Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XI/A 15 Juni 2008 (Mat 9:36-10:8 Kel 19:2-6)

June 13th, 2008

PENGABDIAN RASUL DAN KEBUTUHAN UMAT

Photobucket

Rekan-rekan yang budiman!
Mat 9:36-10:8 yang dibacakan pada hari Minggu XI tahun A ini berlapis-lapis wartanya. Disebutkan dalam 9:36-38 bagaimana Yesus tergerak hatinya melihat orang banyak mengharapkan pertolongan dan dampingan. Ia menganjurkan para muridnya memohon kepada Yang Mahakuasa agar mengirim pekerja-pekerja menuai hasil yang sudah tersedia. Kemudian dalam 10:1-4 diberitakan peresmian keduabelas rasul, lengkap dengan daftar nama serta pemberian kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan dari segala penyakit dan kelemahan. Selanjutnya dalam 10:5-8 diceritakan bagaimana para rasul diutus untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan.
DUA ARAH PERUTUSAN
Pada akhir Injil Matius diceritakan, para rasul diutus untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Mat 27:19). Tetapi ini baru terjadi setelah kebangkitan. Ketika Yesus masih di dunia, seperti disebutkan dalam petikan hari ini, ia mengutus mereka hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel. Dengan jelas bahkan disebutkan agar mereka tidak mendatangi wilayah Samaria, apalagi negeri asing dan orang luar. Baru setelah kebangkitanlah pengajaran Yesus terbuka bagi semua orang. Dan murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia. Mereka akan menemukan cara-cara menyampaikannya kepada orang-orang yang tadinya tidak diperhitungkan. Karena mereka yang pertama-tama dituju telah menolak, ajakannya kini akan dilimpahkan kepada orang-orang lain. Begitulah penjelasan adanya dua arah perutusan.
Dalam Injil Matius, sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umatnya, yakni Israel. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius. Dia itu Imanuel yang jauh-jauh hari sebelumnya telah dinubuatkan Yesaya (Yes 7:14). Dia diperkenalkan sebagai raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tapi didatangi dengan penuh hormat oleh orang-orang bijak dari Timur.
Yesus diutus kepada orang-orang yang tak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Dia mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Mereka seperti domba yang kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini. Para rasul diberi kuasa oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu. Kuasa rasuli ini seperti itu masih ada dalam komunitas orang beriman. Karena itu Gereja dapat menjadi pelayan kemanusiaan. Terutama pada saat-saat kemanusiaan membutuhkan pegangan. Tidak usah kita sempitkan pembicaraan pada masalah-masalah yang menyangkut struktur kepemimpinan dalam Gereja. Ada sejarah yang panjang yang mendasari pengaturan kelembagaan di dalam komunitas Gereja. Lebih berguna berusaha melihat bagaimana Injil hari ini mengajarkan bahwa kuasa melayani itu memang asalnya dari Yesus sang utusan Allah sendiri. Kuasa itu kuasa yang diabdikan pada umatNya. Kuasa ini sakral, baik bagi pengemban maupun bagi umat. Tidak bisa diklaim oleh perorangan. Yang mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya.
Menurut Matius para rasul diikutsertakan dalam tugas memberitakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” dan membawakan kesembuhan (Mat 10:7-8). Berwarta dan menyembuhkan, itu semua telah dijalankan Yesus sendiri. Masih ada satu kegiatan lain yang dilakukannya, yakni mengajar tentang siapa itu dirinya dan siapa Allah yang diperkenalkannya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit, murid-murid akan betul-betul diikutsertakan di dalam kegiatan mengajar (Mat 27: 19). Baru setelah semuanya terjadi. Dengan kata lain, baru setelah kebenaran yang diajarkan ditegaskan oleh kuasa ilahi sendiri. Untuk sementara kini mereka masih belajar memahami kebenaran yang dibawakan Yesus dalam pewartaan dan penyembuhan.
Dalam ay. 8 para rasul diminta memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima dengan cuma-cuma pula. Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya mereka yang berjiwa merdeka seperti ini dapat mewartakan dan menyembuhkan orang lain dalam macam-macam arti dan wujud. Tak terbatas pada hal-hal yang lazim dikenal. Iman yang hidup mengambil wujud yang tak terduga-duga. Inilah kekuatan iman dan inti kegiatan rasuli.
DUABELAS RASUL
Daftar keduabelas rasul dalam Mat 10:2-4 mengikuti Mrk 3:16-19 yang menjadi dasar Luk 6:14-16 pula. Ada beberapa perubahan dalam daftar Matius. Nama Andreas, yang ada dalam urutan ke empat dalam daftar Markus kini ditempatkan pada urutan kedua, boleh jadi untuk mendekatkan kepada Simon saudaranya. Matius juga mengubah “Matius dan Tomas” dalam Markus menjadi “Tomas dan Matius pemungut cukai”, demi enaknya gaya bahasa. Namun tambahan yang paling penting yang dibubuhkan Matius ialah penyebutan bahwa Simon ialah yang rasul yang pertama. Dalam Injil Matius memang Simon lebih ditonjolkan sebagai yang pertama dari antara para rasul. Simon itu juga yang nanti dalam Injil Matius (16:17-19) digambarkan mendapat kedudukan khusus sebagai dasar umat dan juru kunci Kerajaan Surga.
Dalam Injil Matius kata “rasul” hanyalah muncul satu kali, yakni dalam Mat 10:2, begitu juga dalam sumber Matius yang masih kita lihat dalam Mrk 6:30. Injil Lukas di lain pihak lebih sering memakai kata itu, boleh jadi karena Lukas melihat rasul sebagai jabatan yang ada dalam komunitas yang dikenalnya. Bagaimanapun juga, rasul itu artinya utusan. Mereka diberi kuasa menyampaikan berita dan mengerjakan urusan atas nama yang mengutus. Utusan hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang tepercaya, baik di mata yang mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.
Keduabelas rasul itu lambang duabelas suku Israel. Gagasan duabelas suku ini berkembang sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh karena itu dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau membangun diri sebagai umat baru yang dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri. Amat berbeda dengan pandangan yang terpancang pada pegangan yang sudah-sudah dan yang makin membatu, pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah tanpa arti lagi, pada hukum yang menyesakkan, pada rasa takut melulu.
DARI BACAAN PERTAMA (Kel 19:2-6)
Spiritualitas kerasulan di atas erat hubungannya dengan gasasan pokok dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana umat yang berjalan menuju Tanah Terjanji kini tiba di padang Sinai, dan berkemah di depan gunung. Musa yang memimpin mereka naik menghadap Yang Maha Kuasa di atas gunung untuk mendengarkan sabdaNya dan menyampaikannya kepada umat.. Di sana ia mendengar bahwa bila umat sungguh-sungguh mendengarkan sabdaNya dan berteguh pada hukum-hukum perjanjianNya maka umat akan menjadi “harta kesayanganNya”, artinya dekat padaNya dan diperhatikan secara khusus. Umat akan menjadi “kerajaan imam”, artinya mereka menjadi sekumpulan orang yang menjadi pengantara seluruh umat manusia dan seluruh bumi ke hadapan Yang Maha Kuasa. Tugas ini mulia walaupun berat. Namun umat akan menjadi “bangsa yang kudus”, maksudnya, dikhususkan dari antara bangsa.-bangsa lain. Tentunya bukan untuk memisahkan diri belaka, melainkan dikhususkan agar dapat menjalankan penugasan menjadi pengantara tadi.
Pengertian-pengertian khas “bangsa kesayangan”, “kerjaan imam”, “bangsa khusus” di atas mendasari kerohanian dalam penugasan kedua belas rasul dalam Mat 10:1-8. Mereka diberi kuasa mengusir roh jahat, artinya menjauhkan hal-hal yang bisa menghalangi manusia mengalami kehadiran Allah yang memberi kelegaan. Juga mereka diberi kuasa menyembuhkan dari penyakit dan kelemahan. Ungkapan ini sama cakupannya dengan mengusir roh jahat. Mereka diberi kuasa. Namun pelaksanaannya dipercayakan kepada masing-masing. Di situlah terletak keluhuran panggilan rasuli. Menurut Mat 10:5 para rasul diutus. Mereka kini diminta mengamalkan kuasa yang dipercayakan kepada mereka untuk melayani orang-orang.
MEMBUAT TUAIAN BERLIMPAH?
Dalam Injil, musim menuai kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya. Orang-orang pada zaman itu hidup dalam harapan akan datangnya seorang pemimpin yang akan membawa mereka ke jalan yang aman. Orang-orang butuh pegangan. Dan kegiatan Yesus di tengah-tengah banyak orang pada zamannya menjadi tanda bahwa kini Allah mendatangi umatnya dalam diri tokoh ini. Banyak orang berhasrat mendekat dan memperoleh sesuatu darinya. Musim menuai sudah tiba.
Ajakan meminta agar empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja dimaksud agar tuaian makin utuh dan melimpah. Bila tidak ada cukup penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tak berguna lagi. Begitulah jalan pikirannya. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim tuaian. Minat dan harapan yang besar di kalangan umat akan sia-sia bila tak ada cukup orang yang melayaninya. Mereka akan tetap antre di luar. Siapa yang tidak iba hati melihat keadaan ini?
Mengapa bukan para murid yang diminta agar mencari dan menemukan penuai-penuai, mengapa empunya tuaian-lah yang diminta mengirim pekerja-pekerja? Boleh jadi memang ada hal yang hendak ditonjolkan. Diajarkan sikap melepaskan klaim bahwa kerasulan yang begini atau yang begitu adalah urusan si rasul sendiri: jika sukses ya karena kerjanya baik, kalau gagal ya karena kurang efisien. Pemikiran seperti ini kiranya justru mau dijauhi. Sering dalam pelaksanaan kerasulan para tokoh bersitegang mengenai cara mana akan lebih jitu, siapa yang lebih cekatan menjalankan urusan. Kerajaan Surga memakai ukuran-ukuran lain. Berhasil tidaknya penuai boleh jadi hanya Dia saja yang tahu. Karena itu kegiatan rasuli yang sejati itu kegiatan yang membawa orang makin mendekat kepada Dia yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dariNya sendiri.
Salam hangat,
A. Gianto

from http://mirifica.net/artDetail.php?aid=5007

Injil dan bacaan pertama MgBiasa X/A 8 Jun 08 (Mat 9:9-13 Hos 6:3-6)

June 6th, 2008

PANGGILAN DALAM HIDUP SEHARI-HARI

Photobucket

Rekan-rekan yang baik!
Pada hari Minggu Biasa X tahun A ini dibacakan Mat 9:9-13. Petikan itu berawal dengan kisah Yesus mengajak seorang pemungut cukai yang bernama Matius untuk menjadi pengikutnya (ay. 9) dilanjutkan dengan makan bersama dengan para pemungut cukai dan para pendosa (ay. 10-13). Tindakan ini mengundang tanda tanya dari pihak kaum Farisi. Tetapi Yesus menjelaskan mengapa ia justru mau bergaul dengan orang-orang yang biasanya disingkiri. Apa maksud kutipan dari Hos 6:6 pada ay.13a? Apa Warta Gembira seluruh petikan ini?

PANGGILAN MATIUS

Kisah ini sejajar dengan yang terdapat dalam Mrk 2:14 dan Luk 5:27. Dalam Injil Markus dan Lukas, nama pemungut cukai itu ialah Lewi. Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul. Injil Matius menyebutnya Matius, salah satu dari keduabelas rasul. Penyusun Injil Matius mengganti nama Lewi (dari sumbernya, yakni Injil Markus) menjadi Matius untuk menghubungkan tokoh ini dengan Matius, salah seorang dari dua belas rasul, yang dalam daftar para rasul dalam Mat 10:3 jelas-jelas disebut pemungut cukai. Daftar para rasul dalam kedua Injil lain tidak menyebut pekerjaan Matius, lihat Mrk 3:18 dan Luk 6:14. Apakah kisah ini kisah panggilan seorang rasul yang namanya Matius yang pekerjaannya memang pemungut cukai atau kisah panggilan pemungut cukai yang bernama Lewi sebetulnya bukan soal yang penting. Yang hendak disampaikan di sini ialah panggilan orang yang biasanya dijauhi kaum baik-baik pada saat itu. Maklum pemungut cukai zaman itu dipandang sebagai orang yang diupah penguasa untuk memeras.

Diceritakan bagaimana Yesus memanggil orang yang sehari-hari bekerja memungut cukai menjadi pengikutnya. Ketiga Injil menggambarkan bagaimana ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus. Sudah sejak awal identitas orang ini kabur. Hanya ada satu hal yang sama-sama dikatakan ketiga Injil, yakni waktu itu ia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai. Tidak jelas apa ia sudah berprofesi sebagai pemungut cukai atau baru magang. Pembaca dibiarkan menduga-duga. Yang penting orang itu diajak Yesus menjadi muridnya. Juga penting diingat bahwa ajakan ini diberikan kepada orang yang sedang menjalankan pekerjaan yang waktu itu dianggap pekerjaan yang kurang terhormat. Apakah Yesus hendak menunjukkan bahwa orang seperti ini juga boleh diajak? Kita diminta ikut mempertimbangkan arti tindakannya itu. Apakah ia mau “menyelamatkan” orang tadi dari pekerjaan yang akan menyeretnya lebih jauh ke arah yang keliru? Bisa saja kita bertanya demikian. Ayat itu sebaiknya menjadi titik tolak pemikiran, dan tidak langsung dijadikan dasar anggapan-anggapan saleh mengenai panggilan menjadi murid Yesus.

Perkataan Yesus “Ikutilah aku!” itu berisi ajakan menjadi murid, bukan sekedar mengikut, melainkan belajar melihat kehidupan ini dengan bantuan guru itu. Juga dapat dikatakan melihat jalan yang sedang ditempuh sang guru tadi. Tidak berarti mencontoh atau meniru begitu saja. Cara itu malah tidak membuat yang bersangkutan bisa mandiri. Ajakan itu diterima. Dikatakan Matius bangkit dan mengikut dia. Begitulah akhirnya memang menjadi muridnya. Mungkin bagi orang sekarang akan lebih jelas bila dikatakan Matius memperlihatkan komitmennya.

Rupa-rupanya Matius melihat Yesus sebagai tokoh yang memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan. Pembaca Injil dapat membayangkan apakah hal itu dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Pasti sebelumnya Matius pernah mendengar mengenai Yesus. Mungkin pernah juga ikut dalam pengajarannya di satu tempat. Yang jelas sekarang ia mempertimbangkan tawaran Yesus. Boleh jadi ia juga pernah bertemu dengan murid Yesus dan mendengar tentang guru itu. Kini ia merasa tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

SIKAP BERAGAMA YANG TERBUKA

Disebutkan bahwa Yesus kemudian makan bersama banyak “pemungut cukai” dan “kaum pendosa”. Mereka ini orang-orang yang semestinya dijauhi orang yang benar atau orang yang merasa demikian. Anggapan inilah yang membuat kaum Farisi mempertanyakan mengapa Yesus bergaul dengan orang-orang yang semestinya disingkiri itu. Memang kalangan Farisi mau menerima Yesus sebagai rekan, sebagai sesama yang mau mengamalkan agama. Tetapi, pikir mereka, kok dia malah berkelakuan demikian?

Marilah kita mencoba sekadar mengikuti jalan pemikiran orang Farisi. Makan di rumah pemungut cukai bersama orang-orang seperti dia dan pendosa lain bisa berarti makan hidangan yang dibayar dengan penghasilan yang tidak sah menurut hukum agama, bahkan boleh jadi juga makan makanan yang tak halal, atau paling sedikit memakai piring mangkuk yang belum dibersihkan menurut aturan agama. Lebih parah lagi, bergaul dengan orang-orang tipis keagamaannya itu bisa menumpulkan sikap keagamaan sendiri dan condong mengikuti cara hidup para pendosa itu. Sikap mereka penuh dengan perhitungan “jangan-jangan” yang membelenggu kemerdekaan batin.

Kaum Farisi sebenarnya mau juga mendekati dan mengajak pendosa bertobat dan kembali ke jalan benar. Tapi jangan mulai kompromi, apalagi main-main dengan ajaran Taurat! Bagaimana guru tenar yang ini – Yesus – kok mau mengikuti caranya sendiri? Begitulah mereka mengajak bicara para murid Yesus. Mau “menyelamatkan” mereka dari pengajaran yang serong ini? Mau mencari tahu? Kita para pembaca Injil boleh membayangkan kemungkinan-kemungkinannya. Sekarang juga sering orang ditanya mengapa iman kristen itu begini begitu oleh mereka yang boleh jadi mau menawarkan jalan yang mereka anggap lebih cocok.

Ketika mendengar murid-murid berdiskusi dengan orang Farisi, Yesus datang menyela dan mengucapkan pepatah: bukan orang sehatlah yang butuh tabib, tapi orang sakit. Dan memang para tabib tidak boleh takut mendatangi orang sakit. Orang yang hidup di luar Taurat – orang yang tipis agamanya dalam hitungan kaum Farisi – mestinya didatangi, bukan dijauhi! Yesus memperkenalkan spiritualitas baru kepada orang-orang zaman itu. Ringkas. Praktis.

KUTIPAN DARI Hos 6:6

Pada akhir petikan ini, dalam ay. 13a, penginjil menambahkan kata-kata Yesus yang mengutip Hos 6:6. Orang-orang dihimbau agar mencoba mengerti makna ayat yang mengatakan bahwa Allah menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan. Kutipan itu kini dipakai untuk menegaskan bahwa Yesus datang untuk memperkenalkan kerahiman ilahi, tapi kaum Farisi menuntut diadakannya korban persembahan. Mereka malah menjauhkan inti hukum Taurat sendiri. Pembaca Injil Matius diajak mendalami siapa yang kini mereka ikuti itu: Yesus yang hidup dan membuat orang semakin mengenal kebaikan ilahi. Ataukah mereka merasa akan lebih aman bila menepati prinsip-prinsip ajaran agama belaka.

Ditekankan oleh nabi Hosea bahwa Allah ingin menyadarkan umatNya agar tidak membelenggu diri dengan anggapan bahwa mereka bisa mencapai keselamatan dengan menjalankan kurban seteliti-telitinya. Memang kurban persembahan diwajibkan supaya orang ingat dan hormat pada kewibawaan Yang Mahakuasa. Namun Hosea mengajak orang mengenali apa yang sesungguhnya dikehendakiNya. Ia bukannya menginginkan agar didupai dan diberi persembahan. Ia ingin agar umat mengenal kerahimanNya. Dan dengan demikian menemukan keselamatan. Bagaimana? Dengan ikut mengujudkannya dalam hidup sehari-hari. Itulah yang diwartakan Hosea. Dan dalam Injil Matius, warta Hosea ini digarisbawahi Yesus. Lebih dari itu, Yesus ingin agar orang banyak mengerti bahwa ia datang untuk membuat warta Hosea itu lebih dekat, lebih kelihatan, dan bisa dihayati.

SEKALI LAGI TENTANG AJAKAN MENGIKUTI DIA

Petikan hari ini berawal dengan kisah panggilan Matius. Dalam ay. 9 memang tidak muncul kata “memanggil”. Tetapi tindakan Yesus mengajak Matius itu ialah panggilannya. Pada akhir kutipan, dalam ay. 13b, Yesus mengatakan bahwa ia datang bukan untuk “memanggil” orang benar melainkan orang berdosa.

Panggilan ialah ajakan yang ditawarkan, bukan dipaksakan. Karena itu bisa ditolak, diingkari, didiamkan oleh yang dipanggil. Hal ini diolah lebih lanjut di dalam perumpamaan mengenai pesta perkawinan yang diselenggarakan seorang raja dalam Mat 22:1-14. Para undangan menolak datang atau mendiamkan undangan dan malah memperlakukan buruk pesuruh raja itu (ay. 5-6). Maka ia pun menghukum mereka. Ia kemudian mengutus pesuruh untuk memanggil siapa saja yang mereka temui di jalan, “orang jahat dan orang baik” (ay. 9-10). Dan tempat perjamuan itu kini penuh dengan orang-orang ini. Mereka yang sebetulnya boleh merasa beruntung. Mereka tadinya tak masuk hitungan, tetapi kini mendapat kesempatan luas. Semuanya beres? Belum selesai perumpamaannya. Ada dari antara orang-orang ini yang datang tidak memakai pakaian pesta. Ia hanya memenuhi panggilan dengan setengah-setengah. Dan orang itu akhirnya dikeluarkan. Ajaran perumpamaan itu jelas. Dipanggil ikut menikmati kerahiman ilahi belum cukup. Perlu diusahakan agar kebaikan ilahi itu menjadi kenyataan, bukan hanya potensialnya belaka.

Dalam petikan hari ini tokoh Matius itu pertama-tama ialah orang yang berani menerima kehadiran Tuhan. Oleh karenanya ia dapat menerima dirinya. Ia tidak mundur. Ia terus mengikuti dia, menjadi murid Tuhan sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto

http://mirifica.net/artDetail.php?aid=4989

Hari Raya Pentekosta (Yoh 20:19-23 dan Kis 2:1-11)

May 8th, 2008

Rekan-rekan yang baik!

Apa hubungan antara Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentekosta? Dalam Injil Yohanes, ketiga-tiganya dipadatkan menjadi satu di dalam peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang berkumpul (Yoh 20:19-23). Yang mereka lihat sekarang itu sama dengan dia yang telah wafat di kayu salib dan dimakamkan. Dalam hidup setelah kebangkitan, ia berbagi Roh kehidupan dengan para murid. Roh itulah yang menghidupkan semangat baru di antara mereka.

KEBANGKITAN – KENAIKAN – PENTEKOSTA

Pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes tadi ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentekosta. Dari Kebangkitan hingga Kenaikan ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga percaya benar bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman dengan Yesus yang telah bangkit itu. Murid-murid kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Mat 28:18, telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan. Pada saat yang sama para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja. Dalam kata-kata Lukas, ini disebut sebagai tugas menjadi saksi-saksinya (Kis 1:8), atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa muridnya dan menerima mereka sepenuhnya dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19). Bagaimanapun juga, meskipun sudah ada kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentekosta. Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak.

Sekedar latar belakang. Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentekosta (artinya “hari ke-50″) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50″ ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada hari ke- 50 ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, “hari ke-50″ itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

DATANGNYA  ROH KUDUS

Bacaan pertama (Kis 2:1-11) berisi kisah mengenai hari Pentekosta. Suatu saat terdengar suara dari langit, menderu seperti taufan memasuki ruangan para murid berkumpul, dan muncullah lidah-lidah api menghinggapi mereka. Dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa. Seperti itukah kejadiannya? Lukas sebetulnya hendak menggambarkan pengalaman batin para murid. Saat itu mereka secara bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka bernyala berkobar-kobar. Kejadian ini sudah sedikit disinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, “hati kita berkobar-kobar” (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan “hati”) mereka tidak lagi memudar, melainkan menyala-nyala. Dan sekarang kejadian ini dialami semua murid yang lain dalam kebersamaan.

Juga orang banyak yang ada di sekitar para murid ikut menyaksikan perubahan ini. Roh Kudus itu kekuatan mempersaksikan. Roh Kudus membuat para murid dimengerti siapa saja, baik yang sama agamanya, maupun yang lain. Tiap orang yang mendengar akan mendapatkan sesuatu. Inilah daya yang dianugerahkan kepada Gereja, ke dalam maupun ke luar. Ke dalam bila memahami apa itu menjadi pengikut dia yang telah bangkit dan mulia itu. Ke luar bila mempersaksikan cara hidup baru ini kepada orang banyak.

Dalam bahasa zaman ini, kekuatan itu terletak dalam kemampuan untuk menerangkan iman kepercayaan dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang yang bukan dari kalangan sendiri. Tidak hanya dengan perkataan, melainkan juga dengan sikap hidup dan tindakan. Bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Boleh jadi Pentekosta ini menjadi kekuatan baru untuk tetap memilih hidup beradab dan tidak membiarkan masyarakat dihanyutkan kekuatan-kekuatan yang memerosotkan kemanusiaan. Ini pilihan sederhana. Tapi juga pilihan yang membuat Gereja tampil sebagai komunitas orang-orang yang setia pada kemanusiaan dan hormat pada keilahian.

Boleh jadi itulah yang dimaksud Lukas ketika mengatakan para murid mulai berbicara dalam pelbagai bahasa dan para pendengar merasa mendengar dalam bahasa mereka sendiri. Tentunya tidak sama dengan yang dimaksud oleh Markus “bicara dalam bahasa-bahasa baru” (Mrk 16:17) atau yang disebut Paulus sebagai “bahasa lidah” (1Kor 14). Yang terakhir ini biasanya terjadi dengan gumaman yang bukan terarah kepada sesama melainkan kepada Tuhan (1Kor 14:2-4). Dibutuhkan orang yang dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi. (1Kor 14:5-19 dan 27). Bahasa lidah ini tanda kehadiran roh bagi orang yang belum beriman (1Kor 14:22), bukan bagi mereka yang sudah mulai beriman

GEREJA PERDANA

Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah kehadiran Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi bening dan menuntun orang di jalan yang benar. Roh Kudus ini jugalah yang memimpin para rasul ke seluruh penjuru dunia. Roh yang sama itulah yang kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya. Orang tidak lagi perlu merasa terancam daya-daya gelap yang pergi datang begitu saja. Ada arah baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini membuat alam pikiran orang zaman itu berubah. Terbuka alam baru. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Lukas dalam Kisah Para Rasul. Para murid generasi pertama itu kemudian menjadi makin peduli akan keadaan orang-orang di semakin mengerti penderitaan orang lain dari kalangan sederhana. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka itu orang-orang yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Dalam banyak arti mereka itu juga membangun keadaban baru yang memungkinkan orang berkembang sebagai manusia utuh. Inilah buah pertama dari hadirnya Roh Kudus.

ROH KUDUS DAN KUASA MENGAMPUNI

Menurut Injil Yohanes, Roh Kudus diterima para murid ketika mereka sedang berkumpul dan sedang gelisah. Dalam keadaan itulah Yesus menampakkan diri dan mengembusi mereka. Ia menghadirkan Roh Kudus di tengah-tengah mereka. Kehadiran Roh di tengah para murid itu bukan berarti mereka kini lebur ke dalam Roh, bukan pula merasuknya Roh ke dalam batin masing-masing murid. Kenyataannya lebih sederhana, lebih apa adanya. Roh Kudus hadir di tengah-tengah kumpulan murid itu. Para murid masih tetap manusia, tidak menjadi “setengah Roh”. Kekuatan yang kemudian membuat mereka berani bersaksi itu bukannya karena mereka kini manusia super yang diisi Roh. Mereka itu kuat karena disertai Roh Kudus, bukan karena dirasukiNya.

Setelah berkata “Terimalah Roh Kudus”, Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang terap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23). Jelas bukan hanya mengampuni kesalahan ini atau itu, hal yang lazim dilakukan dalam hidup sehari-hari, melainkan mengampuni penolakan mendasar terhadap kehadiran Yang Ilahi. Itulah yang dimaksud dengan “dosa”. Tidak menggubris Yang Ilahi. MenganggapNya sepi. Dalam alam pikiran Yohanes, menutup diri ini ialah sikap khas dunia yang memusuhi Yang Ilahi. Maka dari itu dunia tetap dirundung kekuatan yang gelap, dan bahkan menjadi tempat daya-daya yang jahat. Dengan demikian dunia akan lenyap dengan sendirinya karena kini terang sudah datang. Satu-satunya pembebasan dari kuasa gelap ialah menerima terang. Ikut masuk ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam wahana ilahi. Dalam pembicaraan dengan Nikodemus ditegaskan oleh Yesus bahwa orang hanya mungkin memasukinya bila lahir kembali dalam Roh, bukan lahir bagi dunia yang menolak kehadiran ilahi (Yoh 3:5-8).

Mendapat kuasa untuk mengampuni dosa atau menyatakannya tetap ada berarti memikul tanggung jawab untuk menentukan apakah penolakan terhadap Tuhan masih bertahan atau sudah mulai lepas. Tanggung jawab ini besar dan berat. Berat karena murid-murid diserahi urusan yang sebetulnya hanya dapat dilakukan Tuhan sendiri, yakni mengampuni dosa. Besar karena kini mereka ikut dalam penyelenggaraan ilahi untuk mengubah jagat ini menjadi terang, menjadi ciptaan yang baru. Dan tanggung jawab seperti ini diserahkan kepada para murid sebagai kesatuan, bukan urusan orang perorangan. Bila Gereja memahami diri sebagai kelanjutan para murid tadi, maka kuasa serta tanggung jawab itu terletak pada kebersamaan, bukan hanya pada pemimpin Gereja saja. Dan sebagai kesatuan, Gereja dapat mengajak orang-orang berkemauan baik mengembangkan kemanusiaan yang peduli akan keadaban. Itulah pelaksanaan dari kuasa mengampuni atau menyatakan dosa tetap ada.

Salam hangat,
A. Gianto