kalau anak anak bicara pada Tuhan

Read more

satu lagi website rujukan katolik

Pagi tadi saya coba googling 'dokumen gereja' ~ untuk rekan rekan tahu, terkadang memang sulit untuk menemukan alternatif rujukan informasi Katolik berbahasa Indonesia. Majalah HIDUP belum ada versi online-nya, Mirifica.net jarang diupdate :) (kecuali renungan harian haha), diskusi milis Katolik yang ada kadang terasa garing karena diskusinya jadinya menang menangan tok :( sementara jarang sekali ada terjemahan Bahasa Indonesia di situs resmi vatican.va ~ terakhir yang saya tahu hanya ada terjemahan Indonesian untuk Pesan Untuk Akhir Bulan Ramadan Idul Fitri 1429H/2008AD (yang ditujukan kepada rekan rekan muslim :D) dan ehm, kok sulit sekali akses tulisan tulisan romo romo yach .. hahaha ... saya yang kurang gaul atau memang demikian adanya .. de es te, de es te .. nah beruntung tadi pagi saya menemukan ini www.katolisitas.org ~ isinya betul betul mantabs! dikelola oleh Stefanus Tay & Ingrid Listiati yang memiliki background akademik Teologi Amerika dan juga ada Romo pembimbing Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.
Menurut beliau ini salah satu ide dari website ini adalah ada orang Katolik yang mungkin tidak pernah membaca doktrin-dokrin Katolik (termasuk saya haha :D). Padahal waktu kita belajar, kita merasakan bahwa ajaran Katolik begitu kaya, indah, dan harus disebarkan. Dengan pemikiran ini, kita ingin agar pengajaran Katolik dapat disampaikan dengan bahasa yang cukup sederhana, dan dalam jangka panjang website ini (http://katolisitas.org) diharapkan akan menjadi salah satu sumber dokumen Gereja Katolik dalam bahasa Indonesia, karena nantinya akan memuat dokumen-dokumen gereja resmi.

Kita beruntung memiliki mereka, kita (komunitas netter) beruntung karena memiliki tambahan lagi bahan rujukan tentang Katolik yang menyediakan artikel (bahkan tanya jawab!) yang bisa diakses online. Dan semoga semangat berbagi 5 roti dan 2 ikan yang telah mereka lakukan sampai kepada kita untuk kita teruskan lagi .. berikut screen shoot nya .. (click gambar untuk langsung menuju ke www.katolisitas.org)

Photobucket

Lowongan Pastor

lowongan pastor

Seminari Menengah St.Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, mendidik lulusan SMP, SMA atau SMK yang berminat untuk menjadi imam tahun akademik 2009/2010. Pendaftaran sudah dimulai sejak 6 Oktober 2008 hingga 25 Februari 2009 (untuk gelombang I) syarat dan detail lainnya silakan mampir ke website Seminari Mertoyudan (sekalian biar kenal dengan Seminari ini karena banyak informasi yang saya yakin berguna bagi rekan muda semua untuk tahu apa kah seminari itu).

penjelasan tentang misa ekaristi

Photobucket

AMBIL BAGIAN DALAM MISA
~ Penjelasan Tahap demi Tahap ~

Oleh P. Thomas Richstatter, O.F.M *

Budi adalah seorang teman saya yang tertarik untuk menjadi seorang Katolik. Ia mulai menghadiri Misa setiap hari Minggu. Suatu hari sepulang dari Misa, Budi singgah ke rumah saya untuk menanyakan ritual yang kita lakukan dalam Misa. "Pater," katanya, "hal yang paling membedakan antara gereja saya yang lama dengan gereja Katolik ialah bahwa umat Katolik nampaknya selalu tahu apa yang akan terjadi berikutnya! Dalam gereja saya, kami duduk, kadang-kadang mendengarkan dan sekali waktu menyanyi, tetapi dalam liturgi Katolik umat harus tahu apa yang perlu dilakukan."

Apa yang dikatakan Budi itu benar: Kita umat Katolik selalu "tahu apa yang akan terjadi berikutnya." Salah satu ciri cara kita berdoa adalah ritual. Kita melakukannya dan melakukannya lagi. Ketika imam berkata, "Tuhan sertamu," maka tanpa berpikir panjang atau pun ragu umat menjawab, "Dan sertamu juga."

Kehidupan kita sehari-hari juga memiliki ritualnya sendiri: cara kita berjabat tangan, makan dengan sendok dan garpu, serta menjawab surat. Dan jika kita telah terbiasa melakukan suatu hal dengan cara tertentu, kita jarang bertanya mengapa kita melakukannya dengan cara demikian. Dalam Ekaristi, kita juga punya banyak ritual yang kita lakukan tanpa bertanya mengapa.

Penjelasan "ambil bagian" dalam Misa ini akan menerangkan kepada kita mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan dalam Misa. Saya berharap agar penjelasan-penjelasan yang akan disampaikan berikut ini berguna bagi sebagian besar umat Katolik yang menghadiri Misa secara teratur, namun kurang memahami alasan mengapa kita melakukan berbagai tindakan ritual tertentu dalam Misa. Read more

Apakah itu Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Photobucket

Ketika kamu maju untuk menerima Komuni Kudus di gereja, pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri, “Apakah yang aku makan?” Wah, itu pertanyaan yang salah! Komuni Kudus bukan suatu benda!

Seharusnya kamu bertanya, “Siapakah yang aku terima?” Komuni Kudus adalah seorang pribadi. Yaitu pribadi Yesus dari Nazaret - orang yang sama yang dilahirkan pada hari Natal dan yang wafat disalib, Putra Tunggal Allah yang Kekal.

Orang sering melupakan hal ini karena Komuni tidak seperti seorang manusia atau pun suatu makhluk ilahi. Ketika kita menerima Komuni Pertama kita, mungkin kita memikirkannya, tetapi kemudian kita segera lupa akan hal tersebut.

Gereja melakukan sesuatu untuk mengingatkan kita, yaitu dengan “Adorasi”. Adorasi membantu kita menyadari bahwa Tuhan sungguh nyata hadir secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus. Imam mentahtakan Hosti Kudus dalam suatu tempat yang disebut monstran (artinya `mempertontonkan'). Kita bersembah sujud pada Yesus. Kita mengatakan pada-Nya betapa kita mencintai-Nya dan menyembah-Nya. Inilah yang disebut “Adorasi Sakramen Mahakudus”. Kita tidak menyembah roti, tetapi kita menyembah Putra Allah.

Pada akhirnya, Yesus Sendiri memberkati kita secara pribadi. Sesungguhnya, bukan imam yang memberkati, melainkan Tuhan Sendiri.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Apakah Hosti Bisa Rusak?

Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa begitu hosti telah dikonsekrasikan dan menjadi Tubuh Kristus, hosti tidak akan pernah bisa rusak. Hal ini tidak benar, karena Komuni Kudus masih tetap memiliki kualitas roti dan anggur meskipun keduanya telah sepenuhnya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur tetap memiliki rasa dan rupa asalnya dan tetap memiliki sifat-sifat asalnya pula, misalnya batas kadaluarsanya.

Jarang sekali terjadi hosti melampaui batas kadaluarsanya, karena dua alasan:
1. Tingginya tingkat yang dibagi dan terbatasnya jumlah yang dikonsekrasikan, menjamin hosti dipergunakan sesegera mungkin.
2. Hosti relatif kering karena tidak mengandung ragi. Keadaan lembab menyebabkan berkembang biaknya bakteri - keadaan kering menghalangi terjadinya hal tersebut.

Pada umumnya, imam mengkonsekrasikan hanya cukup hosti untuk sekali Misa, dengan sedikit sisa untuk keperluan kunjungan kepada mereka yang sakit. Diakon yang menghantar Hosti Kudus kepada orang-orang sakit mempergunakan hosti sesuai keperluan dan mengembalikan sisanya ke Tabernakel Gereja. Dalam menghantar Hosti Kudus, Diakon harus sungguh cermat memperhatikan apakah hosti yang hendak ia bagikan sudah dikonsekrasikan atau belum.

Bagaimana jika hosti sungguh menjadi rusak? Di kebanyakan gereja terdapat suatu wastafel khusus yang disebut “Sacrarium”. Wastafel ini tidak menyalurkan airnya ke pipa-pipa pembuangan, tetapi langsung ke tanah. Jika hosti yang telah dikonsekrasikan menjadi rusak, imam akan merendamnya dalam air hingga larut, lalu menuangkan airnya ke dalam Sacrarium. Hosti tidak boleh dikubur atau dibakar.

Photobucket

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Mengapa Hosti Bentuknya Bundar?

Photobucket

Kadang-kadang kita menerima Komuni Kudus apa adanya. Kita maju untuk menerima hosti putih tanpa sungguh-sungguh berpikir tentangnya. Karena iman, kita percaya bahwa hosti yang kita terima itu adalah Tubuh Kristus, tetapi pernahkah kalian berpikir tentang hosti yang kalian terima itu? Misalnya saja, mengapa bentuknya bundar?

Sebenarnya hosti tidak harus berbentuk bundar atau pun bentuk khusus lainnya. Sebagian Imam Katolik Roma menggunakan roti altar yang besar dan memecah-mecahkannya sehingga potongan-potongannya memiliki bentuk serta ukuran yang tidak beraturan. Sebagian imam lainnya menggunakan roti yang dipotong-potong berbentuk kubus sebagai hosti.

Namun demikian, pada umumnya Gereja Katolik menggunakan hosti yang bentuknya bundar karena dua alasan:
1. Lebih mudah ditelan.
2. Bentuknya yang bundar serupa dengan bentuk roti tradisional yang biasa dibuat di tanah kelahiran Yesus. Mungkin kalian tahu roti Syrian atau roti "pita". Pita berasal dari bahasa Arab yang artinya bundar (kata 'pizza' juga berasal dari kata ini).

Jadi hosti dibuat bentuknya bundar untuk mengingatkan kita akan roti yang dipakai oleh Yesus. Lain kali saat kalian menerima komuni, pandanglah hosti yang kalian terima baik-baik. Mungkin kalian menemukan hal-hal baru lainnya di sana.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Mengapa Roti Komuni disebut Hosti?

Photobucket

Hosti berasal dari bahasa Latin `Hostia', artinya kurban. Ketika Yesus wafat disalib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kurban adalah sesuatu yang kamu relakan bagi orang lain. Selama Masa Prapaskah kita berkurban tidak makan permen atau menonton acara TV favorit kita sebagai silih atas dosa-dosa kita terhadap Tuhan.

Ketika kita menerima Hosti, kita mempersatukan diri dengan kurban Kristus. Kita juga mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal atas dosa-dosa kita. Tuhan menjawab, “Baiklah, Aku mengampunimu.”

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Apa itu Misteri Ekaristi?

Photobucket

Yesus hadir di dunia sekarang ini dengan berbagai cara, tetapi Ekaristi adalah saat di mana Yesus hadir secara paling istimewa. Saat Misa, imam mengucapkan doa khusus yang merupakan pengulangan kata-kata Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir bersama dengan para murid-Nya, "Inilah Tubuh-Ku. Inilah Darah-Ku." Dengan kuasa Allah, Yesus hadir dalam Ekaristi saat imam mengucapkan kata-kata tersebut. Meskipun yang kita lihat hanyalah sepotong hosti putih yang kecil, yang bentuknya seperti roti dan rasanya juga seperti roti, namun demikian sejak saat konsekrasi (saat imam mengucapkan doa tersebut) hosti bukan lagi roti, melainkan Tubuh dan Darah Yesus yang hadir dalam Ekaristi. Yah, memang sulit untuk memahaminya - malahan, rasanya tidak mungkin membayangkannya. Namun, itulah kebenaran yang disampaikan Yesus kepada kita, dan kita percaya pada-Nya. Banyak orang yang mempunyai pengalaman yang menakjubkan mengenai kehadiran Yesus saat mereka menerima Ekaristi dalam Komuni Kudus. Yesus mengasihi kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Ia ingin senantiasa bersama-sama kita sampai akhir jaman. Sebaliknya, Ia pun berharap kita mau membalas kasih-Nya. Yesus menantikan balasan cinta kita kepada-Nya dalam Ekaristi. Kita dapat mengatakan pada-Nya bahwa kita mencitai-Nya ketika kita menerima Komuni Kudus dan ketika kita berdoa kepada-Nya kapan pun juga.

sumber : My Friend; St. Thomas Corner; www.daughtersofstpaul.com/myfriend
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Dalam Sebuah Gereja Katolik: apa yang ada di sana dan mengapa?

Photobucket

oleh: Romo Thomas Richstatter, O.F.M. *

Mike mengajak teman perempuannya ikut Misa pada hari Minggu yang lalu, dan sesudahnya Mike mengatakan kepada saya, “Saya tidak akan pernah melakukannya lagi! Ashley bukan seorang Katolik dan ia memberondong saya dengan berbagai macam pertanyaan yang saya tidak tahu bagaimana menjawabnya, dan itu terjadi bahkan sebelum Misa dimulai! Gereja Katolik kita mempunyai begitu banyak hal yang tidak dimiliki gerejanya, dan ia ingin tahu barang-barang apa itu dan mengapa ada di sana.”

Dalam artikel ini, saya akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan Mike bagi kalian, kalau-kalau saja kalian menghadapi situasi yang sama. Atau mungkin kalian sendiri terkadang bertanya-tanya mengenai apa-apa yang kalian lihat dalam sebuah gereja Katolik.

Sebuah gereja Katolik tidak seperti tempat pertemuan yang luas lainnya, seumpama stadion olahraga atau ruang konser. Dalam sebuah gereja, tidak ada tempat bagi sekedar penonton.

Misa bukanlah sesuatu yang kita tonton, melainkan sesuatu yang kita lakukan. Keseluruhan gereja adalah “lapangan main” dan kalian adalah bagian dari timnya; keseluruhan gereja adalah “panggung” dan kalian adalah pemainnya. Kita berperan; Tuhan dimuliakan.

Mari Masuk

holy water fontin, gereja, katolik, sydney
Yang pertama kalian lihat pada saat kalian memasuki pintu sebuah gereja Katolik adalah sebuah kolam air - air dengan mana kita dibaptis - sebab Pembaptisan adalah pintu masuk ke dalam Gereja. (Di sebagian gereja, sebuah bejana air suci di tiap-tiap pintu menggantikan kolam pembaptisan.)

Sementara memasuki pintu gereja, aku mencelupkan tanganku ke dalam air, membuat Tanda Salib dan memperbaharui janji-janji yang diucapkan orangtuaku atas namaku pada saat aku dibaptis. Dekat kolam pembaptisan, atau dekat bejana baptis, berdiri tegak sebuah lilin besar yang disebut Lilin Paskah. Pada awal perayaan Paskah kita setiap tahun, yakni pada Malam Paskah, kita menyalakan lilin ini untuk pertama kalinya. Terang dan teladan Kristus menghalau keraguan dan ketakutan kita sama seperti terang nyala lilin menghalau kegelapan.

Pada Malam Paskah, lilin paskah dicelupkan ke dalam air pembaptisan sementara kita berdoa agar Kristus datang dan hidup dalam Bunda Gereja seperti dalam rahim. Sama seperti kita dilahirkan dari rahim ibu kita, demikianlah sebagai umat Kristiani kita dilahirkan kembali dalam Pembaptisan.

Juga dalam area pembaptisan dalam gereja, kalian akan melihat sebuah ceruk di dinding atau sebuah lemari kecil yang disebut Sacrarium untuk menyimpan tiga bejana minyak: 1) minyak katekumen, dipergunakan untuk memberkati dan menguatkan mereka yang mempersiapkan diri untuk Pembaptisan; 2) minyak pengurapan orang sakit, dipergunakan imam untuk memulihkan dan menguatkan mereka yang sakit dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit; dan 3) minyak krisma, dipergunakan dalam Sakramen Baptis, Sakramen Krisma dan Sakramen Imamat.

Pengurapan dengan minyak memainkan peran penting dalam Gereja kita. Kata “Kristus” berasal dari kata Yunani yang berarti “Diurapi”. Ketika kita diurapi - dikristenkan - dengan minyak suci, hal itu merupakan suatu tanda akan hubungan istimewa kita dengan Kristus, Yang Diurapi.

Juga dalam area pembaptisan ini kalian akan melihat pintu yang menghantar ke sebuah kamar kecil yang dirancang untuk merayakan Sakramen Rekonsiliasi secara individual. Kamar pengakuan dosa ditempatkan di sini karena Sakramen Tobat bertumbuh dari Sakramen Baptis. Praktek pengakuan dosa muncul dari perlunya mendamaikan kembali umat Kristiani yang telah melalaikan atau mengabaikan janji-janji baptis mereka.

Tempat bagi Jemaat

Bergerak dari area pembaptisan masuk ke dalam gereja itu sendiri, kita mendapati diri berada dalam sebuah ruang terbuka yang luas, yang disebut Panti Umat.

Mengunjungi sebuah gereja yang kosong adalah bagaikan mengunjungi sebuah taman hiburan pada musim dingin. Kita dapat membayangkan seperti apa taman hiburan itu dengan lampu-lampu kemilau, musik menggema dan anak-anak berlarian di sekitarnya menerobos khalayak ramai yang bersuka ria, tetapi taman itu membutuhkan orang-orang agar tampak pas. Demikian juga, panti umat sebuah gereja membutuhkan banyak orang-orang - suatu kongregasi - agar tampak pas.

Panti Umat biasanya dipenuhi dengan bangku-bangku. Dalam bahasa Yunani “podion”, tempat di mana kaisar dan orang-orang terhormat lainnya duduk dalam sebuah arena.

Banyak nama-nama teknis barang yang kalian lihat dalam sebuah gereja, berasal dari kata-kata Yunani atau Latin, sebab itulah bahasa-bahasa yang dipergunakan umat Kristiani perdana ketika mereka menamai barang-barang itu. Di bagian akhir, kalian dapat belajar lebih banyak mengenai asal mula kata-kata ini.
Photobucket

Bangku-bangku dan tempat duduk permanen masuk ke dalam gereja kurang lebih bersamaan waktunya dengan ditemukannya mesin cetak. Orang mulai “berbaris” dalam bangku-bangku seperti mesin mencetak “barisan” kata-kata dalam sebuah halaman cetak. Pada masa Reformasi Protestan, bangku-bangku memungkinkan kongregasi untuk duduk dan mendengarkan khotbah, yang kerapkali berlangsung beberapa jam lamanya.

Pada masa sekarang, sebagian gereja memiliki tempat duduk yang fleksibel sebagai ganti bangku-bangku. Bangku-bangku permanen dapat membuat kita berpikir akan kongregasi sebagai sekelompok “pendengar” dalam sebuah auditorium (kata Latin “audire” berarti mendengarkan). Andai memang itu peran kita, maka kita akan menjadi sekedar pendengar daripada pelaku.

Pada abad ke-13, ketika umat Kristiani tidak lagi kerap menyambut Komuni Kudus dan puncak Misa adalah memandang Hosti Kudus daripada menyantapnya, kongregasi mulai berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus sama seperti mereka biasa berlutut di hadapan seorang raja duniawi atau tuan mereka. Sejalan dengan semakin kerapnya praktek berlutut dalam gereja, maka mulailah muncul prie-dieu atau tempat berlutut. Pada masa sekarang, kalian akan mendapati tempat berlutut di sebagian besar gereja, meski postur tubuh yang lebih tradisional, yakni berdiri dalam bersembah bakti, menjadi semakin lebih umum dan sebagian gereja yang lebih baru dibangun tidak lagi memiliki tempat berlutut.

Berdiri adalah postur tubuh yang mengungkapkan hormat dan perhatian mendalam, sebagai peziarah jemaat siap untuk melaksanakan pesan Injil. Berdiri tidak saja menempatkan kita dalam persatuan dengan umat Katolik lainnya di seluruh dunia yang senantiasa merayakan Misa dengan berdiri, namun yang terlebih penting, doa-doa resmi mengandaikan jemaat yang berdiri: “Kami bersyukur sebab kami Engkau anggap layak menghadap Engkau dan berbakti kepada-Mu” (Doa Syukur Agung II).

Di Mana Tindak Kudus Dilakukan

Dari manapun kita berdiri dalam gereja, perhatian kita diarahkan ke Panti Imam, area utama di mana dilangsungkan tindak liturgis dan di mana ditempatkan ketiga perabot utama: kursi pemimpin, ambo dan meja altar.

Pada mulanya, area ini disebut sanctuarium, yang artinya kudus. Tetapi apabila istilah sanctuarium dipergunakan, kita wajib berhati-hati untuk tidak mengartikan bahwa hanya area ini saja yang kudus, sebab sungguh keseluruhan gereja adalah tempat yang kudus.

Tiap-tiap gereja mempunyai sebuah kursi pemimpin dan juga tempat duduk bagi para pelayan lainnya. Kursi pemimpin bukanlah sebuah tahta bagi seorang yang disendirikan, melainkan ditata sedemikian rupa hingga imam tampak sebagai anggota dari komunitas yang bersembah sujud, meski ia mempunyai tugas istimewa. Mimbar, yang disebut ambo, adalah tempat bagi Lectionarium atau Buku Bacaan Misa, yakni buku berisi bacaan-bacaan Misa dari Kitab Suci.

Altar adalah meja kudus di atas mana kita merayakan Perjamuan Tuhan. Altar berfungsi sekaligus sebagai meja perjamuan dan altar kurban; Misa adalah sekaligus Kamis Putih (perjamuan) dan Jumat Agung (kurban). Ketika Ekaristi dirayakan, sebuah kain altar atau taplak altar dihamparkan di atas meja altar. Kemudian, di atas altar ditempatkan roti dan anggur untuk Misa. Roti ditempatkan di atas patena dan anggur dituangkan ke dalam piala.

Busana Imam

Dalam Misa, imam mengenakan sebuah busana putih panjang yang disebut alba. Di atas alba, imam mengenakan sebuah busana yang lebih lebar, lebih berwarna-warni, yang disebut kasula. Pada masa kini, busana-busana ini tampak berbeda dari busana kita pada umumnya. Tetapi, pada mulanya tidaklah demikian. Alba dan kasula adalah busana sehari-hari yang dikenakan pada masa Greco-Romawi. Di rumah, baik laki-laki maupun perempuan mengenakan busana longgar yang panjang. Apabila bepergian ke tempat umum, mereka menutup alba ini dengan sehelai busana yang lebih meriah.

Apabila kalian ikut ambil bagian dalam Misa pada abad keempat di Roma, kalian akan mendapati pemimpin Misa berbusana kurang lebih sama dengan yang dikenakan para imam pada masa sekarang dalam Misa hari Minggu. Tetapi pada masa itu, bukan hanya imam saja, melainkan semua orang dalam gereja juga mengenakan alba dan kasula!

Photobucket

Mengikuti Terang

Dari sejak jaman para rasul, ketika anggota jemaat tidak dapat ikut ambil bagian dalam Misa hari Minggu karena sakit atau dalam penjara, sebagian dari roti dan anggur disimpan sesudah Komuni dan dihantarkan kepada anggota yang tidak dapat hadir ini. Ekaristi mulai disimpan agar dapat disambut sebagai viaticum pada saat menjelang ajal.

Tempat untuk menyimpan Hosti bagi mereka yang sakit dan di ambang ajal disebut tabernakel. Tabernakel juga seringkali kita dapati dalam Kapel Ekaristi, yakni kapel yang secara istimewa dirancang untuk menghormati Sakramen Mahakudus dan untuk mendorong doa dan devosi pribadi. Sebuah lilin atau Lampu Tuhan yang bernyala dekat tabernakel, secara tradisional memaklumkan kepada umat Katolik akan adanya Hosti yang telah dikonsekrasikan.

Lilin-lilin yang kita dapati dalam gereja dulunya sangat fungsional dan memberikan penerangan pada saat pembacaan Kitab Suci dan merayakan tindak kudus. Sekarang, pada masa gereja-gereja telah mempunyai penerangan listrik, lilin lebih memainkan peran simbolis. Cahaya lilin sungguh indah dan membangkitkan semangat, juga lilin membiarkan dirinya terbakar habis dalam pelayanan misteri-misteri sakral ini. Umat Katolik biasa menyalakan sebatang lilin di depan sebuah patung atau tempat doa sebagai ungkapan kerinduan agar doa-doa mereka terus membubung tinggi bahkan setelah mereka meninggalkan gereja.

Gambar-gambar yang Mengajar

Suatu ciri pembeda lainnya dari gereja-gereja Katolik seringkali adalah adanya patung-patung dan gambar-gambar devosional lainnya. Pada masa ketika Misa dan pembacaan-pembacaan dari Kitab Suci disampaikan dalam bahasa Latin yang tidak selalu dimengerti oleh umat beriman, patung-patung, lukisan dan gambar-gambar kaca jendela warna-warni seringkali menjadi Kitab Suci umat, mengajar dan menjelaskan misteri-misteri iman kita dan menghormati pahlawan-pahlawan yang mengamalkan imannya.

Ketika imam merayakan Ekaristi dengan membelakangi jemaat, dinding di belakang altar dan akhirnya ruang di atas altar itu sendiri mulai didekorasi dengan patung-patung dan lukisan-lukisan: pertama-tama salib, dan kemudian martir (yaitu orang yang mati demi Kristus) yang relikwinya ditempatkan di bawah altar, atau orang kudus (santa / santo) kepada siapa gereja dipersembahkan.

Sementara tempat-tempat doa ini diperbanyak dan ditempatkan lebih dan lebih tinggi lagi di atas altar, bagi banyak umat Katolik tempat-tempat doa ini menjadi fokus utama gereja. Apabila orang-orang Katolik yang lebih tua berbicara mengenai “altar tinggi” [= high altar] pada umumnya yang mereka maksudkan adalah kumpulan patung-patung dan tempat-tempat doa, daripada altar itu sendiri.

Seringkali, ketika tamu-tamu dari agama lain ikut hadir dalam Misa, mereka mempertanyakan gambar-gambar sengsara Kristus yang mereka lihat ada sekeliling dinding gereja. Ke-14 gambar, atau salib, ini disebut Jalan salib, membantu umat Katolik mempraktekkan suatu devosi yang telah populer sejak Abad Pertengahan.

Sejak masa awali, umat Kristiani rindu mengunjungi Tanah Suci dan menapaki jejak langkah Yesus menuju Kalvari, dengan mengenangkan bagian-bagian penting dari kisah sengsara. Di Eropa, pada Abad Pertengahan, devosi Jalan Salib dipopulerkan oleh para Fransiskan. Ibadat ini memungkinkan mereka yang tak mampu menanggung biaya ziarah yang jauh dan berbahaya ke Yerusalem, agar dapat ikut ambil bagian dalam Jalan Salib di kota kediaman mereka sendiri, dengan merenungkan apa yang telah Yesus lakukan bagi mereka. Orang akan bergerak dari satu salib ke salib berikutnya, dari perhentian ke perhentian, berdoa dengan mengenangkan peristiwa-peristiwa sengsara ini dalam kehidupan Yesus. Kita masih melakukannya hingga sekarang, teristimewa pada Masa Prapaskah.

Kisah Yesus tidak berakhir pada Jumat Agung, melainkan berlanjut hingga puncaknya pada Minggu Paskah. Karena itu, di sebagian gereja ditambahkan perhentian ke-15: Yesus Bangkit. Di sebagian gereja lainnya, jemaat berbalik kembali ke altar untuk memanjatkan doa penutup. Altar itu sendiri adalah simbol akan Kristus yang bangkit, dan karenanya perhentian ke-15 tidak diperlukan. Sebagian lainnya memanjatkan doa penutup di depan tabernakel, di mana terdapat kehadiran nyata Kristus yang bangkit di tengah kita. Devosi-devosi populer selalu amat fleksibel dan dapat berbeda dari paroki yang satu dengan paroki lainnya.

Pembaharuan liturgi baru-baru ini telah mengingatkan kita bahwa jemaat adalah fokus utama gereja dan segala obyek yang mengalihkan perhatian kita dari fokus itu adalah tidak sesuai ditempatkan dalam gereja. Ini bukan berarti bahwa segala patung dan karya-karya seni pun segala dekorasi harus disingkirkan dari gereja-gereja kita. Namun demikian, desain gereja wajib mendorong doa bersama dan tidak mengalihkan perhatian kita darinya.

Melihat Kembali untuk Pertama Kali

Gereja kalian mungkin tidak tampak tepat sama seperti yang kita gambarkan di sini. Setiap gereja adalah ungkapan iman dan “kepribadian” dari komunitas setempat, sama seperti kamar kalian di rumah adalah ungkapan dari siapa kalian sebenarnya dan apa yang kalian sukai. Saya tak hendak menata ulang kamar kalian hanya karena kamar itu tidak ditata seperti saya menata kamar saya, demikian pula saya tidak akan mengkritik gereja yang tidak tampak sama seperti yang digambarkan dalam artikel ini.

Saya hanya berusaha menggambarkan suatu gereja Katolik pada umumnya supaya kalian dapat mengenali maksud dan tujuan dari obyek-obyek pokok yang didapati di sana. Sementara kalian mengenal lebih banyak mengenai obyek-obyek ini, saya berharap kalian akan dapat merasa lebih nyaman berada di tempat ini. Inilah tempat kalian. Inilah tempat yang, saya harap, dapat membentuk dan memelihara sebagian dari saat-saat yang paling mendalam dan penuh arti dalam hidup kalian.

Daftar Istilah

PATENA : berasal dari bahasa Latin “patena” yang berarti “piring”.
Adalah wadah Hosti imam.
PIALA : dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”.
Piala dipergunakan untuk konsekrasi anggur pada waktu Misa.
VIATICUM : berasal dari bahasa Latin yang berarti “bekal perjalanan”.
Adalah Komuni Kudus yang dihantarkan kepada umat beriman yang di ambang ajal.
TABERNAKEL : berasal dari bahasa Latin “tabernaculum,” yang berarti “kemah” atau “tenda”.
Adalah wadah di mana Sakramen Mahakudus disimpan; mengingatkan kita akan bangsa Yahudi dan kemah yang mereka dirikan untuk menyimpan Tabut Perjanjian selama empatpuluh tahun masa pengembaraan mereka di padang gurun.
SANCTUARIUM : berasal dari bahasa Latin “sanctus,” yang berarti “kudus”.
Disebut juga Panti Imam, adalah area di mana tindak liturgis dilangsungkan. Sanctuarium biasanya dipisahkan dari seluruh bagian gereja lainnya dengan permukaan lantai yang agak tinggi, bentuk dan dekorasi yang khusus.
PANTI UMAT : dalam bahasa aslinya “navis,” yang berarti “kapal” atau “bahtera”.
Adalah bagian dari bangunan gereja di mana himpunan umat beriman berkumpul; menggambarkan Gereja sebagai himpunan orang percaya dalam bahtera keselamatan.
AMBO : berasal dari bahasa Yunani “anabainein,” yang berarti “naik, bergerak dari bawah ke atas”. Adalah tempat dari mana pembacaan Kitab Suci disampaikan.
ALBA : berasal dari bahasa Latin “albus” artinya “putih”.
Adalah busana lenan putih yang dikenakan pada peristiwa-peristiwa liturgis.
KASULA : berasal dari bahasa Latin “casula” yang artinya “rumah kecil”.
Adalah busana liturgis bagian luar yang dikenakan imam pada waktu Misa. Awalnya kasula adalah selembar kain lebar berbentuk kerucut dengan lubang untuk kepala, sepenuhnya membungkus si pemakai.

lihat juga: Ruangan Liturgi, Busana Liturgis Imam dalam Misa, Warna Busana Liturgis, Bejana-Bejana Suci, Simbolisme Lilin Menyala

Beberapa Tanya Jawab

T : Pater tidak mengatakan sesuatu mengenai lonceng atau bunyi lonceng; apakah ada makna religiusnya?

J : Pada masa sebelum ada jam tangan dan jam dinding, radio dan televisi, lonceng gereja seringkali adalah satu-satunya cara orang dapat mengetahui waktu dan mendapatkan informasi mengenai peristiwa-peristiwa penting. Lonceng memaklumkan kemenangan ataupun mara bahaya kepada penduduk kota. Pada masa sekarang, penggunaan lonceng lebih bersifat seremonial; lonceng mendentangkan bunyi yang menyenangkan. Pada waktu Misa, lonceng altar dibunyikan guna menyiagakan umat ketika sesuatu yang penting akan terjadi di altar. Pada masa sekarang, lonceng altar jarang dipergunakan sebab sekarang Misa dirayakan dalam bahasa ibu kita dan kita tahu apa yang sedang berlangsung di altar. Juga, kita telah paham bahwa keseluruhan Misa adalah penting; tidak ada “saat-saat magic”.

T : Menempatkan relikwi di altar, rasanya seperti merampok makam. Bukankah rasanya sangat tidak hormat memisahkan bagian-bagian tubuh seorang martir untuk ditempatkan di altar-altar yang berbeda? Mengapakah Gereja melakukan hal ini?

J : Gereja perdana seringkali merayakan Misa di makam-makam para martir. Relikwi para kudus dipergunakan untuk menjadikan altar-altar yang jauh dari Roma serupa dengan makam-makam yang demikian. Paus Gregorius Agung khawatir, seperti kalian juga, bahwa memperlakukan relikwi seorang kudus seperti itu terasa kurang hormat. Selama berabad-abad, masalah ini diperdebatkan dalam konsili-konsili Gereja. Akhirnya, keputusannya adalah bahwa tujuan dari relikwi adalah untuk menyampaikan hormat dan karenanya dapat diterima. Jadi, maksudnya bukanlah untuk merampok makam, dengan sembunyi-sembunyi atau dengan sembrono mengganggu suatu tempat pemakaman.

T : Saya berpendapat bahwa patung-patung membantu saya berdoa, dan saya sungguh menyukainya. Siapakah yang menentukan apakah patung-patung itu membantu atau mengalihkan perhatian umat?

J : Komunitas memutuskannya bersama-sama. Satu point penting di sini: liturgi adalah sesuatu yang kita lakukan bersama. Gereja paroki adalah suatu tempat di mana umat paroki berdoa bersama. Apabila kita melakukan sesuatu bersama-sama, sudahlah lazim apabila dibuat kesepakatan. Apabila saya ingin pergi dan makan bersama teman-teman saya dan Bob ingin makan lebih awal pukul lima sore sementara Sue tak hendak makan hingga pukul delapan, maka jika kita ingin makan bersama, kita harus membuat kesepakatan! Penataan dan dekorasi gereja paroki kita seringkali menyangkut kesepakatan-kesepakatan, sebab gereja paroki adalah tempat yang kita semua pakai bersama-sama.

* Fr Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institut Catholique of Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.

sumber : “Inside a Catholic Church: What's There and Why? by Thomas Richstatter, O.F.M.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org

diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya