1 November | Hari Raya Semua Orang Kudus

November 1st, 2008
st beer

Hari Raya Semua Orang Kudus

Asal mula perayaan ini tidak diketahui dengan pasti. Tapi pada tahun 313 Masehi, suatu peringatan umum untuk menghormati para kudus, khususnya para martir, muncul di berbagai wilayah di penjuru gereja. Dalam khotbahnya, St. Efrem dan St. Yohanes Krisostomus menegaskan adanya perayaan ini. Alasan utama menetapkan pesta umum ini adalah adanya kerinduan untuk menghormati sejumlah besar martir, teristimewa yang wafat pada masa penganiayaan oleh Kaisar Diocletion (284-305), yaitu masa penganiayaan yang paling luas, keji, dan bengis. Alasan lain, karena tidak akan cukup hari dalam satu tahun bila masing-masing martir dirayakan tersendiri, lagi pula kebanyakan dari para martir ini wafat dalam kelompok. Oleh sebab itu, suatu pesta umum bagi semua orang kudus, dianggap paling tepat.

Penetapan tanggal 1 Nopember sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus berkembang seturut berjalannya waktu. Paus Gregorius III (731- 741) mempersembahkan suatu oratorium (tempat berdoa; kapel) yang asli di Basilika St. Petrus demi menghormati semua orang kudus. Oleh karena itu tanggal ini menjadi tanggal resmi untuk merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus di Roma. St. Ado dari Vienne menceritakan Paus Gregorius IV meminta Raja Louis (778-840) untuk mengesahkan 1 Nopember sebagai HR Semua Orang Kudus di wilayah Kekaisaran Romawi. Buku Doa Misa dari abad ke-9 dan ke-10 juga menempatkan HR Semua Orang Kudus dalam penanggalan liturgi tanggal 1 Nopember.

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Sejalan dengan HR Semua Orang Kudus, berkembang pula Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Gereja tak henti-hentinya mendorong umat beriman untuk mempersembahkan doa-doa dan Misa Kudus bagi jiwa-jiwa umat beriman yang telah meninggal dunia, yang masih berada di Purgatorium (api penyucian). Pada saat kematian mereka, jiwa-jiwa ini belum bersih sepenuhnya dari dosa-dosa ringan atau belum melunasi hutang dosa di masa lalu. Oleh sebab itu belum dapat menikmati kebahagiaan surgawi. Umat beriman di dunia dapat menolong jiwa-jiwa di api penyucian itu agar mereka dapat segera menikmati kebahagiaan surgawi melalui doa-doa, perbuatan-perbuatan baik kita, dan persembahan Misa Kudus bagi jiwa-jiwa menderita ini.

Pada masa Gereja Awali, nama-nama umat beriman yang telah meninggal dunia ditempelkan di Gereja sehingga komunitas akan mengenangkan mereka dalam doa. Pada abad keenam, biara-biara Benediktin mengadakan peringatan khidmat akan para anggotanya yang telah meninggal dunia, pada hari-hari sesudah Pentakosta. Di Spanyol, St. Isidorus menegaskan adanya perayaan pada hari Sabtu sebelum Minggu Sexagesima (Minggu kedua sebelum Masa Prapaskah, kedelapan sebelum Paskah, dalam penanggalan kuno). St. Odilo, Abbas Cluny mengamanatkan kepada seluruh biara Cluniac agar doa-doa khusus dipanjatkan dan Ofisi bagi yang meninggal dimadahkan demi segenap jiwa-jiwa di purgatorium, pada tanggal 2 Nopember, sehari sesudah HR Semua Orang Kudus. Begitu juga dengan Ordo Benediktin dan Kartusian.

Tradisi lain muncul dalam perjalanan waktu. Pada abad ke-15, Dominikan menetapkan suatu tradisi mempersembahkan tiga Misa Kudus; satu untuk Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, satu untuk intensi khusus, dan satu untuk intensi Bapa Suci. Paus Benediktus XIV tahun 1748 menyetujui tradisi dan devosi ini. Dalam masa Perang Dunia I, Paus benediktus XV, menyadari akan banyaknya mereka yang tewas akibat perang dan begitu banyak Misa yang tak dapat dipersembahkan karena hancurnya gereja-gereja.

Tradisi-tradisi lainnya berkembang. Di Meksiko, saudara yang ditinggal akan merangkai karangan-karangan bunga segar dan kertas untuk diletakkan pada makam saudara mereka yang telah meninggal, di pagi hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Keluarga akan menghabiskan sepanjang hari itu di pemakaman. Imam akan mengunjungi makam, menyampaikan khotbah, dan mempersembahkan doa-doa bagi mereka yang meninggal, serta memberkati makam satu per satu. Praktik serupa didapati pula di Louisiana. Sanak-saudara membersihkan serta melabur batu-batu nisan. Pada siang hari, imam berarak sekeliling makam, memberkati makam-makam dan mendaraskan Doa Rosario. Pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, biasanya Misa dirayakan di pemakaman. Dua contoh praktik kebudayaan ini berpusat pada pentingnya mengenangkan mereka yang telah meninggal serta mendoakan jiwa-jiwa mereka.

Oleh sebab itu, baik HR Semua Orang Kudus maupun Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, berasal dari kepercayaan Kristiani yang sesungguhnya dan muncul dalam kehidupan Gereja melalui spiritualitas yang sehat.

Romo Wiliam P.Saunders
~ diambil dari milis KAS

Simpan Favoritmu di: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Furl
  • MisterWong
  • PlugIM
  • Propeller
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

One Response to “1 November | Hari Raya Semua Orang Kudus”

  1. steven sumendap on October 30, 2009 6:44 am

    hi mudika seluruh indonesia!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind