) kepada Kaisar. Dan juga artikel tentang 20 Misteri Rosario Paus Johanes Paulus II serta dalam edisi ini saya ingin mengangkat cerita tentang orang kudus. Inginnya sih, dalam 1 minggu saya bisa menampilkan para orang kudus tersebut, idenya supaya kita yang awam sedikit banyak akhirnya tahu (atau diingatkan kembali) siapa sebenarnya nama Baptis kita. Tapi sayangnya saya masih memiliki kendala waktu untuk melakukannya :( but anyway semoga edisi ini bisa berguna.

Silakan download link berikut ini untuk edisi 19 Oktober 2008

printed edition 19 october '08

Untuk edisi ini terimakasih kepada;
1. Romo A Gianto SJ ~ yang saya tidak tahu dimana emailnya :( melalui Mirifica.net juga tempat saya mendownload artikel Romo Gianto.
2. Kepada rekan rekan di Yesaya yang telah bersusah payah membangun sebuah media yang sangat informatif tentang Katolik
3. Kepada anak saya yang selalu bilang jelek ketika melihat hasil print out via-veritas
4. Kepada istri saya yang memberi … segalanya :D

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati