Apa itu Misteri Ekaristi?
Yesus hadir di dunia sekarang ini dengan berbagai cara, tetapi Ekaristi adalah saat di mana Yesus hadir secara paling istimewa. Saat Misa, imam mengucapkan doa khusus yang merupakan pengulangan kata-kata Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir bersama dengan para murid-Nya, “Inilah Tubuh-Ku. Inilah Darah-Ku.” Dengan kuasa Allah, Yesus hadir dalam Ekaristi saat imam mengucapkan kata-kata tersebut. Meskipun yang kita lihat hanyalah sepotong hosti putih yang kecil, yang bentuknya seperti roti dan rasanya juga seperti roti, namun demikian sejak saat konsekrasi (saat imam mengucapkan doa tersebut) hosti bukan lagi roti, melainkan Tubuh dan Darah Yesus yang hadir dalam Ekaristi. Yah, memang sulit untuk memahaminya – malahan, rasanya tidak mungkin membayangkannya. Namun, itulah kebenaran yang disampaikan Yesus kepada kita, dan kita percaya pada-Nya. Banyak orang yang mempunyai pengalaman yang menakjubkan mengenai kehadiran Yesus saat mereka menerima Ekaristi dalam Komuni Kudus. Yesus mengasihi kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Ia ingin senantiasa bersama-sama kita sampai akhir jaman. Sebaliknya, Ia pun berharap kita mau membalas kasih-Nya. Yesus menantikan balasan cinta kita kepada-Nya dalam Ekaristi. Kita dapat mengatakan pada-Nya bahwa kita mencitai-Nya ketika kita menerima Komuni Kudus dan ketika kita berdoa kepada-Nya kapan pun juga.
sumber : My Friend; St. Thomas Corner; www.daughtersofstpaul.com/myfriend
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XI/A 15 Juni 2008 (Mat 9:36-10:8 Kel 19:2-6)
PENGABDIAN RASUL DAN KEBUTUHAN UMAT
Rekan-rekan yang budiman!
Mat 9:36-10:8 yang dibacakan pada hari Minggu XI tahun A ini berlapis-lapis wartanya. Disebutkan dalam 9:36-38 bagaimana Yesus tergerak hatinya melihat orang banyak mengharapkan pertolongan dan dampingan. Ia menganjurkan para muridnya memohon kepada Yang Mahakuasa agar mengirim pekerja-pekerja menuai hasil yang sudah tersedia. Kemudian dalam 10:1-4 diberitakan peresmian keduabelas rasul, lengkap dengan daftar nama serta pemberian kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan dari segala penyakit dan kelemahan. Selanjutnya dalam 10:5-8 diceritakan bagaimana para rasul diutus untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan.
DUA ARAH PERUTUSAN
Pada akhir Injil Matius diceritakan, para rasul diutus untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Mat 27:19). Tetapi ini baru terjadi setelah kebangkitan. Ketika Yesus masih di dunia, seperti disebutkan dalam petikan hari ini, ia mengutus mereka hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel. Dengan jelas bahkan disebutkan agar mereka tidak mendatangi wilayah Samaria, apalagi negeri asing dan orang luar. Baru setelah kebangkitanlah pengajaran Yesus terbuka bagi semua orang. Dan murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia. Mereka akan menemukan cara-cara menyampaikannya kepada orang-orang yang tadinya tidak diperhitungkan. Karena mereka yang pertama-tama dituju telah menolak, ajakannya kini akan dilimpahkan kepada orang-orang lain. Begitulah penjelasan adanya dua arah perutusan.
Dalam Injil Matius, sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umatnya, yakni Israel. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius. Dia itu Imanuel yang jauh-jauh hari sebelumnya telah dinubuatkan Yesaya (Yes 7:14). Dia diperkenalkan sebagai raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tapi didatangi dengan penuh hormat oleh orang-orang bijak dari Timur.
Yesus diutus kepada orang-orang yang tak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Dia mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Mereka seperti domba yang kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini. Para rasul diberi kuasa oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu. Kuasa rasuli ini seperti itu masih ada dalam komunitas orang beriman. Karena itu Gereja dapat menjadi pelayan kemanusiaan. Terutama pada saat-saat kemanusiaan membutuhkan pegangan. Tidak usah kita sempitkan pembicaraan pada masalah-masalah yang menyangkut struktur kepemimpinan dalam Gereja. Ada sejarah yang panjang yang mendasari pengaturan kelembagaan di dalam komunitas Gereja. Lebih berguna berusaha melihat bagaimana Injil hari ini mengajarkan bahwa kuasa melayani itu memang asalnya dari Yesus sang utusan Allah sendiri. Kuasa itu kuasa yang diabdikan pada umatNya. Kuasa ini sakral, baik bagi pengemban maupun bagi umat. Tidak bisa diklaim oleh perorangan. Yang mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya.
Menurut Matius para rasul diikutsertakan dalam tugas memberitakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” dan membawakan kesembuhan (Mat 10:7-8). Berwarta dan menyembuhkan, itu semua telah dijalankan Yesus sendiri. Masih ada satu kegiatan lain yang dilakukannya, yakni mengajar tentang siapa itu dirinya dan siapa Allah yang diperkenalkannya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit, murid-murid akan betul-betul diikutsertakan di dalam kegiatan mengajar (Mat 27: 19). Baru setelah semuanya terjadi. Dengan kata lain, baru setelah kebenaran yang diajarkan ditegaskan oleh kuasa ilahi sendiri. Untuk sementara kini mereka masih belajar memahami kebenaran yang dibawakan Yesus dalam pewartaan dan penyembuhan.
Dalam ay. 8 para rasul diminta memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima dengan cuma-cuma pula. Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya mereka yang berjiwa merdeka seperti ini dapat mewartakan dan menyembuhkan orang lain dalam macam-macam arti dan wujud. Tak terbatas pada hal-hal yang lazim dikenal. Iman yang hidup mengambil wujud yang tak terduga-duga. Inilah kekuatan iman dan inti kegiatan rasuli.
DUABELAS RASUL
Daftar keduabelas rasul dalam Mat 10:2-4 mengikuti Mrk 3:16-19 yang menjadi dasar Luk 6:14-16 pula. Ada beberapa perubahan dalam daftar Matius. Nama Andreas, yang ada dalam urutan ke empat dalam daftar Markus kini ditempatkan pada urutan kedua, boleh jadi untuk mendekatkan kepada Simon saudaranya. Matius juga mengubah “Matius dan Tomas” dalam Markus menjadi “Tomas dan Matius pemungut cukai”, demi enaknya gaya bahasa. Namun tambahan yang paling penting yang dibubuhkan Matius ialah penyebutan bahwa Simon ialah yang rasul yang pertama. Dalam Injil Matius memang Simon lebih ditonjolkan sebagai yang pertama dari antara para rasul. Simon itu juga yang nanti dalam Injil Matius (16:17-19) digambarkan mendapat kedudukan khusus sebagai dasar umat dan juru kunci Kerajaan Surga.
Dalam Injil Matius kata “rasul” hanyalah muncul satu kali, yakni dalam Mat 10:2, begitu juga dalam sumber Matius yang masih kita lihat dalam Mrk 6:30. Injil Lukas di lain pihak lebih sering memakai kata itu, boleh jadi karena Lukas melihat rasul sebagai jabatan yang ada dalam komunitas yang dikenalnya. Bagaimanapun juga, rasul itu artinya utusan. Mereka diberi kuasa menyampaikan berita dan mengerjakan urusan atas nama yang mengutus. Utusan hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang tepercaya, baik di mata yang mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.
Keduabelas rasul itu lambang duabelas suku Israel. Gagasan duabelas suku ini berkembang sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh karena itu dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau membangun diri sebagai umat baru yang dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri. Amat berbeda dengan pandangan yang terpancang pada pegangan yang sudah-sudah dan yang makin membatu, pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah tanpa arti lagi, pada hukum yang menyesakkan, pada rasa takut melulu.
DARI BACAAN PERTAMA (Kel 19:2-6)
Spiritualitas kerasulan di atas erat hubungannya dengan gasasan pokok dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana umat yang berjalan menuju Tanah Terjanji kini tiba di padang Sinai, dan berkemah di depan gunung. Musa yang memimpin mereka naik menghadap Yang Maha Kuasa di atas gunung untuk mendengarkan sabdaNya dan menyampaikannya kepada umat.. Di sana ia mendengar bahwa bila umat sungguh-sungguh mendengarkan sabdaNya dan berteguh pada hukum-hukum perjanjianNya maka umat akan menjadi “harta kesayanganNya”, artinya dekat padaNya dan diperhatikan secara khusus. Umat akan menjadi “kerajaan imam”, artinya mereka menjadi sekumpulan orang yang menjadi pengantara seluruh umat manusia dan seluruh bumi ke hadapan Yang Maha Kuasa. Tugas ini mulia walaupun berat. Namun umat akan menjadi “bangsa yang kudus”, maksudnya, dikhususkan dari antara bangsa.-bangsa lain. Tentunya bukan untuk memisahkan diri belaka, melainkan dikhususkan agar dapat menjalankan penugasan menjadi pengantara tadi.
Pengertian-pengertian khas “bangsa kesayangan”, “kerjaan imam”, “bangsa khusus” di atas mendasari kerohanian dalam penugasan kedua belas rasul dalam Mat 10:1-8. Mereka diberi kuasa mengusir roh jahat, artinya menjauhkan hal-hal yang bisa menghalangi manusia mengalami kehadiran Allah yang memberi kelegaan. Juga mereka diberi kuasa menyembuhkan dari penyakit dan kelemahan. Ungkapan ini sama cakupannya dengan mengusir roh jahat. Mereka diberi kuasa. Namun pelaksanaannya dipercayakan kepada masing-masing. Di situlah terletak keluhuran panggilan rasuli. Menurut Mat 10:5 para rasul diutus. Mereka kini diminta mengamalkan kuasa yang dipercayakan kepada mereka untuk melayani orang-orang.
MEMBUAT TUAIAN BERLIMPAH?
Dalam Injil, musim menuai kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya. Orang-orang pada zaman itu hidup dalam harapan akan datangnya seorang pemimpin yang akan membawa mereka ke jalan yang aman. Orang-orang butuh pegangan. Dan kegiatan Yesus di tengah-tengah banyak orang pada zamannya menjadi tanda bahwa kini Allah mendatangi umatnya dalam diri tokoh ini. Banyak orang berhasrat mendekat dan memperoleh sesuatu darinya. Musim menuai sudah tiba.
Ajakan meminta agar empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja dimaksud agar tuaian makin utuh dan melimpah. Bila tidak ada cukup penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tak berguna lagi. Begitulah jalan pikirannya. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim tuaian. Minat dan harapan yang besar di kalangan umat akan sia-sia bila tak ada cukup orang yang melayaninya. Mereka akan tetap antre di luar. Siapa yang tidak iba hati melihat keadaan ini?
Mengapa bukan para murid yang diminta agar mencari dan menemukan penuai-penuai, mengapa empunya tuaian-lah yang diminta mengirim pekerja-pekerja? Boleh jadi memang ada hal yang hendak ditonjolkan. Diajarkan sikap melepaskan klaim bahwa kerasulan yang begini atau yang begitu adalah urusan si rasul sendiri: jika sukses ya karena kerjanya baik, kalau gagal ya karena kurang efisien. Pemikiran seperti ini kiranya justru mau dijauhi. Sering dalam pelaksanaan kerasulan para tokoh bersitegang mengenai cara mana akan lebih jitu, siapa yang lebih cekatan menjalankan urusan. Kerajaan Surga memakai ukuran-ukuran lain. Berhasil tidaknya penuai boleh jadi hanya Dia saja yang tahu. Karena itu kegiatan rasuli yang sejati itu kegiatan yang membawa orang makin mendekat kepada Dia yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dariNya sendiri.
Salam hangat,
A. Gianto
from http://mirifica.net/artDetail.php?aid=5007
Filed under Renungan Mingguan | Comments OffRenungan Harian 12 Juni 2008
Renungan Harian 12 Juni 2008
* Bacaan I : 1Raj 18-41-46
* Bacaan Injil : Mat 5:20-26
Renungan
Ada seorang pemarah yang ngeri membaca teks tersebut diatas. “Wah,aku bakal masuk neraka karena aku sering marah-marah. “Lalu, dia mulai merenung mengapa dalam kehidupan ini lebih mudah memilih marah daripada berdamai. Lebih mudah menuduh orang lain dan membenarkan diri sendiri. Lebih mudah menunjuk orang dengan satu jari telunjuk padahal kalau dia sadari empat jari yang lain menunjuk dirinya sendiri. Mengapa?
Manusia sebenarnya lebih ingin berdamai daripada bertengkar, lebih memilih punya teman daripada punya musuh. Lalu mengapa ada orang lebih memilih marah dan menilai orang lain negatif? Mengapa tidak memilih untuk menerima dan memberikan banyak toleransi kepada orang lain? Maka, manusia harus kembali ke hati nuraini nya sendiri, kembali ke fitrahnya – keadaan awal saat Allah menciptakan alam semesta beserta isinya baik adanya – hidup rukun dan damai. Maukah kita ikut membangun dunia yang dikehendaki Allah sedari mula?
Tuhan, jadikan aku mejadi pembawa damai jika terjadi perselisihan dan kebencian. Amin
from http://mirifica.net/harianDetail.php
Filed under renungan harian | Comments OffRenungan Harian 10 Juni 2008
Selasa, 10 Juni 2008
* Bacaan I : 1Raj 17:7-16
* Bacaan Injil : Mat 5:13-16
Renungan
Biasanya kita berpikir bagaimana kita menjadi garam bagi orang lain. Silahkan saja. Namun jangan hanya berpikir menjadi garam untuk mengasinkan orang lain. Maukah mengubah diri menjadi garam lebih dahulu?
Pernahkah terpikir bagaimana menjadi garam? Mudah sekali. Yang paling utama harus dimiliki untuk menjadi garam adalah kerelaan berubah! Karena garamnya itu asalnya dari air laut yang dijemur supaya kering dan dibolak-balik supaya berubah menjadi garam. Jadi apakah Anda siap menjadi garam? Siap berubahkah Anda? Siapkah anda meninggalkan kehidupan anda yang lamadan menjadi pribadi baru yang sudah diubah? Perubahan dalam masyarakat hanya akan terjadi bila banyak orang yang mau mulai mengubah dunia dengan mulai mengubah dirinya sendiri lebih dahulu.
Tuhan, menjadi garam bukan hanya sekedar mengasinkan, tetapi yang terutama adalah diri sendiri mau berubah. Bantulah aku agar sanggup berubah. Amin.
from http://mirifica.net/harianDetail.php
Filed under renungan harian | Comment (0)Schedule Perjalanan Paus untuk World Youth Day
Vatikan telah merilis schedule untuk Paus Benedict XVI dibulan Juli ke Sydney, Australia dalam rangka World Youth Day yang ke 23.
Bapa Paus akan meninggalkan Roma hari Sabut pagi, 12 Juli, mendarat di Darwin dan dilanjutkan perjalanan ke Sydney’s Richmond airport.
Setelah sampai di Sydney, Bapa Paus akan berlibur beberapa hari. Vatikan tidak menyebutkan dimana Bapa Paus akan tinggal.
Tanggal 17 Juli, Bapa Paus akan memberikan kemunculan pertamanya didepan public pada welcoming ceremony di Sydney’s Government House, dimana beliau akan bertemu dengan Gubernur Jenderal dan Prime Minister. Lalu dengan kapal, beliau akan pergi ke Sydney harbour untuk bertemu dengan kaum muda yang merayakan World Youth Day.
Tanggal 18 Juli, Bapa Paus akan memimpin perayaan ekaristi di Sydney Katedral, kemudian bertemu dengan para pemimpin agama lain. Kemudian beliau akan makan siang bersama grup kecil dari World Youth Day participants, kemudian membuka Stations of the Cross at St. Mary’s Katedral. Sore harinya beliau akan bertemu dengan kaum muda dari Sacred Heart church of Notre Dame University.
Tanggal 19 Juli, beliau akan memimpin Misa di katedral, makan siang bersama para Uskup, kemudian ke Randwick racetrack, tempat diselenggarakannya World Youth Day festival.
Tanggal 20 Juli, Bapa Paus akan menyelenggarakan Misa di Randwick, penutupan World Youth Day ke 23. Malam harinya beliau akan berbicara kepada penyelenggara dari kegiatan World Youth Day.
Tanggal July 21, setelah Misa pribadi, Bapa Paus akan mengucapkan salam perpisahan kepada penyelenggara World Youth Day beserta seluruh organizers and participants, kemudian melanjutkan perjalanan ke Sydney airport untuk memulai perjalanan panjang kembali ke Roma
Filed under World Youth Day'08 | Comment (0)Injil dan bacaan pertama MgBiasa X/A 8 Jun 08 (Mat 9:9-13 Hos 6:3-6)
PANGGILAN DALAM HIDUP SEHARI-HARI
Rekan-rekan yang baik!
Pada hari Minggu Biasa X tahun A ini dibacakan Mat 9:9-13. Petikan itu berawal dengan kisah Yesus mengajak seorang pemungut cukai yang bernama Matius untuk menjadi pengikutnya (ay. 9) dilanjutkan dengan makan bersama dengan para pemungut cukai dan para pendosa (ay. 10-13). Tindakan ini mengundang tanda tanya dari pihak kaum Farisi. Tetapi Yesus menjelaskan mengapa ia justru mau bergaul dengan orang-orang yang biasanya disingkiri. Apa maksud kutipan dari Hos 6:6 pada ay.13a? Apa Warta Gembira seluruh petikan ini?
PANGGILAN MATIUS
Kisah ini sejajar dengan yang terdapat dalam Mrk 2:14 dan Luk 5:27. Dalam Injil Markus dan Lukas, nama pemungut cukai itu ialah Lewi. Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul. Injil Matius menyebutnya Matius, salah satu dari keduabelas rasul. Penyusun Injil Matius mengganti nama Lewi (dari sumbernya, yakni Injil Markus) menjadi Matius untuk menghubungkan tokoh ini dengan Matius, salah seorang dari dua belas rasul, yang dalam daftar para rasul dalam Mat 10:3 jelas-jelas disebut pemungut cukai. Daftar para rasul dalam kedua Injil lain tidak menyebut pekerjaan Matius, lihat Mrk 3:18 dan Luk 6:14. Apakah kisah ini kisah panggilan seorang rasul yang namanya Matius yang pekerjaannya memang pemungut cukai atau kisah panggilan pemungut cukai yang bernama Lewi sebetulnya bukan soal yang penting. Yang hendak disampaikan di sini ialah panggilan orang yang biasanya dijauhi kaum baik-baik pada saat itu. Maklum pemungut cukai zaman itu dipandang sebagai orang yang diupah penguasa untuk memeras.
Diceritakan bagaimana Yesus memanggil orang yang sehari-hari bekerja memungut cukai menjadi pengikutnya. Ketiga Injil menggambarkan bagaimana ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus. Sudah sejak awal identitas orang ini kabur. Hanya ada satu hal yang sama-sama dikatakan ketiga Injil, yakni waktu itu ia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai. Tidak jelas apa ia sudah berprofesi sebagai pemungut cukai atau baru magang. Pembaca dibiarkan menduga-duga. Yang penting orang itu diajak Yesus menjadi muridnya. Juga penting diingat bahwa ajakan ini diberikan kepada orang yang sedang menjalankan pekerjaan yang waktu itu dianggap pekerjaan yang kurang terhormat. Apakah Yesus hendak menunjukkan bahwa orang seperti ini juga boleh diajak? Kita diminta ikut mempertimbangkan arti tindakannya itu. Apakah ia mau “menyelamatkan” orang tadi dari pekerjaan yang akan menyeretnya lebih jauh ke arah yang keliru? Bisa saja kita bertanya demikian. Ayat itu sebaiknya menjadi titik tolak pemikiran, dan tidak langsung dijadikan dasar anggapan-anggapan saleh mengenai panggilan menjadi murid Yesus.
Perkataan Yesus “Ikutilah aku!” itu berisi ajakan menjadi murid, bukan sekedar mengikut, melainkan belajar melihat kehidupan ini dengan bantuan guru itu. Juga dapat dikatakan melihat jalan yang sedang ditempuh sang guru tadi. Tidak berarti mencontoh atau meniru begitu saja. Cara itu malah tidak membuat yang bersangkutan bisa mandiri. Ajakan itu diterima. Dikatakan Matius bangkit dan mengikut dia. Begitulah akhirnya memang menjadi muridnya. Mungkin bagi orang sekarang akan lebih jelas bila dikatakan Matius memperlihatkan komitmennya.
Rupa-rupanya Matius melihat Yesus sebagai tokoh yang memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan. Pembaca Injil dapat membayangkan apakah hal itu dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Pasti sebelumnya Matius pernah mendengar mengenai Yesus. Mungkin pernah juga ikut dalam pengajarannya di satu tempat. Yang jelas sekarang ia mempertimbangkan tawaran Yesus. Boleh jadi ia juga pernah bertemu dengan murid Yesus dan mendengar tentang guru itu. Kini ia merasa tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.
SIKAP BERAGAMA YANG TERBUKA
Disebutkan bahwa Yesus kemudian makan bersama banyak “pemungut cukai” dan “kaum pendosa”. Mereka ini orang-orang yang semestinya dijauhi orang yang benar atau orang yang merasa demikian. Anggapan inilah yang membuat kaum Farisi mempertanyakan mengapa Yesus bergaul dengan orang-orang yang semestinya disingkiri itu. Memang kalangan Farisi mau menerima Yesus sebagai rekan, sebagai sesama yang mau mengamalkan agama. Tetapi, pikir mereka, kok dia malah berkelakuan demikian?
Marilah kita mencoba sekadar mengikuti jalan pemikiran orang Farisi. Makan di rumah pemungut cukai bersama orang-orang seperti dia dan pendosa lain bisa berarti makan hidangan yang dibayar dengan penghasilan yang tidak sah menurut hukum agama, bahkan boleh jadi juga makan makanan yang tak halal, atau paling sedikit memakai piring mangkuk yang belum dibersihkan menurut aturan agama. Lebih parah lagi, bergaul dengan orang-orang tipis keagamaannya itu bisa menumpulkan sikap keagamaan sendiri dan condong mengikuti cara hidup para pendosa itu. Sikap mereka penuh dengan perhitungan “jangan-jangan” yang membelenggu kemerdekaan batin.
Kaum Farisi sebenarnya mau juga mendekati dan mengajak pendosa bertobat dan kembali ke jalan benar. Tapi jangan mulai kompromi, apalagi main-main dengan ajaran Taurat! Bagaimana guru tenar yang ini – Yesus – kok mau mengikuti caranya sendiri? Begitulah mereka mengajak bicara para murid Yesus. Mau “menyelamatkan” mereka dari pengajaran yang serong ini? Mau mencari tahu? Kita para pembaca Injil boleh membayangkan kemungkinan-kemungkinannya. Sekarang juga sering orang ditanya mengapa iman kristen itu begini begitu oleh mereka yang boleh jadi mau menawarkan jalan yang mereka anggap lebih cocok.
Ketika mendengar murid-murid berdiskusi dengan orang Farisi, Yesus datang menyela dan mengucapkan pepatah: bukan orang sehatlah yang butuh tabib, tapi orang sakit. Dan memang para tabib tidak boleh takut mendatangi orang sakit. Orang yang hidup di luar Taurat – orang yang tipis agamanya dalam hitungan kaum Farisi – mestinya didatangi, bukan dijauhi! Yesus memperkenalkan spiritualitas baru kepada orang-orang zaman itu. Ringkas. Praktis.
KUTIPAN DARI Hos 6:6
Pada akhir petikan ini, dalam ay. 13a, penginjil menambahkan kata-kata Yesus yang mengutip Hos 6:6. Orang-orang dihimbau agar mencoba mengerti makna ayat yang mengatakan bahwa Allah menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan. Kutipan itu kini dipakai untuk menegaskan bahwa Yesus datang untuk memperkenalkan kerahiman ilahi, tapi kaum Farisi menuntut diadakannya korban persembahan. Mereka malah menjauhkan inti hukum Taurat sendiri. Pembaca Injil Matius diajak mendalami siapa yang kini mereka ikuti itu: Yesus yang hidup dan membuat orang semakin mengenal kebaikan ilahi. Ataukah mereka merasa akan lebih aman bila menepati prinsip-prinsip ajaran agama belaka.
Ditekankan oleh nabi Hosea bahwa Allah ingin menyadarkan umatNya agar tidak membelenggu diri dengan anggapan bahwa mereka bisa mencapai keselamatan dengan menjalankan kurban seteliti-telitinya. Memang kurban persembahan diwajibkan supaya orang ingat dan hormat pada kewibawaan Yang Mahakuasa. Namun Hosea mengajak orang mengenali apa yang sesungguhnya dikehendakiNya. Ia bukannya menginginkan agar didupai dan diberi persembahan. Ia ingin agar umat mengenal kerahimanNya. Dan dengan demikian menemukan keselamatan. Bagaimana? Dengan ikut mengujudkannya dalam hidup sehari-hari. Itulah yang diwartakan Hosea. Dan dalam Injil Matius, warta Hosea ini digarisbawahi Yesus. Lebih dari itu, Yesus ingin agar orang banyak mengerti bahwa ia datang untuk membuat warta Hosea itu lebih dekat, lebih kelihatan, dan bisa dihayati.
SEKALI LAGI TENTANG AJAKAN MENGIKUTI DIA
Petikan hari ini berawal dengan kisah panggilan Matius. Dalam ay. 9 memang tidak muncul kata “memanggil”. Tetapi tindakan Yesus mengajak Matius itu ialah panggilannya. Pada akhir kutipan, dalam ay. 13b, Yesus mengatakan bahwa ia datang bukan untuk “memanggil” orang benar melainkan orang berdosa.
Panggilan ialah ajakan yang ditawarkan, bukan dipaksakan. Karena itu bisa ditolak, diingkari, didiamkan oleh yang dipanggil. Hal ini diolah lebih lanjut di dalam perumpamaan mengenai pesta perkawinan yang diselenggarakan seorang raja dalam Mat 22:1-14. Para undangan menolak datang atau mendiamkan undangan dan malah memperlakukan buruk pesuruh raja itu (ay. 5-6). Maka ia pun menghukum mereka. Ia kemudian mengutus pesuruh untuk memanggil siapa saja yang mereka temui di jalan, “orang jahat dan orang baik” (ay. 9-10). Dan tempat perjamuan itu kini penuh dengan orang-orang ini. Mereka yang sebetulnya boleh merasa beruntung. Mereka tadinya tak masuk hitungan, tetapi kini mendapat kesempatan luas. Semuanya beres? Belum selesai perumpamaannya. Ada dari antara orang-orang ini yang datang tidak memakai pakaian pesta. Ia hanya memenuhi panggilan dengan setengah-setengah. Dan orang itu akhirnya dikeluarkan. Ajaran perumpamaan itu jelas. Dipanggil ikut menikmati kerahiman ilahi belum cukup. Perlu diusahakan agar kebaikan ilahi itu menjadi kenyataan, bukan hanya potensialnya belaka.
Dalam petikan hari ini tokoh Matius itu pertama-tama ialah orang yang berani menerima kehadiran Tuhan. Oleh karenanya ia dapat menerima dirinya. Ia tidak mundur. Ia terus mengikuti dia, menjadi murid Tuhan sendiri.
Salam hangat,
A. Gianto
http://mirifica.net/artDetail.php?aid=4989
Filed under Renungan Mingguan | Comments Off





