<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="WordPress/2.9.2" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>Katolik Indonesia News</title>
	<link>http://via-veritas.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 May 2010 16:12:50 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	
	<item>
		<title>Perjalanan Paus ke Portugal 11-14 Mei 2010 (Bag 1)</title>
		<description><![CDATA[Open publication - Free publishing - More pope
(...)Read the rest of Perjalanan Paus ke Portugal 11-14 Mei 2010 (Bag 1) (0 words)

© admin for Katolik Indonesia News, 2010. &#124;
Permalink &#124;
No comment &#124;
Add to
del.icio.us

Post tags: 
%%function (iterator, context) {
    var index = 0;
    iterator = iterator.bind(context);
    try [...]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/perjalanan-paus-ke-portugal-11-14-mei-2010-bag-1/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Bunda Maria tanpa noda;  Apa maksudnya?</title>
		<description><![CDATA[Dogma Perawan Bunda Maria dikandung tidak bernoda
Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.[1] Mungkin ada orang bertanya, -terutama mereka yang bukan beragama Katolik- kenapa ada perlakuan khusus buat Bunda Maria, bukankah Maria itu manusia biasa saja seperti kita? Lalu, kenapa baru pada tahun 1854 diumumkan dogma ini, apakah ini pengajaran buatan manusia saja (Paus dan pembantu-pembantunya) ataukah sungguh dari Allah? Mari kita lihat, kenapa kita sebagai orang Katolik percaya bahwa pengajaran ini berasal dari Allah, dan karenanya wajib kita yakini dan kita syukuri.
Bukan pengajaran ‘kagetan’ melainkan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak lama
Gereja Katolik tidak pernah mengubah, menghapus, atau menambah pengajaran “deposit of faith” yang ada padanya sejak dari Gereja awal, namun hanya menjaga dan mempertahankannya. Perlu kita ingat bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bagi orang Katolik itu sama pentingnya, karena berasal dari sumber yang sama: Allah sendiri. (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, Bagian 3) Dogma Perawan Maria dikandung tanpa noda ini telah dirintis oleh Paus Sixtus IV (abad ke-15) yang diteruskan sampai ke jaman Paus Pius IX (abad ke -19), tetapi sesungguhnya pengajaran tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal, seperti dinyatakan oleh Santo Ephraem (abad ke-4)[2] dan Santo Agustinus (abad ke-5)[3] dengan dasar pemikiran dari Santo Ireneus (abad ke-2)[4].
Jadi Dogma tersebut bukan pengajaran ‘kagetan’ atau innovasi dari Paus Pius IX di abad ke-19!]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/bunda-maria-tanpa-noda-apa-maksudnya/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Maria, Bunda Allah</title>
		<description><![CDATA[Pendahuluan

Mungkin anda pernah mendengar komentar yang berkata, “Bunda Maria itu hanya manusia biasa seperti kita… Tuhan hanya ‘meminjam’ tubuhnya saja untuk melahirkan Yesus.” Benarkah? Sesungguhnya, tidak sesederhana itu. Sebab, semakin kita membaca dan merenungkan Kitab Suci dan tulisan dari para Bapa Gereja, kita akan semakin menyadari, bahwa meskipun Bunda Maria itu manusia ‘biasa’ sesungguhnya ia sangat istimewa. Ia tidak mungkin sama dengan kita, justru karena perannya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui, bahwa seberapapun dekatnya seseorang dengan Yesus, tidak ada yang melebihi kedekatan Bunda Maria dengan Yesus. Kenyataannya, semua gen sifat-sifat Yesus sebagai manusia diperoleh dari Bunda Maria. Maria mengandung Yesus, menyusui-Nya, membesarkan-Nya. Selama 30 tahun Maria hidup bersama Yesus yang menghormatinya sebagai Ibu-Nya. Bunda Maria mendampingi Yesus dengan setia sampai wafat-Nya di kayu salib. Di tengah derita-Nya di salib, Tuhan Yesus memikirkan nasib Bunda Maria yang akan ditinggalkan-Nya, sehingga Ia memasrahkan ibu-Nya itu kepada murid yang dikasihiNya. Selanjutnya, setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Maria menyertai Gereja; sampai saat ia-pun diangkat ke surga hingga saat ini, ia menyertai kita semua. Tulisan berikut ini merupakan sekilas renungan tentang Maria sebagai Bunda Allah, yang mengambil sumber utama dari surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater (Bunda Penyelamat) dan tulisan para Bapa Gereja.
Bunda Maria, Bunda Allah

Santo William pernah berkata, “Maria, dengan melahirkan Yesus Sang Penyelamat dan Kehidupan kita, membawa banyak orang kepada Keselamatan; dan dengan melahirkan Sang Hidup itu sendiri, ia memberikan kehidupan untuk banyak orang”. Maka, Bunda Maria sebagai Bunda Penyelamat menjalankankan peran yang istimewa di dalam rencana Keselamatan Allah. Memang benar jika dikatakan bahwa rencana keselamatan Allah merangkul semua orang (lih. I Tim 2:4), namun secara khusus Allah menyediakan tempat bagi Bunda Maria, yaitu seorang “perempuan” yang dijadikanNya sebagai Ibu Yesus Sang Putera Allah dan Sang Juru Selamat. Rencana Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi,“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” (Mat 1:23).   Hanya karena ketaatan Bunda Maria, maka kelahiran Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi selama sekitar 2000 tahun terpenuhi. Hanya karena kesediaan Maria, maka Allah Putera menjelma menjadi manusia, dan Bunda Maria adalah ibu dari  Sang Immanuel, “Allah yang beserta kita” tersebut.  Dalam diri Maria digenapi  rencana keselamatan Allah, “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal 4:4). Dan, sungguh Allah Putera itulah yang dikandung oleh Bunda Maria, sesuai dengan Kabar Gembira dari malaikat,  “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.” (Luk 1:35) Oleh karena itu, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” (Luk 1:1-43)  dan karena itu kita juga memanggil Maria sebagai Bunda Allah.

Tuhan, sebagai Allah Bapa yang Maha Pengasih mengiginkan agar setiap orang menjadi anak-Nya di dalam Kristus Putera-Nya, yang di dalam Roh Kudus-Nya dapat memanggil-Nya sebagai “Abba! Bapa!” (lih. Gal 4:6). Oleh karena itu, saat genaplah waktunya, Allah mengirimkan Putera-Nya, Yesus Kristus, melalui Bunda Maria yang diurapi oleh Roh Kudus. Pada saat Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38), terwujudlah karya Tuhan yang sangat ajaib: Allah yang tak terbatas oleh waktu, masuk ke dalam ruang waktu dan menjadi bagian dari sejarah umat manusia. Dengan demikian, sejarah manusia dikuduskan dan diisi dengan misteri Kristus. Penggenapan janji Allah ini menandai permulaan dari perjalanan Gereja, di mana Maria sebagai anggota pertamanya menjadi teladan bagi Gereja sebagai mempelai dan ibu, dengan menyatakan “ya” pada pemenuhan Perjanjian Baru.
Bunda Maria merupakan teladan kekudusan, ketaatan dan pengabdian

Alkitab mengatakan, “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef 1:4). Bunda Maria adalah seseorang yang secara sempurna memenuhi ayat ini; sebab ia telah ditentukan Allah sejak semula menjadi Ibu Sang Putera Allah. Dan untuk mempersiapkannya sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Sabda yang menjadi manusia, Allah membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, oleh karena jasa Yesus yang menyelamatkan dunia. (lihat artikel: Bunda Maria dikandung tanpa noda, apa maksudnya?) Jadi, penghormatan kepada Bunda Maria bukanlah ‘rekayasa’ Gereja Katolik, sebab yang pertama-tama menghormati Maria adalah Tuhan sendiri. Kita menghormati Bunda Maria sebab kita mengikuti teladan Allah sendiri, sebab Tuhanlah yang terlebih dulu mempercayakan Diri-Nya kepada Bunda Maria. Karena itu Bunda Maria disebut sebagai “penuh rahmat” seperti yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel. Di dalam Bunda Maria, Putera Allah yang mengatasi segalanya mengambil rupa tubuh sebagai manusia. Maria menanggapi rahmat ini dengan iman tak bersyarat, dan karenanya ia dikatakan sebagai yang terberkati. Ia menerima rahmat dan tugas mulia ini dengan memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Dengan mempercayakan diri kepada Tuhan, baik pada saat menerima kabar gembira maupun seterusnya sepanjang hidupnya, Bunda Maria menyatakan ketaatan iman. Dengan mengatakan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38) ia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh Yesus kepada Allah Bapa, “Aku datang; …untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:7). Imannya mengingatkan kita pada iman Bapa Abraham. Sebab Perjanjian Lama dimulai oleh iman Abraham, dan Perjanjian Baru dimulai oleh iman Bunda Maria.

Ketaatan Maria tetap teguh sepanjang hidupnya: di dalam menjalani kehidupan yang sangat miskin pada saat kelahiran Yesus; di saat menjalani pengungsian ke Mesir, di sepanjang tahun-tahun kehidupan Yesus yang tersembunyi di Nazareth, sampai menyertai Yesus di bawah kaki salib-Nya, dan ikut menganggung sengsara Yesus Puteranya (lih. Yoh 19:25). Bunda Maria adalah seseorang yang ‘miskin di hadapan Allah’ dan karenanya ia memiliki Kerajaan Sorga (lih. Mat 5:3). Ia hidup sedemikian miskin, (sebab bahkan orang termiskin sekalipun umumnya tidak melahirkan di kandang hewan) namun ia menjalaninya dengan iman dan ketaatan. Ia mempersembahkan Yesus di Bait Allah dan kemudian membesarkan dan mendidik Yesus hingga dewasa. Karena ketaatannya dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah, Bunda Maria dipuji oleh Yesus, ketika ia dan saudara-saudari Yesus datang menghampiri Yesus. Yesus berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk 3:34-35).

Ketaatan Maria membawanya sampai ke gunung Golgotha. Di kaki salib inilah, Maria mengalami bagaimana kabar gembira malaikat Gabriel seolah ‘dijungkirbalikkan’: …bahwa anakNya akan menjadi besar…, dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir (lih. Luk 1:32-33). Sedangkan yang terpampang di hadapan matanya adalah sebaliknya: Sang Putera dihina, disiksa sampai mati, seolah segalanya telah berakhir…. Namun demikian kita melihat, tidak ada ‘protes’ dan perlawanan keluar dari mulutnya. Di dalam iman Bunda Maria ‘menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya’. Oleh karena itu, ia sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus dan misteri suci-Nya yang menyangkut ‘pengosongan diri dan penghinaan diri’. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa penderitaan Bunda Maria di kaki salib ini merupakan pengosongan ‘kenosis’ iman yang terdalam yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Di kaki salib Kristus itulah, dipenuhi nubuat Simeon, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:35). Adakah derita ibu yang lebih hebat daripada melihat anak satu-satunya disiksa dan dibunuh di depan matanya?

Ketaatan Bunda Maria yang sedemikian inilah yang dianggap sebagai ‘obat’ dari ketidaktaatan Hawa, seperti yang dikatakan oleh para Bapa Gereja, terutama Santo Irenaeus. Lumen Gentium mengutipnya dengan mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh Hawa telah dilepaskan oleh ketaatan Bunda Maria…” Sehingga dikatakan, “Kematian oleh Hawa, namun kehidupan oleh Maria.” Karena itu, Maria ditempatkan pada pusat pertentangan antara Iblis dan ‘keturunan perempuan ini’ (lih. Kej 3:15) sebab ia adalah sang ‘perempuan’ yang telah dibuat kudus tak bernoda oleh Allah; ia bebas dari dosa asal, sehingga bersama dengan Putera-Nya dapat diletakkan di dalam pertentangan total melawan dosa dan Iblis. Pertentangan ini mencapai puncaknya seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu, “Seorang perempuan berselubungkan matahari…..melahirkan Anaknya laki-laki… yang akan menggembalakan semua bangsa…” (Why 12:1,5). Sang Putera akan mengalahkan naga itu, yaitu Iblis. Maka kita mengetahui, bahwa sang Putera adalah Yesus, dan sang Ibu adalah Bunda Maria.
Bunda Maria, Bunda kita

Hubungan yang erat antara Maria dan Yesus Puteranya juga dapat kita lihat dengan jelas pada kisah mukjizat pada pesta perkawinan di Kana, yaitu pada saat Bunda Maria mengambil peranan penting dalam perwujudan mukjizat Yesus yang pertama ini. Dengan berkata pada Yesus, “Mereka kehabisan anggur”, dan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, Bunda Maria menempatkan diri sebagai pengantara, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai ibu. Pengantaraan Maria sama sekali tidak menghalangi atau mengurangi pengantaraan Yesus yang esa dan satu-satunya kepada Allah Bapa (lih. 1 Tim 2:5) melainkan semakin menunjukkan kuasa pengantaraan Yesus itu. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa pengantaraan Bunda Maria merupakan bagian dari pengantaraan Yesus yang unik dan satu-satunya itu, sebab pengantaraan Maria ada di bawah kuasa pengantaraan Yesus.

Dengan mengandung Yesus yang adalah Kepala dari Tubuh mistik Gereja, Bunda Maria juga mengandung kita umat beriman, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus/ Gereja. Oleh karena itu St. Bernardus mengatakan bahwa Bunda Maria adalah “Leher dari Tubuh Mistik Kristus” yang menghubungkan Yesus Sang Kepala dengan semua anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Inilah sebabnya mengapa Bunda Maria yang hadir di dalam misteri Kristus sebagai ibu, juga menjadi ibu rohani bagi semua orang percaya.

Bunda Maria merupakan pemenuhan janji Tuhan yang telah disebutkan pada awal mula (lih. Kej 3:15) dan pada akhir jaman (Why 12:1-5). Ia hadir pada awal misi keselamatan Yesus (lih. Yoh 2:1-12) sampai pada akhirnya, saat ia berdiri di bawah kaki salib Yesus (lih. Yoh 19:25). Ia ada pada saat Sang Sabda menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya, dan ia hadir pada saat kelahiran Gereja di hari Pentakosta. Dengan demikian ia telah menjadi contoh dalam perjalanan iman. Bunda Maria adalah seseorang yang pertama kali percaya akan janji Keselamatan, dan dengan imannya, ia menjadi teladan pertama sebagai saksi apostolik Gereja. Karena itu, Bunda Maria adalah juga Bunda Gereja.

Sejak awal Bunda Maria telah memberikan dirinya tanpa batas kepada Yesus Puteranya, dan ia berbuat yang sama terhadap Gereja, yang adalah ‘anak angkat’-nya. Setelah Kristus bangkit dan naik ke surga, Bunda Maria tetap memberikan dirinya sebagai pengantara semua anak-anak-nya kepada Tuhan. St. Alphonsus Liguori mengatakannya dengan begitu indah, dengan mengutip kisah dari kitab 2 Sam 14:4-11. Seorang perempuan bijak dari Tekoa menghadap Raja Daud, “Tuanku, hambamu ini mempunyai dua orang anak laki-laki, dan malangnya hamba ini, salah seorang dari puteraku itu membunuh yang lain, sehingga hamba kehilangan seorang putera, dan keadilan menghendaki agar anakku yang lain itupun mendapat hukuman mati karena perbuatannya..…; kasihanilah hamba, dan janganlah hamba sampai kehilangan kedua puteraku.” Bunda Maria dapat berkata yang serupa, “Tuhanku, hamba mempunyai dua putera, Yesus dan manusia; manusia membunuh Puteraku Yesus di salib, dan kini, keadilanMu menuntut puteraku yang bersalah. O, Tuhan, Yesusku sudah wafat, kasihanilah hamba, sebab hamba sudah kehilangan seorang, mohon jangan biarkan hamba juga kehilangan anakku yang lain.” Dan seperti Raja Daud akhirnya berbelas kasihan kepada ibu dari Tekoa itu dan mengabulkan permohonannya, maka Tuhan-pun berbelas kasihan dan tidak menghukum para pendosa yang didoakan oleh Bunda Maria. Oleh pengantaraannya ini, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Mediatrix.
Bunda Maria Teladan Gereja

Bunda Maria adalah teladan Gereja dalam hal iman, kasih dan persatuan yang sempurna dengan Kristus. Bunda Maria adalah contoh sempurna yang mencerminkan Kristus. Ia adalah contoh tetap bagi Gereja, sebab Gereja juga dipanggil untuk menjadi Ibu dan perawan, sebagai mempelai Kristus. (lihat artikel: Bunda Maria tetap perawan, mungkinkah?) Bunda Maria bekerjasama dalam kelahiran Gereja dan perkembangannya. Sekarang ini, pada saat digalakkannya gerakan Ekumenism di mana semua orang Kristen berjuang untuk mencapai persatuan, ketaatan Maria menjadi contoh yang paling sempurna. Dengan mempelajari dan merenungkan peran Bunda Maria dalam Gereja, semua umat Kristen akan dapat melakukan perkataan Yesus -seperti yang menjadi pesan Bunda Maria pada mukjizat di Kana. Dengan demikian, perkataan Yesus, “supaya mereka semua (umat Kristen) menjadi satu…”(Yoh 17:21), dapat terlaksana dengan dipimpin oleh Bunda Maria, yang menjadi ibu bagi semua pengikut Kristus. Sungguh benar, bahwa keibuan Maria adalah rahmat yang diberikan kepada setiap orang. Kristus Penyelamat kita mempercayakan Ibu-Nya sendiri kepada murid yang dikasihiNya. Murid itu mewakili semua umat manusia. Jadi artinya Kristus memberikan Ibu-Nya untuk menjadi ibu bagi kita semua (lih. Yoh 19:26-27).

Mari kita renungkan, sudahkah kita ‘menerima’ Maria sebagai Ibu kita sendiri? Jika kita mau sungguh mengasihi Tuhan Yesus seperti Rasul Yohanes, bukankah kitapun perlu meniru teladannya untuk menerima Maria di dalam ‘rumah’ hati kita dan di dalam kehidupan kita?
Bunda Maria, Bunda Allah menurut Bapa Gereja

Para Bapa Gereja menghubungkan peran Maria sebagai Bunda Allah dengan perannya sebagai Hawa yang baru (the new Eve). Bunda Maria melahirkan Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia dari dosa yang diturunkan dari dosa Hawa. Karena dalam Pribadi Yesus, ke-Allahan dan kemanusiaan-Nya bersatu dengan sempurna, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Bunda Yesus dan Bunda Allah, sebab, Yesus itu Allah.

1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. Hawa, manusia perempuan pertama terperdaya oleh Iblis yang kemudian membawa maut; sedangkan Maria percaya kepada pemberitaan malaikat Gabriel, dan karena itu ia mengandung Putera Allah yang membawa hidup.

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”

3. St. Gregorius Naziansa (390) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia).

4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…”

5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”

6. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?”

7. Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah, dan Gereja ‘baru’ menobatkan Maria sebagai Bunda Allah pada tahun 431. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia.

Jelaslah bahwa doktrin Maria Bunda Allah bukan untuk semata-mata menghormati Maria, tetapi terutama untuk menghormati Yesus, yang walaupun sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Gereja selalu mengimani Pribadi Yesus yang tunggal, yang merupakan persatuan sempurna antara keilahian dan kemanusiaan-Nya. Namun demikian, kita tidak mempercayai bahwa Maria memiliki keilahian seperti dewi. Pendapat yang demikian juga sesat. Jadi yang tepat adalah: Pribadi Ilahi Yesus yang telah ada di sepanjang segala waktu mempersatukan Diri-Nya dengan tubuh kemanusiaanNya di dalam rahim Maria. Untuk ini, Bunda Maria disebut sebagai Bunda Allah. Sama seperti kita mengatakan ibu Siti Habibah bukan saja sebagai ibunda Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi juga sekaligus ibunda Bapak Presiden RI, sebab Bapak SBY adalah Bapak Presiden RI. Dengan analogi ini, maka Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan Bunda Tuhan sebab Yesus adalah Tuhan kita.
Kesimpulan

Bunda Maria berdiri di pusat misteri Keselamatan, seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, “sebab menjadi keajaiban alam yang luar biasa, ia mengandung Pencipta-nya” -for to the wonderment of nature, she bore her Creator. Betapa istimewanya peran Bunda Maria dalam perwujudan rencana Keselamatan Allah kepada umat manusia, sebab ia dipercaya untuk mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendampingi Kristus Sang Putera sampai kesudahan-Nya di salib Golgotha. Selanjutnya Bunda Maria hadir di sepanjang segala abad untuk membantu Gereja, dan semua umat Kristen, di dalam pergumulan antara kebaikan dan kejahatan, untuk memastikan agar mereka tidak terjatuh, dan jika mereka terjatuh, ia membantu mereka untuk bangkit kembali.
Liguori, St. Alphonsus, Hail Holy Queen! (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1995), p. 21

Paus Yohanes Paulus, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 7

Cf. Ibid., 1

Cf. Ibid., 9, 10, 12, 39

Ayat ini sering dipakai untuk menyatakan bahwa Yesus mempunyai banyak saudara. Namun yang dimaksud di sini adalah saudara sepupu, bukan saudara kandung. Untuk keterangan selanjutnya silakan baca artikel : Bunda Maria Tetap Perawan: Mungkinkah?. Ayat ini juga sering disalah-artikan, seolah Yesus tidak mau mengakui ibu dan saudara-saudarinya, dengan ‘membuka tali persaudaraan’ kepada semua saja yang melakukan kehendak Allah. Untuk itu, ada baiknya kita melihat ayat ini dalam Alkitab bahasa Inggris, Yesus mengatakan, “Who are My mother and my brethren? …Here are my mother and my brethren! Whoever does the will of God is my brother, and sister and mother.” Lihatlah bahwa Yesus menyatakan saudara-saudarinya dalam bentuk jamak: ‘brethern’, sedangkan untuk ibu-Nya, hanya satu/ tunggal, sebab hanya Bunda Maria-lah ibu-Nya, yang menjadi teladan dalam melaksanakan kehendak Tuhan.

Cf. Ibid., 13, 14, 15, 16, 17, 18

Lihat Lumen Gentium, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, 56, mengutip St Irenaeus, Against Heretics, III, 22,4:PG 7, 959 A; Harvey, 2, 124.

Ibid., mengutip St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril dari Jerusalem, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskus.

Cf. Ibid., 11, 19

Hahn, Scott, Hail, Holy Queen, (Broadway, New York: Doubleday, 2001), p. 39

Cf. Redemptoris Mater, 21, 22, 38, 40

Miravalle, Mark, STD, Introduction to Mary, (Santa Barbara: Queenship Publishing Company, 1993), 63, 76

Cf. Redemptoris Mater., 23, 24, 25, 26, 27,28

Cf. Ibid., 40

Liguori, St. Alphonsus, Hail Holy Queen! (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1995), 45

Cf. Redemptoris Mater., 42, 44, 30, 45

Lihat St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho the Jew, 155 AD, p.100

Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24

Lihat Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-180.

Diterjemahkan dari Virgin Wholly Marvelous, seperti dikutip oleh Robert Payesko, Ibid., p. 2-78.

St. Agustinus, Sermon

Lihat St. Cyril dari Alexandria, Epistle ro the Monks of Egypt, I

Lihat William C. Placher, Readings in the History of Christian Theology, vol. 1, (Westminster John Knox Press, Kentucky, USA, 1988) p. 69-70: Nestorius mengenali Yesus yang lahir dari rahim Maria sebagai Bait Sang Sabda (a temple of the Logos) di mana Sang Sabda itu tinggal, dan bukannya Sang Sabda (the ‘Logos’) itu sendiri. Menurut Nestorius, Allah ada di dalam bayi Yesus, ada di dalam diri manusia yang tersalib di Kalvari, namun sang manusia itu bukan Tuhan sendiri. Jadi Nestorius gagal membedakan sifat keilahian dan kemanusiaan Yesus yang bersatu secara sempurna dalam Pribadi Yesus. Nestorius gagal melihat bahwa Maria adalah seorang Ibu dari seorang Pribadi manusia, yang kebetulan juga adalah Pribadi Allah. Jadi, Maria adalah ibu dari Yesus yang adalah Allah dan manusia, meskipun ia hanya melahirkan kemanusiaan Yesus.

Cf. Redemptoris Mater, 51,52.]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/maria-bunda-allah/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?</title>
		<description><![CDATA[#
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah tetap perawan, sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Yesus kristus, Putera Allah. Hal ini sering dipertanyakan oleh saudara-saudari kita dari gereja lain.
#
Artikel ini menjabarkan penjelasan tentang dasar ajaran ini (‘Perpetual Virginity of Mary’) yang berasal dari:

    *
      Kitab Suci yang paling sering dikutip sehubungan dengan keperawanan Maria.
    *
      Pengajaran Bapa Gereja dari abad-abad awal yang telah mengajarkan Maria yang tetap perawan sehubungan dengan perannya sebagai Ibu Tuhan Yesus.
    *
      Pengajaran para pendiri gereja Protestan, seperti Martin Luther, John Calvin, Ulrich Zwingli dan John Wesley, yang mengakui bahwa Maria tetap perawan.

#
Keperawanan Maria membawa akibat penting bagi Gereja Katolik:

    *
      sebagai contoh agar Gereja menjaga kemurnian ajaran-ajarannya.
    *
      sebagai contoh yang sempurna kepada para anggota Gereja yang mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup dengan menjaga kemurnian tubuh dan jiwa mereka.

#
Kesimpulan: Keperawanan Maria adalah karunia Tuhan bagi Bunda Maria yang menyatakan bahwa kesempurnaan kasihNya tidak meninggalkan sedikitpun cacat atau noda pada tubuh Maria yang menyerahkan diri seutuhnya bagi rencana keselamatan Allah. Hal ini selayaknya kita terima dengan rasa kagum, karena sungguh tiada yang mustahil bagi Allah.]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/bunda-maria-tetap-perawan-mungkinkah/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Holy Mary Co-Redemptrix [apakah maksudnya?]</title>
		<description><![CDATA[Co-Redemptrix, apa maksudnya?

Menurut arti bebasnya, Co- artinya adalah ‘dengan’. Maka menurut definisinya yang dikenal dalam Mariologi, Co-Redemptrix mengacu kepada partisipasi Bunda Maria yang tidak langsung namun sangat penting dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Dalam arti inilah Bunda Maria bekerja sama dengan Yesus dalam rencana Keselamatan Allah. Namun, partisipasi Maria dalam karya keselamatan ini sepenuhnya tergantung dan berada di bawah peran Kristus Putera-Nya.

Maka, dengan mengatakan Maria sebagai Co-Redemptrix, kita tidak menjadikan Bunda Maria sejajar dengan Yesus dalam karya Keselamatan. Bunda Maria sendiri tetap memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dalam hal ini untuk menjadikannya kudus tanpa noda sejak dalam kandungan, dan karena itu tidak mungkin Bunda Maria memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus.
Bagaimana Maria melakukannya?

Bunda Maria dikatakan sebagai Co- Redemptrix karena dua hal utama, yaitu atas ketaatannya pada saat menerima kabar gembira, dan ketaatan selama hidupnya, yang memuncak di kaki salib Yesus. Saya ingin mengutipnya dari tulisan pakar Mariologi yang bernama Mark Miravalle, S.T.D, yang mengajarkan:[1].

1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, yang berupa sebuah ‘undangan’ untuk mengambil bagian dalam karya Keselamatan Allah, dengan menjadi ibu bagi Yesus sang Penyelamat. Maria menanggapi undangan ini dengan kesediaannya mengizinkan penjelmaan Yesus menjadi manusia ini mengambil tempat di dalam rahimnya. Para Bapa Gereja di abad-abad awal mengajarkan bahwa Inkarnasi dan Karya keselamatan sebagai suatu kesatuan tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia. Maka terlihat di sini peran Maria yang sangat penting sebab oleh ketaatannya, ia membawa Kristus Sang Penyelamat ke dunia, melalui Inkarnasi. Oleh Maria, maka ayat ini tergenapi, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” (Yoh 1:14)

Dengan demikian Maria menjadi Hawa yang baru. Sebab oleh ketidak taatan Hawa yang pertama, umat manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Maria (Hawa yang baru) umat manusia memperoleh Sang Penyelamatnya. St Irenaeus (180) berkata, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.”[2]. Dan karena tubuh Yesus, sebagai alat Keselamatan  (lih. Ibr 10:10) diberikan kepada Yesus oleh Maria saat Ia terbentuk dalam rahimnya, maka Maria sebagai Ibu Yesus memiliki peran yang sangat istimewa dalam keselamatan manusia, yang tidak dapat dibandingkan dengan semua ciptaan lainnya.

Paus Yohanes Paulus mengatakan bahwa pada saat mengatakan “YA”/ Fiat pada kabar Malaikat itu, maka iman Maria dapat disejajarkan dengan iman Bapa Abraham yang menandai permulaan Perjanjian Lama antara Tuhan dengan umat-Nya. Iman Maria menandai dimulainya Perjanjian Baru. Seperti halnya Bapa Abraham yang percaya “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap” (Rom 4:18) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa padahal pada saat janji itu diberikan ia belum mempunyai keturunan, maka Mariapun juga percaya, bahwa meskipun ia tetap perawan (tidak bersuami), ia akan melahirkan seorang Anak atas kuasa Roh Kudus, dan “Anaknya itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35).[3].

2. Maria secara unik berpartisipasi dalam kurban salib Yesus demi keselamatan umat manusia. Di kaki salib Kristus, Bunda Maria mempersembahkan kepada Allah hak-haknya sebagai ibu, segala belas kasih, dan penderitaannya yang tak terlukiskan melihat Putera-Nya sendiri disiksa sampai wafat.

Di kayu salib inilah, menurut Paus Yohanes Paulus II, Bunda Maria melihat seolah-olah kebalikan dari perkataan Malaikat di saat menerima kabar gembira, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33) Di kayu salib ini, terpampang di hadapan matanya kenyataan yang begitu memilukan, “Ia (Yesus) dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan…. (Yes 53:3-5). Betapa besarnya ketaatan Maria yang menyerahkan diri seutuhnya, segala “akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang keputusan dan jalan-jalan-Nya tak terselami! (Lih. Rom 11:33). Dengan cara inilah Maria berpartisipasi dalam “pengosongan diri” yang dilakukan oleh Yesus di kayu salib (lih. Flp 2: 5-8). Ini mungkin adalah suatu bentuk “pengosongan diri” yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Di sinilah terpenuhi nubuat Simeon, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri…” (Luk 2:35).[4]

Para Bapa Gereja membandingkan iman Maria di kaki salib Kristus ini dengan iman Bapa Abraham yang mempersembahkan Ishak anaknya sebagai persembahan kepada Tuhan.
Dasar Kitab Suci

Sebenarnya, tidak sulit untuk menerima ajaran bahwa Bunda Maria disebut sebagai “Co- Redemptrix” kalau kita dapat menerima pengajaran sebagai berikut:

1. 1 Kor 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah ….” Jika kita semua saja adalah kawan sekerja Allah dalam rencana Keselamatan, tentulah Bunda Maria yang membawa Kristus ke dunia adalah kawan sekerja Allah yang begitu istimewa. Sebab tanpa ketaatannya melalui kehendak bebasnya, maka Yesus tidak lahir ke dunia.

2. Kolose 1:24: Rasul Paulus mengajarkan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Maka dengan penderitaannya, yang dipersatukan dengan penderitaan Kristus di kayu salib, Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Memang korban penebusan Kristus telah digenapi dengan sempurna di Golgota, namun demikian, penerapan korban penebusan ini kepada semua manusia masih berlanjut sepanjang sejarah manusia. Itulah sebabnya, di dalam hidup kita sebagai anggota Tubuh Kristus di dunia, kita masih mengalami penderitaan. Maka kita layak untuk mencontoh teladan Bunda Maria yang menyerahkan segala penderitaannya dan mempersatukannya dengan korban Yesus di kayu salib, agar dengan demikian kitapun, dengan porsinya masing-masing, mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

3. Yoh 2:5: Maria Ibu Yesus berkata…. “Apa yang dikatakan kepadamu, (oleh Yesus) buatlah itu!”
Sebagaimana yang terjadi di Kana, Bunda Maria sangat memperhatikan kebutuhan umat beriman. Namun apa yang dikatakannya selalu mempunyai Kristus sebagai pusatnya, dan ia membawa para beriman untuk menaati perintah Yesus.
Maria, Co- Redemptrix menurut Bapa Gereja

Walaupun sampai saat ini pengajaran bahwa Maria sebagai Co-Redemptrix belum diangkat secara definitif menjadi Dogma, namun sebenarnya, dasar pengajaran ini telah ada sejak lama. St. Yustinus (100)  adalah Bapa Gereja yang pertama yang mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Kemudian, murid Rasul Yohanes, St. Irenaues (180), juga mengajarkan tentang peran Maria sebagai Hawa yang baru, yang berkerjasama dengan Adam yang baru yaitu Kristus untuk menyelamatkan dunia. Ia mengkontraskan ketidaktaatan Hawa dengan ketaatan Maria. Kesaksian St. Irenaeus tentu sangat penting, karena ia adalah murid dari St/ Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan Bunda Maria di saat ajal-Nya di kayu salib. (Yoh 19:25). Kesaksian St. Irenaeus ini banyak dikutip oleh para Bapa Gereja, dan dikutip pula dalam dokumen Konsili Vatikan II.[5]

Tertullian (abad ke 3), juga mengajarkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru. Ia mengkontraskan bahwa Hawa percaya pada perkataan sang ular/Iblis, sedangkan Maria percaya kepada perkataan Malaikat.[6] Selanjutnya, St. Agustinus (354-430), St, Yohanes Damascene (754-787) dan St. Thomas Aquinas (1225-1274), mengajarkan hal yang sama, diikuti oleh banyak para kudus lainnya. Dengan prinsip Maria sebagai Hawa yang baru, maka tidak sulit untuk memahami mengapa Bunda Maria disebut sebagai Co-Redemptrix.
Pengajaran para Paus

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Paus tentang Maria sebagai Co- Redemptrix:[7]

1. Paus Pius Benediktus XV (1918) dalam Surat Apostoliknya mengatakan, “Pada tingkat yang tak terlukiskan, Maria menderita dan hampir mati dengan Anak-nya yang menderita dan mati, dan dengan demikianlah ia menyerahkan segala hak-hak keibuannya demi keselamatan manusia…. sehingga kita dapat berkata bahwa ia bersama-sama dengan Kristus menyelamatkan umat manusia.”[8]

2. Paus Pius XI (1922- 1939) menyebutkan Maria sebagai Co-Redemptrix sebanyak sekurang-kurangnya 6 kali dalam dokumen-dokumen kepausan-nya. Ia mengajarkan, “O, Bunda kekudusan dan belas kasih, yang ketika Anakmu menyelesaikan karya Keselamatan manusia di kayu salib,  sungguh mengemban sengsara dengan Dia dan sebagai seorang Co-Redemptrix, menjaga di dalam kita buah berharga dari karya Keselamatan ini, dan dari belas kasihmu.”[9]

3. Paus Pius XII (1939-1958) menyebutkan Maria sebagai “rekan sejawat yang terkasih dari Sang Penyelamat” mengajarkan, “Oleh kehendak Tuhan, Perawan Maria yang terberkati bersatu tak terpisahkan dengan Kristus di dalam menyelesaikan karya Keselamatan, sehingga keselamatan kita mengalir dari kasih Yesus Kristus dan penderitaan-Nya secara erat bersatu dengan kasih dan dukacita Ibu-Nya.”[10]

4. Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dashyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.”[11]

5. Paus Yohanes Paulus II, dalam surat Ensikliknya, mengajarkan, “Betapa besar, dan betapa heroiknya ketaatan iman yang ditunjukkan Maria di hadapan kebijaksanaan Allah yang tak terpahami! Betapa lengkapnya ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan tanpa syarat, “menyerahkan kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah” kepada Ia yang segala jalan-jalan-Nya yang tak terselami! (lih. Rom 11:33). Melalui iman ini Maria secara sempurna bersatu dengan Kristus dalam hal pengosongan diri…. Di kaki salib Kristus, Maria mengambil bagian melalui iman di dalam misteri pengosongan diri yang tragis ini. Ini mungkin merupakan merupakan sebuah kenosis/ pengosongan diri yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Melalui iman Bunda Maria mengambil bagian di dalam kematian Kristus, di dalam kematian-Nya yang menyelamatkan…”[12]

Di tahun 1985, dalam sebuah pernyataan kepausan yang lain, Paus Yohanes Paulus mengajarkan bahwa gelar Co-Redemptrix berkaitan dengan penyaliban rohani yang dialami Maria di kaki salib Kristus: “Disalibkan secara rohani dengan Putera-Nya yang tersalib (lih. Gal 2:20), ia [Maria] memandang dengan kasih yang heroik kematian Tuhannya, “dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, dengan penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.”[13]… seperti ia berada di dalam cara yang istimewa di dekat kayu salib Kristus, ia juga pasti mempunyai pengalaman istimewa dalam Kebangkitan-Nya. Nyatanya, peran Maria sebagai Co-Redemptrix tidak berhenti dengan kemuliaan Putera-Nya.”[14]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/holy-mary-co-redemptrix-apakah-maksudnya/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Year for Priest dalam epaper</title>
		<description><![CDATA[meski agak sedikit terlambat semoga masih hangat untuk dinikmati oleh rekan-rekan pembaca via-veritas.com
idenya ingin meng-e-paper-kan berita tentang Year for Priest, dan semoga ini bisa menjadi referensi yang berguna bagi kita semua.
Selamat menikmati dan mengutip kata-kata Bapa Suci Paus Benedict XVI &#8220;.. After God, the priest is everything! ..&#8221;, semoga kita senantiasa berdoa dan bersyukur untuk [...]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/year-for-priest-dalam-epaper/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Jejak Rekam Paus ke Timur Tengah Jilid III (tamat)</title>
		<description><![CDATA[akhirnya kelar sudah ide untuk meng-e-paperkan perjalanan Paus ke Timur Tengah. Terlepas dari kekurangan yang (mungkin) ada  , saya berharap e-paper satu2nya tentang lawatan Paus ini dapat menjadi salah satu referensi bagi kita untuk belajar langsung dari Bapa Suci (dan Gereja) mengenai sikapnya akan beberapa isu aktual; Holocaust, Muslim-Christian-Jewish, anti-Semitism, ecumenical, dll yang oleh [...]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/jejak-rekam-paus-ke-timur-tengah-jilid-iii-tamat/</link>
			</item>
	<item>
		<title>World Day of Social Communication &#124; SPECIAL EDITION (lagi)</title>
		<description><![CDATA[tadinya hanyalah iseng; pumpung masih punya energi dan semangat berbagi   hehe ~ untuk menerbitkan (edisi khusus sekali lagi) dalam rangka peringatan ke 43 hari Komunikasi Sosial sedunia. Sumbangsih saya untuk rekan-rekan pemerhati komunikasi sosial dalam bentuk epaper. Tapi kok akhirnya malah tenggelam dalam jejak artikel para pakar dan pemerhati Komunikasi Vatikan yang sungguh [...]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/world-day-of-social-communication-special-edition-lagi/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Jejak Rekam Perjalanan Paus Jilid II</title>
		<description><![CDATA[lanjutan jejak rekam Paus jilid II telah selesai dipublish (sambil edisi selanjutnya masih dalam proses pengerjaan). Silakan menikmati;

Open publication &#8211; Free publishing &#8211; More pope

link langsung untuk edisi epaper ini bisa diklik di sini!
atau jika koneksi masih terlalu lambat, silakan download link pdf berikut ini;
1. edisi I ~ Jejak Rekam Paus ke Timur Tengah
2. edisi [...]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/jejak-rekam-perjalanan-paus-jilid-ii/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Website Baru Vatican; Pope2You.net</title>
		<description><![CDATA[
kutipan mengenai hal ini silakan dibaca dari sumber berikut (dengan catatan; klo ada yang tanya kenapa tidak di translate?   karena bahasa english saya tidak lebih lucu dari google translator hehe .. jadi saya mengambil peran yang lain saja wkwkw). Semoga berguna ..
 
POPE2YOU.NET TO APPEAL TO YOUTH
New Vatican Web Site Launches Thursday
By Mercedes de [...]]]></description>
		<link>http://via-veritas.com/website-baru-vatican-pope2younet/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
