10 May | B. Damianus de Veuster
Yoseph “Jeff” de Veuster dilahirkan pada tahun 1840, putera seorang petani Belgia. Jeff dan saudara laki-lakinya, Pamphile, masuk Kongregasi Hati Kudus Yesus. Para misionaris Hati Kudus Yesus berkarya demi iman Katolik di kepulauan Hawaii. Jeff memilih nama “Damian.” Broeder Damian seorang yang tinggi dan gagah. Tahun-tahun yang dilewatkannya dengan bekerja di pertanian keluarga telah menjadikan tubuhnya sehat dan kuat. Semua orang sayang padanya, sebab ia baik serta murah hati.
Hawaii membutuhkan lebih banyak misionaris berkarya di sana. Jadi, pada tahun 1863, serombongan imam serta broeder Hati Kudus Yesus dipilih untuk diutus ke sana. Pamphile, saudara Damian, termasuk salah seorang di antara mereka. Beberapa saat menjelang keberangkatan, Pamphile terserang demam typhoid. Ia tidak lagi dapat dipertimbangkan untuk diberangkatkan ke daerah misi. Broeder Damian, yang saat itu masih dalam pendidikan untuk menjadi imam, mohon agar diijinkan menggantikan tempatnya. Imam kepala mengabulkan permohonannya. Broeder Damian pulang ke rumah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya. Kemudian ia menumpang kapal dari Belgia ke Hawaii, suatu perjalanan yang memakan waktu delapan belas minggu lamanya. Damian menyelesaikan pendidikannya dan ditahbiskan sebagai imam di Hawaii. Ia berkarya selama delapan tahun di tengah umatnya di tiga daerah. Ia melakukan perjalanan dengan menunggang kuda atau dengan kano (= semacam sampan).
Umat menyayangi imam yang berperawakan tinggi dan murah hati ini. Damian melihat bahwa umatnya senang ikut ambil bagian dalam Misa dan ibadat. Ia menggunakan sedikit uang yang berhasil dikumpulkannya untuk membangun kapel. Ia sendiri bersama umat paroki setempat membangun kapel mereka.
Bagian paling mengagumkan dalam hidup Damian akan segera dimulai. Uskup meminta seorang imam sukarelawan untuk pergi ke pulau Molokai. Nama itu membuat orang bergidik ketakutan. Mereka tahu bahwa bagian dari pulau itu yang disebut Kalawao merupakan “kuburan hidup” bagi orang-orang kusta. Tidak banyak yang diketahui tentang penyakit kusta dan rasa ngeri terjangkiti kusta menyebabkan para penderitanya dikucilkan. Banyak di antara mereka yang hidup putus asa. Tidak ada imam, tidak ada penegak hukum di Molokai, tidak ada fasilitas kesehatan. Pemerintah Hawaii mengirimkan makanan serta obat-obatan, tetapi jumlahnya tidak mencukupi. Lagi pula tidak ada sarana yang dikoordinir untuk membagikan barang-barang tersebut.
Pastor Damian pergi ke Molokai. Ia terguncang melihat kemelaratan, korupsi serta keputusasaan di sana. Walau demikian, ia bertekad bahwa baginya tidak ada kata menyerah. Penduduk Molokai sungguh amat membutuhkan pertolongan. Pastor Damian pergi ke Honolulu guna berhadapan dengan anggota majelis kesehatan. Mereka mengatakan bahwa Pastor Damian tidak diijinkan pulang pergi ke Molokai demi alasan bahaya penularan kusta. Alasan sesungguhnya adalah bahwa mereka tidak menghendaki kehadirannya di Molokai. Ia akan menimbulkan banyak masalah bagi mereka. Jadi, Pastor Damian harus menetapkan pilihan: jika ia kembali ke Molokai, ia tidak akan pernah dapat meninggalkan tempat itu lagi. Para majelis kesehatan itu rupanya belum mengenal Pastor Damian. Ia memilih untuk tinggal di Molokai!
Pastor Damian berkarya delapan belas tahun lamanya hingga wafatnya di Molokai. Dengan bantuan para penderita kusta dan para sukarelawan, Molokai mulai berubah. Kata Molokai mempunyai arti yang sama sekali baru. Pulau Molokai menjadi pulau cinta kasih Kristiani. Lama kelamaan, Pastor Damian juga terjangkit penyakit kusta. Ia wafat pada tangal 15 April 1889 dalam usia empat puluh sembilan tahun dan dimakamkan di sana. Ia dinyatakan “beato” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994.
Beato Damian menunjukkan keberanian dan kemurahan hati yang luar biasa, hingga rela mengorbankan hidupnya. Bagaimanakah kesaksianku sebagai seorang Kristen? Sudahkah aku membagikan kasih dan pertolongan kepada orang-orang di sekitarku?
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May | Comments Off8 May | B. Katarina dari St. Agustinus
Katarina dilahirkan pada tanggal 3 Mei 1632 di sebuah desa kecil di Perancis. Ia dibaptis pada hari itu juga. Keluarga Katarina adalah keluarga Katolik yang saleh. Kakek dan neneknya memberikan teladan terutama dalam ketulusan mereka merawat orang-orang miskin. Katarina menyaksikan dengan mata terbelalak sementara neneknya mengajak seorang pengemis cacat masuk ke dalam rumah mereka. Neneknya itu mempersilakan sang pengemis mandi, memberinya pakaian bersih serta menyediakan hidangan lezat. Ketika Katarina dan kakek neneknya duduk bersama sekeliling perapian malam itu, mereka mendaraskan doa Bapa Kami keras-keras. Mereka mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya.
Karena tidak tersedia rumah sakit di kota mereka yang kecil, orang-orang sakit dirawat hingga sembuh kembali di rumah kakek nenek Katarina. Katarina mulai menyadari bahwa penyakit dan penderitaan membutuhkan kesabaran. Ia masih seorang gadis kecil, tetapi ia berdoa mohon pada Yesus agar mengurangi penderitaan orang-orang. Ketika masih gadis belia, Katarina bergabung dalam ordo baru Biarawati Santo Agustinus. Mereka merawat orang-orang sakit di rumah sakit. Suster Katarina menerima jubahnya pada tanggal 24 Oktober 1646. Pada hari yang sama, kakak perempuannya mengucapkan kaulnya. Pada tahun 1648, Sr Katarina mendengar para imam misionaris meminta para biarawati untuk datang ke Perancis Baru atau Kanada, yang merupakan daerah misi. Saudari Katarina dipilih sebagai salah seorang dari para biarawati pertama dari ordo mereka yang akan pergi sebagai misionaris ke Kanada. Sr Katarina belum genap enambelas tahun usianya, tetapi ia mohon dengan sangat agar diperkenankan ikut serta. Sr Katarina mengucapkan kaulnya pada tanggal 4 Mei 1648. Keesokan harinya ia berlayar ke Kanada, yaitu sehari sebelum ulang tahunnya yang keenambelas.
Perjuangan hidup terasa berat di Quebec, Kanada. Sr Katarina mengasihi masyarakat di sana. Orang-orang Indian sangat berterimakasih atas sikapnya yang riang gembira. Ia memasak dan merawat mereka yang sakit di rumah sakit ordo mereka yang miskin. Tetapi, Sr Katarina merasa takut juga. Orang-orang Indian dari suku Iroquois membantai orang serta membakar desa-desa. Katarina berdoa kepada St. Yohanes Brebeuf, salah seorang dari para imam Yesuit yang belum lama dibunuh oleh suku Iroquois pada tahun 1649. Ia berdoa mohon bantuan St. Brebeuf agar ia setia pada panggilannya. Sr Katarina mendengarnya berbicara dalam hatinya, memintanya untuk tetap tinggal. Sementara itu, makanan mulai sulit didapat dan musim dingin luarbiasa menggigit. Sebagian dari para biarawati tidak tahan menghadapi kehidupan yang keras itu, ditambah lagi rasa takut yang terus-menerus karena ancaman maut. Sayang sekali, mereka kembali ke Perancis. Sr Katarina juga takut. Kadang-kadang ia merasa sungguh sulit berdoa. Dan sementara ia tersenyum kepada semua orang yang ia rawat dengan penuh kasih sayang di bangsal-bangsal rumah sakit, ia merasa sedih. Pada saat itulah, ketika segalanya tampak gelap baginya, ia mengucapkan janji untuk tidak pernah meninggalkan Kanada. Ia berjanji untuk tetap tinggal, melakukan karya belas kasihannya hingga akhir hayat. Saat mengucapkan janjinya, Katarina baru berusia duapuluh dua tahun.
Meskipun orang harus dengan usaha keras merintis kehidupan di koloni Perancis itu, banyak juga pendatang. Gereja berkembang. Tuhan memberkati daerah baru tersebut dengan lebih banyak misionaris. Pada tahun 1665, Sr Katarina menjadi pembimbing novis dalam komunitasnya. Ia tetap membaktikan dirinya dalam doa dan pelayanan rumah sakit hingga akhir hidupnya. Sr Maria Katarina dari St. Agustinus wafat pada tanggal 8 Mei 1668. Usianya tiga puluh enam tahun. Ia dinyatakan sebagai “beata” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.
Yesus tidak pernah menjanjikan kita hidup yang enak dan tanpa derita. Tetapi, sungguh Ia berjanji untuk menyertai kita senantiasa. Kita berdoa agar kita boleh belajar untuk mengandalkan hidup kita sepenuhnya pada-Nya.
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May | Comments Off3 Mei | St. Yakobus & Santo Filipus
Kedua orang kudus ini termasuk dalam kedua belas rasul Yesus. Filipus merupakan salah seorang dari para rasul-Nya yang pertama. Ia dilahirkan di Betsaida, di wilayah Galilea. Tuhan Yesus bertemu dengannya dan berkata, “Ikutlah Aku!” Filipus sangat bersukacita bersama Yesus. Ia ingin membagikan sukacitanya itu kepada sahabatnya, Natanael. “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi,” kata Filipus, “yaitu Yesus dari Nazaret.”
Natanael tidak ikut bergembira. Nazaret hanyalah sebuah kota kecil, dan bukannya suatu kota besar dan penting seperti Yerusalem. Jadi, kata Natanael, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Tetapi, Filipus tidak marah mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia hanya mengatakan, “Mari dan lihatlah!” Natanael pergi menjumpai Yesus. Setelah berbicara dengan-Nya, Natanael juga menjadi seorang pengikut Kristus yang setia.
St. Yakobus adalah putera Alfeus dan saudara sepupu Yesus. Setelah kenaikan Yesus ke surga, Yakobus menjadi Uskup Yerusalem. Orang banyak sangat menghormatinya dan memberinya julukan “Yakobus si Adil,” yang berarti “Yakobus yang Kudus.” Ia juga dijuluki “Yakobus Muda,” karena ia lebih muda dari seorang rasul lainnya yang juga bernama Yakobus. Yakobus yang lain itu dijuluki “Yakobus Tua” karena ia lebih tua usianya.
St. Yakobus seorang yang lemah lembut dan pemaaf. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk berdoa. Terus-menerus ia memohon kepada Tuhan untuk mengampuni mereka yang menganiaya para pengikut Kristus. Bahkan ketika para penganiaya umat Kristen menjatuhkan hukuman mati atasnya, Yakobus memohonkan ampun bagi mereka kepada Tuhan. St. Yakobus wafat sebagai martir pada tahun 62.
Bagaimana jika aku menjadi seorang rasul Kristus pada masa sekarang? Maukah aku mewartakan Kabar Gembira akan apa yang aku dapatkan dari iman kepada Yesus?
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May, Mengenal Santo Santa | Comments OffDalam Sebuah Gereja Katolik: apa yang ada di sana dan mengapa?
oleh: Romo Thomas Richstatter, O.F.M. *
Mike mengajak teman perempuannya ikut Misa pada hari Minggu yang lalu, dan sesudahnya Mike mengatakan kepada saya, “Saya tidak akan pernah melakukannya lagi! Ashley bukan seorang Katolik dan ia memberondong saya dengan berbagai macam pertanyaan yang saya tidak tahu bagaimana menjawabnya, dan itu terjadi bahkan sebelum Misa dimulai! Gereja Katolik kita mempunyai begitu banyak hal yang tidak dimiliki gerejanya, dan ia ingin tahu barang-barang apa itu dan mengapa ada di sana.”
Dalam artikel ini, saya akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan Mike bagi kalian, kalau-kalau saja kalian menghadapi situasi yang sama. Atau mungkin kalian sendiri terkadang bertanya-tanya mengenai apa-apa yang kalian lihat dalam sebuah gereja Katolik.
Sebuah gereja Katolik tidak seperti tempat pertemuan yang luas lainnya, seumpama stadion olahraga atau ruang konser. Dalam sebuah gereja, tidak ada tempat bagi sekedar penonton.
Misa bukanlah sesuatu yang kita tonton, melainkan sesuatu yang kita lakukan. Keseluruhan gereja adalah “lapangan main” dan kalian adalah bagian dari timnya; keseluruhan gereja adalah “panggung” dan kalian adalah pemainnya. Kita berperan; Tuhan dimuliakan.
Mari Masuk

Yang pertama kalian lihat pada saat kalian memasuki pintu sebuah gereja Katolik adalah sebuah kolam air – air dengan mana kita dibaptis – sebab Pembaptisan adalah pintu masuk ke dalam Gereja. (Di sebagian gereja, sebuah bejana air suci di tiap-tiap pintu menggantikan kolam pembaptisan.)
Sementara memasuki pintu gereja, aku mencelupkan tanganku ke dalam air, membuat Tanda Salib dan memperbaharui janji-janji yang diucapkan orangtuaku atas namaku pada saat aku dibaptis. Dekat kolam pembaptisan, atau dekat bejana baptis, berdiri tegak sebuah lilin besar yang disebut Lilin Paskah. Pada awal perayaan Paskah kita setiap tahun, yakni pada Malam Paskah, kita menyalakan lilin ini untuk pertama kalinya. Terang dan teladan Kristus menghalau keraguan dan ketakutan kita sama seperti terang nyala lilin menghalau kegelapan.
Pada Malam Paskah, lilin paskah dicelupkan ke dalam air pembaptisan sementara kita berdoa agar Kristus datang dan hidup dalam Bunda Gereja seperti dalam rahim. Sama seperti kita dilahirkan dari rahim ibu kita, demikianlah sebagai umat Kristiani kita dilahirkan kembali dalam Pembaptisan.
Juga dalam area pembaptisan dalam gereja, kalian akan melihat sebuah ceruk di dinding atau sebuah lemari kecil yang disebut Sacrarium untuk menyimpan tiga bejana minyak: 1) minyak katekumen, dipergunakan untuk memberkati dan menguatkan mereka yang mempersiapkan diri untuk Pembaptisan; 2) minyak pengurapan orang sakit, dipergunakan imam untuk memulihkan dan menguatkan mereka yang sakit dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit; dan 3) minyak krisma, dipergunakan dalam Sakramen Baptis, Sakramen Krisma dan Sakramen Imamat.
Pengurapan dengan minyak memainkan peran penting dalam Gereja kita. Kata “Kristus” berasal dari kata Yunani yang berarti “Diurapi”. Ketika kita diurapi – dikristenkan – dengan minyak suci, hal itu merupakan suatu tanda akan hubungan istimewa kita dengan Kristus, Yang Diurapi.
Juga dalam area pembaptisan ini kalian akan melihat pintu yang menghantar ke sebuah kamar kecil yang dirancang untuk merayakan Sakramen Rekonsiliasi secara individual. Kamar pengakuan dosa ditempatkan di sini karena Sakramen Tobat bertumbuh dari Sakramen Baptis. Praktek pengakuan dosa muncul dari perlunya mendamaikan kembali umat Kristiani yang telah melalaikan atau mengabaikan janji-janji baptis mereka.
Tempat bagi Jemaat
Bergerak dari area pembaptisan masuk ke dalam gereja itu sendiri, kita mendapati diri berada dalam sebuah ruang terbuka yang luas, yang disebut Panti Umat.
Mengunjungi sebuah gereja yang kosong adalah bagaikan mengunjungi sebuah taman hiburan pada musim dingin. Kita dapat membayangkan seperti apa taman hiburan itu dengan lampu-lampu kemilau, musik menggema dan anak-anak berlarian di sekitarnya menerobos khalayak ramai yang bersuka ria, tetapi taman itu membutuhkan orang-orang agar tampak pas. Demikian juga, panti umat sebuah gereja membutuhkan banyak orang-orang – suatu kongregasi – agar tampak pas.
Panti Umat biasanya dipenuhi dengan bangku-bangku. Dalam bahasa Yunani “podion”, tempat di mana kaisar dan orang-orang terhormat lainnya duduk dalam sebuah arena.
Banyak nama-nama teknis barang yang kalian lihat dalam sebuah gereja, berasal dari kata-kata Yunani atau Latin, sebab itulah bahasa-bahasa yang dipergunakan umat Kristiani perdana ketika mereka menamai barang-barang itu. Di bagian akhir, kalian dapat belajar lebih banyak mengenai asal mula kata-kata ini.

Bangku-bangku dan tempat duduk permanen masuk ke dalam gereja kurang lebih bersamaan waktunya dengan ditemukannya mesin cetak. Orang mulai “berbaris” dalam bangku-bangku seperti mesin mencetak “barisan” kata-kata dalam sebuah halaman cetak. Pada masa Reformasi Protestan, bangku-bangku memungkinkan kongregasi untuk duduk dan mendengarkan khotbah, yang kerapkali berlangsung beberapa jam lamanya.
Pada masa sekarang, sebagian gereja memiliki tempat duduk yang fleksibel sebagai ganti bangku-bangku. Bangku-bangku permanen dapat membuat kita berpikir akan kongregasi sebagai sekelompok “pendengar” dalam sebuah auditorium (kata Latin “audire” berarti mendengarkan). Andai memang itu peran kita, maka kita akan menjadi sekedar pendengar daripada pelaku.
Pada abad ke-13, ketika umat Kristiani tidak lagi kerap menyambut Komuni Kudus dan puncak Misa adalah memandang Hosti Kudus daripada menyantapnya, kongregasi mulai berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus sama seperti mereka biasa berlutut di hadapan seorang raja duniawi atau tuan mereka. Sejalan dengan semakin kerapnya praktek berlutut dalam gereja, maka mulailah muncul prie-dieu atau tempat berlutut. Pada masa sekarang, kalian akan mendapati tempat berlutut di sebagian besar gereja, meski postur tubuh yang lebih tradisional, yakni berdiri dalam bersembah bakti, menjadi semakin lebih umum dan sebagian gereja yang lebih baru dibangun tidak lagi memiliki tempat berlutut.
Berdiri adalah postur tubuh yang mengungkapkan hormat dan perhatian mendalam, sebagai peziarah jemaat siap untuk melaksanakan pesan Injil. Berdiri tidak saja menempatkan kita dalam persatuan dengan umat Katolik lainnya di seluruh dunia yang senantiasa merayakan Misa dengan berdiri, namun yang terlebih penting, doa-doa resmi mengandaikan jemaat yang berdiri: “Kami bersyukur sebab kami Engkau anggap layak menghadap Engkau dan berbakti kepada-Mu” (Doa Syukur Agung II).
Di Mana Tindak Kudus Dilakukan
Dari manapun kita berdiri dalam gereja, perhatian kita diarahkan ke Panti Imam, area utama di mana dilangsungkan tindak liturgis dan di mana ditempatkan ketiga perabot utama: kursi pemimpin, ambo dan meja altar.
Pada mulanya, area ini disebut sanctuarium, yang artinya kudus. Tetapi apabila istilah sanctuarium dipergunakan, kita wajib berhati-hati untuk tidak mengartikan bahwa hanya area ini saja yang kudus, sebab sungguh keseluruhan gereja adalah tempat yang kudus.
Tiap-tiap gereja mempunyai sebuah kursi pemimpin dan juga tempat duduk bagi para pelayan lainnya. Kursi pemimpin bukanlah sebuah tahta bagi seorang yang disendirikan, melainkan ditata sedemikian rupa hingga imam tampak sebagai anggota dari komunitas yang bersembah sujud, meski ia mempunyai tugas istimewa. Mimbar, yang disebut ambo, adalah tempat bagi Lectionarium atau Buku Bacaan Misa, yakni buku berisi bacaan-bacaan Misa dari Kitab Suci.
Altar adalah meja kudus di atas mana kita merayakan Perjamuan Tuhan. Altar berfungsi sekaligus sebagai meja perjamuan dan altar kurban; Misa adalah sekaligus Kamis Putih (perjamuan) dan Jumat Agung (kurban). Ketika Ekaristi dirayakan, sebuah kain altar atau taplak altar dihamparkan di atas meja altar. Kemudian, di atas altar ditempatkan roti dan anggur untuk Misa. Roti ditempatkan di atas patena dan anggur dituangkan ke dalam piala.
Busana Imam
Dalam Misa, imam mengenakan sebuah busana putih panjang yang disebut alba. Di atas alba, imam mengenakan sebuah busana yang lebih lebar, lebih berwarna-warni, yang disebut kasula. Pada masa kini, busana-busana ini tampak berbeda dari busana kita pada umumnya. Tetapi, pada mulanya tidaklah demikian. Alba dan kasula adalah busana sehari-hari yang dikenakan pada masa Greco-Romawi. Di rumah, baik laki-laki maupun perempuan mengenakan busana longgar yang panjang. Apabila bepergian ke tempat umum, mereka menutup alba ini dengan sehelai busana yang lebih meriah.
Apabila kalian ikut ambil bagian dalam Misa pada abad keempat di Roma, kalian akan mendapati pemimpin Misa berbusana kurang lebih sama dengan yang dikenakan para imam pada masa sekarang dalam Misa hari Minggu. Tetapi pada masa itu, bukan hanya imam saja, melainkan semua orang dalam gereja juga mengenakan alba dan kasula!
Mengikuti Terang
Dari sejak jaman para rasul, ketika anggota jemaat tidak dapat ikut ambil bagian dalam Misa hari Minggu karena sakit atau dalam penjara, sebagian dari roti dan anggur disimpan sesudah Komuni dan dihantarkan kepada anggota yang tidak dapat hadir ini. Ekaristi mulai disimpan agar dapat disambut sebagai viaticum pada saat menjelang ajal.
Tempat untuk menyimpan Hosti bagi mereka yang sakit dan di ambang ajal disebut tabernakel. Tabernakel juga seringkali kita dapati dalam Kapel Ekaristi, yakni kapel yang secara istimewa dirancang untuk menghormati Sakramen Mahakudus dan untuk mendorong doa dan devosi pribadi. Sebuah lilin atau Lampu Tuhan yang bernyala dekat tabernakel, secara tradisional memaklumkan kepada umat Katolik akan adanya Hosti yang telah dikonsekrasikan.
Lilin-lilin yang kita dapati dalam gereja dulunya sangat fungsional dan memberikan penerangan pada saat pembacaan Kitab Suci dan merayakan tindak kudus. Sekarang, pada masa gereja-gereja telah mempunyai penerangan listrik, lilin lebih memainkan peran simbolis. Cahaya lilin sungguh indah dan membangkitkan semangat, juga lilin membiarkan dirinya terbakar habis dalam pelayanan misteri-misteri sakral ini. Umat Katolik biasa menyalakan sebatang lilin di depan sebuah patung atau tempat doa sebagai ungkapan kerinduan agar doa-doa mereka terus membubung tinggi bahkan setelah mereka meninggalkan gereja.
Gambar-gambar yang Mengajar
Suatu ciri pembeda lainnya dari gereja-gereja Katolik seringkali adalah adanya patung-patung dan gambar-gambar devosional lainnya. Pada masa ketika Misa dan pembacaan-pembacaan dari Kitab Suci disampaikan dalam bahasa Latin yang tidak selalu dimengerti oleh umat beriman, patung-patung, lukisan dan gambar-gambar kaca jendela warna-warni seringkali menjadi Kitab Suci umat, mengajar dan menjelaskan misteri-misteri iman kita dan menghormati pahlawan-pahlawan yang mengamalkan imannya.
Ketika imam merayakan Ekaristi dengan membelakangi jemaat, dinding di belakang altar dan akhirnya ruang di atas altar itu sendiri mulai didekorasi dengan patung-patung dan lukisan-lukisan: pertama-tama salib, dan kemudian martir (yaitu orang yang mati demi Kristus) yang relikwinya ditempatkan di bawah altar, atau orang kudus (santa / santo) kepada siapa gereja dipersembahkan.
Sementara tempat-tempat doa ini diperbanyak dan ditempatkan lebih dan lebih tinggi lagi di atas altar, bagi banyak umat Katolik tempat-tempat doa ini menjadi fokus utama gereja. Apabila orang-orang Katolik yang lebih tua berbicara mengenai “altar tinggi” [= high altar] pada umumnya yang mereka maksudkan adalah kumpulan patung-patung dan tempat-tempat doa, daripada altar itu sendiri.
Seringkali, ketika tamu-tamu dari agama lain ikut hadir dalam Misa, mereka mempertanyakan gambar-gambar sengsara Kristus yang mereka lihat ada sekeliling dinding gereja. Ke-14 gambar, atau salib, ini disebut Jalan salib, membantu umat Katolik mempraktekkan suatu devosi yang telah populer sejak Abad Pertengahan.
Sejak masa awali, umat Kristiani rindu mengunjungi Tanah Suci dan menapaki jejak langkah Yesus menuju Kalvari, dengan mengenangkan bagian-bagian penting dari kisah sengsara. Di Eropa, pada Abad Pertengahan, devosi Jalan Salib dipopulerkan oleh para Fransiskan. Ibadat ini memungkinkan mereka yang tak mampu menanggung biaya ziarah yang jauh dan berbahaya ke Yerusalem, agar dapat ikut ambil bagian dalam Jalan Salib di kota kediaman mereka sendiri, dengan merenungkan apa yang telah Yesus lakukan bagi mereka. Orang akan bergerak dari satu salib ke salib berikutnya, dari perhentian ke perhentian, berdoa dengan mengenangkan peristiwa-peristiwa sengsara ini dalam kehidupan Yesus. Kita masih melakukannya hingga sekarang, teristimewa pada Masa Prapaskah.
Kisah Yesus tidak berakhir pada Jumat Agung, melainkan berlanjut hingga puncaknya pada Minggu Paskah. Karena itu, di sebagian gereja ditambahkan perhentian ke-15: Yesus Bangkit. Di sebagian gereja lainnya, jemaat berbalik kembali ke altar untuk memanjatkan doa penutup. Altar itu sendiri adalah simbol akan Kristus yang bangkit, dan karenanya perhentian ke-15 tidak diperlukan. Sebagian lainnya memanjatkan doa penutup di depan tabernakel, di mana terdapat kehadiran nyata Kristus yang bangkit di tengah kita. Devosi-devosi populer selalu amat fleksibel dan dapat berbeda dari paroki yang satu dengan paroki lainnya.
Pembaharuan liturgi baru-baru ini telah mengingatkan kita bahwa jemaat adalah fokus utama gereja dan segala obyek yang mengalihkan perhatian kita dari fokus itu adalah tidak sesuai ditempatkan dalam gereja. Ini bukan berarti bahwa segala patung dan karya-karya seni pun segala dekorasi harus disingkirkan dari gereja-gereja kita. Namun demikian, desain gereja wajib mendorong doa bersama dan tidak mengalihkan perhatian kita darinya.
Melihat Kembali untuk Pertama Kali
Gereja kalian mungkin tidak tampak tepat sama seperti yang kita gambarkan di sini. Setiap gereja adalah ungkapan iman dan “kepribadian” dari komunitas setempat, sama seperti kamar kalian di rumah adalah ungkapan dari siapa kalian sebenarnya dan apa yang kalian sukai. Saya tak hendak menata ulang kamar kalian hanya karena kamar itu tidak ditata seperti saya menata kamar saya, demikian pula saya tidak akan mengkritik gereja yang tidak tampak sama seperti yang digambarkan dalam artikel ini.
Saya hanya berusaha menggambarkan suatu gereja Katolik pada umumnya supaya kalian dapat mengenali maksud dan tujuan dari obyek-obyek pokok yang didapati di sana. Sementara kalian mengenal lebih banyak mengenai obyek-obyek ini, saya berharap kalian akan dapat merasa lebih nyaman berada di tempat ini. Inilah tempat kalian. Inilah tempat yang, saya harap, dapat membentuk dan memelihara sebagian dari saat-saat yang paling mendalam dan penuh arti dalam hidup kalian.
Daftar Istilah
PATENA : berasal dari bahasa Latin “patena” yang berarti “piring”.
Adalah wadah Hosti imam.
PIALA : dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”.
Piala dipergunakan untuk konsekrasi anggur pada waktu Misa.
VIATICUM : berasal dari bahasa Latin yang berarti “bekal perjalanan”.
Adalah Komuni Kudus yang dihantarkan kepada umat beriman yang di ambang ajal.
TABERNAKEL : berasal dari bahasa Latin “tabernaculum,” yang berarti “kemah” atau “tenda”.
Adalah wadah di mana Sakramen Mahakudus disimpan; mengingatkan kita akan bangsa Yahudi dan kemah yang mereka dirikan untuk menyimpan Tabut Perjanjian selama empatpuluh tahun masa pengembaraan mereka di padang gurun.
SANCTUARIUM : berasal dari bahasa Latin “sanctus,” yang berarti “kudus”.
Disebut juga Panti Imam, adalah area di mana tindak liturgis dilangsungkan. Sanctuarium biasanya dipisahkan dari seluruh bagian gereja lainnya dengan permukaan lantai yang agak tinggi, bentuk dan dekorasi yang khusus.
PANTI UMAT : dalam bahasa aslinya “navis,” yang berarti “kapal” atau “bahtera”.
Adalah bagian dari bangunan gereja di mana himpunan umat beriman berkumpul; menggambarkan Gereja sebagai himpunan orang percaya dalam bahtera keselamatan.
AMBO : berasal dari bahasa Yunani “anabainein,” yang berarti “naik, bergerak dari bawah ke atas”. Adalah tempat dari mana pembacaan Kitab Suci disampaikan.
ALBA : berasal dari bahasa Latin “albus” artinya “putih”.
Adalah busana lenan putih yang dikenakan pada peristiwa-peristiwa liturgis.
KASULA : berasal dari bahasa Latin “casula” yang artinya “rumah kecil”.
Adalah busana liturgis bagian luar yang dikenakan imam pada waktu Misa. Awalnya kasula adalah selembar kain lebar berbentuk kerucut dengan lubang untuk kepala, sepenuhnya membungkus si pemakai.
lihat juga: Ruangan Liturgi, Busana Liturgis Imam dalam Misa, Warna Busana Liturgis, Bejana-Bejana Suci, Simbolisme Lilin Menyala
Beberapa Tanya Jawab
T : Pater tidak mengatakan sesuatu mengenai lonceng atau bunyi lonceng; apakah ada makna religiusnya?
J : Pada masa sebelum ada jam tangan dan jam dinding, radio dan televisi, lonceng gereja seringkali adalah satu-satunya cara orang dapat mengetahui waktu dan mendapatkan informasi mengenai peristiwa-peristiwa penting. Lonceng memaklumkan kemenangan ataupun mara bahaya kepada penduduk kota. Pada masa sekarang, penggunaan lonceng lebih bersifat seremonial; lonceng mendentangkan bunyi yang menyenangkan. Pada waktu Misa, lonceng altar dibunyikan guna menyiagakan umat ketika sesuatu yang penting akan terjadi di altar. Pada masa sekarang, lonceng altar jarang dipergunakan sebab sekarang Misa dirayakan dalam bahasa ibu kita dan kita tahu apa yang sedang berlangsung di altar. Juga, kita telah paham bahwa keseluruhan Misa adalah penting; tidak ada “saat-saat magic”.
T : Menempatkan relikwi di altar, rasanya seperti merampok makam. Bukankah rasanya sangat tidak hormat memisahkan bagian-bagian tubuh seorang martir untuk ditempatkan di altar-altar yang berbeda? Mengapakah Gereja melakukan hal ini?
J : Gereja perdana seringkali merayakan Misa di makam-makam para martir. Relikwi para kudus dipergunakan untuk menjadikan altar-altar yang jauh dari Roma serupa dengan makam-makam yang demikian. Paus Gregorius Agung khawatir, seperti kalian juga, bahwa memperlakukan relikwi seorang kudus seperti itu terasa kurang hormat. Selama berabad-abad, masalah ini diperdebatkan dalam konsili-konsili Gereja. Akhirnya, keputusannya adalah bahwa tujuan dari relikwi adalah untuk menyampaikan hormat dan karenanya dapat diterima. Jadi, maksudnya bukanlah untuk merampok makam, dengan sembunyi-sembunyi atau dengan sembrono mengganggu suatu tempat pemakaman.
T : Saya berpendapat bahwa patung-patung membantu saya berdoa, dan saya sungguh menyukainya. Siapakah yang menentukan apakah patung-patung itu membantu atau mengalihkan perhatian umat?
J : Komunitas memutuskannya bersama-sama. Satu point penting di sini: liturgi adalah sesuatu yang kita lakukan bersama. Gereja paroki adalah suatu tempat di mana umat paroki berdoa bersama. Apabila kita melakukan sesuatu bersama-sama, sudahlah lazim apabila dibuat kesepakatan. Apabila saya ingin pergi dan makan bersama teman-teman saya dan Bob ingin makan lebih awal pukul lima sore sementara Sue tak hendak makan hingga pukul delapan, maka jika kita ingin makan bersama, kita harus membuat kesepakatan! Penataan dan dekorasi gereja paroki kita seringkali menyangkut kesepakatan-kesepakatan, sebab gereja paroki adalah tempat yang kita semua pakai bersama-sama.
* Fr Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institut Catholique of Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.
sumber : “Inside a Catholic Church: What’s There and Why? by Thomas Richstatter, O.F.M.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org
diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya
2 Mei | St. Atanasius
![]() |
Atanasius dilahirkan sekitar tahun 297 di Alexandria, Mesir. Ia membaktikan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Hal ini amat penting, karena sekelompok orang yang disebut Arian menyangkalnya. Sebelum ia menjadi seorang imam, Atanasius telah banyak membaca buku tentang iman. Oleh sebab itulah dengan mudah ia dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan ajaran bidaah Arian.
Atanasius ditahbiskan sebagai Uskup Agung Alexandria ketika usianya masih belum tiga puluh tahun. Selama empat puluh enam tahun, ia menjadi seorang gembala yang menggembalakan umatnya dengan gagah berani. Empat orang kaisar Romawi tidak dapat memaksanya berhenti menuliskan penjelasan-penjelasannya yang terang dan jelas mengenai iman kita yang kudus. Para musuhnya menganiayanya dengan berbagai cara.
Lima kali ia diusir dari keuskupannya sendiri. Pengasingannya yang pertama berlangsung dua tahun lamanya. Ia dibuang ke kota Trier pada tahun 336. Seorang uskup yang baik, St. Maximinius, menyambutnya dengan hangat. Pengasingan-pengasiangan lainnya berlangsung lebih lama. Atanasius dikejar-kejar oleh orang-orang yang hendak membunuh dia. Di salah satu pengasingannya, para rahib menyembunyikannya di padang gurun selama tujuh tahun. Para musuhnya tidak dapat menemukannya.
Suatu ketika, para prajurit kaisar mengejar Atanasius hingga ke Sungai Nil. “Mereka berhasil mengejar kita!” teriak para sahabat uskup. Tetapi, Atanasius sama sekali tidak khawatir. “Putar balik perahu kita,” katanya tenang, “mari menyongsong mereka.” Para prajurit di perahu yang lain berteriak, “Apakah kalian melihat Atanasius?” Jawab mereka: “Kalian tidak jauh darinya!” Perahu musuh melaju sekencang-kencangnya dan Atanasius pun selamatlah.
Umat di Alexandria mengasihi uskup agung mereka yang baik hati itu. Ia seperti seorang bapa bagi mereka. Sementara tahun-tahun berlalu, mereka menghargainya lebih dan lebih lagi, betapa banyak ia telah menderita bagi Yesus dan Gereja. Umatlah yang mengatur serta mengusahakan agar ia dapat hidup dengan tenang. Ia menghabiskan tujuh tahun terakhir hidupnya dengan tenang bersama mereka. Para musuh tetap mengejarnya, namun tak pernah dapat menemukanya. Selama masa itu, St. Atanasius menulis tentang Riwayat Hidup St. Antonius Pertapa. Antonius telah menjadi sahabat dekatnya sejak Atanasius masih muda. St. Atanasius wafat dalam damai pada tanggal 2 Mei 373. Ia tetap menjadi salah seorang santo terbesar dan tergagah sepanjang masa.
Tantangan apakah yang aku hadapi sebagai seorang Kristen pada masa sekarang? Dengarkanlah kata-kata Yesus: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal … Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yoh 14:2-3)
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Filed under May, Mengenal Santo Santa | Comments Off
1 Mei | St Josef
![]() |
Ini merupakan pesta St. Yosef yang kedua dalam kalender perayaan Gereja. Kita juga merayakan pesta St. Yosef pada tanggal 19 Maret yang lalu. St. Yosef adalah santo yang teramat penting. Ia suami Bunda Maria dan bapa asuh Yesus.
Pada hari ini kita merayakan pengabdiannya sebagai seorang pekerja. St. Yosef seorang tukang kayu yang bekerja dengan giat di bengkel kecilnya. Ia mengajarkan kepada kita bahwa pekerjaan yang kita lakukan itu penting artinya. Dengan bekerja kita menyumbangkan karya serta pelayanan kita kepada keluarga dan masyarakat. Lebih dari itu, sebagai seorang Kristen, kita sadar bahwa pekerjaan kita adalah cermin dari diri kita sendiri. Sebab itulah hendaknya kita mengerjakan pekerjaan kita dengan rajin dan tekun.
Banyak negara menyisihkan satu hari dalam setahun khusus untuk menghormati para pekerja. Hal tersebut guna meningkatkan martabat dan penghargaan atas kerja. Gereja memberikan kepada kita seorang teladan mengagumkan bagi para pekerja, yaitu St. Yosef. Pada tahun 1955, Paus Pius XII memaklumkan agar pesta St. Yosef Pekerja dirayakan setiap tahun.
St. Yosef mengajarkan bahwa pekerjaan yang kita lakukan itu amatlah penting artinya, sebab dengannya kita menyumbangkan karya serta pelayanan kita kepada keluarga dan masyarakat.
_________________________________________________________________
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
1 Desember | St Edmund Campion
![]() |
Edmund hidup pada abad keenambelas. Ia seorang pelajar muda Inggris yang amat populer, seorang ahli pidato yang mengagumkan. Edmund terpilih untuk menyampaikan pidato sambutan kepada Ratu Elizabeth ketika ratu mengunjungi perguruan tingginya. Sekelompok temannya tertarik akan sikapnya yang periang dan bakat-bakatnya yang beranekaragam. Mereka menjadikan Edmund sebagai pemimpin mereka. Bahkan ratu dan para menterinya pun menyukai pemuda yang menarik ini.
Tetapi, Edmund mempunyai masalah dengan agamanya. Ia selalu beranggapan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang benar. Dan ia tidak menyembunyikan pendapatnya itu. Oleh karenanya, pemerintah, yang menganiaya orang-orang Katolik, menjadi amat curiga kepadanya. Edmund tahu bahwa ia akan kehilangan simpati ratu dan juga kehilangan semua kesempatan untuk mendapatkan jabatan tinggi apabila ia memilih untuk menjadi seorang Katolik. Pemuda ini berdoa dan menetapkan keputusannya. Ia akan tetap menjadi seorang Katolik!
Setelah melarikan diri dari Inggris, Edmund belajar untuk menjadi seorang imam. Ia masuk Serikat Yesus. Ketika Bapa Suci memutuskan untuk mengirimkan imam-imam Yesuit ke Inggris, Pastor Campion termasuk di antara imam-imam pertama yang diutus. Malam sebelum ia pergi, salah seorang rekan imam merasa terdorong untuk menuliskan kata-kata ini di pintu kamarnya: “Pastor Edmund Campion, martir.” Meskipun Pastor Campion tahu akan bahaya yang menghadangnya, imam yang kudus ini berangkat juga dengan riang. Malahan, ia banyak tertawa oleh karena ia menyamar sebagai seorang pedagang permata. Di Inggris, ia berkhotbah dengan berhasil di hadapan umat Katolik yang menjumpainya secara rahasia. Mata-mata ratu ada di mana-mana, mereka mencoba menangkapnya. Pastor Campion menulis: “Sebentar lagi aku tidak akan terlepas dari tangan mereka. Kadang-kadang aku membaca tulisan yang berbunyi ‘Campion telah tertangkap’!” Seorang pengkhianatlah yang pada akhirnya menyebabkan imam Yesuit itu tertangkap. Di penjara, Pastor Campion dikunjungi oleh para pejabat kerajaan yang mengaguminya. Bahkan Ratu Elizabeth sendiri juga datang. Tetapi tidak satu pun dari ancaman ataupun janji-janji mereka yang dapat membuatnya mengingkari iman Katoliknya. Bahkan tidak juga aniaya. Walaupun harus banyak menderita, ia masih tetap mempertahankan diri dan rekan-rekan imam lainnya dengan cara yang demikian mengagumkan sehingga tidak seorang pun mampu mendebatnya. Meskipun begitu, ia tetap juga dijatuhi hukuman mati. Sebelum hukuman dilaksanakan, St. Edmund mengampuni orang yang telah mengkhianatinya. Ia bahkan membantu menyelamatkan nyawa orang itu. St. Edmund Campion wafat pada tahun 1581 pada usia empatpuluh satu tahun.
Edmund dapat memberikan pengampunan bahkan ketika tampaknya hal itu mustahil. Adakah bagian dari hidupku yang membutuhkan rahmat pengampunan yang menyembuhkan?
———————————————————————
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Hari Raya Pentekosta (Yoh 20:19-23 dan Kis 2:1-11)

Rekan-rekan yang baik!
Apa hubungan antara Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentekosta? Dalam Injil Yohanes, ketiga-tiganya dipadatkan menjadi satu di dalam peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang berkumpul (Yoh 20:19-23). Yang mereka lihat sekarang itu sama dengan dia yang telah wafat di kayu salib dan dimakamkan. Dalam hidup setelah kebangkitan, ia berbagi Roh kehidupan dengan para murid. Roh itulah yang menghidupkan semangat baru di antara mereka.
KEBANGKITAN – KENAIKAN – PENTEKOSTA
Pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes tadi ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentekosta. Dari Kebangkitan hingga Kenaikan ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga percaya benar bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman dengan Yesus yang telah bangkit itu. Murid-murid kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Mat 28:18, telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan. Pada saat yang sama para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja. Dalam kata-kata Lukas, ini disebut sebagai tugas menjadi saksi-saksinya (Kis 1:8), atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa muridnya dan menerima mereka sepenuhnya dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19). Bagaimanapun juga, meskipun sudah ada kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentekosta. Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak.
Sekedar latar belakang. Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentekosta (artinya “hari ke-50″) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50″ ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada hari ke- 50 ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, “hari ke-50″ itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah.
DATANGNYA ROH KUDUS
Bacaan pertama (Kis 2:1-11) berisi kisah mengenai hari Pentekosta. Suatu saat terdengar suara dari langit, menderu seperti taufan memasuki ruangan para murid berkumpul, dan muncullah lidah-lidah api menghinggapi mereka. Dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa. Seperti itukah kejadiannya? Lukas sebetulnya hendak menggambarkan pengalaman batin para murid. Saat itu mereka secara bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka bernyala berkobar-kobar. Kejadian ini sudah sedikit disinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, “hati kita berkobar-kobar” (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan “hati”) mereka tidak lagi memudar, melainkan menyala-nyala. Dan sekarang kejadian ini dialami semua murid yang lain dalam kebersamaan.
Juga orang banyak yang ada di sekitar para murid ikut menyaksikan perubahan ini. Roh Kudus itu kekuatan mempersaksikan. Roh Kudus membuat para murid dimengerti siapa saja, baik yang sama agamanya, maupun yang lain. Tiap orang yang mendengar akan mendapatkan sesuatu. Inilah daya yang dianugerahkan kepada Gereja, ke dalam maupun ke luar. Ke dalam bila memahami apa itu menjadi pengikut dia yang telah bangkit dan mulia itu. Ke luar bila mempersaksikan cara hidup baru ini kepada orang banyak.
Dalam bahasa zaman ini, kekuatan itu terletak dalam kemampuan untuk menerangkan iman kepercayaan dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang yang bukan dari kalangan sendiri. Tidak hanya dengan perkataan, melainkan juga dengan sikap hidup dan tindakan. Bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Boleh jadi Pentekosta ini menjadi kekuatan baru untuk tetap memilih hidup beradab dan tidak membiarkan masyarakat dihanyutkan kekuatan-kekuatan yang memerosotkan kemanusiaan. Ini pilihan sederhana. Tapi juga pilihan yang membuat Gereja tampil sebagai komunitas orang-orang yang setia pada kemanusiaan dan hormat pada keilahian.
Boleh jadi itulah yang dimaksud Lukas ketika mengatakan para murid mulai berbicara dalam pelbagai bahasa dan para pendengar merasa mendengar dalam bahasa mereka sendiri. Tentunya tidak sama dengan yang dimaksud oleh Markus “bicara dalam bahasa-bahasa baru” (Mrk 16:17) atau yang disebut Paulus sebagai “bahasa lidah” (1Kor 14). Yang terakhir ini biasanya terjadi dengan gumaman yang bukan terarah kepada sesama melainkan kepada Tuhan (1Kor 14:2-4). Dibutuhkan orang yang dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi. (1Kor 14:5-19 dan 27). Bahasa lidah ini tanda kehadiran roh bagi orang yang belum beriman (1Kor 14:22), bukan bagi mereka yang sudah mulai beriman
GEREJA PERDANA
Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah kehadiran Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi bening dan menuntun orang di jalan yang benar. Roh Kudus ini jugalah yang memimpin para rasul ke seluruh penjuru dunia. Roh yang sama itulah yang kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya. Orang tidak lagi perlu merasa terancam daya-daya gelap yang pergi datang begitu saja. Ada arah baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini membuat alam pikiran orang zaman itu berubah. Terbuka alam baru. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Lukas dalam Kisah Para Rasul. Para murid generasi pertama itu kemudian menjadi makin peduli akan keadaan orang-orang di semakin mengerti penderitaan orang lain dari kalangan sederhana. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka itu orang-orang yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Dalam banyak arti mereka itu juga membangun keadaban baru yang memungkinkan orang berkembang sebagai manusia utuh. Inilah buah pertama dari hadirnya Roh Kudus.
ROH KUDUS DAN KUASA MENGAMPUNI
Menurut Injil Yohanes, Roh Kudus diterima para murid ketika mereka sedang berkumpul dan sedang gelisah. Dalam keadaan itulah Yesus menampakkan diri dan mengembusi mereka. Ia menghadirkan Roh Kudus di tengah-tengah mereka. Kehadiran Roh di tengah para murid itu bukan berarti mereka kini lebur ke dalam Roh, bukan pula merasuknya Roh ke dalam batin masing-masing murid. Kenyataannya lebih sederhana, lebih apa adanya. Roh Kudus hadir di tengah-tengah kumpulan murid itu. Para murid masih tetap manusia, tidak menjadi “setengah Roh”. Kekuatan yang kemudian membuat mereka berani bersaksi itu bukannya karena mereka kini manusia super yang diisi Roh. Mereka itu kuat karena disertai Roh Kudus, bukan karena dirasukiNya.
Setelah berkata “Terimalah Roh Kudus”, Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang terap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23). Jelas bukan hanya mengampuni kesalahan ini atau itu, hal yang lazim dilakukan dalam hidup sehari-hari, melainkan mengampuni penolakan mendasar terhadap kehadiran Yang Ilahi. Itulah yang dimaksud dengan “dosa”. Tidak menggubris Yang Ilahi. MenganggapNya sepi. Dalam alam pikiran Yohanes, menutup diri ini ialah sikap khas dunia yang memusuhi Yang Ilahi. Maka dari itu dunia tetap dirundung kekuatan yang gelap, dan bahkan menjadi tempat daya-daya yang jahat. Dengan demikian dunia akan lenyap dengan sendirinya karena kini terang sudah datang. Satu-satunya pembebasan dari kuasa gelap ialah menerima terang. Ikut masuk ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam wahana ilahi. Dalam pembicaraan dengan Nikodemus ditegaskan oleh Yesus bahwa orang hanya mungkin memasukinya bila lahir kembali dalam Roh, bukan lahir bagi dunia yang menolak kehadiran ilahi (Yoh 3:5-8).
Mendapat kuasa untuk mengampuni dosa atau menyatakannya tetap ada berarti memikul tanggung jawab untuk menentukan apakah penolakan terhadap Tuhan masih bertahan atau sudah mulai lepas. Tanggung jawab ini besar dan berat. Berat karena murid-murid diserahi urusan yang sebetulnya hanya dapat dilakukan Tuhan sendiri, yakni mengampuni dosa. Besar karena kini mereka ikut dalam penyelenggaraan ilahi untuk mengubah jagat ini menjadi terang, menjadi ciptaan yang baru. Dan tanggung jawab seperti ini diserahkan kepada para murid sebagai kesatuan, bukan urusan orang perorangan. Bila Gereja memahami diri sebagai kelanjutan para murid tadi, maka kuasa serta tanggung jawab itu terletak pada kebersamaan, bukan hanya pada pemimpin Gereja saja. Dan sebagai kesatuan, Gereja dapat mengajak orang-orang berkemauan baik mengembangkan kemanusiaan yang peduli akan keadaban. Itulah pelaksanaan dari kuasa mengampuni atau menyatakan dosa tetap ada.
Salam hangat,
A. Gianto
Filed under Renungan Mingguan | Comment (0)
Pesan Bapa Suci Pada Hari Orang Muda Sedunia 2008
PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
KEPADA ORANG MUDA SEDUNIA
MENYONGSONG HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE- XXIII
DI SYDNEY, 14-20 JULI 2008
“Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu” (Kis 1:8)
Para sahabat muda terkasih!
1. Hari Orang Muda Sedunia ke-XXIII
Saya selalu mengenangkan dengan suka-cita, berbagai peristiwa yang kita jalani bersama di Cologne, pada bulan Agustus 2005. Pada akhir kegiatan yang tak terlupakan itu, yang merupakan wujud iman dan semangat, dan yang menetap dalam hati sanubari, saya telah membuat kesepakatan dengan Anda, mengenai pertemuan kita berikutnya, yang akan diselenggarakan di Sydney, pada tahun 2008. Perjumpaan itu nanti merupakan Hari Orang Muda Sedunia yang ke XXIII, dan temanya adalah: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu” (Kis 1:8). Tema yang mendasari persiapan rohani kita menuju Sydney adalah Roh Kudus dan Perutusan. Pada tahun 2006, kita memusatkan perhatian pada Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran. Sekarang pada tahun 2007, kita mencari pemahaman yg lebih dalam tentang Roh Cinta Kasih. Kita akan melanjutkan perjalanan menuju Hari Orang Muda Sedunia 2008 dengan merenung tentang Roh Ketabahan dan Kesaksian, yang mendorong kita untuk hidup sesuai dengan Injil dan mewartakannya dengan berani. Maka dari itu, sangatlah penting bahwa Anda semua, kaum muda – dalam komunitas Anda, dan bersama dengan semua yang bertanggungjawab atas pendidikan Anda, diharpapkan bisa merenungkan tentang Sang Pelaku Pokok sejarah keselamatan ini, yang disebut Roh Kudus atau Roh Yesus.
Dengan cara ini, Anda akan mampu mencapai pelbagai tujuan luhur berikut ini: Mengenal jati diri sejati Roh Kudus, khususnya dengan mendengarkan Sabda Allah dalam pewahyuan Kitab Suci; Menyadari dengan lebih terang, kehadiran-Nya yang terus menerus dan aktif dalam hidup Gereja, khususnya ketika Anda menemukan bahwa Roh Kudus adalah “jiwa”, nafas hidup Kristen itu sendiri, melalui sakramen-sakramen inisiasi – Baptis, Krisma, Ekaristi; Menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih menggembirakan akan Yesus, dan serentak dengan itu, menjalankan Injil dalam tindakan nyata di fajar millennium III ini. Dalam pesan ini, dengan gembira saya menyampaikan kepada Anda, garis besar renungan yang bisa Anda dalami sepanjang tahun persiapan ini. Dengan cara ini, Anda bisa menguji mutu iman Anda dalam Roh Kudus, menemukannya kembali jika hilang, menguatkannya jika melemah, mencecapnya sebagai persekutuan dengan Bapa dan puteraNya Yesus Kristus, yang dicurahkan sebagai karya yg tak terpisah dalam Roh Kudus. Janganlah pernah lupa, bahwa Gereja, pada kenyataannya kemanusiaan itu sendiri, semua orang yang sekarang ada di sekitar Anda, dan mereka yang menunggu Anda di masa depan, berharap banyak pada Anda, orang muda, karena Anda memiliki di dalam diri Anda, anugerah terluhur dari Allah, Roh Yesus.
2. Janji Roh Kudus dalam Kitab Suci
Sepenuh hati mendengarkan Sabda Allah mengenai misteri dan tindakan Roh Kudus, membuka diri kita pada ilham yang agung dan mencerahkan, yang akan saya ringkas dalam butir-butir berikut ini.
Beberapa saat sebelum kenaikanNya ke sorga, Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Dan Aku akan mengirimkan kepadamu apa yang dijanjikan BapaKu” (Luk 24:49). Sabda Yesus ini terwujud pada hari Pentakosta ketika para murid berdoa di ruang atas bersama Bunda Maria. Pencurahan Roh Kudus pada kelahiran Gereja itu, merupakan pemenuhan janji yang sejak dahulu kala diucapkan Allah, diwartakan dan dipersiapkan sepanjang Perjanjian Lama.
Kenyataannya, sejak halaman pertama, Kitab Suci menampilkan Roh Allah sebagai udara yang “melayang-layang di atas permukaan air”. Kitab Suci menyatakan bahwa Allah meniupkan ke dalam lubang hidung manusia nafas kehidupan (bdk. Kej 2:7). Setelah dosa asal, Roh Allah Pemberi Hidup terlihat beberapa kali muncul dalam sejarah manusia, memanggil para nabi, untuk mendesak umat pilihan agar kembali kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya dengan setia. Dalam kisah penglihatan Nabi Yehezkiel yang terkenal itu, Allah, dengan Roh-Nya, membangun kembali hidup umat Israel, yang digambarkan sebagai “tulang-tulang kering” (bdk. Yeh 37:1-14). Nabi Yoel menubuatkan “pencurahan roh” atas seluruh bangsa, tanpa kecuali. Sang Pengarang Suci itu menulis: “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Rohku atas semua manusia. … Juga atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan RohKu” (Yoel 2:28-29)
Pada “kegenapan waktu” (bdk. Gal 4:4), malaikat Allah memberi kabar kepada Perawan dari Nazaret bahwa Roh Kudus, “kuasa dari yang Mahatinggi”, akan turun dan menaungi dia. Anak yang akan lahir itu akan disebut kudus dan akan disebut Anak Allah (Bdk. Luk 1:35). Dalam kata-kata Nabi Yesaya, Sang Juru Selamat adalah dia, yang dalam dirinya berdiam Roh Tuhan (Bdk. Yes 11:1-2; 42:1). Inilah nubuat yang dipenuhi Yesus pada awal pelayanan publik-Nya di sinagoga di Nazareth.. Kepada para hadirin yang takjub, Ia berkata: “Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah dating” (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2). Saat mengajar kepada umat yang hadir itulah, Ia mengarahkan nubuat nabi kepada diri-Nya sendiri dengan mengatakan: “Pada hari ini, genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”. Kemudian, sebelum wafat-Nya di kayu salib, Yesus beberapa kali memberitahukan kepada para murid mengenai kedatangan Roh Kudus, Sang “Penolong” yang perutusannya memberi kesaksian akan Dia dan membimbing orang beriman dengan mengajar dan menuntun kepada kepenuhan kebenaran (Bdk. Yoh 14:16-17, 25-26; 15:26; 16:13).
3. Pentakosta, Titik Keberangkatan Bagi Perutusan Gereja
Pada malam di hari kebangkitan, Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya, “Ia menghembusi mereka dan berkata, ‘terimalah Roh Kudus’” (Yoh 20:22). Bahkan dengan kuasa yang lebih besar, Roh Kudus turun atas Para Rasul pada hari Pentakosta. Kita baca dalam Kisah Para Rasul: “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kis 2:2-3).
Roh Kudus memperbaharui Para Rasul dari dalam, memenuhi mereka dengan kuasa yang mendorong untuk keluar dan dengan berani mewartakan bahwa “Kristus telah wafat dan bangkit!” Setelah dibebaskan dari segala ketakutan, mereka mulai berkata-kata secara terbuka dengan percaya diri (Bdk. Kis 2:29; 4:13; 4:29, 31).. Para nelayan yang lemah ini telah menjadi duta Injil yang bersemangat Bahkan para musuh mereka tidak bisa memahami bagaimana “orang-orang yang tak berpendidikan dan biasa saja” (Bdk Kis 4:13) mampu menunjukkan semangat seperti itu, serta kuat menahan kesukaran, penderitaan dan penganiayaan dengan gembira. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Terhadap mereka yang mencoba membungkam mereka, para rasul itu menenjawab: “Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (Kis 4:20). Itulah alasan mengapa Gereja lahir, dan sejak hari Pentakosta itu, Gereja tidak henti menyebarkan Kabar Gembira “sampai akhir zaman” (Kis 1:8)
4. Roh Kudus, Jiwa Gereja dan Azas Persekutuan
Manakala kita ingin memahami perutusan Gereja, maka kita mesti mengingat kembali peristiwa di Ruang Atas di mana para murid berkumpul bersama (Bdk Luk 24:49), berdoa bersama Maria sang “Bunda”, ketika mereka menantikan Roh yang dijanjikan akan datang. Gambaran Gereja yang baru terlahir ini hendaknya menjadi sumber ilham yang tetap bagi setiap komunitas Kristen. Buah-buah kerasulan dan perutusan pertama-tama tidak mengacu pada program dan metode pastoral yang secara cerdas ditata dan “efisien”, tetapi merupakan hasil dari doa yang terus-menerus dalam komunitas. (Bdk. Evangelii Nuntiandi 75). Lebih lanjut, agar perutusan menjadi tepat-guna, komunitas harus bersatu, itu artinya, mereka mesti “sehati dan sejiwa” (Bdk. Kis 4:32). Hamba Allah Yohanes Paulus II menuliskan bahwa, bahkan mendahului tindakan, perutusan Gereja berarti bersaksi dan hidup dengan cara yang bersinar untuk orang-orang lain (Bdk. Redemptoris Missio 26). Tertullianus menyatakan pada kita bahwa hal itulah yang terjadi pada masa awal Kekristenan, ketika kaum kafir bertobat setelah melihat cinta kasih yang meraja di antara umat Kristen: “Lihatlah bagaimana mereka mengasihi satu sama lain” (Bdk. Apology, 39 § 7).
Untuk menyimpulkan pengamatan sepintas atas Sabda Allah dalam Kitab Suci ini, saya mengundang Anda untuk memperhatikan bagaimana Roh Kudus merupakan anugerah tertinggi dari Allah bagi manusia, dan oleh karena itu, kesaksian puncak atas cinta kasih-Nya untuk kita, suatu cinta kasih yang secara tegas diungkapkan sebagai “ya atas kehidupan”, bahwa Tuhan berkehendak atas setiap ciptaan-Nya. “Ya atas kehidupan” ini, menemukan kepenuhannya dalam Yesus dari Nazaret dan kemenangannya atas kejahatan dengan penebusan. Dalam hal ini, janganlah pernah kita melupakan bahwa Injil Yesus, tepatnya berkat Roh Kudus, tidak bisa dikurangi maknanya hanya sebagai laporan peristiwa, karena Injil Yesus dimaksudkan untuk menjadi “kabar gembira bagi kaum miskin, pembebasan bagi para tawanan, penglihatan bagi yang buta. Dengan daya hidup seperti itulah, kabar gembira diperlihatkan pada hari Pentakosta, sebagaimana hal ini menjadi rahmat dan tugas Gereja kepada dunia, sebagai perutusannya yang utama!
Kita adalah buah-buah dari perutusan Gereja ini melalui karya Roh Kudus. Kita menanggung di dalam diri kita tanda kasih Bapa dalam Yesus Kristus, yakni Roh Kudus. Marilah tidak melupakan hal ini, karena Roh Allah selalu mengingat setiap pribadi, dan mengharapkan, khususnya melalui Anda, orang muda, agar menggerakkan angin dan api Pentakosta baru di dunia.
5. Roh Kudus sebagai “Guru Hidup Batin”
Sahabat-sahabat muda terkasih, Roh Kudus kini melanjutkan karya dengan berdaya dalam Gereja, dan buah-buah Roh berlimpah-ruah dalam tindakan kita yang siap sedia membuka daya ini agar segala sesuatu menjadi baru. Untuk alasan ini, pentinglah bahwa setiap dari kita mengenal Roh Kudus, menetapkan hubungan denganNya, dan membiarkan diri kita dibimbing olehNya. Namun, dalam hal ini, pertanyaan yang wajar muncul: siapakah Roh Kudus bagi saya? Pertanyaan ini merupakan kenyataan bagi banyak orang Kristen bahwa. Roh Kudus masih merupakan “Yang Tak Dikenal”. Inilah alasan mengapa ketika kita mempersiapkan Hari Orang Muda Sedunia yang akan datang, saya ingin mengundang Anda untuk mengenal Roh Kudus secara lebih mendalam pada tingkat pribadi. Dalam syahadat iman, kita menyatakan, “Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang memberi hidup, Ia berasal dari Bapa dan Putra” (Syahadat Nikhea-Konstantinopel). Ya, Roh Kudus, Roh cinta Bapa dan Putra, adalah sumber hidup yang membuat kita kudus, “karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:5). Meskipun demikian, hal ini tidaklah cukup untuk mengenal Roh Kudus; kita harus menyambut Dia sebagai penuntun jiwa, sebagai “Guru Hidup Batin” yang memperkenalkan kita pada Misteri Allah Tritunggal, karena Dia sendiri yang bisa membuka diri kita kepada iman, dan mengizinkan kita menghidupinya setiap hari menuju kepenuhan. Roh Kudus mendesak kita ke depan mengarah ke orang lain, menyalakan dalam diri kita api cinta kasih, menjadikan kita para utusan cinta kasih Allah.
Saya memahami sepenuhnya, bahwa Anda, orang muda, memegang dalam hati Anda, hormat dan cinta yang agung untuk Yesus, serta bahwa Anda rindu untuk berjumpa dan bercakap denganNya. Sungguh, ingatlah bahwa kehadiran yang meyakinkan dari Roh Kudus dalam diri kitalah yang meneguhkan, menetapkan, dan membangun pribadi kita dengan berpola pada pribadi Yesus yang disalibkan dan bangkit. Maka, marilah kita bersikap akrab dengan Roh Kudus agar menjadi akrab dengan Yesus.
6. Sakramen Penguatan dan Ekaristi
Anda mungkin bertanya, bagaimana kita bisa membiarkan diri kita diperbarui oleh Roh Kudus dan bertumbuh dalam hidup rohani? Jawabannya, sebagaimana Anda ketahui, adalah berikut ini: kita bisa melakukannya dengan menggunakan Sakramen-Sakramen, karena iman lahir dan dikuatkan dalam diri kita melalui Sakramen-Sakramen, khususnya Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen: Baptis, Krisma, Ekaristi, yang saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1285). Kebenaran mengenai ketiga sakramen yang mengawali hidup kita sebagi orang Kristen ini, mungkin diabaikan dalam hidup iman banyak orang Kristen. Mereka melihat ketiganya sebagai peristiwa-peristiwa di masa lampau yang tak bermakna untuk masa kini, seperti akar yang kekurangan sari makanan pemberi hidup. Hal ini terjadi bahwa banyak orang muda menjauhkan diri mereka dari hidup iman mereka, setelah menerima sakramen Krisma. Ada pula orang-orang muda yang bahkan belum menerima sakramen ini. Memang, melalui penerimaan sakramen Baptis, Krisma, dan kemudian secara terus menerus, Ekaristi, maka Roh Kudus menjadikan kita anak-anak Bapa, saudara-saudari Yesus, anggota Gereja, mampu menjadi saksi kebenaran Injil dan mampu mewartakan suka-cita iman.
Oleh karena itu saya mengundang Anda untuk merenungkan apa yang saya tuliskan kepada Anda. Hari-hari ini, perlulah secara khusus menyingkap kembali sakramen Krisma dan tempatnya yang penting dalam pertumbuhan rohani kita. Mereka yang telah menerima sakramen Baptis dan Krisma hendaknya ingat bahwa mereka telah menjadi “Bait Roh Kudus”: Allah hidup di dalam diri mereka. Sadarilah selalu akan hal ini dan berusahalah untuk membiarkan pusaka dalam diri Anda ini bertumbuh dan berbuah kekudusan. Mereka yang dibaptis tetapi belum menerima Sakramen Krisma, yang bersiap untuk menerimanya, mengetahui bahwa dengan cara ini Anda akan menjadi orang Kristen yang “penuh”, karena Krisma menyempurnakan rahmat baptisan (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1302-1304).
Sakramen Krisma memberi kita kekuatan istimewa untuk bersaksi dan memuliakan Allah dengan seluruh hidup kita (Bdk Rom 12:1). Sakramen ini membuat kita secara mesra menyadari bahwa kita dimiliki oleh Gereja, “Tubuh Kristus”, di mana kita semua adalah anggota-anggotanya yang hidup, dalam solidaritas satu sama lain (Bdk. 1Kor 12:12-25). Dengan membiarkan diri mereka dibimbing oleh Roh, setiap orang yang dibaptis bisa memberi sumbang-sih masing-masing untuk membangun Gereja berkat karisma yang diberikan oleh Roh Kudus, karena bagi “setiap anggota” diberikan karunia Roh demi “kepentingan bersama” (1 Kor 12:7). Manakala Roh bertindak, maka Ia membawa buah-buhNya kepada jiwa, yaitu “kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan” (Gal 5:22). Kepada mereka yang belum menerima Sakramen Krisma, saya dengan hangat menyampaikan undangan agar Anda mempersiapkan diri untuk menerimanya, dan meminta bantuan kepada imam-imam Anda. Sakramen Krisma adalah kesempatan istimewa untuk rahmat yang ditawarkan Allah kepada Anda. Jangan lewatkan kesempatan itu!
Saya ingin menambahkan sepatah kata mengenai Ekaristi. Supaya bertumbuh dalam hidup Kristen, kita memerlukan asupan makanan dari Tubuh dan Darah Kristus. Pada kenyataannya, kita dibaptis dan menerima Krisma dengan pandangan menuju ekaristi (KGK, 1322, Sacramentum Caritatis, 17). Sebagai “Puncak dan Sumber” hidup Gereja, Ekaristi merupakan “Pentakosta Abadi”, karena setiap kali kita merayakan misa, kita menerima Roh Kudus yang menyatukan kita secara lebih mendalam dengan Kristus dan makin menyerupakan kita dengan Dia. Para sahabat muda terkasih, jika Anda mengambil bagian secara berkala dalam perayaan ekaristi, jika Anda mempersembahkan sebagian waktu untuk adorasi Sakramen Mahakudus, Sumber kasih, yang adalah Ekaristi, Anda akan memperoleh kebulatan tekad yang menggembirakan untuk mengabdikan hidup dengan mengikuti Injil. Pada saat yang sama, akan Anda alami, bahwa kapan pun kekuatan kita melemah, Roh Kudus yang memperbarui kita itu, mengisi kita dengan kekuatanNya, dan memampukan kita menjadi saksi yang diliputi oleh semangat missioner dari Kristus yang bangkit.
7. Perlu dan Mendesaknya Perutusan
Banyak orang muda memandang hidup dengan gelisah dan mengajukan banyak pertanyaan mengenai masa depan mereka. Dengan cemas mereka bertanya: Bagaimana kita bisa hidup dalam dunia yang ditandai dengan begitu banyak ketidakadilan yang parah dan begitu banyak penderitaan ini? Bagaimana seharusnya kita bersikap atas egoisme dan kekerasan yang kadang-kadang tampak kuat? Bagaimana kita memberi makna sepenuhnya dalam hidup? Bagaimana kita bisa menolong untuk menunjukkan bahwa buah-buah Roh yang disebut di atas, “kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kedewasaan, dan pengendalian diri” (bdk. no 6) bisa mengisi dunia yang cemas dan rapuh ini, dunia yang sebagian besar darinya adalah orang muda ini? Dalam keadaan apa, Roh pada ciptaan pertama dan khususnya pada ciptaan kedua atau penebusan, dapat menjadi jiwa baru atas kemanusiaan? Janganlah kita lupa, akan lebih besarnya anugerah Tuhan – dan anugerah Roh Yesus adalah anugerah terbesar – sedemikian lebih besarnya daripada kebutuhan dunia untuk menerimanya, dan karena itu, yang lebih agung serta lebih menggairahkan adalah perutusan Gereja untuk memberi kesaksian yang dapat dipercaya kepada dunia yang demikian ini. Anda, orang muda, melalui Hari Orang Muda Sedunia, ada di jalan yang sedang mewujudkan hasrat Anda untuk mengambil bagian dalam perutusan ini. Berkenaan dengan hal ini, sahabat muda terkasih, saya ingin mengingatkan Anda, akan beberapa kebenaran kunci untuk direnungkan. Sekali lagi, saya ulangi, bahwa hanya Kristus yang dapat memenuhi keinginan yang paling intim yang ada dalam hati setiap pribadi. Hanya Kristus yang bisa memanusiakan kemanusiaan dan membimbing kemanusiaan kepada “pengilahian”nya. Melalui daya kekuatan Roh-Nya, Ia menanamkan kasih ilahi dalam diri kita, dan memampukan kita mengasihi sesama serta siap sedia untuk pelayanan. Roh Kudus menerangi kita, mewahyukan Kristus yang disalibkan dan bangkit, serta menunjukkan pada kita bagaimana kita bisa makin menyerupai Dia, sehingga kita bisa menjadi “gambar dan alat cinta kasih yang mengalir dari Kristus” (Deus Caritas Est, 33). Mereka yang membiarkan diri dipimpin oleh Roh, mengerti bahwa menempatkan diri dalam pelayanan Injil bukanlah sebuah pilihan tambahan saja, karena sadar akan mendesaknya pewartaan Injil ini bagi orang lain. Meskipun demikian, kita perlu diingatkan lagi bahwa kita bisa menjadi saksi-saksi Kristus hanya jika kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus yang adalah “Pelaku Utama Penginjilan” (bdk. Evangelii Nuntiandi 75) dan “Pelaku Utama Perutusan” (Bdk. Redemptoris Missio 21). Sahabat muda terkasih, sebagaimana para pendahulu saya yang terpuji itu, Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II telah mengatakan dalam berbagai kesempatan, mewartakan Injil dan menjadi saksi iman, adalah hal yang lebih perlu daripada apapun pada masa ini (Bdk. Redemptoris Missio, 1). Ada orang yang berpikir bahwa menyampaikan khasanah iman yg berharga ini kepada orang-orang lain berarti tidak toleran terhadap mereka, namun soalnya bukan itu, karena menyampaikan Kristus tidak berarti memaksakan Kristus (bdk. Evangelii Nuntiandi, 80). Lagipula, dua ribu tahun yang lalu, dua belas Rasul mempersembahkan diri untuk membuat Kristus dikenal dan dikasihi. Berabad-abad sejak saat itu, Injil Suci diteruskan pewartaanya oleh kaum pria dan perempuan yang terilhami oleh semangat perutusan yang sama. Sekarang juga, ada kebutuhan akan para murid Kristus yang tiada habis-habisnya memberi waktu dan tenaganya untuk melayani Injil. Ada kebutuhan akan orang-orang muda yang mau membiarkan kasih Tuhan menyala dalam diri mereka, dan yang menanggapi dengan murah hati, akan panggilan-Nya yang mendesak, seperti halnya yang telah dilakukan oleh begitu banyak beato-beata dan santo-santa muda di masa lalu dan di masa zaman ini. Secara khusus, saya meyakinkan Anda, bahwa Roh Yesus pada masa ini, sedang mengundang Anda orang muda, untuk menjadi pembawa kabar gembira Yesus untuk zaman Anda. Kesulitan yang pasti ditemui kaum tua dalam mendekati lingkungan orang muda secara menyeluruh dan meyakinkan, bisa jadi merupakan tanda bahwa Roh Kudus sedang mendesak Anda, orang muda, untuk mengambil tugas ini oleh Anda sendiri. Anda mengenal cita-cita, bahasa, dan juga luka-luka, harapan, serta serentak dengan itu hasrat akan kebaikan yang dirasakan oleh teman sebaya Anda. Hal ini membuka dunia yang luas dari emosi, pekerjaan, pendidikan, harapan, dan penderitaan orang muda… Anda masing-masing hendaknya berani berjanji kepada Roh Kudus bahwa Anda akan membawa seorang muda kepada Yesus Kristus dengan cara yang menurut Anda terbaik, mengetahui bagaimana “memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu tetapi dengan lembut dan hormat” (Bdk. 1 Petrus 3:15).
Agar mencapai tujuan ini, sahabat-sahatku terkasih, Anda haruslah kudus, dan Anda haruslah menjadi utusan (misionaris) oleh sebab kita tak pernah bisa memisahkan kekudusan dari perutusan (Bdk. Redemptoris Missio, 90) Janganlah takut untuk menjadi misionaris seperti Santo Fransiskus Xaverius yang menempuh perjalanan panjang melalui Timur Jauh untuk mewartakan Kabar Gembira hingga kekuatannya habis tuntas., atau seperti Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus yang menjadi misionaris walaupun ia tak pernah meninggalkan biara Karmelit. Keduanya adalah “Pelindung Karya Misi”. Bersiaplah menempatkan diri untuk menerangi dunia dengan kebenaran Kristus; untuk menanggapi dengan cinta kasih, kebencian dan ketidakpedulian akan kehidupan; untuk mewartakan harapan karena Kristus yang bangkit, di setiap sudut dunia.
8. Memohon “Pentakosta Baru” bagi Dunia
Sahabat muda terkasih, saya berharap, berjumpa dengan sebanyak mungkin Anda di Sydney pada bulan Juli 2008. Kesempatan itu akan menjadi penyelenggaraan ilahi untuk mengalami kepenuhan daya kekuatan Roh Kudus. Hadirlah berbondong-bondong dalam jumlah besar supaya menjadi tanda harapan dan untuk menyampaikan dukungan yang penuh penghargaan kepada komunitas Gereja di Australia yang sedang bersiap-siap menyambut Anda. Bagi orang muda di Negara yang akan menjamu Anda, hal ini akan menjadi kesempatan luar biasa untuk mewartakan keindahan dan kegembiraan Injil kepada masyarakatnya, yang dalam banyak cara, sedang kena arus duniawi. Australia, seperti semua Negara di Oceania, perlu untuk menemukan kembali akar-akar Kristiani-nya. Dalam Seruan Apostolik Pasca Sinodal Ecclesia in Oceania, Paus Yohanes Paulus II menulis: “Melalui kuasa Roh Kudus, Gereja di Oceania sedang memperiapkan diri bagi evangelisasi baru, bagi bangsa-bangsa yang pada masa kini lapar akan Kristus… Sebuah evangelisasi baru merupakan prioritas pertama bagi Gereja di Oceania” (no. 18).
Saya meminta Anda agar menyediakan waktu untuk berdoa, dan untuk persiapan rohani Anda selama tahap terakhir perjalanan menuju Hari Orang Muda Sedunia ke XXIII, sehingga di Sydney, Anda akan mampu memperbaharui janji yang Anda ucapkan saat Baptis dan Krisma. Bersama-sama, kita akan memohon Roh Kudus, dengan penuh kepercayaan memohon Tuhan menganugerahkan sebuah Pentakosta Baru bagi Gereja, dan bagi kemanusiaan di millennium ketiga ini.
Semoga Bunda Maria, yang bersatu dalam doa bersama para Rasul di Ruang Atas, menemani Anda sepanjang bulan-bulan ini, dan memperolehkan bagi semua orang muda Kristen, pencurahan baru Roh Kudus untuk menyemangati hati mereka. Ingatlah: Gereja mempercayai Anda! Kami, para Gembala, secara istimewa, mendoakan semoga Anda mengasihi dan membimbing orang lain untuk makin mengasihi Yesus dan semoga Anda mengikuti Dia dengan setia. Bersama seluruh ungkapan ini, saya memberkati Anda semua dengan rasa kasih sayang yang dalam.
Dari Lorenzago, 20 Juli 2007
BENEDICTUS PP. XVI
Filed under Berita Utama | Comments Off



