Injil Minggu Biasa XXII 31 Agt 2008 Mat 16:21-27

LHO LHA KOK BEGITU YA?
Injil Minggu Biasa XXII tahun A (Mat 16:21-27) berbeda nadanya dengan petikan yang dibacakan Minggu sebelumnya (Mat 16:13-20). Kali ini Yesus menyampaikan pemberitahuan yang pertama mengenai penderitaan, kematian, dan kebangkitannya. Lho lha kok sekarang bicara begitu? Baru saja (Mat 16:16) Petrus menyatakannya sebagai "Mesias, anak Allah yang hidup". Tentunya ia tokoh yang luar biasa. Tentu saja Petrus tak habis mengerti. Dengan spontan ia menegur Yesus agar tidak berpikir aneh-aneh. Tapi ia malah balik dibentak. Yesus yang tadinya menyebut Petrus berbahagia kini meng-iblis-iblis-kannya! Malah Petrus disebut-sebut sebagai batu sandungan segala. Padahal beberapa saat sebelumnya Yesus menyebutnya sebagai batu karang yang di atasnya akan dibangun umatnya dan alam maut tidak akan menguasainya. Selanjutnya dalam ay. 21-27 Yesus malah menandaskan, siapa yang mau mengikutinya harus menyangkal diri terlebih dulu, lalu memikul salib, dan setelah itu baru bisa disebut menjadi pengikutnya. Barangsiapa kehilangan nyawa karena dia akan memperolehnya, katanya pula. Ke mana Yesus hendak membawa kita? Apa maksud Injil menampilkan semua ini?
KEMESIASAN
Petrus yang mewakili para murid baru saja mengakui Yesus sebagai Yang Terurapi, Mesias, yakni dia yang ditugasi oleh Yang Mahakuasa untuk memimpin umatNya. Dialah yang kedatangannya sejak lama diharap-harapkan. Dan memang mereka mulai menyadari Yesus sebagai tokoh istimewa. Mereka menyaksikan pelbagai pengusiran roh jahat, macam-macam penyembuhan. Mereka juga mendengarkan pengajarannya yang memerdekakan batin. Tapi Injil ingin menumbuhkan kesadaran yang lebih utuh mengenai siapa Yesus itu, bukan hanya lewat tindakan-tindakannya saja. Menurut Mat 16:17 bukanlah manusia melainkan Bapa di surga yang menyatakan kepada Petrus siapa Yesus itu sesungguhnya: Mesias, anak Allah yang hidup. Kemesiasannya tidak pertama-tama berasal dari kesan hebat yang ada di mata orang, tetapi karena Allah sendiri berkenan kepadanya. Perkenan ilahi ini terungkap pada peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:17 Mrk 1:11 Luk 3:22) dan ditegaskan kembali dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mat 17:5 Mrk 9:7 Luk 9:35). Di situ juga terdengar suara dari langit yang menghimbau orang agar mendengarkan dia.
Mendengarkan dia juga berarti mulai mengenal siapa Allah Yang Mahakuasa yang mengutusnya, yakni Dia yang bisa dipanggil sebagai Bapa. Lebih lanjut, barangsiapa yang mau mendengarkannya dengan sungguh akan memahami peristiwa yang nanti terjadi pada diri sang Mesias ini, yakni ditolak para pemimpin agama, dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Semuanya terjadi sebagai akibat keteguhannya pada perutusannya tadi. Karena tidak menyangkal kemesiasannya yang sejati, ia nanti bahkan dituduh menghujat oleh Lembaga agama Yahudi; lihat Mrk 14:61-64 Mat 26:63-66. Rangkaian kejadian ini memang sulit diterima. Pemberitahuan mengenai penolakan, kematian dan kebangkitan tadi disampaikan hingga tiga kali dan tiap kali para murid dikatakan tidak memahami pernyataan tadi. (Pemberitahuan pertama: Mrk 8:31-9:1 // Mat 16:21-27 // Luk 9:22-26; kedua: Mrk 9:30 // Mat 17:22-23 // Luk 9:33-45; ketiga: Mrk 10:32-34 // Mat 20:17-19 // Luk 18:31-34.) Memang demikianlah kenyataannya. Satu-satunya cara untuk mengerti ialah mendengarkannya.
Setelah pemberitaan yang pertama, ketiga Injil langsung memberitakan penampakan kemuliaan Yesus di gunung. Lebih menarik lagi, kedua peristiwa yang berurutan ini disampaikan langsung setelah pengakuan Petrus mengenai kemesiasan Yesus. Urutan ketiga peristiwa tadi (pengakuan Petrus - pemberitahuan pertama kesengsaraan - penampakan kemuliaan) termasuk warta Injil juga. Ringkasnya, kemesiasan Yesus itu tidak menyangkal penderitaan. Ia justru menghayatinya sebagai jalan ke arah kebesarannya. Inilah pokok yang paling dalam dan sekaligus paling sulit diterima para murid Yesus. Hanya bisa dipahami oleh orang yang mempercayainya dengan tulus. Berupaya menerima kenyataan tadi menjadi bentuk nyata mengimaninya. Dengan demikian orang akan belajar mengakui ketergantungan pada Yang Mahakuasa.
PIKIRAN PETRUS
Dengan penuh spontanitas Petrus bermaksud mencegah agar Yesus tidak berjalan ke arah penolakan dan kematian tadi. Ia menegur Yesus dengan keras. Reaksi Yesus juga keras, amat keras. Petrus malah didampratnya sebagai "Iblis". Pembaca akan ingat pada peristiwa Yesus menghadapi godaan di padang gurun. Satu saat penggoda memperlihatkan seluruh kerajaan dunia dengan seluruh kemegahannya dan menawarkannya kepada Yesus asal ia mau bersujud kepadanya. Reaksi Yesus ketika itu (Mat 4:10) sama dengan yang kini diarahkan kepada Petrus: menghardik penggoda yang disebutnya "Iblis" dan mengusirnya pergi. Ditambahkannya kutipan ayat suci yang tegas-tegas mewajibkan orang menyembah hanya pada Tuhan Allah dan kepadaNya sajalah berbakti. Inilah yang dipegang Yesus di padang gurun. Terhadap Petrus kini Yesus berkata bahwa ia menjadi batu sandungan baginya. Maksud baiknya malah akan menjauhkan Yesus dari jalan kemesiasannya. Hal yang tadi tak berhasil dilakukan penggoda kini hendak diusahakan oleh Petrus.
Bentakan Yesus dalam Mat 16:23 maupun dalam 4:10 memang dapat dialihbahasakan sebagai "Enjahlah, Iblis!". Namun ada perbedaan kecil yang besar artinya bila kemungkinan yang ada dalam teks aslinya diperhatikan. Dalam 16:23 sebetulnya tidak hanya dikatakan kepada Petrus, "Pergi sana, Iblis!" seperti dalam 4:10, tetapi harfiahnya "Pergi sana ke belakangku Iblis!" Dalam konteks pengusiran, ungkapan "ke belakangku" jelas berarti "mundur pergi dariku", maksudnya menjauh, tidak lagi menghalang-halangi. Tetapi bila ungkapan "kebelakangku" tadi dibaca seolah-olah didahului dan diikuti tanda koma, akan tampil juga perintah agar pindah ke belakang. Jadi dalam hardikan menyuruh enyah tadi tersirat juga perintah agar Petrus tahu tempatnya yang sebenarnya, yakni di belakang Yesus, sebagai pengikutnya, dan bukan sebagai yang mau mengarah-arahkan dia yang baru saja diakuinya sebagai Mesias, anak Allah yang hidup tadi. Ada ajaran untuk tidak berusaha mengambil alih kepemimpinan. Bila diucapkan dengan suara lantang, pembaca teks asli atau terjemahan harfiah bisa menampilkan makna yang satu atau makna yang lain, bergantung apa berhenti sejenak pada awal dan akhir ungkapan "ke belakangku" tadi. Tanpa jeda, bentakan Yesus kepada Petrus tadi menjadi dampratan yang sama kerasnya dengan yang diarahkan pada penggoda di padang gurun. Bila diadakan jeda, memang hardikannya masih keras bunyinya, namun nadanya seperti seorang guru bijak yang mengingatkan muridnya agar menaruh diri pada tempat yang semestinya, yakni di belakang, mengikuti dan tidak menjadi penghalang, apalagi mengambil alih perannya.
Pembaca Injil pada zaman itu dapat memahami bila para murid pertama sulit menerima kenyataan salib dan prospek kebangkitan. Para murid dari generasi kedua dan selanjutnya sudah hidup dalam iman akan salib dan kebangkitan. Mereka sudah mengerti alasan pemberitahuan kesengsaraan tadi. Bagi mereka, makna kedua yang terdapat dalam teguran balasan tadi (yang timbul bila dibuat jeda sebelum dan sesudah "ke belakangku") memuat saran tersirat agar pemimpin umat tetap berada di belakang Yesus dan tidak berusaha merebut kedudukannya! Saran ini boleh jadi masih berarti pada zaman ini juga.
BARANGSIAPA MAU MENGIKUTI AKU...
Uraian di atas dapat membantu menjelaskan mengapa setelah mendamprat Petrus dengan cara tadi Yesus menambahkan serangkai tuntutan keras. Siapa yang mau mengikutinya, yakni yang mau berjalan di belakang dan tidak menaruh diri di muka atau menghalangi derap langkahnya itu harus berani juga menyangkal diri. Yang dimaksud dengan menyangkal diri di sini ialah menanggalkan praanggapan-praanggapan sendiri mengenai Yesus. Bukan tuntutan bermatiraga keras. Penyangkalan diri yang diminta Yesus berbeda. Orang diminta tidak lagi memegang pendapat dan keyakinan yang tidak cocok mengenai siapa Yesus itu, dan baru demikian dapat dengan tulus mengakui dia sebagaimana adanya. Dan penyangkalan diri ini ialah jalan berbagi salib dengannya dan mengimaninya. Bisa berat bila sikap keagamaan yang dipegang sudah membeku dan tidak berkembang, tidak lagi bisa menerima kenyataan iman, dan hanya bisa mempercayai pikiran-pikiran sendiri. Dalam hubungan itulah dibicarakan tentang "kehilangan nyawa karena aku akan memperolehnya." Menanggalkan pikiran sendiri dan meluangkan diri bagi dia yang hidup dalam iman kita.
Ay. 26 memuat pertanyaan retorik, "Apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya!" Gagasan dalam kalimat ini perlu dihubungkan dengan peristiwa godaan di padang gurun ketika Iblis menunjukkan kebesaran dunia (Mat 4:9). Yesus menolaknya dengan berpegang pada ayat Kitab Suci bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah. Kini kepada murid-muridnya dijelaskannya mengapa seluruh dunia tidak sepadan dengan kehidupan sejati yang perlu dijaga sampai akhir zaman. Mereka yang menjalani pilihan tadi akan mendapati diri berjalan bersama Yesus sendiri.
Salam hangat,
A. Gianto
Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XXI 24 Agt 2008 Mat 16:13-20 Yes 22:19-23

MESIAS, BATU KARANG, DAN KUNCI KERAJAAN SURGA
Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-20 (Injil hari Minggu Biasa XXI tahun A) Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus. Kali ini petikan Injil Matius mengajak pembaca mendalami sisi yang pertama. Hari Minggu berikutnya akan dilihat sisi yang lain. Akan diuraikan pula gagasan pokok dalam bacaan pertama (Yes 22:19-23) serta kaitannya dengan Injil.
Pokok pewartaan
Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.
Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian "Anak Manusia", seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.
Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah ("tetua, imam kepala dan ahli Taurat" ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.
Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 "Engkaulah Mesias" mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, "Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Matius menambahkan "anak Allah yang hidup" untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi "dari Allah". Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.
Siapakah "Anak Manusia" itu?
Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa "Anak Manusia" ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan "Anak Manusia" dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.
Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa "Anak Manusia" tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.
Bagi kalian, siapa aku ini?
Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, "Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?" Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan "Anak Manusia", melainkan "aku". Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada "mereka" - yakni para murid tadi. Terjemahan LAI "apa katamu" tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia "-mu" bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata "kalian" yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.
Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.
Batu karang dan kunci
Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya "petra", ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya "hades", Ibraninya "syeol") takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.
Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.
Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi "juru kunci gerbang surga" menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.
DARI BACAAN PERTAMA
Bacaan pertama (Yes 22:19-23) didasarkan pada gagasan penugasan resmi seorang kepala pemerintahan yang mewakili raja pada zaman kejayaan kerajaan Yudea yang berpusat di Yerusalem. Latar belakangnya demikian. Tahta di Yerusalem turun temurun diduduki oleh raja keterurunan Daud. Ada kepercayaan bahwa Tuhan telah menjanjikan kepada Daud bahwa keturunannya akan mendirikan rumah bagi Tuhan (yakni Bait Allah yang dibangun Solomon) dan Ia pun akan melindungi kekuasaan anak cucu Daud (duduk di tahta Daud) seperti terdapat dalam 2Sam 7. Berarti kehadiranNya di Bait dan kedudukan raja amat dekat satu sama lain. Rakyat melihat raja sebagai ujud manusiawi kehadirannNya. Urusan sehari-hari kerajaan tidak lagi langsung dijalankan raja sendiri melainkan oleh seorang kepala pemerintahan yang diangkat dan diberi penugasan resmi untuk itu. Demikian maka raja tidak lagi terikat urusan sehari-hari melainkan menjadi lambang manusiawi kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatNya. (Lambang lain ialah tempat kudus, Bait Allah di Yerusalem.) Dalam petikan kali ini digambarkan penugasan Hilkia sebagai kepala pemerintahan tadi. Disebutkan hal-hal ini:
1.. Ia dipanggil sebagai "hambaKu" (Yes 22: 20), maksudnya hambanya Tuhan sendiri dan bertugas menjalankan urusan-urusanNya. Tadinya raja sendiri-lah yang disebut demikian. Namun dalam perkembangannya kedudukan ini dijalankan oleh kepala pemerintahan. Nanti setelah kerajaan hancur, penguasa utama tetap memakai sebutan hamba Tuhan, dialah yang bertanggung jawab mengurusi umat dengan segala kesulitan dan penderitaan. Gagasan ini berkembang dalam Kidung Hamba Tuhan yang kemudian diterapkan juga pada Yesus.
2.. Tuhan akan mengenakan jubah kepada Hilkia (ay. 21a). Jubah ialah lambang kebesaran yang bisa dilihat orang banyak. Bila disertai ikat pinggang (ay. 21b),maka kebesaran ini menjadi makin nyata, karena ikat pinggang membuat jubah menempel pas pada badan pemakainya. Disebutkan pula (ay. 21c) bahwa ia memegang kekuasaan yang diberikan Tuhan sendiri.
3.. Tokoh seperti itulah yang memikul tanggung jawab memegang kunci "rumah Daud" (ay. 22). Bahkan ia dapat menyatakan orang termasuk atau tidak termasuk rumah tadi. Dan yang dinyatakannya demikian tidak dapat disangkal. Kekokohan kuasanya dijamin Tuhan sendiri (AY. 23).
Namun sebesar apapun kuasa kepala pemerintahan itu, kedudukannya tetap sebagai orang kedua. Kedudukan pertama dipegang sang raja keturunan Daud sendiri. Memang pada zaman kemudian bila raja keturunan Daud tidak ada lagi, sang kepala pemerintahan mewakilinya dan meneruskan kedudukan itu. Tetapi ia bukan raja sendiri. Inilah gagasan yang ada dalam petikan dari Yesaya yang dibacakan kali ini.
Apakah gagasan ini melatari alam pikiran pemberian kuasa kepada Petrus dalam Injil di atas? Kuasa Petrus memang kuasa mewakili kebesaran sang pemberi kuasa dan sekaligus memikul tanggung jawab menjalankan urusan-urusan orang pilihan sang pemberi kuasa sendiri - yang dalam alam pikiran Perjanjian Lama ialah sang raja keturunan Daud sendiri. Bagi pembaca Injil Matius, jelas siapa, yakni Yesus yang dalam bagian awal Injil digambarkan sebagai keturunan Daud.
Dalam Injil yang memberi kuasa kepada Petrus ialah Yesus. Dalam bacaan pertama, sang pemberi kuasa ialah Tuhan Sesembahan umat sendiri, yakni Dia yang telah berjanji kepada raja akan meneguhkan kekuasaannya. Pembaca Injil Matius dulu dapat menarik kesimpulan bahwa Yesus memegang kuasa sebagai orang pilihan Tuhan Perjanjian Lama dan sekaligus menjadi kenyataan Tuhan. Ia menyatu dengan Tuhan yang dikenal para leluhur iman. Gagasan dan kepercayaan seperti ini bisa mengejutkan. Tapi itulah yang diwartakan Injil.
Salam hangat,
A. Gianto
tokoh katolik dan kemerdekaan
dalam rangka (eh, dalam rangka itu kata yang biasanya dipakai oleh para panitia ya
turut memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia, ada sebuah artikel menarik dari rekan rekan milis di KAS (Keuskupan Agung Semarang) yang rasanya sayang untuk dilewatkan, dan semoga dapat menambah wawasan rekan rekan pembaca via-veritas tentang tokoh umat Katolik yang turut mewarnai kemerdekaan Indonesia.

Mgr. Albertus Soegijapranata
Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J (Surakarta, 25 November 1896 - Steyl,
Belanda, 10 Juli 1963) adalah seorang Vikaris Apostolik. Ia juga
merupakan uskup pribumi Indonesia pertama. Sebagai seorang Pahlawan
Nasional RI beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal,
Semarang.
Nama kecilnya adalah Soegija. Soegija lahir di sebuah keluarga Kejawen
yang merupakan abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta.
Belajar di Kolese Xaverius yang didirikan oleh pastor Van Lith SJ.
Sekolah ini pindahan dari sekolah dari Lampersari dari Semarang. Ketika
bersekolah, Soegijapranata dibaptis di Muntilan oleh Pastor Meltens,
dengan mengambil nama permandian Albertus Magnus. Dari didikan disinilah
kemudian ia berhasrat untuk menjadi imam maka ia dikirim ke Belanda
belajar di gymnasium, yang diasuh oleh Ordo Salib Suci (OSC) di Uden,
Belanda Utara, dimana ia belajar bahasa Latin dan Yunani. Rute
perjalanan ke Belanda mulai dari Tanjung
Priok-Muntok- belawan-Sabang- Singapore- Colombo-Terusan Suez terus ke
Amsterdam.
Kemudian masuk novisiat SJ di Mariendaal, Grave. Disini ia bertemu
dengan pastor Willekens SJ, yang kelak menjadi Vicaris Apostolik
Batavia. Pada 22 September 1922 Soegija mengucapkan kaul prasetia.
1923-1926 Belajar filsafat di Kolese Berchman, Oudenbosch.
1926-1928 Kembali ke Muntilan mengajar di kolese Xaverius Muntilan. Pada
Agustus 1928 Soegija kembali ke Belanda belajar teologi di Maastrich.
Pada tanggal 15 Agustus 1931 menerima sakramen imamat, ditahbiskan oleh
Mgr. Schrijnen, uskup Roermond di kota Maastrich. Namanya ditambah
Pranata sehingga menjadi Soegijapranata.
Tahun 1933 Soegijapranata kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di
paroki Kidulloji, Yogyakarta, selama satu tahun sebagai pastor pembantu.
Tahun 1934 ia dipindahkan ke Paroki Bintaran sampai tahun 1940.
Pada 1 Agustus 1940, Mgr. Willekens, vicaris Batavia, menerima telegram
dari Roma yang berbunyi : "from propaganda fide Semarang erected vicaris
stop, Albert Soegijapranata appointed vicar apostolic titular bishop
danaba stop you may concecrete without bulls" ditanda tangani oleh
Cardinal Montini ( kelak menjadi Paus Pius XII ). Soegijapranata
menjawab : "Thanks to his holiness begs benediction" .
Pada 6 November 1940 ia ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama
Indonesia oleh Mgr. Willekens SJ-vicaris Batavia, Mgr. AJE Albers
O.Carm-vicaris Malang, dan Mgr. HM Mekkelholt SCJ-vicaris Palembang.
Pada 1943, bersama Uskup Willekens SJ menghadapi penguasa pendudukan
pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus
dapat berjalan terus.
sumber link:http://id.wikipedia .org/wiki/ Sugijopranoto, _S.J,_Msgr

Slamet Rijadi , Pejuang Kemerdekaan Dari Kota Solo
Ignatius Slamet Rijadi (Solo, Jawa Tengah, 26 Juli 1927 – Ambon,
Maluku, 4 November 1950) adalah pahlawan nasional Indonesia. Anak dari
Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legium Kasunanan
Surakarta, ini sangat menonjol kecakapan dan keberaniannya, terutama
setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Kepahlawanan
Papan nama jalan Slamet Riyadi di SurakartaPada suatu peristiwa saat
akan diadakannya peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang yang dipimpin
oleh Tyokan Watanabe yang merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan
sipil kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta , yaitu
Kasunanan dan Praja Mangkunagaran, akan tetapi rakyat tidak puas. Para
pemuda telah bertekad untuk mengadakan perebutan senjata dari tangan
Jepang, maka rakyat mengutus Muljadi Djojomartono dan dikawal oleh
pemuda Suadi untuk melakukan perundingan di markas Ken Pei Tai (polisi
militer Jepang) yang dijaga ketat. Tetapi sebelum utusan tersebut tiba
di markas, seorang pemuda sudah berhasil menerobos kedalam markas dengan
meloncati tembok dan membongkar atap markas Ken Pei Tai, tercenganglah
pihak Jepang, pemuda itu bernama Slamet Rijadi.
Karir militer
Pada tahun 1940, ia menyelesaikan pendidikan di HIS ,ke Mulo Afd. B dan
kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi ,dan
memperoleh ijasah navigasi laut dengan peringkat pertama dan mengikuti
kursus tambahan dengan menjadi navigator pada kapal kayu yang berlayar
antar pulau Nusantara. Setelah pasukan Jepang, mendarat di Indonesia
melalui Merak, Indramayu dan dekat Rembang pada tanggal 1 Maret 1942
dengan kekuatan 100.000 orang ,dan walaupun memperoleh perlawanan dari
Hindia Belanda , tetapi dalam waktu singkat yaitu pada tanggal 5 dan 7
Maret 1942 , kota Solo dan Yogjakarta jatuh ketangan Jepang.
Slamet Rijadi merasa terpanggil membela ibu pertiwi, dan menjelang
proklamasi 1945 , ia mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah
kapal kayu milik Jepang, usaha Ken Pei Tai untuk menangkapnya tidak
pernah berhasil , bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi
berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari
pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam
kekuatan setingkat Batalyon , yang dipersiapkan untuk mempelopori
perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang
( Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X ).
Dalam perkembangannya terjadi pergantian pimpinan militer , Divisi X
dirubah menjadi Divisi IV, dengan Panglimanya Mayor Jenderal Soetarto
dan divisi ini dikenal dengan nama Divisi Penembahan Senopati, yang
membawahi 5 Brigade tempur . Diantaranya Brigade V dibawah pimpinan
Suadi dan mempunyai Batalyon XIV dibawah komando Mayor Slamet Rijadi ,
yang merupakan kesatuan militer yang dibanggakan. Pasukannya terkenal
dengan sebutan anak buah "Pak Met" . Selama agresi Belanda II ,
pasukannya sangat aktif melakukan serangan gerilya terhadap kedudukan
militer Belanda, pertempuran demi pertempuran membuat sulit pasukan
Belanda dalam menghadapi taktik gerilya yang dijalankan Slamet Rijadi.
Namanya mulai disebut-sebut karena hampir di-setiap peristiwa perlawanan
di kota Solo selalu berada dalam komandonya.
Sewaktu pecah pemberontakan PKI-Madiun, batalyon Slamet Rijadi sedang
berada diluar kota Solo, yang kemudian diperintahkan secara langsung
oleh Gubernur Militer II - Kolonel Gatot Subroto untuk melakukan
penumpasan ke arah Utara, berdampingan dengan pasukan lainnya, operasi
ini berjalan dengan gemilang.
Dalam palagan perang kemerdekaan II, Slamet Rijadi dinaikkan pangkatnya
menjadi Letnan Kolonel, dengan jabatan baru Komandan "Wehrkreise I" (
Penembahan Senopati ) yang meliputi daerah gerilya Karesidenan Surakarta,
dan dibawah komando Gubernur Militer II pada Divisi II , Kolonel Gatot
Subroto. Dalam perang kemerdekaan II inilah Let.Kol. Slamet Rijadi,
membuktikan kecakapannya sebagai prajurit yang tangguh dan sanggup
mengimbangi kepiawaian komandan Belanda lulusan Sekolah Tinggi Militer
di Breda Nederland. Siang dan malam anak buah Overste (setingkat Letnan
Kolonel ). Van Ohl digempur habis-habisan, dengan penghadangan,
penyergapan malam, sabotase . Puncaknya ketika Let.Kol Slamet Rijadi
mengambil prakarsa mengadakan "serangan umum kota Solo" yang dimulai
tanggal 7 Agustus 1949, selama empat hari empat malam. Serangan itu
membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan
penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara
frontal ketengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat-artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh.
Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, 109 rumah penduduk porak
poranda, 205 penduduk meninggal karena aksi teror Belanda , 7 serdadu
Belanda tertembak dan 3 orang tertawan sedangkan dipihak TNI 6 orang
gugur.
Setelah terjadi gencatan senjata , dan pada waktu penyerahan kota Solo
kepangkuan Republik Indonesia , dari pihak Belanda diwakili oleh
"Overste Van Ohl" sedangkan dari pihak R.I oleh Let.Kol. Slamet Rijadi.
Ov.Van Ohl demikian terharu, bahwa Let.Kol. Slamet Rijadi yang selama
ini dicari-carinya ternyata masih sangat muda . " Oooh ...Overste tidak
patut menjadi musuh-ku.... ." , Overste pantas menjadi anakku, tetapi
kepandaiannya seperti ayahku.
Pada akhir tahun 1949, sebagai penganut agama Katholik, Slamet Rijadi di
baptis dengan nama Ignatius di Gereja Room Katholik - Solo. Pada tanggal
10 Juli 1950, Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi, berangkat dengan
kapal Waikalo dan memimpin batalyon 352 untuk bergabung dengan pimpinan
umum operasi - Panglima TT VII - Kolonel Kawilarang, dalam penugasan
menumpas pemberontakan Kapten Andi Aziz di Makasar dan pemberontakan
Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori oleh Dr.Soumokil dan
kawan-kawan.
Riwayat Perjuangan
Patung Slamet Rijadi di depan Rumah Sakit AD Slamet Riyadi,
Surakarta Karir, Pangkat, Jabatan Kegiatan, Pendidikan, Operasi Militer
Waktu Siswa, MULO Afd.B Pertahanan Bumi Putra 1940
Sekolah Tinggi Pelayaran Rekrutmen Pemuda oleh tentara Jepang 1943
Navigator kapal kayu Pemberontakan kapal,milik Jepang 1945
Dan.Yon.Res. I, Divisi I Perang di Krsd. Solo melawan Jepang & Belanda
1945
Dan.Yon.Res. I, Divisi I Penumpasan pemberontakan PKI Madiun 1948
Dan.Wehrkreise I Perang Kemerdekaan II, Serangan Umum Solo 1949
Wakil Pemerintah RI Penyerahan Kota Solo 29-12-1949
Komando Yon.352 Mendukung Div.Siliwangi menumpas APRA di Jabar. 1949
Wakil.Panglima TT VII. Penumpasan Pemberontakan di Makasar, RMS Ambon
1950
Wakil.Panglima TT VII. Gugur di gerbang benteng Victoria, Ambon
4-11-1950
Brigadir Jendral Anumerta Kenaikan pangkat atas jasa almarhum 1950
sumber
link:http://kotasolo. info/index. php?option= com_content& task=view& id=214&\
Itemid=77

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (1900-1986) adalah salah
seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah seorang
pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu ia juga pernah menjabat
sebagai beberapa Menteri setelah Indonesia merdeka.
Masa kecil
Kasimo Hendrowahyono dilahirkan di Yogyakarta. Ia dibaptis secara
Katolik dan mendapat nama baptis Ignatius Joseph. Kemudian ia setelah
dewasa menjadi guru pertanian di Tegal dan Surakarta.
Aktif di bidang politik
Kasimo Hendrowahyono adalah salah satu pendiri partai politik Katholiek
Djawi yang lalu berubah nama menjadi Perkoempoelan Politiek Katholiek di
Djawa dan lalu menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI).
Volksraad
Sebagai anggota PPKI, Kasimo diangkat menjadi anggota Volksraad antara
tahun 1931 - 1942. Ia ikut menandatangani petisi Soetardjo yang
menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda.
Masa Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan awal, PPKI yang dilarang oleh Jepang dihidupkan
kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi Partai Katolik
Republik Indonesia. Antara tahun 1947-1949 ia duduk sebagai Menteri Muda
Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan
Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau
Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjabat sebagai menteri.
Pada masa Agresi Militer II (Politionele Actie) ia bersama menteri
lainnya yang tidak dikurung Belanda bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Lalu ketika bisa kembali ke Yogyakarta ia memprakarsai kerja sama
seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.
Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Kasimo duduk sebagai wakil
Republik Indonesia dan kemudian setelah RIS dilebur sebagai anggota DPR.
Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap ia menjabat sebagai Menteri
Perekonomian.
Kasimo menolak Kabinet yang diprakarsai Soekarno dan terdiri dari empat
partai pemenang pemilu 1955: PNI, Masyumi, NU dan PKI. Kala itu Masyumi
dan Partai Katolik Indonesia yang satu-satunya menolak bekerja sama
dengan PKI di kabinet.
Masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru, Kasimo diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan
Agung Republik Indonesia.
Referensi
* Ensiklopedi Nasional Indonesia (1991)
sumber
link:http://id.wikipedia .org/wiki/ Ignatius_ Joseph_Kasimo_ Hendrowahyono
Yosaphat Sudarso-Yos Sudarso
Laksamana Madya Yosaphat Sudarso (Salatiga, 24 November 1925–Laut
Aru, 13 Januari 1962) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Beliau
gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran Laut Aru pada masa
kampanye Trikora. Namanya kini diabadikan pada sebuah KRI dan pulau.
sumber link: http://id.wikipedia .org/wiki/ Yosaphat_ Sudarso
berkatitan dgn Yos Sudarso ,silahkan baca juga:
Pertempuran Laut Aru
sumber link: http://id.wikipedia .org/wiki/ Pertempuran_ Laut_Aru