PACEM IN TERRIS

PACEM IN TERRIS (Perdamaian di Dunia)
PENDAHULUAN
Pacem in Terris (“Perdamaian di Dunia”) ditulis Paus Yohanes XXIII tahun 1963 sesudah Krisis Misil Kuba (1962) dan pembangunan Tembok Berlin. Inilah surat pertama seorang Sri Paus yang dialamatkan kepada “semua orang yang berkehendak baik”, sambil menghimbau usaha setiap orang untuk perdamaian dengan melihat secara utuh tatanan sosial hasil karya Allah. Dokumen ini merupakan yang terakhir sebelum Konsili Vatikan II. Beberapa isu Konsili Vatikan II diangkat dari Ensiklik ini.
GARIS-GARIS BESAR PACEM INI TERRIS
PERDAMAIAN “berlandaskan Kebenaran, dibangun selaras dengan Keadilan, diilhami dan dipadukan oleh Cinta Kasih, dan dilaksanakan dalam Kebebasan” (#167). Perdamaian dapat ditegakkan sekarang ini khususnya bilamana hubungan antarbangsa dilandasi nilai-nilai rohani. Dalam dunia yang sadar akan bahaya perang nuklir, Yohanes XXIII berbicara tentang hak-hak dan kewajiban individu, pejabat negara, pemerintah, dan masyarakat dunia. Hal-hal utama yang tercakup dalam Pacem in Terris adalah:
a. Tata tertib di antara Manusia – hak-hak dan kewajiban manusia
b. Hubungan antara Individu dan Negara – hakekat kekuasaan dan pengembangan kesejahteraan umum.
c. Hubungan antarnegara – suatu hubungan yang berlandaskan kebenaran, keadilan, dan kebebasan.
d. Hubungan Rakyat dan Negara dengan Masyarakat Dunia – masyarakat politis dunia menjadi saling tergantung.
e. Iman dan Tindakan – Orang-orang Kristiani harus memadukan keyakinan agama dan tindakan.
Paus Yohanes XXIII
Setelah Paus Yohanes XII wafat, Angelo Roncalli menjadi uskup Roma tahun 1958 dan dinobatkan tahun 1963, dengan mengambil nama Yohanes XXIII. Tujuan utama yang mau dicapainya adalah konsili Vatican II yang dibuka melalui jendela Vatican dan menghembuskan angin segar.” membersihkan debu-debu imperialis yang telah terkumpul pada kerongkongan St. Petrus semenjak Constantine”. Hal itu menjadi satu point yang bergulir dalam sejarah Gereja Katolik. Paus Yohanes XXIII menulis tujuh ensiklik. Pacem in Terris adalah ensiklik terakhir yang beliau tulis.
TEMA-TEMA KUNCI PACEM IN TERRIS
A. TATA TERTIB DI ANTARA MANUSIA
Setiap pribadi manusia dianugerahi kecerdasan dan kehendak bebas, dan memiliki hak-hak yang universal dan tidk dapat diganggu-gugat. Hak-hak kodrati ini terkait tak terpisahkan dengan banyak kewajiban. (#9)
1.Hak-Hak Manusia
a. Hak untuk Hidup dan hak atas standar hidup yang layak: – khususnya pangan, sandang, perumahan, istirahat, pengobatan, dan pelayanan sosial. (#11)
b. Hak atas nilai-nilai moral dan budaya: – mencakup kebebasan mencari kebenaran, mengungkapkan pendapat, kebebasan menerima dan memberi informasi, dan hak atas pendidikan dasar. (#12-13)
c. Hak untuk beribadah: – Setiap orang mempunyai hak untuk beribadah kepada Allah secara pribadi atau bersama menurut suara hatinya. (#14)
d. Hak untuk memilih status hidup: – meliputi hak untuk membentuk keluarga atau mengikuti suati panggilan religius. Orangtua yang pertama berhak atas pendidikan dan perkembangan anak-anak mereka. (#15-16)
e. Hak di bidang ekonomi: – meliputi hak untuk bekerja, hak atas kondisi kerja yang aman dan upah yang adil, dan hak atas milik pribadi. (#18-22)
f. Hak untuk berkumpul dan berorganisasi: – karena kodrat sosial manusia. (#23)
g. Hak untuk beremigrasi dan berimigrasi: – setiap orang berhak atas kebebasan berpindah dan tinggal menetap. (#25)
h. Hak-hak politis: – meliputi hak untuk berperan serta dalam kehidupan masyarakat, dan perlindungan hukum atas hak-hak setiap orang. (#26-27)
2. Kewajiban
a. Mengakui dan menghormati hak-hak orang lain. (#30)
b. Bekerja sama demi kesejahteraan bersama. (#31)
c. Bertindak bagi orang lain secara bebas dan bertanggung jawab. (#34)
d. Hidup bersama dalam kebenaran, keadilan, cinta kasih, dan kebebasan. (#36-38)
3. Dunia Dewasa ini
Pacem in Terris mengundang perhatian pada tiga ciri khas dunia dewasa ini, yaitu:
a. Orang-orang dari kelas pekerja telah memperoleh tumpuan sosial-ekonomi. (#40)
b. Kaum wanita lebih menyadari martabat manusiawi mereka. (#41)
C. Negara-negara menjadi merdeka. (#42)
Semuanya ini menimbulkan kesadaran baru bahwa semuabangsa adalah sama karena kemanusiaannya. (#44-45)
B. HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU DAN NEGARA
1. Kekuasaan dan Kesejahteraan Umum
a. Negara ditubuhkan dan kekuasaannya berasal dari Allah. (#46-47)
b. “Seluruh alasan keberadaan kekuasaan sipil merupakan perwujudan kesejahteraan umum.” (#54) Negara harus menjamin agar hak-hak manusia: ”diakui, dihormati, diserasikan dengan hak-hak lain, dibela dan dimajukan, sehingga setiap orang dapat dengan gampang menunaikan kewajibannya.(#60)
c. Kesejahteraan umum menyangkut kesejahteraan manusia seutuhnya, memberikan perhatian kepada anggota-anggota masyarakat yang kurang beruntung dan memajukan kesejahteraan rohani dan jasmani semua orang. (#55-57)
d. Negara yang menggunakan hukuman atau ganjaran sebagai sarana utamanya tidak dapat dengan tepat-guna memajukan kesejahteraan umum. (#48)
e. Negara tidak dapat memaksa rakyat dalam hal-hal yang berkaitan dengan hati nurani. Negara hanya boleh menghimbau. (#49)
f. Perintah yang bertentangan dengan kehendak Allah samasekali tidak mengikat, karena “kita harus lebih mentaati Allah daripada manusia.” (#51) Hukum dan tata tertib yang merugikan kesejahteraan umum sangat tercela.
2. Tanggung Jawab dan Kewajiban Penguasa Sipil
a. Menjamin kesejahteraan umum dengan menegakkan hak-hak dan kewajiban pribadi. (#60)
b. Mengkoordinasi hubungan-hubungan sosial dengan cara yang memungkinkan rakyat untuk melaksanakan hak-hak mereka dengan damai tanpa mengancam orang lain. (#60-67)
c. Dianjurkan penerapan tiga bentuk kekuasaan -legislatif, eksekutif, dan yudikatif. (#68)
d. Pemerintah yang baik menuntut:
i. Piagam hak-hak azazi manusia (#75);
ii. Perundang-undangan tertulis (#76)
iii. Hubungan antara yang diperintah dan yang memerintah dalam rangka hak-hak dan kewajiban. (#77)
Mereka yang menuntut haknya namun lupa atau melalaikan melaksanakan kewajiban mereka, adalah orang yang membangun dengan tangan sebelah dan menghancurkan dengan yang lain
Setiap pemerintahan yang tidak mengakui hak warganya atau merampas hak mereka tidak hanya gagal dalam tugasnya tetapi sungguh-sungguh kurang adil dalam memerintah.
C. HUBUNGAN ANTAR NEGARA
1. Damai di Bumi mencatat bahwa “semua negara pada hakekatnya sama dalam martabat”, yaitu, mereka mempunyai hak untuk hidup, hak atas perkembangan diri, dan menjadi penanggung jawab utama perkembangannya. (#88-92)
2. Negara-negara juga tunduk pada hak-hak dan kewajiban. Ini berarti, hubungan antarnegara harus diserasikan dalam kebenaran, keadilan, solidaritas aktif, dan kebebasan. Untuk itu dituntut penghapusan “setiap untuk rasisme” dan pengejaran akan perkembangan diri sendiri dengan berakibat penindasan atau pembatasan bagi negara-negara lain serta menghindari prasangka.(#113)
3. Hubungan antarnegara harus berlandaskan kebebasan.(#115)
4. Negara-negara maju perlu menghormati nilai-nilai moral dan ciri khas sosial-budaya dalam usahanya memberi bantuan tanpa bermaksud menguasai.(#120)
D. HUBUNGAN RAKYAT DAN NEGARA DENGAN MASYARAKAT DUNIA
1. Selain menyajikan pandangannya yang segar dan optimis dan keyakinannya akan kemauan baik manusia dalam mengupayakan perdamaian di dunia, dokumen ini menyadarkan pula bahwa jalan menuju perdamaian diliputi banyak kendala berat. Pengupayaan kesejahteraan umum yang universal dan pengkuan akan kesamaan status setiap negara hanya dapat “ditangani atau dipecahkan secara memadai…dengan usaha para pejabat negara…yang berwenang untuk bertindak dalam suatu cara yang efektif dan berwawasan global.” (#125-130)
Pacem in Terris mendukung pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. (#138)
E. IMAN DAN TINDAKAN
1. Orang-orang Katolik harus “mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan masyarakat dan menyumbang demi pencapaian kesejahteraan umum segenap keluarga manusia maupun masyarakat politis mereka sendiri. (#139)
2. Perlunya kesatuan di antara iman dan tindakan. Pendidikan kristiani yang tangguh di mana pelatihan ilmiah dipadukan dengan perintah agama haruslah dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sepanjang kehdupan seseorang sehingga dengan demikian tercapai keseimbangan di antara unsur-unsur ilmiah, teknik, dan profesional di satu pihak, dan nilai-nilai rohani di lain pihak. (#140-146)
3. Dialog dan kerja sama dengan umat beragama lain didukung agar tugas untuk
“membenahi hubungan-hubungan keluarga manusia dalam kebenaran, keadilan, cinta, dan kebebasan” dapat tercapai.(#150-151)
4. Perdamaian akan menjadi ungkapan yang hampa jika tidak dibangun di atas tata tertib yang dilandasi kebenaran, dibentuk selaras dengan keadilan, diilhami dan dipadukan oleh cinta kasih, dan diamalkan dalam kebebasan. (#159)
PRINSIP-PRINSIP PENUNTUN
A. Setiap orang dianugerahi kecerdasan dan kehendak bebas, dan mempunyai hak-hak yang bercorak universal dan tak dapat diganggu-gugat. Hak-hak ini berkaitan dengan berbagai kewajiban.
B. Kekuasaan dibutuhkan untuk memfungsikan masyarakat secara tepat. Namun, tindakan-tindakannya tidak dapat bertentangan dengan kehendak Allah atau merugikan kepentingan umum.
C. Perdamaian yang benar dan kokoh diantara bangsa-bangsa bukanlah karena persamaan dalam persenjatan, melainkan dalam saling percaya.
D. Negara-negara individual tidak dapat mengusahakan kepentingan-kepentingan mereka sendiri saja dan berkembang dan berkembang dalam keterasingan. Negara-negara harus bekerja sama di tingkat internasional demi terhasilkannya kesejahteraan umum universal.
E. Setiap orang beriman harus menjadi percikan cahaya, pusat cinta kasih, dan ragi yang memberikan inspirasi di tengah masyarakat dunia.
Filed under Ajaran Sosial Gereja | Comment (0)MATER ET MAGISTRA (Orang Kristiani dan Kemajuan Sosial)

MATER ET MAGISTRA (Orang Kristiani dan Kemajuan Sosial)
PENDAHULUAN
Kesenjangan menyolok antara negara kaya dan negara miskin mendesak Paus Yohanes XXIII menerbitkan Ensiklik Mater et Magistra (Ibunda dan Guru), Mei 1961. Ensiklik ini diterbitkan pula untuk memperingati 70 tahun terbitnya Ensiklik Paus Leo XIII,Rerum Novarum.
GARIS-GARIS BESAR MATER ET MAGISTRA
Ensiklik ini dimulai dengan tinjauan mengenai prinsip-prinsip dalam Rerum Novarum (RN) dan Quadragesimo Anno (QA). Yohanes XXIII mencatat, karena kedua ensiklik itu, perkembangan politik, sosial, dan ekonomi barumendasari pentingnya penulisan Mater et Magistra (MM). Ensiklik ini merupakan penuntun penting bagi zaman modern, karena, untuk pertama kalinya Ajaran sosial Gereja mengkaji situasi negara-negara yang belum sepenuhnya mengalami industrialisasi, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dunia ketiga. Bidang-bidang kajian utama Mater et Megistra sebbagai berikut:
a. Tinjauan atas RN dan QA dan pengukuhan prinsip-prinsipnya.
b. Situasi negara-negara sedang berkembang
c. Tanggung jawab kaum awam menyongsong suatu dunia yang lebih adil
PAUS YOHANES XXIII
Sesudah wafatnya Paus Pius XII, Angelo Roncalli menjadi uskup Roma dan menduduki tahta kepausan tahun 1958 sampai 1963 dengan mengambil nama Yohanes XXIII. Kepemimpinan Paus Yohanes XXIII merupakan yang revolusioner untuk zaman itu. Prestasi besarnya adalah penyelenggaraan Konsili Vatikan II yang membiarkan angin segar menyusup masuk jendela-jendela Vatikanuntuk menghilangkan debu imperial yang menumpuk di tahta Santo Petrus sejak masa Constantin. “Ini merupakan titik balik dalam sejarah Gereja Katolik. Yohanes XXIII menerbitkan 7 ensiklik dan Mater et Magistra adalah ensikliknya yang keempat.
TEMA-TEMA KUNCI MATER ET MAGISTRA
A. PENGAJARAN DAN PERKEMBANGAN
1. Perkembangan Baru dalam Masyarakat
a. Kehidupan ekonomi- Penelitian ilmiah yang terus-menerus menghasilkan energi atom, produk-produk sintetis, otomasi, dan kecepatan yang lebih besar dalam transportasi. Penaklukan luar angkasa dan kemajuan komunikasi membawa perubahan dalam kehidupan ekonomi rakyat.(#47)
b. Struktur Sosial- Asuransi, jaminan sosial, dan pendidikan dasar yang lebih baik diperkenalkan dalam struktur sosial. Hal ini pada gilirannya meningkatkan mobilitas sosial. Akibatnya, ketidakseimbangan antara daerah-daerah yang lebih berkembang dan kurang berkembang semakin nampak.(#48)
c. Bidang Politik- Peran serta politis warga masyarakat meningkat. Hal ini nayata dalam penolakan terhadap regim penjajah di Asia dan Afrika. Muncullah kemerdekaan politis yang lebih besar, mendalamnya kesalingtergantungan antarbangsa, dan meningkatnya campur tangan rakyat dalam kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan politik mereka sendiri.(#49)
2. Perkembangan Pengajaran Sosial
a. Prakarsa Pribadi dan Intervensi Negara- Perkembangan ekonomi harus merupakan hasil upaya pribadi maupun masyarakat. Namun, Negara tidak harus meredam prakarsa pribadi orang-perorangan. Harus terdapat keseimbangan antara prakarsa pribadi dan prakarsa masyarakat. (#51-54)
b. “Sosialisasi” dalam Keadilan Sosial- Perkembangan-perkembangan baru dalam masyarakat menuntut hubungan-hubungan sosial yang saling tergantung. Penggalangan hubungan sosial ini penting, bahkan entah mereka berdampak negatif ataupun positif.(#59-67)
c. Upah Kerja yang Adil- Kerja manusia harus dihargai dengan upah yang adil. Kebijakan pengupahan ini harus berlandaskan keadilan, persamaan, dan kesejahteraan umum. Keluarga membutuhkan upah yang memadai agar dapat hidup bermartabat. Terlalu banyak uang dihamburkan untuk prestise negara maupun persenjataan.(#68-69)
d. Pembagian Barang-Barang secara Adil- Perkembangan sosial harus berjalan bersama dengan perkembangan ekonomi. Untuk itu, kemakmuran ekonomis harus menjamin pembagian barang-barang secara adil dan tepat. Dalam hal ini, buruh hendaknya memiliki andil dalam pengelolaan perusahaan-mis. Dalam manajemen, keuntungan, dan kepemilikan perusahaan.(#73-75)
e. Kesejahteraan Umum- Pembagian barang-barang secara adil dan tepat dilakukan demi kesejahteraan umum bangsa-bangsa dan dunia. Kebutuhan demi kesejahteraan umum dapat diringkas sebagai berikut:
1. menciptakan lapangan pekerjaan
2. memperhatikan mereka yang tersisih;dan
3. menjamin masa depan.(#74)
ASPEK-ASPEK BARU PERMASALAHAN SOSIAL
1. Pertumbuhan tidak Seimbang
Keadilan dan pemerataan bukan hanya berlaku dalam situasi majikan-buruh, tetapi juga bagi hubungan antara daeah-daerah yang secara ekonomis lebih baik dan daerah-daerah yang kurang berkembang, dalam masyarakat lokal maupun global.(#122)
2. Pertanian-Sektor yang Terbelakang
Antara sektor pertanian yang terbelakang dan indunstri terdapat ketidak seimbangan. Pelayanan dan perkembangan ekonomi yang teratur harus menjangkau daerah pedesaan. Kebijakan ekonomi yang tepat perlu direncanakan dan dterapkan. Modal hendaknya tersedia dengan suku bunga yang pantas. Prioritas lainnya meliputi: perlindungan harga, keamanan sosial, dan memperkokoh pendapatan di bidang pertanian.(#123-143)
3. Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri
Para pekerja di pedesaan sendiri harus bertanggung jawab atas kemajuan mereka. Mereka harus berperan serta aktif dalam menciptakan perubahan dan mutu kehidupan yang lebih baik.(#144)
4. Bantuan bagi Daerah Kurang Berkembang
Administrasi lengkap beserta kebijakan ekonomi dibutuhkan dalam meniadakan atau mengurangi perbedaan antara daerah-daerah yang lebih berkembang. Di samping tindakan pemerintah, warga masyarakat di daerah-daerah kurang berkembang adalah penanggung jawab utama perkembangan mereka sendiri dan perlu menghormati martabat serta usaha swasta.(#150-151)
5. Keadilan di Antara Bangsa-Bangsa
Perdamaian abadi tidak mungkin tercipta selama masih ada ketidakseimbangan yang menyolok di antara bangsa-bangsa di dunia. Karena itulah negara-negara maju wajib membantu negara-negara yang miskin dan kurang beruntung. Negara-negara yang lebih beruntung perlu menyusun program bantuan darurat yang efektif. Usaha-usaha swasta masyarakat hendaknya lebih rela bekerja sama. Pentinglah bahwa dalam memberi bantuan dan pendampingan, negara-negara industri menghormati kebudayaan negara-negara sedang berkembang dan menawaekan bantuan tanpa bermaksud menguasai.(#157-172)
6.Peranan Gereja
Setiap orang kristiani mengemban tugas untuk memajukan lembaga-lembaga sipil, mengangkat martabat manusia dan memperkokoh kesatuan antar bangsa. Adalah menyenangkan bahwa orang-orang Katolik sudah terlibat dalam usaha-usaha ini.(#179-182)
7. Pertumbuhan Penduduk
Ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan pengadaan makanan semakin menakutkan. Namun, kita ditenangkan oleh Kebijaksanaan Allah yang menganugerahkan umat manusia kemampuan produktif yang tiada habis-habisnya sehingga suatu pemecahan yang memadai dapat ditemukan demi martabat setiap manusia. Karena hidup manusia itu suci, manusia hendaknya tidak dijadikan sarana kontrol jumlah penduduk sehingga martabat manusianya dilecehkan.(#189-199)
8. Kerja Sama Internasional
Kemajuan ilmu dan teknologi dalam segala aspek kehidupan meningkatkan hubungan antar masyarakat politis sedunia. Terdapat kebutuhan yang semakin besar akan kesalingtergantungan, kerjasama, dan bantuan timbal balik. Di samping itu, saling percaya sirna karena kegagalan mencapai kesepakatan mengenai hukum-hukum keadilan. Pembangunan persenjataan merupakan gejala kecurigaan ini.(#200-203)
Kemajuan ilmu dan teknologi harus menghasilkan keseimbangan hubungan sosial dalam masyarakat maupun di antara bagsa-bangsa
Sementara kemiskinan dan kelaparan menghantui kita, ilmu dan teknologi digunakan seluas-luasnya untuk menciptakan alat-alat penghancur dan pembunuh.
C. PEMULIHAN HUBUNGAN-HUBUNGAN SOSIAL DALAM KEBENARAN, KEADILAN, DAN CINTA KASIH
1. Falsafah Hidup yang Tidak Utuh
Kendati terdapat kemajuan ilmu dan teknologi, banyak falsafah hidup tidak menyentuh seluruh pribadi manusia atau menghormati martabat manusia. Segala kemajuan harus berakar dalam Allah. Adalah suatu ketololan membangun tata dunia tanpa berlandaskan Allah.(#213-217)
2. Pengajaran Sosial Gereja
Gereja tetap menunjukkan jalan dalam kehidupan modern. Karena Gereja melihat pribadi manusia sebagai dasar, sebab, dan tujuan semua lembaga sosial. Karena itu, Pengajaran Sosial Gereja tidak dapat dipisahkan dari pengajaran Gereja tentang kehidupan dan harus diajarkan di semua jenjang pendidikan dan melalui berbagai media. Orang-orang Katolik haruslah memahami pengajaran sosial Gereja dan perilaku sosial-ekonomi mereka harus diselaraskan dengan prinsip-prinsip pengajaran sosial Gereja itu. Karena penerapan praktis prinsip-prinsip pengajaran sosial sulit, kepada orang-orang Katolik diberikan beberapa saran praktis sbb:
i. meneliti situasi (mengamati)
ii. Mengevalusinya dengan mengacu pada Pengajaran Sosial Gereja (menilai)
iii. Memutuskan bagaimana bertindak (bertindak).(#219-241)
3. Tugas Kaum Awam
Sambil mengakui perlunya campur tangan pemerintah dalam kemajuan rakyat, adalah terutama tanggung jawab warga masyarakat sendiri untuk menentukan kemajuan dan perkembangan mereka. Tugas setiap orang kristiani adalah berkarya demi suatu dunia yang lebih adil.
4. Menuju suatu Masyarakat Global
Kemajuan sosial harus berkaitan dan kemajuan ekonomi. Daerah-daerah yang lebih berkembang harus membantu perkembangan daerah-daerah kurang berkembang. Namun, bantuan ini harus menjangkau segenap bangsa di dunia. Tanggung jawab orang-orang kristiani adalah membangun suatu masyarakat global dengan dituntun oleh nilai-nilai Injil yaitu kebenaran dan keadilan.
KESIMPULAN
Mater et Magistra mengakui, kehidupan industrial dapat merusak nilai-nilai dan menyimpang dari martabat manusia. Gereja, yaitu masing-masing orang Katolik, perlu memperbarui komitmen mereka demi tegaknya Kerajaan Allah di tengah kegiatan duniawi.
PRINSIP-PRINSIP PENUNTUN
1. Balas karya yang adil demi kehidupan keluarga yang bermatabat.
2. Pribadi perorangan maupun pemerintah berperan dalam pekembangan ekonomi.
3. Perkembangan ekonomi haru adil dan merata bagi semua. Daerah yang lebih maju harus membantu yang terbelakang.
4. Gereja mendorong perkembangan ekonomi yang teratur di daerah-daerah dan negara-negara yang kurang berkembang.
5. Setiap orang Kristiani berkewajiban memajukan lembaga-lembaga sipil, mengangkat martabat manusia, serta memperkokoh kesatuan antar bangsa.
6. Kerjasama internasional sangat penting dalam membangun kepercayaan, timbal-balik tentang hukum-hukum keadilan agar dapat tercipta kesalingtergantungan yang lebih besar, kerja sama, serta saling membantu antar masyarakat politis sedunia.
7. Segenap kemajuan harus berakar dalam Allah. Karena itu, pemahaman orang-orang Katolik akan Pengajaran Sosial Katolik haruslah ditingkatkan, dan perilaku sosial-ekonomi mereka harus selaras dengan prinsip-prinsip Pengajaran Sosial Katolik itu. Orang-orang Katolik harus menggunakan prinsip “Melihat, Menimbang, dan bertindak” dalam kegiatan-kegiatan mereka di tengah realitas dunia modern ini.
Filed under Ajaran Sosial Gereja | Comment (0)RERUM NOVARUM

Pendahuluan
- Pemerasan dan kemiskinan para buruh di Eropa dan Amerika Utara akhir abad 19
- Paus Leo XIII, Ensiklik Rerum Novarum, Mei 1891.
Paus Leo XIII mengkaji situasi rakyat dan para buruh miskin di negara-negara industri. Ia memberikan dalam beberapa prinsip penting sebagai pedoman.
Rerum Novarum (RN) dapat dibagi dalam beberapa bagian utama:
a. Introduksi umum tentang masalah perburuhan.
b. Ditolaknya sosialisme sebagai jalan pemecahan atas kemiskinan para buruh.
c. Sri Paus membela hak milik pribadi dan mengecam campur tangan negara yang tak masuk akal. Ia lalu mengusulkan suatu pemecahan terhadap masalah para buruh:
1. Peranan Gereja
2. Peranan Negara
3. Peranan majikan, Buruh dan Serikatnya
Kemerosotan moralitas umum selama Revolusi Industri membuka jalan bagi pemerasan para pekerja yang tidak terlindungi undang-undang dan asosiasi.
Ketamakan manusia dan proses produksi secara keseluruhan melahirkan suatu situasi di mana segelintir orang kaya memperpudak massa pekerja yang tidak memiliki sarana produksi.
RN dengan tegas mengecam pemecahan sosialis yang mengingkari hak milik pribadi. Kaum Sosialis berpendapat, penghapusan milik pribadi individu dan pengalihannya kepada kepemilikan Negara, sebagai pemecahan atas masalah kaum buruh. (# 3,7) RN membela hak-hak para kaum buruh untuk memiliki barang melalui kerja keras mereka. Inilah hak kodrati manusia, pria maupun wanita. Meniadakan hak ini berarti memperkosa hak-hak para pemilik yang sah. Hal ini bukanlah fungsi negara. (# 8,9,23)
1. Peranan Gereja
a. Gereja berhak berbicara mengenai masalah-masalah sosial, karena persoalan sosial mempengaruhi agama dan moralitas. (#24)
b. Dengan menggunakan prinsip-prinsip Injil, Gereja dapat membantu mendamaikan dan mempersatukan kelas-kelas. Misalnya, Gereja memajukan kerukunan di antara kelas-kelas sosial (para majikan dan buruh, orang kaya dan miskin). Adalah sesuatu kesalahan menerima dengan gampang bahwa suatu kelas masyarakat adalah tidak bersahabat dengan yang lain, seakan-akan kodrat telah mengadu-dombakan antara si kaya dan si miskin
c. Gereja dapat mendidik orang untuk bertindak adil. (#40,41) Misalnya, para buruh tidak boleh diperlakukan sebagai budak; keadilan menuntut penghormatan akan martabat pribadi manusia. Adalah memalukan dan tidak manusiawi kalau memanfaatkan manusia, pria maupun wanita, demi keuntungan semata. Adalah salah memandang manusia, pria maupun wanita, sebagai sesuatu yang tidak lebih dari sekedar otot dan energi. (#31)
2. Peranan Buruh dan Majikan
▪ Perana buruh dan orang miskin adalah bekerja dengan baik, tidak merusak milik majikan, dan menghindari kekerasan manakala berniat melindungi kepentingan mereka.(#30)
▪ Para majikan dan orang kaya haruslah tidak memperlakukan buruh sebagai budak. Martabat buruh harus dijunjung tinggi. Para buruh harus dimungkinkan memenuhi kewajiban beragamanya serta kewajiban terhadap keluarganya.
TEMA-TEMA KUNCI RERUM NOVARUM
Situasi Rakyat Miskin dan Kaum Buruh
Kemerosotan moralitas umum selama Revolusi Industri membuka jalan bagi pemerasan para pekerja yang tidak terlindungi undang-undang dan asosiasi. Ketamakan manusia dan proses produksi secara keseluruhan melahirkan suatu situasi di mana segelincir orang kaya memperbudak massa pekerja yang tidak memiliki sarana produksi.
Penolakan atas Pemecahan Sosialis terhadap Kemiskinan
RN dengan tegas mengecam pemecahan sosialis yang mengingkari hak milik pribadi. Kaum sosialis berpendapat, penghapusan milik pribadi individu dan pengalihannya kepada kepemilikan Negara, sebagai pemecahan atas masalah kaum buruh. (# 3,7) RN membela hak-hak para buruh untuk memiliki barang melalui kerja keras mereka. Inilah hak kodrati manusia, pria maupun wanita. Meniadakan hak ini berarti memperkosa hak-hak para pemilik yang sah. Hal ini bukanlah fungsi negara.(# 8,9,23)
Tiga pemecahan
1. Peranan Gereja
a. RN menegaskan, Gereja berhak berbicara mengenai masalah-masalah sosial. Karena, persoalan sosial mempengaruhi agama dan moralitas. (#24)
b. Dengan menggunakan prinsip-prinsip injil, Gereja dapat membantu mendamaikan dan mempersatukan kelas-kelas sosial (para majikan dan buruh, orang kaya dan miskin). Adalah suatu kesalahan menerima dengan gampang bahwa suatu kelas masyarakat adalah tidak bersahabat dengan yang lain, seakan-akan kodrat telah mengadu-dombakan antara si kaya dan si miskin. (#25,27,33,41)
c. Gereja dapat mendidik orang untuk bertindak adil. (#40,41) Misalnya, RN mengajarkan bahwa para buruh tidak boleh diperlakukan sebagai budak; keadilan menuntut penghormatan akan martabat pribadi manusia. Adalah memalukan dan tidak manusiawi kalau memanfaatkan manusia, pria maupun wanita, demi keuntungan semata. Adalah salah memandang manusia, pria dan wanita, seba-gai sesuatu yang tidak lebih dari sekedar otot dan energi. (#31)
PRINSIP-PRINSIP PENUNTUN
Beberapa Prinsip penuntun RN dapat disebutkan sbb:
Kemampuan bernalar merupakan bagian dari kodrat manusia. Manusia mengatur dirinya dengan akal budi. Karena itu, setiap orang dapat melihat barang-barang yang dibutuhkan untuk sekarang ini dan waktu mendatang. Jadi, setiap orang berhak memiliki barang untuk dipakainya.(#11,12)
Pekerja berhak atas hasil kerja mereka, tetapi haruslah menggunakannya demi keuntungan semua. (#14)
Semua orang berhak memiliki kekayaan pribadi; namun milik pribadi harus melayan kesejahteraan umum. (#2,9,10,15)
Pria dan wanita haruslah menggunakan milik mereka demi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Bilamana hal ini dipenuhi, menjadi kewajiban mereka untuk membantu orang miskin. (#36)
Memiliki uang secara benar berbeda dengan menggunakan uang secara benar.(#35)
Perundang-undangan hanya ditaati sejauh tidak bertentangan dengan akal budi yang benar dan hukum Allah yang abadi.(#72)
Ketidaksamaan alamiah dimiliki masing-masing orang, tetapi Allah telah menganugerahkan martabat yang sama kepada semua orang. Hal ini menguntungkan individu maupun masyarakat: kehidupan masyarakat membutuhkan bakat-bakat berbeda dari pelayanan individu.(#26)
Karena semua orang diciptakan dan ditebus Allah: rahmat ilahi dan kekayaan alam menjadi milik semua secara merata.(#38)
Kesejahteraan umum adalah tujuan masyarakat manapun. Karena itu, masing-masing dan setiap orang berhak berperan serta dalam kehidupan masyarakatnya. (#71)
Kesimpulan
Melalui Rerum Noverum, Paus Leo XIII meningkatkan kesadaran Gereja akan kondisi hidup dan kerja yang menyedihkan, serta upah pekerja yang tidak adil.
Tidak disangsikan lagi bahwa RN memainkan peranan positif di kalangan umat Katolik. Sejak saat itu pula pengajaran sosial Gereja telah dipengaruhinya. ***
Filed under Ajaran Sosial Gereja | Comment (0)Perdebatan tentang Maria

By : Romo Yohanes Gani
Suatu hari saya naik bis dari Surabaya menuju ke Malang. Saat itu saya
sangat mengantuk, sebab baru selesai memberi rekoleksi pada murid-murid
sebuah SMA swasta di Prigen.
Pada malam terakhir rekoleksi, anak-anak tidak mau tidur pada jamnya.
Mereka ingin begadang sambil mengobrol berbagai macam topik.
Saya pikir ini adalah kesempatan untuk memasukkan ajaran Gereja secara lebih
mendalam, sebab menjawab berbagai macam pertanyaan kongkrit tentang masalah
remaja. Maka dengan makan kacang dan kue-kue yang mereka bawa, kami ngobrol
sampai nyaris pagi.
Ketika naik bis, saya berharap bisa langsung tidur. Kebetulan ada tempat
kosong, maka langsung saya duduk dengan harapan tidak akan ada orang yang
duduk di sebelah saya. Apalagi orang yang ingin mengajak ngobrol.
Saya ingin segera memejamkan mata. Tapi, beberapa saat sebelum bis
berangkat, seorang bapak duduk di sebelah saya.
Bapak ini berpakaian sangat rapi. Baju putih lengan panjang, dipadu dengan
celana coklat kehitaman. Sebuah tas yang cukup bagus ada dalam gegamannya.
Usia bapak ini kira-kira 50 tahun. Saya menduga dia seorang eksekutif atau
pegawai yang telah punya kedudukan lumayan. Pendek kata penampilannya jauh
sangat rapi dan perlente, sangat berbeda dengan saya yang hanya memakai blue
jeans, kaos oblong dan bersandal jepit.
Setelah melirik sejenak padanya, saya bersiap memejamkan mata, sebab pria di
sebelah saya tampaknya juga tidak ingin diganggu. Dia mulai membaca koran
yang dibawanya.
“Koran kok isinya hanya tentang kekerasan,” katanya seperti mengeluh.
“Apakah sudah tidak ada kasih di dunia ini?” tanyanya pada saya.
Sebagai basa basi saya hanya tersenyum. Saya malas untuk menjawab, sebab
mata sudah tidak bisa diajak kompromi.
“Apakah mahasiswa itu tidak bosan mengadakan demonstrasi? ” tanyanya lagi.
Sekali lagi saya hanya tersenyum.
“Adik ini kuliah atau sudah kerja?” Mau tidak mau saya harus menjawab
pertanyaan ini.
“Saya masih kuliah, Pak,” jawab saya singkat.
“Dimana?” tanyanya mendesak.
“Malang” jawab saya singkat lagi.
Saya berharap orang itu tidak bertanya-tanya lagi. Orang itu
mengangguk-anggukka n kepalanya.
Ternyata dia tidak berhenti bicara. Dia bicara lagi yang isinya
nasehat-nasehat agar saya tidak ikut-ikutan demonstrasi dan melakukan
kejahatan. Saya terpaksa mendengarkan dan sebentar-sebentar menganggukan
kepala menyetujui semua pendapatnya.
Dengan harapan dia merasa puas.
Tampaknya dia pun senang melihat saya setuju dengan pendapatnya.
Sesaat bapak itu diam, tiba-tiba dia bertanya lagi.
“Maaf dik, kalau boleh tahu adik ini beragama apa?”
“Katolik.”
“Oh…… Katolik,” serunya dengan menantapku lebih seksama.
“Kalau saya seorang gembala jemaat Kristen.” Dia lalu mengulurkan
tangannya.Saya pun menjabat uluran tangannya.
“Dik, maaf ya,” katanya setelah berhenti sejenak.
“Mengapa orang Katolik memuja Maria?”
“Entahlah, Pak,” jawab saya seenaknya saja.
“Apa adik tidak pernah berdoa pada Maria?”
“Sering.”
“Mengapa berdoa saja harus berbelit-belit. Melalui birokrasi yang panjang.”
“Maksud bapak?” tanya saya bodoh.
“Kan seharusnya orang berdoa langsung saja pada Yesus, mengapa harus
melalui Maria baru ke Yesus?” tanyanya mempertegas.
Sebetulnya saya enggan berdiskusi soal iman seperti ini, sebab biasanya
diskusi seperti ini tidak menemukan kata akhir. Semua akan bertahan pada
pendapatnya dan hanya mencari pembenaran bagi apa yang diyakininya.
Bagi saya iman itu tidak perlu didiskusikan. Iman itu dijalani,
diaktualisasikan dalam hidup. Selain itu, percuma saya berbicara tentang
Maria, kalau orang yang saya ajak bicara sudah tidak percaya bahkan menolak
peran Maria.
“Ya memang orang Katolik bodoh,” jawab saya seenaknya. Saya berharap bapak
ini puas dan tidak tanya-tanya lagi. Tapi dugaan saya salah.
Bapak ini seperti mendapat angin. Dia semakin bersemangat untuk menjelekan
Maria. Dia mencoba meyakinkan saya bahwa ajaran Katolik salah. Lama-lama
saya jengkel juga mendengar bapak ini dengan seenaknya menjelekan Maria.
“Pak,” kata saya tenang. “Apakah di Gereja bapak ada kebiasaan, misalnya ada
jemaat yang sakit, lalu dia meminta tolong agar pendeta mendoakannya? ”
“Ada,” jawabnya cepat, “Jika ada jemaat saya yang sakit, maka saya dengan
beberapa jemaat mengunjunginya. Lalu kami berdoa mohon kesembuhan baginya.”
“Misalnya, Pak,” tanya saya mencoba mencari ketegasan, “Jika saya adalah
salah satu jemaat bapak, bolehkah saya mengatakan, Pak Pendeta, tolong
doakan saya, sebab saya sedang dalam kesulitan.”
“Ya… ya…. bisa saja,” jawabnya dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
Saya tersenyum. Jebakan yang saya buat ternyata cukup bagus, sehingga bapak
tua ini masuk dalam perangkap.
“Pak,” kata saya perlahan, tapi tegas, “Jemaat bapak jauh lebih tolol dari
pada umat Katolik!”
Bapak disamping saya itu tampak terkejut dan marah.
“Seandainya Yesus duduk di depan sana,” kata saya cepat dengan menunjuk pada
sopir, “Lalu bapak datang dengan membawa permohonan dari jemaat bapak dan
Maria juga datang dengan membawa permohonan saya.
Permohonan siapakah kira-kira yang akan dikabulkan oleh Yesus?
Apakah permohonan bapak? Apakah bapak lebih hebat dari ibuNya?”
Bapak di sebelah saya itu semakin tampak jengkel dengan perkataan saya.
Tapi sebelum dia bicara langsung saya cecar dengan pertanyaan-pertanya an
yang tidak membutuhkan jawaban.
“Siapakah yang memaksa Yesus untuk membuat mujijat di Kana? Maria, Pak!
Siapakah yang setia pada Yesus sampai di bawah kaki salib? Maria, Pak!”
kata saya dengan nada yang semakin meninggi, “Tapi siapakah yang menyalibkan
Yesus? Para imam-imam kepala, kaum Farisi dan ahli-ahli kitab, Pak!
Saya rasa kalau kejadian itu terjadi saat ini, mungkin bapak adalah salah
satu yang ikut mengadili dan menfitnah Yesus agar Dia disalibkan!” Saya
lihat wajah bapak itu memerah, entah marah atau malu saya tidak tahu. Tapi
setelah itu dia diam tidak bertanya-tanya lagi. Apalagi menjelekan Maria.
Saya bisa tidur dengan tenang sampai Malang.
Untung bapak itu tidak tahu bahwa saya juga seorang imam.
Maka berdoalah melalui Maria, sebab dia adalah ibu yang baik yang akan
membawa permohonan-permohon an kita pada Yesus, putranya.
Doa BAPA KAMI (kaum tertindas)

BAPA KAMI KAUM TERTINDAS
(oleh Kelompok pinggiran/Keping Surakarta, dengan perubahan)
Bapa kami yang ada di Surga,
Engkaulah Allah yang memihak orang yang miskin, bukan pada orang yang gila harta
Engkaulah Allah yang berdiri di sisi orang yang tertindas, bukan pada orang yang gila kuasa
Engkaulah Allah yang berbelas kasih pada orang yang hina, bukan pada orang-orang yang gila hormat
Dimuliakanlah namaMu,
Di antara para petani, yang harus menggarap sawah-sawah tergadai
Di lingkungan para buruh, yang harus berteduh di gubug kumuh
Di kalangan anak desa, yang harus mandi di kali tercemar
Di antara rakyat kecil, yang tergusur demi suksesnya pembangunan
Datanglah kerajaanMu,
Yakni dunia baru yang berundang-undang cinta kasih
Yang berhalauan perdamaian, yang bertatanan keadilan
Jadilah kehendakMu di atas bumi,
Untuk memberi makan pada yang lapar
Untuk memberi minum pada yang haus
Untuk memberi tumpangan pada para pendatang
Untuk memberi pakaian pada yang telanjang
Untuk melawat mereka yang sakit
Untuk mengunjungi mereka yang ada dalam penjara
Untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tertimpa ketidakadilan
Seperti di dalam Surga,
Yang berpihak pada rakyat kecil
Yang menentang segala bentuk intimidasi
Yang menghilangkan segala upaya pembodohan masyarakat
Yang membongkar segala praktek bisnis serakah tanpa moral
Yang mendobrak segala praktek penyalahgunaan kekuasaan
Berilah kami rejeki pada hari ini,
Agar kami kuat dan berkobar dalam membongkar budaya bisu
Agar kami kuat dan pantang mundur dalam melawan budaya takut
Agar kami kuat dan berani menentang budaya pakewuh
Dan ampunilah kesalahan kami,
Karena kami diam, ketika pohon-pohon dibabat untuk illegal logging
Karena kami bungkam, ketika rumah dan ladang digusur kolam Lumpur
Karena kami bisu, ketika sawah-sawah dirampas untuk rumah mewah
Karena kami tak acuh, ketika rakyat kecil disingkirkan demi gemerlapnya keindahan kota
Seperti kami pun mengampuni,
Mereka yang bersalah kepada rakyat melalui sistem pembodohan massal
sehingga rakyat hanya mampu mengucap ‘ya, ya dan ya’
Jangan masukkan kami ke dalam percobaan,
Sehingga kamipun ikut melakukan kekerasan seperti mereka yang tidak mengenal Tuhan
Sehingga kami hanya mampu melontarkan kritik tanpa kami sendiri bertindak adil, jujur, dan bertanggungjawab
Sehingga kami berpihak dan membantu orang kecil tetapi kami sendiri tidak terlepas dari permainan manipulasi
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat,
Yakni pikiran yang memonopoli kekayaan alam,
Perkataan untuk memanipulasi pendapat umum,
Perbuatan yang melecehkan keinginan rakyat.
AMIN.
Filed under Uncategorized | Comment (0)Homili Bapa Suci pada misa penutupan Hari Pemuda Sedunia 2008

Homili Bapa Suci pada misa penutupan Hari Pemuda Sedunia 2008
Dengan kekuatan Roh Kudus dan dari iman yang teguh, generasi muda
Katolik terpanggil untuk membangun dunia yang menerima, menghargai
serta menumbuh kembangkankan anugerah kehidupan, bukan dunia yang
menolak dan bahkan merusak kehidupan..
Saudara-saudara,
“Kamu akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun atasmu” (Kis 1:8).
Kita sudah menyaksikan bahwa janji Allah ini terpenuhi pada saat
Pentekosta, seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama. Tuhan
yang bangkit dan duduk disebelah kanan Allah Bapa mengutus Roh Kudus
kepada para murid yang sedang berkumpul diruangan atas.
Dengan kuasa Roh Kudus, Petrus dan para rasul mewartakan Kabar
Sukacita keujung bumi. Di segala jaman dan dalam segala bahasa
Gereja diseluruh dunia terus menerus mewartakan kebesaran Allah dan
memanggil bangsa-bangsa kepada iman, harapan dan kehidupan baru
dalam Kristus.
Saat inipun saya, sebagai penerus Santo Petrus, datang ke tanaah air
yang indah Australia ini untuk menguatkan kalian saudara-saudaraku
dalam iman dan mengundang kalian untuk membuka hati kepada kuasa Roh
Kudus serta menerima anugerah Roh yang tak ternilai harganya itu.
Saya berdoa agar pertemuaan akbar kawula muda dari seluruh dunia ini
menjadi seperti persekutuan para rasul saat Pantekota.(Kis 2:5).
Semoga api cinta kasih Allah di turunkan atas kalian memenuhi hati
kalian, menyatukan kalian sepenuhnya dengan Tuhan dan Gereja serta
mengutus kalian sebagai rasul baru untuk mewartakan Kristus kepada
dunia. “Kalian akan menerima kuasa Jika Roh Kudus turun atas
kalian.” Sabda Tuhan ini memberikan makna yang khusus bagi mereka
yang akan menerima sakramen Krisma pada misa kudus ini.
Sabda Tuhan ini juga ditujukan kepada kita semua-kepada kita semua
yang sudah menerima anugerah Roh rekonsiliasi dan pembaptisan baru;
yang sudah menerima Roh Kudus di dalam hidup sebagai penolong pada
saat menerima sakramen Krisma, dan kita semua yang setiap hari
bertumbuh dalam RahmatNya melalui Ekaristi kudus. Dalam setiap misa
kudus, melalui doa-doa umat Allah, Roh Kudus turun untuk mengubah
roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, untuk mengubah
hidup kita menjadi satu tubuh dan satu Roh dalam Kristus.
Apakah yang dimaksud dengan kuasa Roh Kudus? Kuasa Roh Kudus adalah
kuasa hidup Allah sendiri. Kuasa Roh yang sama seperti Roh yang
melayang-layang dipermukaan air pada saat penciptaan, yang pada
waktunya membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Kuasa yang
menuntun kita dan dunia kepada kedatangan kerajaan Allah.
Dalam bacaan Injil hari ini, Jesus mewartakan bahwa dunia baru sudah
datang dengan pencurahan Roh kepada umat manusia (Lk 4:21). Yesus
sendiri yang dikandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan
Maria, datang kepada kita untuk memberikan Roh Kudus. Sebagai sumber
kehidupan kita dalam Kristus; Roh Kudus nyata-nyata sebagai jiwa
Gereja; Cinta yang menyatukan kita dengan Tuhan dan dengan satu sama
lain; cahaya yang membuka mata kita kepada keajaiban Tuhan ditengah-
tengah kita.
Di Australia ini, “great south land of the Holy Spirit”, kita semua
mempunyai pengalaman yg tak terlupakan akan kehadiran dan kuasa Roh
Kudus melalui keindahan alam ciptaan. Mata kita terbuka untuk
melihat dunia disekitar kita yang digambarkan oleh penyair sebagai
dipenuhi dengan keagungan Tuhan, dipenuhi dengan kuasa dan kasih
Tuhan.
Disinipun, dipertemuan kaum muda katolik dari seluruh dunia ini,
kita mengalami kehadiran Roh Kudus yang nyata didalam kehidupan
Gereja. Kita menyaksikan Gereja sebagai tubuh Kristus, persekutuan
kasih orang beriman yang merangkul orang dari segala ras, bangsa,
bahasa, dan dari berbagai tempat dalam persatuan yang lahir dari
iman kepada Tuhan yang bangkit. Kuasa Roh Kudus tak henti-hentinya
memberi kehidupan kepada Gereja.
Melalui Rahmat sakramen Gereja, kuasa itu juga mengalir dalam diri
kita, seperti aliran air sungai yang memberi santapan kepada Roh
kita dan membawa kita semakin dekat kepada sumber hidup yang sejati
yaitu Kristus. Santo Ignatius dari Antiokia yang mati sebagai martir
di Roma pada awal abad kedua memberi definisi yang indah tentang
kehadiran kuasa Roh dalam hidup kita. Ia berbicara tentang Roh
sebagai sumber air hidup dalam hati kita yang membisikkan: “datang,
datanglah kepada Bapa” (bdk.Rm 6:1-9).
Kuasa Roh ini adalah Rahmat yang tidak kita peroleh karena perbuatan
baik kita tetapi murni sebagai anugerah Allah. Cinta Allah bekerja
jika kita membiarkannya bekerja dari dalam diri kita. Kita
membiarkan kasih Allah menghancurkan kekerasan hati kita, ketidak
pedulian kita, kelemahan hidup rohani kita, kebutaan kita sehingga
kita terbawa arus dunia jaman ini. Hanya dengan demikian kita
memberi kesempatan kepad Roh Kudus untuk membakar semangat kita,
imaginasi kita dan membentuk keinginan kita yang terdalam.
Oleh karena itu doa sangat penting bagi kita: doa harian, doa hening
kita didepan sakramen Maha Kudus, doa-doa liturgy Gereja. Doa adalah
murni tanggapan kita terhadap Rahmat Tuhan, Cinta yang nyata dalam
perbuatan, persekutuan kita dengan Roh yang tinggal dalam diri kita,
menuntun kita melalui Gereja kepada Bapa di Surga. Dalam kuasa Roh,
Yesus selalu hadir dalam hati kita, menanti kita untuk bercengkerama
dalam keheningan bersamaNya, untuk mendengar suaraNya and menjadi
satu dengan CintaNya and untuk menerima kuasa dari surga,
memungkinkan kita menjadi garam dan cahaya dunia.
Pada saat Yesus naik kesurga, Ia bersabda: ” Kamu akan menjadi
saksiku…sampai akhir jaman.”( Kis 1:8).. Di Australia, marilah kita
bersyukur kapada Tuhan atas anugerah iman yang telah diwariskan
seperti harta yang diwariskan dari generasi ke generasi di dalam
persekutuan Gereja. Di sini di Ocenia, marilah kita bersyukur secara
khusus untuk kepahlawanan para Misionaris, para pastor dan religius,
orangtua dan kakek-nenek, guru-guru, ketekis, yang membangun Gereja
di tanah ini; yang terberkati Maria MacKillop, Santo Peter Chanel,
yang terberkati Peter To Rot dan masih banyak lagi yang lain. Kuasa
Roh Kudus tampak dalam hidup mereka dan masih tetap bekerja sampai
saat ini pada mereka yang ditinggalknanya, dalam masyarakat yang
mereka bangun dan yang mereka wariskan kepada kalian.
Saudara kaum muda, saya ingin mengajukan pertanyaan. Apa yang akan
kalian wariskan kepada generasi yang akan datang? Apakah kalian
membangun fondasi yang kuat yang dapat bertahan? Apakah hidup kalian
terbuka untuk Roh Kudus ditengah-tengah dunia yang melupakan Tuhan,
yang menolak Tuhan dengan dalih palsu seperti kebebasan?
Bagaimana kalian menggunakan anugerah yang telah diberikan, kuasa
yang akan diberikan oleh Roh Kudus?Legasi apakah yang akan kalian
wariskan kepada generasi yang akan datang? Kelebihan apa yang akan
kalian ciptakan? Kuasa Roh Kudus tidak hanya menerangi dan menghibur
kita tetapi juga menuntun kita kepada masa depan, kepada kedatangan
kerajaan Allah. Betapa besar rencana penebusan dan pembaharuan
manusia oleh kabar Sukacita pada jaman baru ini!
Santo Lukas mengatakan bahwa Yesus adalah kepenuhan janji Allah; Ia
adalah Mesias yang mempunyai kepenuhan Roh Kudus yang diberikanNya
kepada dunia. Janji pencurahan Roh Kudus kepada manusia itulah yang
merupakan harapan dan pembebasan dari segala sesuatu yang
memperbudak kita.Ia memelikkan orang buta; membebaskan
tawanan,membangun persatuan dan kesatuan dalam keragaman (bdk Lk
4:18-19; Is 61:1-2). Kuasa ini mampu menciptakan dunia baru:
mampu “membaharui muka bumi” (Ps 104:30).
Dengan kekuatan Roh Kudus dan dari iman yang teguh, generasi muda
Katolik terpanggil untuk membangun dunia yang menerima, menghargai
serta menumbuhkan anugerah kehidupan, bukan dunia yang menolak dan
bahkan merusak kehidupan. Dunia baru dimana cinta bukanlah cinta
yang rakus, yang mencari ketenaraan diri sendiri tetapi cinta yang
murni, setia dan bebas, yang terbuka bagi sesama, menghormati harkat
manusia, mencari kebaikan, memancarkan suka cita dan keindahan.
Dunia baru dimana ada harapan yang membebaskan kita dari kedangkalan
hidup, dari apati yang membunuh jiwa dan meracuni relasi kita.
Sahabat-sahabat muda, Tuhan meminta kalian menjadi nabi jaman ini,
menjadi duta cintaNya, mengundang sesama kepada Bapa dan membangun
harapan masa depan bagi semua manusia.
Dunia membutuhkan pembaharuan seperti ini! Di banyak masyarakaat,
seiring dengan kemakmuran materi, terjadi kekeringan rohani:
kekosongan jiwa, ketakutaan yang tidak jelas penyebabnya, keputus-
asaan. Betapa banyaknya manusia jaman kita ini yang dalam pencarian
arti hidup ternyata sia-sia seperti membangun bak air yang kosong,
rapuh dan retak (Yer 2:13); arti hidup yang penuh hanya ditemukan
dalam mengasihi!
Inilah anugerah besar Kabar Suka cita: menyiratkan panggilan
manusia, panggilan untuk menemukaan kepenuhan dalan cinta. Inilah
pewahyuan kebenaran tentang manusia dan kebenaran tentang hidup.
Gereja juga memerlukan pembaharuan semacam ini! Gereja membutuhkan
iman kalian, idealisme kalian,dan kemurahan hati kalian. Dengan
demikian Gereja akan selalu muda dalam Roh (bdk Lumen Gentium 4).
Dalam bacaan kedua hari ini, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa
kita sudah menerima anugerah untuk membangun tubuh Kristus. Gereja
membutuhkan kawula muda. Gereja harus bertumbuh dengan kuasa Roh
Kudus yang memberikan sukacita pada masa muda kalian, yang
memberikan inspirasi untuk melayani Tuhan dengan sukacita. Bukalah
hati kalian bagi kuasa Roh Kudus!
Saya menghimbau ini secara khusus kepada kalian yang terpanggil
sebagai imam dan religius. Jangan takut mengatakan “YA” kepada
Yesus, temukan sukacita dalam melayani kehendakNya, berikan
sepenuhnya hidup kalian sepenuhnya untuk mengejar kekudusan dan
menggunakan semua talenta untuk melayani sesama.
Beberapa saat lagi kita akan merayakan sakramen Krisma. Roh Kudus
akan turun atas para calon. Mereka akan dimeterai dengan anugerah
Roh Kudus dan selanjutnya akan diutus menjadi saksi Kristus. Apakah
artinya dimeterai dengan Roh Kudus? Artinya akan diberi tanda yang
tidak akan bisa terhapus atau diganti dan akan menjadi ciptaan
baru.Bagi yang telah menerima anugerah ini segala sesuatu tidak akan
sama lagi.
Dibaptis dalam Roh (bdk 1 Kor 12;13) artinya dibakar dengan api
cinta Allah. Diberi minum dengan Roh artinya disegarkan dengan
rencana Allah yang indah buat kita dan buat dunia dan selanjutnya
menjadi sumber kesegaran rohani bagi sesama. Dimeterai dengan Roh
Kudus artinya tidak lagi takut bersaksi tentang Kristus. Membiarkan
kebenaran Injil memancar dengan cara kita melihat, berpikir dan
bertindak serta dalam kita bekerja untuk mewujudkan peradaban cinta.
Pada saat kita mendoakan calon Krisma, marilah kita mohon kuasa Roh
Kudus untuk membaharui sakramen Krisma kita juga. Semoga Tuhan
mencurahkan anugerahNya secara berlimpah kepada kita semua yang
hadir di Sydney, di Australia dan bagi semua manusia. Semoga kita
semua satu persatu di perbaharui dalam Roh kebijaksanaan,
pengertian, dengan Roh kebenaran dan keberanian, dengan Roh
pengetahuan dan hormat, dengan Roh keheranan akan kehadiran Allah.
Melalui pengantara Maria, Ibunda Gereja, semoga Hari Kawula Muda
Sedunia yang ke 23 ini menjadi pengalaman seperti yang terjadi pada
hari Pentekosta dimana kita semua terbakar oleh api cinta Roh Kudus,
dan kita semua pergi untuk mewartakan kebangkitan Tuhan Yesus serta
membawa semua orang kepada Tuhan…Amin.
Semoga Orang Muda Katolik Indonesia menjadi lebih berani dalam
mewartakan karya penyelamatan dalam situasi dan kondisi nyata dalam
kehidupan Bangsa dan Negara.Amin, 100% orang Katolik dan 100% orang
Indonesia.
Diterjemahkan oleh P. Ignatius Sudaryanto, CICM
Melbourne (stunas@yahoo. com)
Filed under Uncategorized | Comment (0)PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN Idul Fitri 1429 H./ 2008 AD

DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTAR AGAMA
Kristen dan Muslim: Bersama untuk Martabat Keluarga
PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN
Idul Fitri 1429 H./ 2008 AD
Kota Vatikan
Saudara-saudari Umat Muslim,
1. Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Selama bulan ini orang-orang Kristen yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam pengheningan refleksi Anda dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!
2. Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.
3. Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni Gaudium et Spes, yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modern, menegaskan: “Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya” (no. 47).
4. Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang,.
5. Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di masa saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh “sel dasar dari masyarakat”.
6. Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-keluaraga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antaragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.
7. Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhirnya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari melaksanakan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah subhanahu wa taala memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaian-Nya.
Jean-Louis Kardinal Tauran / Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata / Sekretaris
PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE
00120 Vatican City
Phone: 0039 06 698 84 321
Fax: 0039 06 698 844 94
E-mail: dialogo@interrel.va
dijual sibori world youth day ‘08
iseng iseng saya kunjungi ebay hari ini, setelah beberapa minggu terakhir jualan saya tidak laku
dan kali ini ada yang aneh dengan pencarian “world youth day” karena saya nemu power seller (ini julukan kepada ebayer yang oleh ebay dianggap memiliki berapa kriteria sebagai penjual terbaik) menjual barang barang yang menurut saya sedikit aneh untuk dijual tapi ternyata memiliki nilai tinggi.
Kenapa aneh? coba check disini

betul, salah satunya yang dijual adalah Sibori ex World Youth Day. Masih 2 hari lagi ending start from today, jadi kalo ada rekan yang mau nge-bid silakan log
lumayan kenang kenangan dahsyat dari World Youth Day karena tidak dijual bebas dan menurut yang jual this is the only one. satu satunya.
O ya dan dari sellernya juga memberikan bonus 500 hosti (isinya) jika andalah pemenang bidding ini. so have a nice bid ya …
kemiskinan di indonesia
![]() |
Beberapa waktu yang lalu dari sebuah milis yang saya ikuti (Keuskupan Agung Semarang) ada sebuah cerita dari Mgr Pujasumarta yang terus terang ‘mengganggu’ saya tentang kemiskinan di Indonesia. Berikut kutipannya;
Teman-teman Ytk.,
ada informasi menarik, sbb.:
“KEMISKINAN DI INDONESIA
Dimuat dirubrik Bebas Bicara, BERNAS Jogja, Jumat/12 September 2008
Bank Dunia menetapkan garis batas kemiskinan secara internasional US$ 2 per hari. Akibatnya 50 % rakyat Indonesia masuk dalam kategori miskin. Mudah bagi para pejabat menasehati warga agar sabar menghadapi belitan krisis ekonomi. Karena selama ini memang rakyat sudah terkondisi hidup prihatin. Terlebih paska kenaikan harga elpiji, kaum Ibu-lah yang paling repot mengatur anggaran belanja bulanan. Ironisnya “kebijakan” tersebut diberlakukan setelah rakyat dipaksa secara sistemik beralih dari minyak ke gas.
Lantas bagaimana dengan kehidupan para wakil rakyat? Apakah mereka mewakili kemiskinan dan penderitaan sama-sebangun seperti yang dialami mayoritas rakyat di akar rumput?
Menurut data terkini Departemen Keuangan RI gaji pokok anggota DPR (hanya) Rp 4.200.000/bulan. Tapi masih ditambah aneka tips. Antara lain tunjangan jabatan Rp 9.700.000/bulan, uang paket Rp 2.000.000/bulan, dan beras Rp 30.090/jiwa/ bulan bagi yang sudah berkeluarga.
Kemudian ada juga biaya operasional sehari-hari. Seperti untuk komunikasi intensif sebesar Rp 4.140.000/bulan, langganan listrik dan telepon Rp 4.000.000, rapat pansus Rp 2.000.000/undang- undang, dan fasilitas kredit mobil dinas Rp 70.000.000/orang/ per periode (2004-2009).
Selain itu, bila tugas ke luar kota/daerah mereka memperoleh pula ongkos dan bekal perjalanan. Rinciannya ialah sbb, tiket pulang-pergi sesuai daerah tujuan masing-masing, uang harian untuk daerah tingkat I Rp 500.000/hari, sedangkan untuk daerah tingkat II Rp 400.000/hari.
Masih ditambah anggaran pemeliharaan Rumah Jabatan Anggota (RJA). RJA di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan Rp 3.000.000/rumah/ tahun dan RJA Ulujami di daerah Jakarta Barat Rp 5.000.000/rumah/ tahun plus perabotan rumah lengkap (TV, Kulkas, Kipas Angin, Dispenser, Mesin Cuci, dll)
Menyaksikan nominal dan fasilitas di atas, tak heran bila banyak orang bernafsu mengikuti Pileg (Pilihan Legislatif) pada Pemilu 2009 mendatang. Tak terkecuali para selebriti. Para politisi dadakan tersebut tidak memikirkan kesejahteraan konstituen sama sekali. Yang penting ialah bagaimana gambar mereka dicoblos saat hari H dengan mengandalkan popularitas semu.
Padahal saat ini begitu banyak aset negara berpindah tangan ke pihak asing. Industri telekomunikasi kita sahamnya dikuasai Singapura, Malaysia, dan debutan baru Saudi Arabia. Raksasa RRC pun leluasa menggerus infrastruktur industri lokal dan pasar tradisional kita, yakni dengan mengekspor dari sayur-mayur, bolam lampu, kain batik, dan sampai celana dalam dengan harga dumping. Hal ini – menurut kesepakatan Millenium Development Goals (MDG) – termasuk kategori unfair trade.
Oleh sebab itu, ruh koperasi mesti dihidupkan kembali. Kita tidak membutuhkan Corporations (MNC/TNC) dengan mitos trickle down effect-nya. Kini zaman kebangkitan Coooperation, kesejahteraan seluruh warga negara musti menjadi tujuan bersama. Uni Eropa ialah turunan dari Cooperative Society-nya Bung Hatta.
Selain itu. secara lebih mendalam kita perlu menjalin kembali hubungan batin dengan Ibu Pertiwi. Menyitir pendapat Anand Krishna, negara ini bukan tanah dan air semata, tapi merupakan Bunda Nusantara.”
Apa yang dapat kita lakukan? Salam, doa ‘n Berkat Tuhan, + J. Pujasumarta
Filed under Berita Utama | Comment (0)