Ekaristi dan Kehidupan

Photobucket

Ekaristi dan Kehidupan

Mengembangkan spiritualitas ekaristis secara negatif berarti menghilangkan sikap dan mentalitas yang berlawanan dengan semangat Ekaristi. Secara positif berarti mencoba membangun hidup dengan model dan tuntunan nilai-nilai Ekaristi. Kalau kedua usaha ini sungguh-sungguh diperjuangkan, kita lalu tidak hanya bohong-bohongan kalau menerima pernyataan Konsili Vatikan II, bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup kristiani kita. Hidup sebelumnya diarahkan kepada Ekaristi, dan hidup sesudahnya menjadi kelanjutan Ekaristi. Untuk itu kita akan mencoba menggali beberapa nilai dasar Ekaristi.

1. Puji Syukur.
Jemaat kristen adalah jemaat yang sudah ditebus dan diselamatkan. Oleh karena itu, panggilan dasar umat kristen bukan lagi untuk "mengejar keselamatan" atau memperebutkan tiket masuk sorga. Sebaliknya, karena sudah diselamatkan, umat kristen dipanggil untuk bergabung bersama para kudus dan para malaekat di sorga, yang selalu melambungkan pujian bagi kemuliaan Allah.

Puji syukur itu terungkap di dalam setiap peribadatan, yang puncaknya adalah Ekaristi. Dan, terwujud di dalam hidup sehari-hari yang dipenuhi dengan suka cita dan kerelaan memperjuangkan terwujudnya Kerajaan Allah. Orang yang dipenuhi puji syukur, akan melakukan apapun yang baik, indah dan benar, bukan dengan bermuram durja, tetapi dengan penuh suka cita. Read more

mengenal bagian perayaan ekaristi

Photobucket

Bagian-Bagian Perayaan Ekaristi

Tata susunan Perayaan Ekaristi ternyata cukup sederhana, yaitu pembukaan, ibadat sabda, persembahan-doa syukur agung-komuni, dan penutup.

Pembukaan berfungsi untuk mengantar masuk orang ke dalam perayaan (unsur pokok dalam perayaan adalah orang meninggalkan kehidupan yang biasa untuk berkumpul bersama orang-orang lain menikmati kegembiraan bersama), membangun umat yang hadir menjadi satu jemaat, dan mengarahkan jemaat itu pada tema syukur yang akan dirayakan. Ibadat Sabda berfungsi untuk mendukung atau mengkhususkan puji syukur. Melalui bacaan-bacaan terpilih, jemaat dihantar untuk semakin memahami karya keselamatan Allah, yang disyukuri dalam doa pengenangan Gereja itu. Selain itu, sabda Allah juga secara nyata menuntun jemaat di dalam penyerahan diri kepada Allah bersama dengan Kristus. Persembahan, Doa Syukur Agung (DSA), dan komuni merupakan rangkaian inti perayaan Ekaristi. Persembahan tidak termasuk inti Ekaristi tetapi harus ada untuk mempersiapkan roti anggur yang akan digunakan dalam DSA. Dengan DSA, Gereja secara resmi dan meriah mengucapkan syukur kepada Allah Bapa, atas karya keselamatanNya yang memuncak di dalam penyerahan diri Kristus. Komuni adalah alat penghubung antara umat dengan DSA Gereja itu. Dengan menerima komuni, orang mengamini dan mempersatukan diri dengan doa itu. Penutup berfungsi untuk mengantarkan kembali umat masuk dalam kehidupan sehari-hari. Unsur penting pada bagian penutup ini adalah perutusan. Umat diutus untuk melanjutkan ibadat syukur itu dalam kehidupan di luar gereja, diutus untuk memberi kesaksian mengenai keagungan Tuhan.

Untuk lebih memahami Perayaan Ekaristi terutama bagian intinya, saya kira baik juga untuk sedikit mengerti akar dari perayaan itu. Perayaan Ekaristi dikonstitusi-kan atau diadakan oleh Kristus sendiri (Bdk. 1Kor 11:23-26, Mat 26:26-29, Mrk 14:22-25, dan Luk 22:14-20). Yesus merayakan perjamuan terakhir bersama murid-muridNya, dan Ia memerintahkan supaya para murid melakukan apa yang dilakukanNya sebagai pengenangan kepadaNya. Berdasarkan yang diceriterakan Kitab Suci, dua unsur pokoknya sudah ada, yaitu doa syukur (DSA) dan pembagian roti (komuni). Perjamuan Terakhir itu pada pokoknya adalah perayaan Paska Yahudi (yang oleh KS tidak diceriterakan secara mendetail, karena diandaikan semua orang sudah tahu bagaimana ritusnya). Read more