TAHUN SANTO PAULUS 28 Juni 2008 – 29 Juni 2009
![]() |
Pada surat Sekretaris Eksekutif KWI (No. 049/IV/2008) yang ditujukan kepada para Waligereja Indonesia dan Para Pimpinan Tarekat dan Lembaga Studi, diberitakan akan diadakannya Tahun Yubile
Khusus "Tahun Santo Paulus". Beberapa informasi disampaikan sbb.:
Tahun Santo Paulus ditetapkan mulai dari tanggal 28 Juni 2008 sampai dengan tanggal 29 Juni 2009 oleh Bapa Suci Benediktus XVI pada tanggal 28 Juni 2007 di dekat makam Santo Paulus yang terdapat di Basilika Santo Paulus Di Luar Tembok. Perayaan itu diadakan dalam rangka memperingati kelahiran Santo Paulus 2000 tahun yang lalu.
Pada penetapan Tahun Santo Paulus itu Bapa Suci Benediktus XVI mengatakan,
"Saudari-saudara, sebagaimana pada Gereja perdana, sekarang ini juga Kristus membutuhkan rasul-rasul yang siap sedia mengorbankan dirinya. Tuhan membutuhkan saksi-saksi iman dan martir-martir
seperti santo Paulus. Paulus, yang semula penganiaya orang-orang Kristiani, ketika jatuh di tanah, terpesona oleh cahaya ilahi pada jalan menuju Damsyik, tidak ragu-ragu mengubah arah menuju Yang
Tersalib, dan mengikuti-Nya tanpa berpikir panjang. Ia hidup dan bekerja untuk Kristus, ia menderita dan mati untuk Kristus. Betapa tepatnya ia menjadi teladan iman zaman sekarang!
Dan karena alasan inilah Saya menetapkan secara resmi bahwa kita akan mempersembahan Tahun Yubile khusus kepada Rasul Paulus dari tanggal 28 Juni 2008 sampai 29 Juni 2009, pada kesempatan peringatan dua millenium kelahirannya, yang diperkirakan oleh para ahli terjadi antara tahun 7 – 10 Masehi.
Direncanakan secara istimewa merayakan "Tahun Santo Paulus" di Roma di makam yang disepakati oleh para ahli dan tradisi yang tak terbantahkan, menyimpan jenazah Sang Rasul, yang dilestarikan di
bawah altar kepausan Basilika selama 20 abad.
Direncanakan juga menyelenggarakan serangkaian acara liturgis, budaya dan ekumenis di Basilika dan di pertapaan Benediktin, juga berbagai prakarsa pastoral dan social, yang terinspirasi dari spiritualitas Santo Paulus.
Perhatian khusus diberikan kepada peziarah pada makam Sang Rasul untuk memperoleh anugerah rohani. Konvensi pembelajaran dan publikasi khusus mengenai naskah-naskah Paulus diupayakan agar
kekayaan luar biasa ajaran-ajarannya semakin luas dikenal, sebagai warisan kemanusiaan yang telah ditebus oleh Kristus.
Lebih lanjut, di segala penjuru dunia, prakarsa-prakarsa serupa hendaknya dilaksanakan di keuskupan-keuskupan , tempat ziarah dan tempat ibadah, oleh para biarawan-biarawati, oleh pusat-pusat
lembaga pendidikan dan pelayanan sosial yang mengambil nama Santo Paulus atau yang terinspirasi olehnya dan ajarannya.
Akhirnya, ada satu aspek khusus yang harus diperhatikan selama perayaan 2.000 tahun ulang tahun Santo Paulus: yang saya sebut sebagai dimensi ekumenis. Rasul untuk umat bukan Yahudi, yang
membaktikan diri untuk menyampaikan kabar sukacita kepada segala bangsa, meninggalkan landasan kuat untuk kesatuan dan harmoni di antara orang Kristiani.
Semoga Santo Paulus berkenan memimpin dan melindungi kita dalam perayaan ulangtahunnya, membantu kita untuk maju dalam upaya yang rendah hati dan jujur untuk kesatuan penuh semua anggota Tubuh Mistik Kristus. Amen."
Disebutkan juga pada surat, yang ditandatangani oleh Andrea Cardinal di Montezemolo, berbagai upaya selama Tahun Santo Paulus, sbb:
Penemuan kembali jatidiri Rasul Paulus, kegiatan dan perjalanan misionersnya, terutama yang dikisahkan oleh Santo Lukas di dalam Kisah Para Rasul; Pembacaan ulang banyak suratnya yang dialamatkan kepada umat Kristiani perdana; Penghayatan tahun-tahun awal Gereja kita; Kesempatan untuk semakin mendalami ajaran yang kaya dari Santo Paulus, yang diarahkan kepada bangsa bukan Yahudi, dan untuk merenungkan spiritualitas iman, harapan dan kasih; Kesempatan untuk berziarah pada makam dan berbagai tempat yang berkaitan dengannya; Revitalisasi iman pribadi kita dan peran kita dalam Gereja dewasa ini, dalam terang ajarannya; Berdoa dan bekerja agar semua orang Kristiani boleh menemukan "kesatuan penuh anggota Tubuh Mistik Kristus".
Pelaksanaan Tahun Santo Paulus tersebut diserahkan kepada keuskupan masing-masing. Informasi tentang Tahun Santo Paulus dapat diperoleh melalui website: www.vatican.va atau www.annopaulino.org
dikutip dari rekan-rekan milis di Komunikasi_KAS@yahoogroups.com
Perintah Allah
Sebuah Tinjauan Singkat tentang Iman Katolik dengan ayat-ayat Kitab Suci
oleh: P. Francis J. Peffley
Perintah Allah
DUA PERINTAH UTAMA
I. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (Ul 6:5, Mat 22:37-39). Perintah pertama ini sejajar dengan tiga perintah pertama dari Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa.
II. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Im 19:18, Mat 22:37-39). Perintah yang kedua ini sejajar dengan ketujuh perintah berikutnya.
SEPULUH PERINTAH ALLAH (DEKALOG): (Kel 20:1-17, Ul 5:6-21)
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh 14:15)
1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada Tuhan saja, dan cintailah Tuhan lebih dari segala sesuatu. Artinya kita menyembah hanya Tuhan saja, terutama melalui doa, dan tidak mencintai sesuatu yang lain lebih daripada Tuhan.
2. Jangan menyebut Nama Tuhan Allah dengan tidak hormat. Hormatilah nama Tuhan karena nama Tuhan itu kudus.
3. Kuduskanlah hari Tuhan. Pada hari Minggu dan pada hari-hari pesta wajib lainnya, orang beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Misa, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
4. Hormatilah ibu bapamu. Mencintai, membantu, menghormati serta mentaati orangtua.
5. Jangan membunuh. Kita harus merawat tubuh kita, dan tidak melukai orang lain secara tidak adil, baik secara fisik maupun dengan perkataan (Mat 5:21-26). Menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang adalah dosa (Gal 5:21). Kita diperkenankan untuk membela diri; namun demikian, membunuh untuk membalas dendam adalah dosa. Aborsi adalah pembunuhan terhadap kehidupan yang tak berdosa (Luk 1:15, 41, 44, Mzm 139:13, Yes 13:18).
6. Jangan berzinah. Perintah keenam ini melarang segala bentuk dosa seksual, perzinahan (Gal 5:16-24, 1Kor 6:15-20, Ef 5:5-6, Mat 15:19, Why 22:15), pikiran kotor, percabulan (Mzm 101:3, Mat 5:27, Yeh 16:25), pakaian yang tidak sopan (Yes 3:16-24, 1Tim 2:9-10, 1Pet 3:1-6), kelakuan homoseksual (Kej 19:1-29, Rom 1:24-27, 1Kor 6:9, 1Tim 1;10), penggunaan alat-alat kontrasepsi (Kej 1:28, Mzm 127:3-5, Kej 38:8-10).
7. Jangan mencuri. Jika seseorang mencuri, ia harus membayar ganti rugi dan segera mengembalikan barang yang dicurinya kepada pemiliknya.
8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu. Berbohong, memfitnah, mencemarkan nama baik adalah dosa.
9. Jangan mengingini isteri sesamamu. Perintah ini mengajarkan bahwa pikiran-pikiran cemar yang disengaja adalah dosa (Mat 5:27-28).
10. Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil. Kitab Suci memperingatkan kita terhadap keterikatan kepada barang-barang duniawi (Mat 19:16-30, Luk 6:20-26, 12:13-31, Yak 5;1-6).
LIMA PERINTAH GEREJA (Katekismus 2042-2043)
1. Engkau harus mengikuti misa kudus dengan khidmat pada hari Minggu dan hari raya.
2. Engkau harus mengaku dosamu sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun.
3. Engkau harus sekurang-kurangnya menerima komuni kudus pada waktu Paska dan dalam bahaya maut.
4. Engkau harus merayakan hari raya wajib.
5. Engkau harus mentaati hari puasa wajib.
Umat beriman juga berkewajiban menyumbangkan untuk kebutuhan material Gereja sesuai dengan kemampuannya.
HARI PESTA WAJIB (Katekismus 2177)
Hari Pesta Wajib adalah semua hari Minggu, dan juga: pesta Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, pesta Penampakan Tuhan, pesta Kenaikan Tuhan, pesta Tubuh dan Darah Kristus, pesta Santa Perawan Maria Bunda Allah, pesta Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, pesta St Yosef, pesta Rasul St Petrus dan Paulus, pesta Semua Orang Kudus.
DOSA TERHADAP ROH KUDUS
1. Kesombongan
Ada dua jenis kesombongan: manusia beranggapan bahwa ia dapat mencapai keselamatan tanpa bantuan dari Tuhan; atau manusia beranggapan bahwa ia dapat menerima pengampunan dari kemahakuasaan dan kerahiman Allah, tanpa bertobat, dan menjadi bahagia, tanpa jasa apa pun.
2. Keputusasaan
Manusia berhenti mengharapkan dari Tuhan keselamatan pribadinya. Dengan demikian ia menentang kebaikan Allah, keadilan-Nya - karena Tuhan selalu setia pada janji-Nya - dan kerahiman-Nya.
3. Ketidakpercayaan
Tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya.
4. Iri hati akan kebaikan orang lain.
5. Kemauan keras hidup dalam dosa.
6. Penolakan ampunan ilahi pada saat terakhir.
Kebajikan: suatu kebiasaan baik, yaitu kebiasaan untuk melakukan yang baik dan menjauhkan diri dari yang jahat.
Kebiasaan buruk: suatu kebiasaan buruk, yaitu kebiasaan untuk berbuat dosa.
7 Kebajikan: kerendahan hati, kemurnian, kemiskinan, kelemahlembutan, kesederhanaan, kasih persaudaraan, ketekunan.
7 Dosa Pokok: sombong, cabul, serakah, marah, rakus, iri hati, malas.
3 Kebajikan Ilahi: Iman, Harapan dan Kasih (1Kor 13:13)
4 Kebajikan Pokok: Kebijaksanaan, Keadilan, Keberaniaan dan Penguasaan diri
SALIB
Salib adalah syarat untuk mengikuti Kristus. Salib meliputi segala penderitaan serta kesulitan yang muncul akibat menolak godaan, mentaati perintah-perintah Allah, melaksanakan karya-karya belas kasih, baik jasmani maupun rohani. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23, 1Kor 1:18)
CONCUPISCENTIA
Concupiscentia adalah kecondongan kepada yang jahat, yaitu sifat bawaan yang kita miliki sebagai akibat dari dosa asal. Kita harus berjuang untuk melakukan yang baik dengan bantuan rahmat Allah (Kej 6:5, 8:21, Rom 7:23, 8:6, Gal 5:17).
PENCOBAAN
Pencobaan adalah godaan untuk berbuat dosa yang berasal dari dunia, daging dan iblis (1Yoh 2:15-17). Pencobaan bukanlah dosa. Sesungguhnya, jika kita dicobai, itu pertanda bahwa kita belum berbuat dosa. Apabila kita dicobai, kita harus ingat untuk berdoa dan memikirkan ke-empat hal yang terakhir, yaitu: kematian, pengadilan, surga dan neraka (Mat 26;41). Kita tidak akan dicobai melebihi kekuatan kita, asalkan kita berdoa kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya (1Kor 10:13, Kej 4:6-7).
IMAN DAN PERBUATAN
Iman adalah percaya kepada Tuhan, dan iman penting sekali bagi keselamatan (Ibr 11:6). “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1, 1Yoh 5:4-5). Tuhan menghendaki iman yang disertai perbuatan: (Yak 2:14-26, Mat 5:17-22, 7:21-23, 16:27, 19:16-19, 25:31-46, Why 3:2, 14:13, 20:13, 1Yoh 2:4, Ef 5:5-7, Gal 5:16-21). “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). “Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." (Mat 19:17-19). “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati… Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:14-26).
Kita mempunyai pengharapan dan kepercayaan yang teguh akan keselamatan melalui iman kita akan Kristus (Rom 10:9-10, Yoh 3:16, 5:24, 11:26, 17:3); namun demikian, kita tidak boleh yakin sepenuhnya bahwa kita telah selamat - kita wajib memohon rahmat Tuhan agar dapat bertahan sampai akhir (Mat 10:22, 24:13, 1Kor 4:3-5, 9:26-27, 10:12, Fil 2:12, 3;10-16, Yoh 15:6, Ibr 6:11-12, 10:26, 2Tim 2:12-13, Yeh 33:12-20, Rom 5:2, 8:24-25). Seseorang dapat menerima karunia keselamatan melalui rahmat pengudusan dan kemudian kehilangan keselamatan itu karena melakukan dosa berat (1Yoh 5:16-17, Yoh 15:6).
14 KARYA BELAS KASIH
7 Karya Belas Kasih Jasmani: (Mat 25:34-40) memberi makan mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, mengunjungi orang sakit, mengunjungi orang tahanan dan menguburkan orang mati.
7 Karya Belas Kasih Rohani: mengajar (Kis 8:35-39), memberi nasehat (1 Tes 5:9-11), menghibur (Rom 12:15), mempertobatkan atau menegur orang berdosa (Kis 2:40-41, Yak 5:19-20), mengampuni semua kesalahan (Mat 18:21-22), dan menanggung dengan sabar hati (1Kor 13:5), berdoa bagi sesama, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal (Yak 5:16, 2Mak 12:45).
sumber : “MICRO CATECHISM: A Short Review of the Catholic Faith with Scripture References” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
disesuaikan dengan: Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, Propinsi Gerejani Ende 1995, Percetakan Arnoldus - Ende
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”
“Menjadi Pelayan dan Rasul Yesus Kristus”
Pesan Paus Benediktus XVI pada Hari Minggu Misi Sedunia ke-82
"Menjadi Pelayan dan Rasul Yesus Kristus"

Saudara-Saudari Terkasih,
Pada kesempatan Hari Misi Sedunia ini, saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan tentang mendesaknya tugas untuk mewartakan Injil pada zaman kita ini. Amanat misi tetap saja menjadi tugas utama bagi semua orang yang dibaptis, yang dipanggil untuk menjadi "pelayan dan rasul Yesus Kristus" di awal milenium ini. Pendahulu saya yang mulia, Hamba Allah Paulus VI, dalam Imbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi telah mengatakan:"Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan khas bagi Gereja, identitasnya yang terdalam" (EN, No.14). Sebagai model semangat misi, saya ingin menyebut Santo Paulus secara khusus, Rasul bangsa-bangsa, karena pada tahun ini kita merayakan yubileum khusus yang dipersembahkan kepadanya. Tahun Paulus ini menawarkan kepada kita suatu kesempatan untuk lebih mengenal Rasul yang tersohor ini, yang menerima panggilan untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, seturut apa yang dikatakan Tuhan kepadanya: "Pergilah, Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain" (Kis 22:21). Bagaimana kita tidak memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh yubileum khusus ini kepada Gereja-gereja lokal, komunitas-komunitas Kristiani dan umat beriman masing-masing untuk melakukan pewartaan Injil sampai ke ujung dunia, kekuasaan Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya (bdk. Rm 1:16)?
•1. Umat Manusia Membutuhkan Pembebasan
Umat manusia membutuhkan pembebasan dan penebusan. Ciptaan itu sendiri - kata Santo Paulus - mengeluh dan berharap bahwa ia akan turut serta dalam kebebasan anak-anak Allah (bdk. Rom 8:19-22). Kata-kata ini masih berlaku dalam dunia dewasa ini. Ciptaan mengeluh. Ciptaan mengeluh dan menantikan pembebasan sejati; ia menantikan dunia lain yang lebih baik; ia menantikan "penebusan". Dan jauh di dalam hatinya ia tahu bahwa dunia baru yang dinanti-nantikan mengandaikan adanya manusia baru; ia mengandaikan adanya "anak-anak Allah".
Marilah kita menyelami situasi dunia dewasa ini secara lebih dekat. Sementara, pada satu pihak, keadaan umum internasional memperlihatkan suatu prospek kemajuan besar dalam bidang ekonomi dan sosial yang menjanjikan kesejahteraan, pada pihak lain situasi ini menimbulkan keprihatinan besar terhadap masa depan umat manusia. Kekerasan, dalam berbagai bentuknya, menandai hubungan antara manusia dan masyarakatnya. Kemiskinan dialami oleh jutaan umat manusia. Diskriminasi dan kadang-kadang penganiayaan karena perbedaan ras, budaya dan agama mendorong orang meninggalkan negerinya sendiri untuk menjadi pengungsi dan mencari perlindungan dan rasa aman di tempat lain. Kemajuan teknologi, ketika ia tidak diarahkan kepada peningkatan martabat dan kebaikan manusia atau diarahkan kepada perkembangan yang berdasakan solidaritas, kehilangan kemampuannya sebagai faktor harapan dan sebaliknya berisiko meningkatkan ketidakseimbangan dan ketidakadilan yang telah terjadi. Tambahan pula, masih saja ada ancaman lain, yaitu terkait dengan hubungan manusia dan lingkungan karena adanya penggunaan sumberdaya yang semena-mena, yang berakibat buruk terhadap kesehatan fisik dan mental umat manusia. Masa depan umat manusia juga terancam oleh pencobaan-pencobaan atas hidupnya, yang muncul dalam berbagai bentuk dan sarana.
Di hadapan skenario ini, "terombang-ambing antara harapan dan kecemasan ... dan tertekan oleh kegelisahan" (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, No. 4), dengan rasa prihatin kita bertanya kepada diri kita sendiri: Apa yang akan terjadi dengan umat manusia dan ciptaannya? Apakah ada harapan akan masa depan, atau apakah ada masa depan untuk umat manusia? Dan seperti apa masa depan itu nantinya? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menyadarkan kita, orang yang percaya kepada Injil. Kristus adalah masa depan kita, dan seperti saya katakan dalam Ensiklik Spe Salvi, Injil-Nya adalah komunikasi yang "mengubah hidup" yang memberi harapan, membuka pintu zaman kegelapan dan menerangi masa depan umat manusia dan alam semesta (bdk.Spe Salvi, No. 2).
Santo Paulus mengetahui dengan baik sekali bahwa hanya dalam Kristus umat manusia dapat menemukan penebusan dan harapan. Karena itu, ia melihat dengan jelas bahwa misi merupakan suatu tugas yang mendesak dan urgen untuk mewartakan "janji kehidupan dalam Yesus Kristus " (2 Tim 1:1),"harapan kita" (1 Tim 1:1), sehingga semua orang turut menjadi ahli waris dan peserta dalam janji yang diberikan melalui Injil (bdk. Ef 3:6). Ia tahu bahwa tanpa Kristus umat manusia "tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia" (bdk.Ef 2:12) - "tanpa harapan karena mereka sendiri tanpa Allah" (Spe Salv,i No. 3). Sebetulnya, siapapun yang tidak mengenal Allah, sekalipun ia memelihara semua harapan, tetap pada akhirnya tanpa harapan, tanpa harapan besar yang melangsungkan seluruh hidupnya (bdk. Ef 2:12), ( Spe Salvi , No. 27).
•2. Misi Adalah Perkara Cinta
Oleh karena itu bagi setiap orang Kristiani, mewartakan Kristus dan pesan keselamatan-Nya merupakan suatu tugas yang mendesak. "Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil!"(1 Kor 9:16). Dalam perjalanan ke Damaskus ia menerima pewahyuan dan mengetahui bahwa penebusan dan misi adalah karya Allah dan karya cinta-Nya. Cinta Kristus menuntunnya untuk menelusuri jalan-jalan Kekaisaran Roma sebagai seorang pewarta, rasul, pengkotbah dan pengajar Injil dan karena itu ia menyebut dirinya sebagai "utusan yang dipenjarakan" (Ef 6:20). Cinta Ilahi membuatnya menjadi "segalanya bagi semua orang, untuk menyelamatkan beberapa orang dari mereka" (1 Kor 9:22). Dengan melihat pengalaman Santo Paulus ini, kita memahami bahwa kegiatan misioner merupakan jawaban atas cinta yang sudah diberikan Allah kepada kita. Cinta-Nya menyelamatkan kita dan mendorong kita untuk melakukan misi ad gentes (kepada bangsa-bangsa). Ini merupakan kekuatan rohani yang menciptakan harmoni, keadilan, dan persekutuan berkembang di antara pribadi-pribadi, ras dan masyarakat. Hal-hal itulah yang menjadi harapan setiap orang ( Deus Caritas Est,No.12). Allah yang adalah Cinta, menuntun Gereja menuju kepada umat manusia dan memanggil para pewarta Injil untuk minum "dari sumber yang sama, ialah Yesus Kristus, dari hati-Nya yang terbuka mengalir kasih Allah sendiri" (Deus Caritas Est, No. 7). Hanya dari sumber ini, dapat ditimba kelembutan, semangat belarasa, keramahtamahan, ketersediaan, dan perhatian terhadap masalah masyarakat dan juga kebajikan lain yang penting bagi pewarta Injil untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengabdikan diri mereka seutuhnya dan tanpa syarat untuk mewartakan kebaikan cinta Kristus di seluruh dunia.
•3. Wartakan Injil Selalu
Sementara evangelisasi pertama masih tetap penting dan mendesak di beberapa bagian dunia, dewasa ini kekurangan tenaga imam dan kurangnya panggilan melanda berbagai Keuskupan dan Lembaga Hidup Bakti. Penting sekali untuk ditegaskan kembali bahwa sekalipun menghadapi berbagai kesulitan yang semakin meningkat ini, amanat Kristus untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa tetap saja menjadi prioritas. Tak ada alasan untuk membenarkan kelambanan atau stagnasi karena "tugas untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa merupakan perutusan hakiki dari Gereja" (Paulus VI, Imbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi, No. 14). Ini merupakan suatu "tugas perutusan yang masih saja di tahap awal dan kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas ini" (Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio, No.1). Bagaimana mungkin kita tidak dapat berpikir tentang orang Makedonia yang muncul dalam mimpi Paulus dan berkata, "Apakah kamu bisa datang ke Makedonia dan menolong kami? Dewasa ini masih ada banyak sekali orang yang menantikan pewartaan Injil, mereka yang haus akan harapan dan cinta. Ada banyak orang yang membiarkan dirinya ditanyakan secara mendalam oleh permintaan bantuan yang datang dari umat manusia, yang meninggalkan segala sesuatu demi Kristus dan menyampaikan iman dan cinta akan Kristus kepada umat manusia! (bdk. Spe Salvi, No.
•4. Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil (1 Kor 9:16)
Saudara-saudari terkasih, "Bertolaklah ke tempat yang dalam!"
Marilah kita rentangkan layar di tengah lautan dunia yang luas, mengikuti undangan Yesus. Kita melemparkan jala kita tanpa rasa takut, penuh percaya kepada bantuan-Nya. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa memberitakan Injil bukanlah alasan untuk memegahkan diri (bdk. 1 Kor 9:16), tetapi merupakan suatu tugas dan kegembiraan.
Para Uskup yang terkasih, dengan mengikuti teladan Paulus, banyak orang merasa seperti "dipenjarakan karena Kristus untuk orang-orang yang tidak mengenal Allah" (Ef 3:1), yang mengetahui bahwa kalian dapat mengandalkan kekuatan yang datang kepada kami dari Dia dalam kesulitan dan pencobaan. Seorang uskup ditahbiskan bukan hanya untuk keuskupannya, tetapi demi keselamatan seluruh dunia (bdk. Redemptoris Missio, No. 63). Seperti Rasul Paulus, seorang Uskup dipanggil untuk menjangkau mereka yang jauh dan belum mengenal Kristus atau belum mengalami cinta-Nya yang membebaskan.
Keterlibatan seorang Uskup semestinya membuat seluruh keuskupannya sebagai komunitas misioner dengan memberikan secara sukarela, menurut kemampuannya, untuk mengutus para imam dan awam kepada Gereja lain demi pelayanan pewartaan. Dengan cara ini, misi ad gentes menjadi prinsip yang mempersatukan dan mempertemukan semua kegiatan pastoral dan karya amal.
Saudara-saudara, para imam, yang bekerja sama dengan Para Uskup, jadilah pastor yang berbelas kasih dan pewarta Injil yang bersemangat! Banyak dari antara kalian dalam beberapa dekade yang lalu telah pergi ke tanah misi, dengan mengikuti Ensiklik Fidei Donum yang peringatan kelima puluh tahunnya kita rayakan belum lama ini, dan dengan itu Pendahuluku yang mulia, Hamba Allah Pius XII, memberi dorongan untuk bekerja sama antara Gereja-gereja. Saya percaya bahwa semangat misioner dalam Gereja-gereja lokal tidak akan berkurang, meskipun kekurangan imam yang melanda banyak keuskupan.
Saudara-saudari, para biarawan dan biarawati, yang panggilannya ditandai dengan semangat misioner yang kuat, lakukan pewartaan Injil kepada semua orang, khususnya mereka yang berada di tempat yang jauh, dengan kesaksian yang terus-menerus tentang Kristus dan secara radikal mengikuti nasihat-nasihat Injil-Nya.
Saudara-saudari, kaum awam, kalian yang bekerja dalam berbagai wilayah masyarakat yang beragam, semuanya dipanggil untuk ambil bagian dalam jalan yang semakin penting untuk mewartakan Injil. Suatu areopagus yang kompleks dan yang tampil dalam banyak rupa terbentang luas di hadapan kalian untuk diinjili yakni: dunia. Berilah kesaksian dengan hidupmu bahwa orang-orang Kristiani "merupakan suatu masyarakat baru yang menjadi tujuan dari ziarah bersama dan yang dipersiapkan dalam perjalanan ziarah itu" ( Spe Salve No. 4).
•5. Kesimpulan
Saudara-saudari yang terkasih. Semoga perayaan Hari Misi Sedunia ini mendorong siapapun untuk melakukan pembaruan kesadaran tentang kebutuhan yang mendesak untuk mewartakan Injil. Saya tidak lupa memberikan penghargaan yang mendalam atas bantuan Karya Kepausan terhadap kegiatan pewartaan Gereja. Saya berterima kasih atas dukungan yang mereka berikan kepada semua Komunitas, khususnya, kaum muda. Mereka merupakan alat yang sangat berharga untuk memberi semangat dan membentuk Umat Allah, dari sudut pandang misioner, dan mereka memelihara persekutuan orang-orang dan mengumpulkan barang-barang di antara berbagai bagian Tubuh Mistik Kristus. Semoga pengumpulan derma yang dilakukan di berbagai paroki pada Hari Minggu Misi Sedunia merupakan tanda persekutuan dan saling berbagi di antara Gereja. Akhirnya, doa mesti lebih ditingkatkan dalam kehidupan umat kristiani sebagai sarana spiritual utama untuk mewartakan Injil di antara bangsa-bangsa terang Kristus, "cahaya sejati" yang menerangi "kegelapan sejarah" (Spe Salvi No. 14). Seraya saya menyerahkan kepada Tuhan karya kerasulan misioner, Gereja-gereja di seluruh dunia dan kaum beriman yang terlibat dalam berbagai kegiatan misioner dan memohon perantaraan Rasul Paulus dan Santa Maria, "Bahtera Perjanjian yang hidup", Bintang evangelisasi dan harapan, saya memberkati anda sekalian dengan Berkat Apostolik.
Dari Vatikan, 11 Mei 2008
Paus Benediktus XVI
Sakramen-Sakramen Gereja
Katekese Singkat
Sebuah Tinjauan Singkat tentang Iman Katolik dengan ayat-ayat Kitab Suci
oleh: P. Francis J. Peffley
Sakramen-Sakramen Gereja
Sakramen adalah tanda kelihatan yang ditetapkan oleh Kristus untuk memberikan rahmat. Masing-masing sakramen memiliki ritus perayaan, yaitu perkataan dan perbuatan tertentu (Katekismus 1234). Perkataan adalah rumusan kata-kata yang digunakan dalam pemberian sakramen; perbuatan meliputi penuangan air dalam Sakramen Pembaptisan, pengurapan dengan minyak dalam Sakramen Penguatan dan Pengurapan Orang Sakit, penumpangan tangan dalam Sakramen Tahbisan/Imamat, konsekrasi roti dan anggur dalam Sakramen Ekaristi, pertobatan dalam Sakramen Pengakuan Dosa dan kesepakatan perkawinan dalam Sakramen Perkawinan bagi pasangan yang memilih untuk menikah.
SAKRAMEN PEMBAPTISAN: Sakramen Pembaptisan (Mat 28:19, Yoh 3:5) adalah sakramen pertama yang kita terima. Umat beriman wajib menerima Pembaptisan sebelum menerima sakramen-sakramen yang lain. Pembaptisan mengampuni dosa asal, semua dosa pribadi, serta mengalirkan rahmat pengudusan ke dalam jiwa (Yeh 36:25-26, Kis 2:38, 22:16, 1Kor 6:11, Gal 3:26-27). Pembaptisan menganugerahkan jasa-jasa wafat Kristus di salib ke dalam jiwa kita, serta membersihkan kita dari dosa. Pembaptisan menjadikan kita anak-anak Allah, saudara-saudara Kristus, dan kanisah Roh Kudus. Pembaptisan hanya diterimakan satu kali untuk selamanya namun meninggalkan meterai rohani yang tidak dapat dihapuskan.
SAKRAMEN PENGUATAN: (Kis 2: 14-18, 9:17-19, 10:45, 19:5-6, Titus 3:4-8) Sakramen Penguatan menjadikan kita dewasa secara rohani dan menjadikan kita saksi-saksi Kristus. Penguatan hanya diterimakan satu kali untuk selamanya namun meninggalkan meterai rohani yang tidak dapat dihapuskan.
SAKRAMEN EKARISTI: (Yoh 6: 25-71, Mat 26:26-28, 1Kor 11:23-26, Luk 24:30-31) Sakramen Ekaristi disebut juga Sakramen Maha Kudus atau Komuni Kudus. Ekaristi bukanlah sekedar lambang belaka, tetapi adalah sungguh Tubuh, Darah, Jiwa dan Keallahan Yesus Kristus. Dalam mukjizat Perayaan Ekaristi, imam mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dengan kata-kata penetapan yang diambil dari Kitab Suci: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" (1Kor 11:23-25). Misa disebut kurban karena Misa menghadirkan secara tak berdarah kurban Kristus yang wafat disalib satu kali untuk selamanya. Kristus mengatakan: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh 6:48-52).
Jika kita melakukan dosa berat, kita harus mengakukan dosa kita terlebih dahulu sebelum menerima Komuni Kudus, jika tidak, Komuni Kudus bukannya mendatangkan rahmat bagi jiwa, malahan akan mengakibatkan dosa sakrilegi (1Kor 11:27-29). Untuk menerima Komuni, kamu harus bangkit berdiri menuju altar dengan tanganmu terkatup di dada sambil berdoa. Ketika tiba di hadapan imam, ia akan mengatakan: “Tubuh Kristus”. Kamu menunjukkan imanmu dengan menjawab, “Amin”, kemudian kamu mengulurkan tanganmu, telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan, menerima Hosti di tanganmu dan segera memasukkan Hosti ke dalam mulutmu (cara umum), atau kamu membuka mulutmu dan menerima Komuni Kudus dengan lidahmu (alternatif).
SAKRAMEN TOBAT: Sakramen Tobat disebut juga Pengakuan atau Rekonsiliasi (Yoh 20:21-23, Amsal 28:13). Kristus memberikan kuasa kepada para Rasul untuk mengampuni dosa atas nama-Nya, dan para Rasul meneruskan kuasa tersebut kepada penerus-penerus mereka, yaitu para Uskup dan Imam. Sakramen Tobat mengampuni dosa-dosa yang dilakukan setelah Baptis. Ketika mengaku dosa, umat beriman harus mengakui semua dosa-dosa berat yang disadarinya, menurut jenisnya (misalnya perzinahan atau pencurian) serta jumlahnya (misalnya satu kali, beberapa kali, atau sering kali). Setelah mengakui segala dosa-dosamu, kamu mendengarkan nasehat-nasehat yang diberikan imam, mengucapkan doa tobat, menerima absolusi (pengampunan Kristus) dari imam, meninggalkan kamar pengakuan, serta melakukan penitensimu.
Imam diwajibkan dengan ancaman siksa yang sangat berat, supaya berdiam diri secara absolut, untuk tidak mengungkapkan apa pun yang telah ia dengar dalam pengakuan. Rahasia pengakuan ini dinamakan `meterai sakramental'. Seorang imam lebih suka dipenjarakan atau bahkan mati daripada mengungkapkan dosa-dosa yang diakukan umat kepadanya. (Luk 15, Yeh 33).
SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT: Bantuan Tuhan melalui kekuatan Roh-Nya hendak membawa orang sakit menuju kesembuhan jiwa, tetapi juga menuju kesembuhan badan, kalau itu sesuai dengan kehendak Allah. Dan “jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Mrk 6:13, Yak 5:14-15).
SAKRAMEN TAHBISAN: (Kej 14:18, Ibr 5:5-10, Luk 22:19, Kis 6:6, 14: 23). Tahbisan memungkinkan para Rasul Kristus dan penerus-penerus mereka untuk menerimakan Sakramen-sakramen. Ada tiga jenjang Sakramen Tahbisan: diakon, imam, dan uskup. Hanya para imam dan uskup yang boleh menerimakan Sakramen Pengakuan serta mempersembahkan Kurban Misa.
Mengapa kita memanggil para imam dengan sebutan Romo (=bapa)? Para imam adalah bapa rohani Gereja. Mereka mempersembahkan hidup mereka bagi Gereja dengan mewartakan Injil dan menganugerahkan pengampunan Tuhan melalui sakramen-sakramen (1Kor 4:14-15, 1Tes 2:8-12).
Mengapa para imam hidup selibat? Para imam hidup seturut teladan dan ajaran Yesus Kristus (imam yang selibat), untuk mengurbankan kehidupan berkeluarga demi Kerajaan Allah (Mat 19:12, Luk 18:29-30, 1Kor 7).
SAKRAMEN PERKAWINAN: (Mrk 10:2-12, Ef 5:22-33) Sakramen ini, dengan kuasa Allah, mengikat seorang pria dan seorang wanita dalam suatu kehidupan bersama dengan tujuan kesatuan (kasih) dan kesuburan (lahirnya keturunan). Perkawinan tidak terceraikan, mengikat seumur hidup (1Kor 7:10-11, 39, Mat 19:4-9). Pembatalan Perkawinan adalah suatu pernyataan yang dikeluarkan oleh Gereja yang menyatakan bahwa setelah dilakukan suatu penyelidikan yang mendalam oleh pengadilan gereja yang berwenang, unsur-unsur yang diperlukan untuk suatu perkawinan yang sah tidak ada pada saat perkawinan, dan oleh karena itu suatu perkawinan yang sah tidak pernah terjadi. Pembatalan perkawinan bukanlah suatu perceraian “Katolik” dan sama sekali tidak mempengaruhi hak anak-anak dari perkawinan tersebut.
sumber : “MICRO CATECHISM: A Short Review of the Catholic Faith with Scripture References” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
disesuaikan dengan: Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, Propinsi Gerejani Ende 1995, Percetakan Arnoldus - Ende
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”
Pengakuan Iman
Sebuah Tinjauan Singkat tentang Iman Katolik dengan ayat-ayat Kitab Suci
oleh: P. Francis J. Peffley
Pengakuan Iman
APAKAH TUJUAN HIDUP MANUSIA?
Kita diciptakan untuk menikmati kebahagiaan yang sempurna bersama Tuhan untuk selama-lamanya. Kebahagiaan yang sempurna hanya dapat ditemukan dalam hidup, cinta dan kebenaran yang sempurna, yang adalah Tuhan. Kebahagiaan tidak tergantung pada harta benda duniawi yang sifatnya sementara serta tidak sempurna (Luk 12:15), kepuasan hawa nafsu (Peng 1:8) atau persahabatan manusia, tetapi hanya dalam persahabatan yang sempurna serta abadi dengan Allah. “Carilah dahulu Kerajaan Allah” (Mat 6:33). “Hati kami tiada tenang sebelum beristirahat di dalam Dikau,” ungkap St. Agustinus.
WAHYU ALLAH
Wahyu Allah adalah Sabda Allah. Yaitu kebenaran yang dinyatakan Tuhan kepada kita tentang Diri-Nya dan segala sesuatu yang perlu kita ketahui agar dapat sampai ke Surga. Dua sumber Wahyu Allah adalah Kitab Suci dan Tradisi. (2 Tes 2:15).
TRADISI SUCI
Tradisi Suci adalah Sabda Allah yang diwariskan secara lisan dari Kristus kepada Para Rasul dan dari Para Rasul kepada Gereja (2 Tes 2:15, 1 Kor 11:2, Mat 28:19). Tradisi ditemukan dalam Sahadat, dokumen-dokumen Konsili Gereja, serta tulisan-tulisan para Paus, para Bapa Gereja dan para Doktor Gereja (lih juga 1 Kor 11:2, Gal 1:8-9, 2 Tes 2:15, 3:6, 2 Tim 1:13, 2:2, 3:14).
KITAB SUCI
Kitab Suci adalah Sabda Allah yang diwariskan secara tertulis. Di dalamnya terdapat sejarah karya keselamatan. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar” (2 Tim 3:16). Tuhan adalah satu-satunya Penyebab Kitab Suci.
SYAHADAT PARA RASUL: RINGKASAN SINGKAT WAHYU ALLAH
Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi. Dan akan Yesus Kristus,
Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita. Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria. Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan. Yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa. Dari situ la akan datang, mengadili orang yang hidup dan mati. Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin.
TEORI "SOLA SCHRIPTURA" (HANYA KITAB SUCI)
Gereja Katolik menolak teori “Sola Schriptura” karena Kitab Suci tidak dapat menafsirkan dirinya sendiri (Kis 8:27-31, 2 Pet 1:20-21, 3:16). Kenyataan bahwa banyak gereja-gereja Kristen yang saling tidak sependapat dalam masalah-masalah penting seperti aborsi, perceraian dan pembaptisan bayi, sudah cukup membuktikan bahwa Kitab Suci tidak dapat berdiri sendiri serta menjelaskan dirinya sendiri. Haruslah ada suatu wewenang khusus yang menafsirkannya. Kita percaya bahwa Gereja diberi wewenang oleh Tuhan karena Kitab Suci menyebut Gereja sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15). Tuhan membimbing Gereja untuk menetapkan kitab-kitab mana saja yang merupakan bagian dari Kitab Suci pada Konsili di Kartago pada tahun 396. Tuhan membimbing Gereja yang sama untuk menafsirkannya. Seorang umat Kristiani dengan salinan Kitab Suci ditangannya tidak dapat menafsirkan doktrin (=ajaran) Gereja bagi dirinya sendiri, sama seperti seorang warga negara dengan salinan Kitab Undang-undang Negara di tangannya tidak dapat menafsirkan undang-undang tersebut tanpa bimbingan dari Lembaga Negara. Teori “Sola Schriptura” tidak pernah diajarkan dalam Kitab Suci, tidak pernah diajarkan oleh para rasul, dan tidak pernah ada hingga sebelum tahun 1500.
SIAPAKAH TUHAN ITU?
Tuhan adalah Bapa kita. (Yes 64:8)
Tuhan adalah Pencipta kita (Kej 1:1)
Tuhan adalah Juruselamat kita. (Luk 1:47)
Tuhan itu Kekal. (Mzm 90:2,4)
Tuhan itu Maha Kuasa. (Luk 1:37)
Tuhan itu Maha Tahu. (1 Sam 2:3)
Tuhan itu Maha Kasih (Mzm 136:1)
Tuhan itu Maha Adil (Mzm 119:7)
Tuhan itu Maha Kudus. (Im 19:2)
Tuhan itu Maha Esa. (Mrk 12:29,32)
Tuhan itu Bapa, Putera dan Roh Kudus. (Mat 28:19)
TRITUNGGAL MAHA KUDUS
Tritunggal Maha Kudus adalah suatu misteri. Kita hanya dapat memahami sebagian saja dari-Nya. Tuhan adalah Satu Diri yang terdiri dari Tiga Pribadi. Diri adalah apa sesuatu atau seseorang itu. Pribadi adalah siapa seseorang itu. Tuhan itu adalah Allah yang Satu, tetapi Ia memiliki Tiga Pribadi Allah: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus (Mat 28:19, Kej 3:22).
YESUS KRISTUS
Yesus Kristus adalah Putera Allah yang kekal, Pribadi Allah yang Kedua dalam Tritunggal Maha Kudus, Yang menjadi manusia demi keselamatan kita. Kematian-Nya melunaskan hutang dosa kita, serta menjadikan kita layak memperoleh kehidupan kekal. “Dengan wafat-Nya, Ia membinasakan kematian kita, dengan kebangkitan-Nya, Ia memulihkan hidup kita.” Yesus adalah sekaligus Allah dan Manusia, sekaligus “Anak Allah” dan “Anak Manusia”. Kitab Suci mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah. (Yoh 20:28, Kol 2:9, Yoh 1:1, Yoh 5:18, Yoh 10:30).
ALLAH ROH KUDUS
Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang Ketiga dalam Tritunggal Maha Kudus. Kita Suci mengatakan, “Roh Kudus adalah Allah” (Yoh 4:24, Kis 5:3-4, Kej 6:3). Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (Yoh 14:17). Roh Kudus dikaruniakan kepada mereka yang percaya kepada Yesus serta mentaati segala perintah-Nya. (1Yoh 3:23-24, 1 Yoh 4:13, 1Kor 12:3, Kis 5:29-32).
7 KARUNIA DAN 12 BUAH-BUAH ROH KUDUS
7 Karunia Roh Kudus: 1. Kebijaksanaan 2. Pengertian 3. Nasehat 4. Keperkasaan 5. Pengenalan akan Allah 6. Kesalehan 7. Takut akan Allah (Yes 11:2,3)
12 Buah-buah Roh Kudus: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian (Gal 5:22-23)
MALAIKAT: UTUSAN ALLAH
Para malaikat adalah roh-roh yang melayani (Ibr 1:14) yang diciptakan oleh Tuhan. Para malaikat dapat menampakkan diri kepada manusia dalam suatu penglihatan (Tobit 12:19) serta digambarkan memiliki sayap (Kel 25:20, 37:9, Yeh 10:5). Setiap orang mempunyai malaikat pelindung untuk membantu melindunginya dari bahaya jasmani maupun rohani (Kis 12:15, Mat 18:10).
IBLIS
Iblis (Mat 4;1) diciptakan sebagai malaikat baik, tetapi ia memilih untuk berdosa melawan Tuhan (Yeh 28:12-19, Yes 14:11-15). Ia memimpin pemberontakan melawan Tuhan dan sebagian malaikat lain mengikuti dia melawan Tuhan. Mereka itu disebut setan (Why 12:7-9). (baca juga Pertempuran Besar di Surga)
PENCIPTAAN DAN JATUHNYA MANUSIA DALAM DOSA
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kej 1:1). Manusia adalah makhluk hidup yang terdiri dari tubuh dan jiwa, dan diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26, 2:7). Kejatuhan manusia adalah jatuhnya manusia dari keadaan rahmat ke dalam dosa. Adam dan Hawa adalah pria dan wanita pertama yang diciptakan Tuhan. Mereka diciptakan dalam keadaan rahmat (persahabatan) dengan Tuhan. Mereka dicobai oleh iblis untuk tidak taat kepada Tuhan (Kej 3) dan melakukan dosa pertama (dosa asal). Karenanya, mereka kehilangan persahabatan mereka dengan Tuhan dan diusir dari Taman Eden ke dalam dunia dengan penderitaan dan kematian bagi mereka serta keturunan mereka (Mzm 51:7, Rom 5:12).
RAHMAT
Rahmat adalah karunia adikodrati dari Tuhan yang diperlukan untuk memberi hidup baru bagi jiwa - yaitu kehidupan Ilahi Allah sendiri. Kita bertumbuh dalam rahmat melalui penerimaan sakramen-sakramen, melalui doa, membaca Kitab Suci dan melakukan tindakan-tindakan belas kasih. Kita kehilangan rahmat jika kita berbuat berdosa.
RAHMAT PENGUDUSAN
Tanpa rahmat pengudusan kita tidak dapat masuk surga. Rahmat pengudusan menjadikan kita kudus dan berkenan bagi Tuhan. Dengan dipenuhi rahmat pengudusan, kita menjadi anak-anak Allah dan mendapat jaminan untuk masuk surga.
RAHMAT AKTUAL
Rahmat aktual adalah rahmat khusus yang merupakan karya Roh Kudus di dalam kita, yang mendorong kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik serta menolak godaan.
DOSA
Dosa adalah tindakan memberontak melawan kehendak Tuhan dan perintah-perintah-Nya. “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak 4:17, 1Yoh 3:4). Ada perbedaan dalam bobot dosa. (Mat 5:19, Yoh 19:11)
DOSA ASAL
Dosa asal adalah dosa leluhur pertama kita, yang menyebabkan kita kehilangan rahmat dan persahabatan dengan Tuhan. Dosa asal mengakibatkan melemahnya kehendak baik kita sehingga lebih sulit bagi kita untuk melakukan yang baik serta menghindari yang jahat (Kej 3, Mzm 51:7).
DOSA BERAT
Dosa berat menyebabkan jiwa kehilangan rahmat pengudusan. Mereka yang meninggal dengan dosa berat tanpa pertobatan dalam jiwanya, tidak dapat masuk surga (1Yoh 5;16-17, Yoh 15:6).
Suatu perbuatan merupakan dosa berat jika dipenuhi secara serentak tiga persyaratan berikut:
Materi berat sebagai obyek - pikiran, perkataan, tindakan atau pun kelalaian yang harus merupakan atau diyakini sebagai kesalahan yang amat berat. (Luk 12:47-48, Kej 20:1-8),
Persetujuan yang telah dipertimbangkan - pelaku memiliki pengetahuan penuh akan kesalahan besar tersebut (berpikirlah terlebih dahulu sebelum melakukannya),
Penuh kesadaran - secara sukarela memilih untuk berbuat dosa.
DOSA RINGAN
Dosa ringan adalah dosa yang tidak menyangkut masalah berat, atau dosa di mana salah satu dari ketiga persyaratan dosa berat tidak terpenuhi.
PELUANG DOSA
Kesempatan / peluang dosa adalah orang, tempat atau pun barang yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa (Mat 5:29-30, Ams 4:14-15, Sir 9:3-13).
GEREJA: TUBUH KRISTUS
Gereja adalah: Persekutuan para kudus (Ibr 10:25), Tubuh Kristus (Ef 1:23, 1Kor 12:27) dan Keluarga Allah (Ef 3:15).
EMPAT SIFAT GEREJA
Satu semua anggotanya percaya akan satu iman dalam bimbingan Bapa Suci
(Ef 4:4-6, Yoh 17:21).
Kudus karena ajaran-ajarannya, sakramen-sakramennya dan pendirinya, Kristus, adalah kudus.
Katolik diutus oleh Kristus kepada seluruh umat manusia.
Apostolik dibangun atas dasar para Rasul (Ef 2:20, Why 21:14).
PAUS
Kata Paus berarti “Bapa”. Paus adalah Kepala Gembala Gereja, guru dan pimpinan tertinggi. Paus memiliki Wewenang Mengajar Gereja yang sifatnya tidak dapat sesat (infallibilitas) dalam masalah-masalah iman dan susila. Paus tidak membuat wahyu baru, melainkan mengajarkan wahyu yang berasal dari Kristus dan para Rasul. Paus bukanlah seseorang yang tidak dapat berdosa. Umat Katolik percaya kepada Paus karena beliau ditunjuk oleh Kristus. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:17-19) “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur." (Luk 22:31-32) Kristus menamakan Petrus “Kefas”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “wadas”. “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat 16:19) “Kunci” melambangkan kuasa (Yes 22: 15-25, Why 1:18). Yesus mengatakan kepada Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yoh 21:15-17) yang artinya “ajarlah gereja-Ku.” Yesus menunjuk Petrus sebagai Kepala Gembala Gereja-Nya. Kristus adalah Kepala Gereja yang tidak kelihatan, Paus adalah Kepala Gereja yang kelihatan. Kitab Suci mencatat bahwa perselisihan pertama mengenai ajaran gereja diselesaikan dalam Konsili Gereja (Kis 15) yang dipimpin oleh Paus pertama (Kis 15:7). Kisah tersebut merupakan contoh biblis tentang penyelesaian suatu perselisihan mengenai ajaran gereja. Petrus selalu ditempatkan pada urutan pertama dalam setiap daftar Para Rasul (Mat 10:1-4, Mrk 3:16-19, Luk 6:12-16, Kis 1:13), yang pertama melakukan mukjizat dalam nama-Nya (Kis 3:6-7), dan yang pertama mewartakan Injil (Kis 2:14).
SANTA PERAWAN MARIA: HAWA BARU
Maria disebut sebagai yang Dikaruniai (Luk 1:28), yang Diberkati dan yang Berbahagia (Luk 1:42,48), Perawan (Mat 1:23), Bunda Yesus (Kis 1:14) dan Bunda Allah. Kitab Suci menyebut Kristus sebagai Adam baru: “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1Kor 15:22) Bapa-bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa Baru (Kej 3:15). Sama seperti melalui Hawa maut datang, demikian pula melalui Maria hidup datang. Malaikat yang memberontak memperdayai Hawa, seorang perawan (Kej 3:4); Hawa tidak taat kepada Tuhan dan membawa maut ke dalam dunia. Malaikat Allah menyampaikan kabar gembira kepada “seorang perawan - nama perawan itu Maria” (Luk 1:27); ia taat kepada Tuhan dan membawa hidup ke dalam dunia. Tuhan menggunakan sarana yang sama, dengan yang digunakan iblis untuk menjatuhkan kita ke dalam dosa, sebagai sarana keselamatan kita. Dua anak Allah - Adam (Luk 3:38) dan Kristus, dua perawan tak berdosa - Maria dan Hawa, dua pohon - pohon pengetahuan dan salib, dua malaikat - Iblis dan Gabriel.
MARIA BUNDA ALLAH
Maria adalah Bunda Allah karena ia melahirkan tubuh dan jiwa Yesus, yaitu manusia Yesus Kristus, yang adalah Allah. (Luk 1:43, Yoh 20:28). Maria adalah bunda rohani kita (Yoh 19:25-27, Kej 3:20).
YANG DIKANDUNG TANPA DOSA
Immaculata Conceptio berarti bahwa Maria dikandung tanpa dosa. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan Maria dalam perannya yang istimewa sebagai Bunda Allah, sehingga dosa asal (Mzm 51:7) tidak akan diwariskan kepada Yesus atau dosa tersebut ada ketika Maria mengandung dari Roh Kudus (Luk 1:26-38, Mat 1:18-20). Tuhan berkenan untuk mengantisipasi jasa-jasa Yesus Kristus ke dalam jiwa Maria pada saat ia dikandung serta membebaskannya dari dosa asal.
MARIA TETAP PERAWAN SELAMANYA
Maria disebut perawan selamanya karena ia adalah seorang perawan sebelum, maupun sesudah kelahiran Kristus (Luk 1:34, Yes 7:14).
MARIA DIANGKAT KE SURGA
Maria diangkat, tubuh serta jiwanya, ke surga. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut (LG59). Terangkatnya Perawan Tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.
PERANTARAAN MARIA
Umat Katolik menyembah hanya Tuhan, tetapi menghormati Maria sebagai Bunda rohani (Why 12:1-17, Yoh 19:26-27). Maria adalah ciptaan, bukan pencipta. Namun demikian, Maria adalah Bunda Allah (Luk 1:43, Yoh 20:28). Maria adalah bunda kita, dan Ratu Surga. “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.” (Luk 1:48) Tuhan memberi perintah kepada kita “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12). Penghormatan yang kita berikan kepada Maria, Bunda rohani kita, sama sekali tidak mengurangi sembah sujud kita kepada Tuhan. Sesungguhnya, hal tersebut sesuai dengan kehendak Allah yang kudus. Kita, yang adalah anak-anak Allah, menghormati Maria yang dihormati oleh Putera Allah. Kristus adalah satu-satunya pengantara kita (1 Tim 2:5-6) dengan Tuhan, tetapi Maria dapat mendoakan kita kepada Puteranya, Yesus. Yesus melakukan mukjizat pertama-Nya atas permintaan bunda-Nya (Yoh 2:1-12). Sama seperti kita dapat meminta anggota-anggota gereja di bumi untuk mendoakan kita (1Tim 2:1, 2 Tim 1:3), demikian pula kita dapat meminta anggota-anggota gereja di surga untuk mendoakan kita (Why 5:8, Why 8:3, Mat 22:31-32). Sama seperti seorang seniman dihormati ketika seseorang mengagumi karyanya, demikian juga Tuhan dihormati ketika kita menghormati Maria. Tuhan mengasihi kita ketika kita menghormati Maria sebagaimana seorang Bapa bersukahati ketika puterinya dihormati. Segala penghormatan yang kita persembahkan kepada Maria dipersembahkan kembali kepada Tuhan, sebab kita menghormati Maria karena apa yang telah dilakukan Tuhan kepadanya, bersamanya, dan melaluinya. Ketika kita menghormati Maria, kita menghormati Tuhan.
PENGADILAN TERAKHIR
Langsung sesudah kematian, setiap jiwa disambut dalam pengadilan pribadi oleh Tuhan. Pada akhir jaman, Kristus akan kembali ke bumi dan mengadilinya (Mat 25, Keb Sal 1-5). Ia akan menegaskan kembali pengadilan khusus yang kita terima pada saat kematian di hadapan seluruh dunia. Pada waktu itulah semua orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali (1 Kor 15).
SURGA
Surga adalah keadaan bersatu dengan Tuhan dalam kebahagiaan abadi bagi mereka yang melakukan kehendak Tuhan di bumi dan meninggal dalam keadaan rahmat. (Mat 25:21, Why 21:3-4).
NERAKA
Neraka adalah keadaan terpisah dari Tuhan untuk selama-lamanya bagi mereka yang meninggal dalam keadaan dosa berat dan dengan demikian telah menolak kehidupan, kebenaran dan kasih Tuhan. Dua hukuman utama neraka adalah “terpisah dari Tuhan untuk selama-lamanya” dan “siksa neraka” yaitu `api abadi' (Mat 25:41, Mrk 9:42-27, Luk 16:19-31, Mat 10:28).
API PENYUCIAN
Api penyucian adalah keadaan sementara di mana jiwa-jiwa menyucikan diri sepenuhnya untuk memperoleh kekudusan agar dapat masuk surga. (2Mak 12:45, 1 Kor 3:11-15, Mat 5:23-26).
sumber : “MICRO CATECHISM: A Short Review of the Catholic Faith with Scripture References” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
disesuaikan dengan: Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, Propinsi Gerejani Ende 1995, Percetakan Arnoldus - Ende
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”
Renungan Harian 17 Juni 2008
* Bacaan I : 1Raj 21:17-29
* Bacaan Injil : Mat 5:43-48
Renungan

CINTA yang sungguh CINTA adalah murni, tidak pandang bulu, dan berlaku untuk semua makhluk hidup dan semua hal. Sangat mudah membalas cinta. Sangat mudah mencintai orang-orang yang baik dan menyenangkan. Sangat mudah mencintai teman-teman terbaik kita.
Namun, kiranya sangat sulit untuk mencintai mereka yang melukai kita. Sangat sulit mencintai musuh atau orang yang kita anggap jahat terhadap kita. Bagaimana mungkin membalas kejahatan atau keterlukaan dengan cinta? Bagaimana mungkin berdoa untuk orang membuat kita menderita? Kita kagum dengan para suami-istri yang tetap berusaha saling mencintai meskipun ada luka dan kekecewaan. Kita kagum dengan orang tua yang tetap mencintai anak-anaknya. Bahkan, ketika anak-anaknya membalas kebaikan orangtua dengan penderitaan. Bagaimana dengan anda?
Tuhan, alangkah indahnya dunia ketika manusia masih mau mencintai, bahkan disaat ada kekecewaan dan penderitaan. Teguhkanlah hatiku untuk tetap mencintai. Amin
http://mirifica.net/harianDetail.php
Apakah itu Adorasi Sakramen Maha Kudus?
Ketika kamu maju untuk menerima Komuni Kudus di gereja, pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri, “Apakah yang aku makan?” Wah, itu pertanyaan yang salah! Komuni Kudus bukan suatu benda!
Seharusnya kamu bertanya, “Siapakah yang aku terima?” Komuni Kudus adalah seorang pribadi. Yaitu pribadi Yesus dari Nazaret - orang yang sama yang dilahirkan pada hari Natal dan yang wafat disalib, Putra Tunggal Allah yang Kekal.
Orang sering melupakan hal ini karena Komuni tidak seperti seorang manusia atau pun suatu makhluk ilahi. Ketika kita menerima Komuni Pertama kita, mungkin kita memikirkannya, tetapi kemudian kita segera lupa akan hal tersebut.
Gereja melakukan sesuatu untuk mengingatkan kita, yaitu dengan “Adorasi”. Adorasi membantu kita menyadari bahwa Tuhan sungguh nyata hadir secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus. Imam mentahtakan Hosti Kudus dalam suatu tempat yang disebut monstran (artinya `mempertontonkan'). Kita bersembah sujud pada Yesus. Kita mengatakan pada-Nya betapa kita mencintai-Nya dan menyembah-Nya. Inilah yang disebut “Adorasi Sakramen Mahakudus”. Kita tidak menyembah roti, tetapi kita menyembah Putra Allah.
Pada akhirnya, Yesus Sendiri memberkati kita secara pribadi. Sesungguhnya, bukan imam yang memberkati, melainkan Tuhan Sendiri.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Apakah Hosti Bisa Rusak?
Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa begitu hosti telah dikonsekrasikan dan menjadi Tubuh Kristus, hosti tidak akan pernah bisa rusak. Hal ini tidak benar, karena Komuni Kudus masih tetap memiliki kualitas roti dan anggur meskipun keduanya telah sepenuhnya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur tetap memiliki rasa dan rupa asalnya dan tetap memiliki sifat-sifat asalnya pula, misalnya batas kadaluarsanya.
Jarang sekali terjadi hosti melampaui batas kadaluarsanya, karena dua alasan:
1. Tingginya tingkat yang dibagi dan terbatasnya jumlah yang dikonsekrasikan, menjamin hosti dipergunakan sesegera mungkin.
2. Hosti relatif kering karena tidak mengandung ragi. Keadaan lembab menyebabkan berkembang biaknya bakteri - keadaan kering menghalangi terjadinya hal tersebut.
Pada umumnya, imam mengkonsekrasikan hanya cukup hosti untuk sekali Misa, dengan sedikit sisa untuk keperluan kunjungan kepada mereka yang sakit. Diakon yang menghantar Hosti Kudus kepada orang-orang sakit mempergunakan hosti sesuai keperluan dan mengembalikan sisanya ke Tabernakel Gereja. Dalam menghantar Hosti Kudus, Diakon harus sungguh cermat memperhatikan apakah hosti yang hendak ia bagikan sudah dikonsekrasikan atau belum.
Bagaimana jika hosti sungguh menjadi rusak? Di kebanyakan gereja terdapat suatu wastafel khusus yang disebut “Sacrarium”. Wastafel ini tidak menyalurkan airnya ke pipa-pipa pembuangan, tetapi langsung ke tanah. Jika hosti yang telah dikonsekrasikan menjadi rusak, imam akan merendamnya dalam air hingga larut, lalu menuangkan airnya ke dalam Sacrarium. Hosti tidak boleh dikubur atau dibakar.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Mengapa Hosti Bentuknya Bundar?
Kadang-kadang kita menerima Komuni Kudus apa adanya. Kita maju untuk menerima hosti putih tanpa sungguh-sungguh berpikir tentangnya. Karena iman, kita percaya bahwa hosti yang kita terima itu adalah Tubuh Kristus, tetapi pernahkah kalian berpikir tentang hosti yang kalian terima itu? Misalnya saja, mengapa bentuknya bundar?
Sebenarnya hosti tidak harus berbentuk bundar atau pun bentuk khusus lainnya. Sebagian Imam Katolik Roma menggunakan roti altar yang besar dan memecah-mecahkannya sehingga potongan-potongannya memiliki bentuk serta ukuran yang tidak beraturan. Sebagian imam lainnya menggunakan roti yang dipotong-potong berbentuk kubus sebagai hosti.
Namun demikian, pada umumnya Gereja Katolik menggunakan hosti yang bentuknya bundar karena dua alasan:
1. Lebih mudah ditelan.
2. Bentuknya yang bundar serupa dengan bentuk roti tradisional yang biasa dibuat di tanah kelahiran Yesus. Mungkin kalian tahu roti Syrian atau roti "pita". Pita berasal dari bahasa Arab yang artinya bundar (kata 'pizza' juga berasal dari kata ini).
Jadi hosti dibuat bentuknya bundar untuk mengingatkan kita akan roti yang dipakai oleh Yesus. Lain kali saat kalian menerima komuni, pandanglah hosti yang kalian terima baik-baik. Mungkin kalian menemukan hal-hal baru lainnya di sana.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Mengapa Roti Komuni disebut Hosti?
Hosti berasal dari bahasa Latin `Hostia', artinya kurban. Ketika Yesus wafat disalib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kurban adalah sesuatu yang kamu relakan bagi orang lain. Selama Masa Prapaskah kita berkurban tidak makan permen atau menonton acara TV favorit kita sebagai silih atas dosa-dosa kita terhadap Tuhan.
Ketika kita menerima Hosti, kita mempersatukan diri dengan kurban Kristus. Kita juga mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal atas dosa-dosa kita. Tuhan menjawab, “Baiklah, Aku mengampunimu.”
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya








